
Alana baru saja terbangun pagi ini dan dia merasakan perutnya yang kencang dan terasa sakit di bagian pinggang hingga ke perutnya. Alana meringis pelan ketika rasa sakit itu terasa sangat kuat.
"Aduh kenapa ya? Apa mungkin aku akan melahirkan, tapi bukannya masih satu minggu lagi"
Alana masih mencoba tenang karena rasa sakit yang dia rasakan juga kadang datang dan menghilang. Alana tidak mau langsung berspekulasi kalau dirinya akan melahirkan sekarang. Karena dia juga pernah dengar jika ada juga yang namanya kontraksi palsu. Jadi Alana takut jika ini adalah kontraksi palsu itu.
Alana mandi dan berganti pakaian, rasa sakitnya masih jarang datang. Alana mencoba untuk tetap tenang. Dia turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
Namun ketika dia sampai di ruang makan, tiba-tiba rasa sakitnya bertambah berkali-kali lipat. Sangat menyakitkan hingga dia hampir jatuh dan berpegangan pada meja makan. Alana sangat merasa tidak kuat dengan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
"Ya ampun Nona, anda kenapa? Duduk dulu"
Mbak pelayan yang melihat Alana sedang kesakitan langsung membantunya untuk duduk di atas kursi meja makan. "Tuan dimana Nona? Biar saya panggilkan Tuan, sepertinya anda akan melahirkan"
Alana terus meringis sambil terus mengatur nafasnya, dia tidak bisa menahan rasa sakit yang saat ini sedang dia rasakan. "Tuan ada di kamar Mbak, tolong panggilkan dia ya"
"Baik, Nona tunggu sebentar disini"
"Satu lagi Mbak, tolong bawa tas besar di bagian bawah lemari saya di kamar. Itu perlengkapan persalinan yang sudah saya siapkan"
"Baik Nona"
Alana terus mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah karena rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Tangannya berpegangan pada ujung meja makan, dengan sebelah tangannya lagi terus mengelus perutnya.
"Kalau memang kamu ingin segera keluar, kita berjuang sama-sama ya Nak"
Mbak pelayan baru saja sampai di depan pintu kamar Tuannya. Dia mengetuk pintu kamar dengan memanggil Tuannya agar segera membukakan pintu. Dia tetap seorang pelayan disini, meski sedang panik tetap saja dia tidak mungkin langsung masuk ke dalam kamar majikannya ini.
"Tuan Delan, ini saya Tuan. Tolong buka pintunya, Tuan"
Delano yang baru saja keluar dari ruang ganti langsung menuju pintu dan membukanya. Dia sedikit heran karena pelayan yang datang ke kamarnya ini, karena biasanya selalu istrinya jika ingin memanggil Delano untuk makan atau apapun.
Karena Alana selalu menganggap jika kamar mereka adalah privasi yang harus di jaga, jadi dia tidak pernah meminta pelayan untuk membersihkan kamarnya. Karena dia masih sanggup hanya untuk membersihkan kamar saja.
"Ada apa Mbak?"
"Tuan cepat turun ke bawah, Nona mau melahirkan"
"Apa?! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi si"
Delano langsung menyambar kunci mobil dan berlari menuruni anak tangga. Tangannya bergetar karena dia mulai merasa bingung dan panik ketika mendengar istrinya akan melahirkan.
Delano berlari menghampiri Alana di ruang makan, dia berlutut di atas lantai depan istrinya itu. "Sayang, mana yang sakit hemm? Kenapa tidak langsung bilang sama aku kalau kamu sudah mengalami kontraksi, kenapa malah turun ke bawah sendirian"
Karena terlalu panik, Delano malah memberikan banyak pertanyaan pada Alana tanpa memberinya sedikit jeda saja. Delano sangat panik dan bingung harus melakukan apa sekarang. Ini adalah pengalaman pertama dirinya menemani orang mau melahirkan.
"Aku tidak papa, Sayang. Lagian aku juga tidak mengira kalau bayi kita akan lahir hari ini. Padahal masih satu minggu lagi dari perkiraan Dokter"
"Sayang, ayo kita pergi ke rumah sakit"
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Delano membawa istrinya keluar dari dalam rumahnya. Mbak pelayan datang dengan membawa tas yang di sebutkan oleh Alana tadi. Langsung memasukan tas itu ke dalam bagasi mobil milik Delano.
Delano mengemudi dengan pikiran yang kacau. Dia melirik istrinya yang masih meringis karena kontraksi yang dirasakan. "Sayang, kamu gak papa 'kan? Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit"
Alana menoleh pada suaminya dan mencoba untuk tersenyum pada suaminya. Alana mencoba menenangkan suaminya yang sedang sangat panik. "Ini semua memang proses melahirkan Sayang, kamu tenang saja karena aku pasti bisa melewati semua ini kok"
"Tetap saja aku sangat panik sekarang, pokoknya kamu harus janji sama aku kalau kamu akan baik-baik saja"
"Iya Sayang, aku akan tetap baik-baik saja"
Ketika sampai di rumah sakit, Delano langsung menggendong istrinya untuk segera masuk ke dalam rumah sakit dan segera di tangani oleh Dokter.
Ketika sampai di ruang pemerikasaan, Dokter langsung memeriksa keadaan Alana dan mengecek pembukaan jalan lahir. "Pembukaannya masih awal, jadi masih harus menunggu beberapa jam lagi. Sekarang istirahat saja dulu, untuk mengumpulkan energi untuk nanti"
"Beberapa jam lagi? Kau gila ya, istriku sudah kesakitan seperti ini dan masih harus menunggu beberapa jam lagi?"
"Sayang.." Alana langsung memegang tangan suaminya, dia tidak mau suaminya terus marah-marah tidak jelas pada Dokter hanya karena kekhawatirannya pada Alana saat ini. "...Memang seperti ini proses melahirkan, jadi kamu hanya perlu menemani aku dan tetap menjadi penyemangatku ya"
Delano menghembuskan nafas kasar, dia mengacak rambutnya sendiri. Sudah mulai frustasi saat melihat keadaan istrinya sekarang. Delano membungkukkan tubuhnya dan mengecup kening Alana. Dia harus tenang untuk menjadi penyemangat untuk istrinya ini.
"Sayang, kamu harus kuat untuk aku dan anak kita. Aku yakin kamu pasti bisa menjadi Ibu yang kuat dan hebat"
Melihat itu, Dokter langsung keluar dari dalam ruangan. Dia tidak mau mendapatkan kemarahan Delano lagi yang begitu menyeramkan.
Alana terus berusaha tenang, meski sebenarnya dia juga merasa kekhawatiran yang sama. Namun dia tetap yakin jika dirinya pasti bisa melewati semua ini. Dia akan bisa menjadi sosok Ibu yang hebat dan kuat untuk anaknya ini.
Dan semakin lama rasa sakitnya semakin bertambah dan hampir tidak ada jeda sama sekali, pertahanan Alana mulai runtuh juga. Dia meneteskan air matanya yang tidak bisa dia tahan lagi. Melihat itu, Delano semakin tegang saja. Dia menghapus air mata Alana dengan lembut, lalu mengecup kedua mata Alana itu.
"Sayang, kamu kuat ya. Aku yakin itu"
Arghhh..
"Sayang sepertinya bayinya sudah ingin keluar, arghh.."
Delano semakin panik mendengar itu, dia langsung memanggil Dokter dengan tombol darurat yang ada di ruangan itu. Dan Alana pun langsung di bawa ke ruang persalinan. Delano tetap setia berada di sampingnya dengan memegangi tangan Alana, untuk sekedar memberikan semangat dan kekuatan pada istrinya yang sebentar lagi akan berjuang untuk melahirkan anak mereka ke dunia ini.
"Sayang kamu pasti bisa, Sayangku kuat ya"
Alana terus mengejan mengikuti intruksi Dokter sampai akhirnya suara tangisan bayi memenuhi seisi ruangan.
Bersambung