My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Meninggal?!



Alana turun dari dalam mobil bersama suaminya dengan tubuh yang bergetar. Pikirannya sudah melayang kemana saja, takut jika apa yang di ucapkan oleh orang tadi adalah benar Ibunya. Alana melihat polisi yang membawa kantung jenazah dari dalam kamar kos itu. Delano langsung menghentikannya dan meminta untuk melihat sebentar jenazah di dalam kantung jenazah itu.


Tubuh Alana bergetar ketika reseleting kantung itu mulai di buka. Dan ketika kantung jenazah itu di buka, seketika tubuh Alana lemas dan tidak bisa menahan berat tubuhnya lagi. Dia jatuh ke atas lantai.


"Ibu..."


Delano langsung merangkul tubuh Alana dengan lembut. Dia juga tidak menyangka jika akan ada kejadian seperti ini. Ibu mertuanya meninggal dan tidak di ketahui pasti kapan tepatnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tidak, Ibu bangun.. Maafkan Alana Bu"


"Sayang sudah ya, kita urus dulu jenazah Ibu"


Delano mencoba menenangkan Alana yang benar-benar histeris. Dia menggendong tubuh Alana menuju mobil untuk mengikuti polisi yang akan melakukan otopsi pada jenazah Ibu.


"Ternyata dia anaknya, kemana saja kok tidak pernah terlihat?"


"Iya, anak yang satunya lagi sudah lama juga tidak pernah terlihat ada di kosan ini"


"Aku dengar si, katanya ada anak yang tidak dia sayangi. Mungkin saja dia"


"Ya, mungkin saja"


Sepanjang Delano melewati kerumunan orang-orang disana. Dia jelas mendengar bisik-bisik tetangga itu. Delano membuka pintu mobil dan mendudukan Alana di kursi penumpang. Lalu dia berlari mengitari mobil dan masuk.


"Sayang tenang ya, kita harus mengurus jenazah Ibu kamu dulu"


Alana tidak menjawab, tatapannya kosong dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Delano mengambil tisu dan menghapus air mata istrinya itu.


"Sudah ya, jangan terus menangis seperti ini. Aku jadi bingung sekarang, kamu harus bisa mengikhlaskan Ibu"


Alana tetap tidak menjawab, jiwa dan pikirannya benar-benar terguncang dengan hal yang baru saja terjadi. Alana tidak pernah menyangka jika akan ada sebuah kejadian seperti ini.


Delano benar-benar di buat kebingungan saat ini. Dia harus mengurus segala pemakaman Ibu mertuanya setelah berhasil di lakukan otopsi. Hasilnya akan keluar beberapa hari lagi. Saat ini Delano mengantarkan Istrinyake rumah, disana sudah ada Abraham yang menunggunya.


"Bagaimana? Papa sudah urus untuk pemakaman disini"


Delano merangkul bahu istrinya dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah. "Hasil otopsi akan keluar beberapa hari lagi Pa, sekarang kita tinggal menunggu jenazah datang kesini"


Delano mendudukan Alana di atas sofa, dia tetap memeluk istrinya itu. "Sayang tenang ya, ikhlaskan kepergian Ibu kamu"


Abraham ikut duduk di samping Alana dan mengelus bahu anaknya yang sedang sangat rapuh saat ini. Melihat Ayahnya, Alana langsung menghambur ke pelukannya. Tangisannya kembali pecah saat dia berada dalam pelukan Abraham.


Abraham menghembuskan nafas pelan, dia mengelus punggung anaknya yang bergetar. "Papa tahu bagaimana perasaan kamu saat ini, pastinya kamu sangat shock mendengar kabar ini. Tapi apa kamu bisa menyelesaikan semua ini dengan terus bersedih seperti ini. Wajar saja untuk sedih, tapi jangan bersedih berkepanjangan. Kamu masih harus menjalani hidup kamu, ingat Nak, masih ada anak kamu yang harus kamu urus"


Alana terdiam, dia baru mengingat tentang Aini yang dia tinggalkan hampir seharian ini. Alana melerai pelukannya. "Dimana Aini? Aku ingin bertemu dengannya"


"Aini ada di kamar, ayo kita ke kamar untuk menemuinya" kata Delano


"Yaudah, kamu bawa Alana ke kamar dulu. Disini biar Papa yang urus"


Delano menemani istrinya, namun dia tidak banyak bicara. Membiarkan istrinya meluapkan segala kesedihan dalam dirinya. 


"Sayang, kamu asi dulu ya. Maaf karena Ibu terlalu sibuk hari ini, sampai tidak memberikan asi secara langsung sama Aini. Pasti kamu tidak suka ya asi di dalam botol susu itu"


Air mata Alana menetes begitu saja mengenai pipi anaknya yang langsung dia hapus. Tidak ada seorang anak yang tidak sedih dan terluka ketika Ibunya meninggal. Karena semu anak akan selalu tidak siap untuk kehilangan Ibunya, meski dia sudah dewasa. Berapa pun usianya, tidak akan ada anak yang siap untuk kehilangan orang tuanya.


"Nenek kamu sudah meninggal, bahkan sebelum dia bertemu dengan kamu dan menggendong kamu. Mungkin memang karena Ibu yang membuat Nenek kamu marah"


Delano langsung merangkul tubuh istrinya dengan lembut. "Sayang, kamu jangan menyalahkan diri kamu atas kepergian Ibu. Karena kamu tidak salah apapun dengan kejadian ini"


Alana menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan Aini yang masih menyusu padanya. "Semoga Ibu memaafkan semua kesalahan aku padanya ya"


"Iya Sayang, Ibu pasti memaafkan kamu. Lagian kamu tidak mempunyai banyak salah padanya. Kamu selalu nurut dengan apa yang di katakan oleh Ibu kamu itu"


Sekarang Alana malah bingung karena dia ingat tidak melihat adiknya di kosan ibunya hingga sekarang. Alana bingung dimana Vina, kenapa dia tidak memberi tahu tentang keadaan Ibu pada Alana jika memang Ibu sudah sakit sejak awal.


"Sayang, dimana ponsel aku?"


Delano merogoh saku jaketnya dan memberikan ponsel milik istrinya itu. "Mau apa?"


"Aku ingin menghubungi Vina, kenapa dia tidak ada dan juga tidak ada kabar juga"


Alana langsung menghubungi adiknya itu. Alana yang bingung dengan adiknya yang bahkan tidak ada disana saat Ibunya ditemukan sudah tidak bernyawa.


"Hallo Kak, ada apa?"


"Vina, kamu dimana? Apa kamu tidak tahu apa yang terjadi?"


Terdengar suara bising kendaraan di sebrang sana, mungkin Vina sedang berada di jalan. "Apa si Kak, gak usah aneh-aneh deh buat gangguin aku. Vina lagi jalan sama pacar Vina"


Alana menggeleng tidak percaya dengan ucapan adiknya itu. "Vina, kamu cepetan ke rumah Kakak. Ibu, Vina...."


"Aduh apasi Kak, Ibu baik-baik aja kok di kosan. Jangan aneh-aneh deh Kak. Udah dulu ya aku lagi jalan sama pacar aku"


Tutttt...


Sambungan telepon langsung terputus begitu saja. Alana menatap layar ponselnya yang sudah mati. Air matanya tidak bisa dia tahan lagi untuk kembali lagi menetes.


"Ya ampun Vina, sebenarnya kamu dimana di saat Ibu melepaskan nyawa"


Alana benar-benar marah pada adiknya itu. Dia mengirim pesan pada Vina tentang Ibunya yang sudah meninggal dunia. Alana memang bukan anak yang baik dan berbakti pada Ibu, tapi setidaknya dia tidak akan diam saja ketika ibunya sakit bahkan saat ini sampai meninggal dunia.


Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada Ibuku?


Bersambung