
Alana terdiam mendengar suara suaminya yang penuh penekanan itu. Alana tahu jika tidak mungkin suaminya mau membantu adiknya setelah dia tahu tentang apa yang sudah di lakukan oleh adiknya dan juga orang tuanya pada Alana.
"Kamu berhenti menjadi orang yang terllau baik pada setiap orang. Karena terkadang orang itu tidak pernah menghargai kebaikan kamu, sedikit pun. Cukup bahagiakan diri kamu sendiri. Bersikap sewajarnya saja pada orang-orang yang tidak pernah menghargai kamu"
Alana menatap suaminya dengan lekat, dia mengerti kenapa sekarang suaminya bisa semarah ini, karena memang dia tahu sendiri bagaimana penderitaan Aalana selama ini dan keluarganya sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
"Maaf Sayang, tapi aku hanya kasihan padanya"
Delano mengangguk, dia mengerti perasaan istrinya yang pastinya tetap tidak akan tega ketika melihat adiknya itu menderita. Namun Delano tetap harus bertindak tegas, karena dia takut jika istrinya hanya akan di manfaatkan oleh Vina.
"Terkadang kita harus menjadi orang yang tega, semuanya untuk menyelematkan hati kita. Karena jika kebaikan dan rasa kasihan kita itu tidak mereka terima dengan baik, maka hanya hati kita yang akan kecewa"
Delano memeluk Alana, sudah cukup istrinya melakukan kebaikan yang tidak pernah di hargai oleh siapapun. Saatnya Alana memikirkan kebahagiaannya sendiri. Untuk tidak terus memikirkan tentang orang lain yang tidak pernah memikirkan dirinya dalam kesusahan apapun.
"Sudah ya, jangan di bahas lagi. Sekarang kita harus memikirkan tentang kebahagiaan keluarga kecil kita ini. Biarkan semua yang telah berlalu, untuk berlalu selamanya"
Alana mengangguk, dia tidak mungkin melawan suaminya yang jelas tidak akan mengizinkan dirinya untuk membantu Vina. Karena memang tidak mungkin Alana melawan ucapan suaminya.
"Tapi kata Vina, Ibu sedang sakit. Sayang, aku tidak mungkin pura-pura tidak peduli pada Ibu. Mau bagaimana pun sikap Ibu padaku, dia tetap wanita yang telah melahirkan aku"
Hah..
Delano menghembuskan nafas kasar, dia juga tidak mungkin membiarkan istrinya menjadi anak yang durhaka pada Ibunya sendiri. "Setelah keadaan kamu lebih baik, kita akan datang menemui Ibu"
Alana tersenyum mendengar itu, setidaknya dia masih bisa bertemu dengan Ibu dengan izin suaminya. "Terima kasih, Sayang"
Alana menidurkan Aini di dalam box bayi. lalu dia naik ke atas tempat tidur. Menunggu suaminya yang masih berada di ruang ganti. Alana menghembuskan nafas pelan, jelas dia masih mengingat bagaimana wajah tidak suka suaminya ketika Alana membahas tentang Vina yang memintanya bantuan.
Ya, Alana tahu jika Vina tidak pernah dekat dengannya. Dia yang sejak kecil selalu menjadi anak kesayangan Ayah dan Ibu, sementara Alana yang tidak pernah menjadi kebanggaan keluarga apapun yang telah dia lakukan. Selalu terlihat salah dimata mereka.
Terkadang orang tua tidak sadar jika dirinya telah melukai hati anaknya dengan sangat dalam. Sikap orang tua yang membeda-bedakan anaknya akan selalu menjadi bekas yang selalu ada dalam hatinya dengan cerita penuh luka.
#######
Pagi ini Abraham kembali datang ke rumah anaknya. Rasanya dia tidak akan pernah bosan untuk datang ke rumah anaknya. Rasa bahagia dalam dirinya benar-benar tidak pernah dia alami lagi setelah selama ini dia kehilangan Alana.
"Pa, sekarang Papa tinggal dimana?"
Abraham yang sedang menggendong cucunya itu, menoleh pada anaknya yang sedang duduk di atas sofa. "Papa sewa Apartemen disini. Memangnya kenapa?"
"Bagaimana kalau Papa tinggal disini saja. Nanti aku akan bicara dengan Delan"
Alana menatap Ayahnya itu, dia memang anaknya tapi tidak banyak tahu tentang Ayahnya yang baru saja dia ketahui kemarin. Semuanya tidak Alana ketahui tentang Ayahnya.
"Memangnya Papa tinggal dimana"
Abraham tersenyum, hatinya tersayat mendengar pertanyaan itu. Karena anaknya sendiri yang menanyakan hal itu. Semuanya karena kisah mereka yang berbeda dari kebanyakan orang. Ya, meski banyak orang yang bercerai tapi anaknya tahu siapa Ayah dan Ibu kandungnya sejak awal. Tidak seperti Alana yang baru mengetahui tentang Ayahnya kemarin.
"Dulu itu kamu, Papa dan Ibu kamu tinggal di luar kota" Abraham menyebutkan sebuah nama kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat juga dari Ibu kota.
"Disana Papa punya perusahaan, ya memang masih perusahaan yang baru. Tapi cukup untuk kehidupan Papa dan kamu juga nantinya. Mungkin cerita lengkapnya sudah kamu dengar dari suami kamu, karena Papa sudah banyak cerita padanya"
Alana mengangguk, memang Delano sudah menceritakan semuanya tentang Abraham. Tapi sepertinya Delano lupa tidak menyebutkan nama kota dimana Abraham tinggal.
"Nanti Alana ingin pergi kesana, Alana ingin tahu bagaimana kehidupan Papa disana"
Abraham mengangguk, dia mengelus kepala anaknya. "Tentu saja, nanti kalau keadaan kamu sudah lebih baik kita akan pergi kesana"
Alana mengangguk dengan antusias, tentu saja dia sangat senang bisa bertemu dengan Ayahnya dan dia juga ingin mengetahui tentang kehidupan Ayahnya selama ini. Alana menyandarkan kepalanya di bahu Abraham.
"Alana senang bisa bertemu dengan Papa, bisa merasakan kasih sayang Papa. Karena selama ini Ayah tidak pernah menyayangi aku seperti dia menyayangi Vina"
Abraham mengecup kepala anaknya yang bersandar di bahunya itu. "Karena dia bukan Ayah kandung kamu, tentu saja kasih sayangnya akan tetap beda pada kamu dan adik kamu itu"
Ya, mungkin memang benar seperti itu.
"Pa, kapan-kapan kita temui Ibu ya? Dia sakit"
Abraham terdiam mendengarnya, dia tahu tentang mantan istrinya yang sekarang sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Tapi apa mungkin Abraham akan bisa bersikap biasa saja setelah apa yang pernah mantan istrinya itu lakukan padanya.
"Nak, sebenarnya Papa tidak yakin bisa bersikap biasa saja ketika nanti Papa bertemu dengan Ibu kamu. Karena Papa tahu bagaimana Ibu kamu memperlakukan kamu selama ini. Papa akan mencoba tidak peduli pada sikapnya pada Papa, dulu. Tapi sikapnya pdamu, putri Papa satu-satunya, tentu saja Papa tidak rela"
Alana menatap Ayahnya dengan helaan nafas pelan. Tentu Alana juga mengerti apa yang Abraham rasakan saat ini. Namun, Alana tetap ingin melihat Ayah dan Ibunya bisa saling berbaikan. Agar Alana tidak harus merasa canggung jika ingin bertemu keduanya sekaligus. Seperti dalam sebuah acara keluarga.
"Alana yakin Papa akan bisa, semuanya sudah berlalu dan Papa juga pasti akan menerima semuanya yang telah berlalu itu. Alana akan bantu Papa untuk bisa memaafkan Ibu, hanya untuk memaafkan. Tidak papa jika memang Papa tidak bisa melupakan semuanya"
Abraham tersenyum, dia mengangguk saja dengan ucapan anaknya itu. Mungkin dia harus menuruti keinginan putrinya ini agar dia bahagia.
Semuanya akan Papa lakukan demi kamu, Nak.
Bersambung