
"Vina, kamu mau pergi kemana Nak?"
Tangan Ibu memegang tangan Vina yang sudah siap keluar dengan sebuah koper di tangannya. Vina yang sudah tidak tahan untuk terus tinggal di tempat seperti ini. Dia tidak biasa tinggal di tempat tinggal yang sempit seperti ini.
"Lepasin Vina Bu, Vina tidak bisa terus tinggal di tempat tinggal seperti ini. Vina ingin tinggal di Apartemen pacar Vina"
"Apa? Kalau begitu kamu harus ajak Ibu, kamu tidak bisa tinggal hanya berdua dengan pacar kamu itu Nak"
"Ibu apaan si, Vina juga bisa jaga diri Bu. Vina tidak akan melakukan apapun dengan pacar Vina itu, lagian dia juga pria yang baik dan tidak mungkin melakukan macam-macam pada Vina. Sudah ya Bu, lepasin Vina"
Vina melepaskan tangan Ibu yang memegang lengannya. Dia pergi keluar dari kosan itu tanpa menghiraukan Ibunya yang terus memanggil namanya. Vina yang sudah yakin dengan keputusannya untuk tinggal bersama dengan kekasihnya. Karena dia yang menjamin Vina dan kehidupannya. Termasuk biaya kuliah Vina, karena meminta pada Kakaknya juga tidak menghasilkan apa-apa.
Ibu jatuh terduduk di atas lantai dengan tangisan yang pecah. Sekarang dirinya benar-benar sendirian. "Maafkan aku Tuhan, aku tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku"
Uhuk..uhuk...
Dada Ibu yang terasa sesak, dia terus batuk hingga mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Tangisan Ibu semakin kencang ketika dia melihat itu. Ibu merasa jika sekarang dirinya sedang mendapatkan karma Tuhan.
######
Di tempat yang berbeda, Alana dan Delano sedang bahagia. Mereka sedang mengadakan acara syukuran untuk kelahiran anaknya ini. Abraham juga ikut bahagia dengan kebahagiaan anak-anaknya ini.
"Selamat ya Nak, kamu telah menjadi seorang Ibu sekarang"
Alana mengangguk, dia memeluk Ayahnya dengan sangat erat. Karena dia yang sangat bahagia, meski mungkin kebahagiaannya berkurang karena tidak ada kehadiran Ibu di acara ini. Tapi tidak apa, karena Alana tahu kalau Ibu tidak mungkin akan datang ke acara dirinya setelah waktu itu dia meminta Alana untuk tidak mengganggu keluarganya lagi.
"Terima kasih sudah hadir di acara ini Pa, karena kehadiran Papa acara ini semakin terasa indah"
"Tentu saja, Papa akan selalu hadir dalam hari spesial dalam hidup kamu. Menggantikan waktu Papa yang hilang untuk bersamamu selama ini"
Alana mengangguk, tentu saja dia juga ingin banyak menghabiskan waktu untuk bersama dengan Ayahnya ini.
Acara telah selesai dan sekarang tinggal beberapa rekan dan kerabat saja yang berada di rumah ini. Alana yang sedang membantu para pelayan untuk membereskan bekas acara itu.
"Nona, apa Ibu Nona sudah meninggal ya? Maaf kalau saya penasaran, soalnya hanya ada Ayah Nona saja"
Alana tersenyum mendengar itu, dia tahu jika pastinya para pelayan akan merasa heran dengan keadaan ini. "Ibu saya juga masih hidup Mbak, hanya saja dia sedang tidak enak badan jadi berhalangan hadir"
Alana ingin segera menemui Ibunya, namun dia tidak bisa pergi sendiri tanpa di temani suaminya. Dan Alana juga harus menyelesaikan dulu acara syukuran anaknya ini. Dia sudah menghubungi Vina dan meminta dia untuk datang bersama dengan Ibu di acara ini. Namun Vina bilang mereka tidak bisa datang karena adanya kesibukan.
Alana mencoba untuk menyikapi hal itu dengan biasa saja, namun ternyata sekarang dia sangat sedih karena ada yang bertanya sampai seperti itu. Alana merasa memang acara ini cukup penting, untuk syukuran kelahiran anaknya. Namun ternyata tidak begitu penting bagi Ibunya.
Alana kembali ke kamar tanpa harus menghiraukan tamu-tamu yang masih berada di rumahnya ini. Saat ini Alana sedang tidak bisa untuk berbaur dengan banyak orang. Dia ingin sendiri dan butuh waktu untuk menenangkan diri.
Delano yang melihat itu langsung merasa bingung. "Pa, aku titip Aini sebentar. Aku mau menemui Alana, sepertinya dia lelah sekali dengan acara ini"
"Yaudah, kamu susulin saja istrimu. Biar Papa yang menjaga Aini disini"
"Sayang, kamu kenapa?"
Delano berlututu di atas lantai dan meraih lengan Alana yang menutupi wajahnya. Delano melepaskan tangan Alana yang menutupi wajahnya itu. Benar saja isak tangis istrinya itu semakin keras.
"Kenapa?"
Delano berdiri dan memeluk istrinya yang menangis dengan cukup keras. Delano bingung kenapa Alana yang tiba-tiba menangis seperti ini.
"Sayang, kamu sebenarnya kenapa? Ada apa sampai kamu harus menangis seperti ini?"
"Hiks.. Ak-aku ingin bertemu dengan Ibu, aku kangen sama Ibu"
Entah kenapa perasaan rindu Alana malah semakin membuncah. Dia sangat ingin bertemu dengan Ibunya, karena memang dia yang sangat ingin bertemu dengan Ibu. Tidak peduli apa yang pernah dia lakukan selama ini padanya.
"Yaudah, nanti kita temui Ibu kamu. Tapi sekarang kamu tidak perlu menangis seperti ini. Nanti sakit ahh, terus-terusan menangis seperti itu. Sudah dong Sayang"
Alana mengangguk, dia mencoba menghentikan tangisannya itu. Alana melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah suaminya itu.
"Sayang, kamu janji ya untuk mempertemukan aku dan Ibu"
"Iya Sayang"
######
Akhirnya setelah beberapa hari dari hari syukuran itu. Delano benar-benar membawa Alana ke tempat Ibunya berada. Hanya mereka berdua, karena Abraham yang masih tidak bisa untuk ikut. Anak mereka di titipkan pada pengasuh yang Delano pekerjakan beberapa hari yang lalu untuk membantu istrinya agar tidak terlalu sibuk mengurus anaknya sendirian.
"Sayang, aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Ibu. Aku tetap anaknya dan selalu ingin bertemu dengan Ibu apapun yang pernah terjadi diantara kami"
Delano mengangguk, dia tahu jika istrinya itu memang tidak pernah menjadi seorang yang pendendam selama ini. Meski sudah di perlakukan seperti itu juga Alana tetap menyayangi Ibunya. Karena bagi Alana, mau bagaimana pun dia tetap tidak akan pernah lahir ke dunia ini jika tanpa seorang Ibu yang berjuang untuk melahirkannya. Apalagi saat dia sudah merasakan sendiri bagaimana perjuangan untuk melahirkan seorang anak ke dunia ini, tidak gampang dan mudah.
Sampai di tempat tujuan, Alana malah melihat banyak orang yang berlalu lalang di sana. Alana menoleh pada suaminya yang juga terlihat bingung dengan keadaan sekitar.
"Sayang, ini ada apa? Kok rame sekali?"
Delano menggeleng pelan, dia membuka kaca jendela mobilnya dan menahan seseorang yang lewat untuk menanyakan tentang kejadian yang sedang terjadi ini.
"Pak, maaf ini ada apa ya?"
"Ada seorang Ibu-ibu yang baru ketahuan jika dia sudah meninggal"
Deg..
Tubuh Alana mematung seketika mendengar itu. Apa mungkin itu adalan....? Tidak! Ini tidak mungkin terjadi.
Bersambung