My Father'S Wife Is My Ex

My Father'S Wife Is My Ex
Jangan Cari-cari Vina Lagi



Alana duduk di sebuah kursi yang ada di balkon kamarnya sambil menggendong Aini. Menatap cerahnya hari dengan sinar matahari yang menerangi bumi dengan panasnya.


"Nanti, kalau kamu sudah besar. Pastinya kamu akan mengerti apa yang Ibu rasakan saat ini. Kamu akan tahu bagaimana perjuangan yang Ibu lalui selama ini"


Alana hanya sedikit bercerita pada anaknya yang sebenarnya belum mengetahui apa-apa dan tidak mengerti apapun. Alana hanya sedang mengingat perjuangannya selama ini, rasanya tidak mungkin dia bisa melupakan apa yang telah dia lewati selama ini. Tentang perjuangan yang dia lewati sampai bisa di titik ini.


Saat ini Alana hanya ingin menenangkan hatinya dari segala masalah yang pernah dia hadapi. Tapi saat ini Alana hanya masih memikirkan tentang Vina yang masih bersama dengan pria itu. Yang Alana yakin jika pria itu bukan pria yang tepat untuk Vina.


Alana mengambil ponselnya di atas meja, dia mencoba untuk kembali menghubungi adiknya. Namun seperti biasa, tidak ada jawaban apapun dari Vina. Sambungan teleponnya tidak di respon apapun oleh Vina.


"Sebenarnya apa yang kamu lihat dari pria itu, Vina? Sampai harus sampai begini hanya tidak mau meninggalkan pria itu. Kakak tahu kalau Kakak salah, tapi semua yang Kakak ucapkan tidak benar-benar tulus dari hati"


Alana hanya sedang marah dan tidak bisa menahan amarahnya. Alana tidak benar-benar mengatakan hal itu dari hati, karena sebenarnya dia juga menyayangi Vina. Alana hanya kesal pada Vina, karena adiknya itu malah meninggalkan Ibu di saat Ibu sedang sakit. Hanya itu yang membuat Alana marah pada Vina.


Alana kembali masuk ke dalam rumah, menidurkan Aini yang terlelap begitu saja di dalam pangkuannya. Mungkin karena terlalu nyaman berada di pangkuan Ibunya dengan angin sepoi yang menyejukkan.


#######


Sore ini, sepulang bekerja dari Kantor. Delano langsung pergi bersama dengan anak buahnya itu untuk menemui Vina dan kekasihnya. Bukan karena Delano yang peduli padanya, hanya saja karena Delano yang tidak ingin terus melihat istrinya yang mengkhawatirkan adiknya. Padahal jelas sekali jika Vina tidak begitu menghargai Alana sebagai seorang Kakak. Namun Alana masih saja berpikir jika saat ini dirinya hanya mempunyai Vina sebagai saudaranya.


Ting tong


Delano menekan bell pintu Apartemen Vina dan kekasihnya itu. Menunggu beberapa saat sampai pintu Apartemen itu perlahan terbuka. Seorang pemuda yang terlihat kacau, dia terlihat mengancingkan celananya dengan tergesa. Tubuhnya juga polos tanpa memakai baju. Hal itu membuat Delano langsung menerobos masuk ke dalam Apartemen itu.


"Hey, kau siapa? Ngapain masuk begitu saja ke rumah ku?"


Delano tidak menghiraukan itu, dia membuka pintu kamar dan melihat Vina yang berada di atas tempat tidur dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya. Jelas jika Vina sedang tidak berbusana, terlihat jelas dari bahunya yang polos.


Delano melirik tajam pada pria yang ikut masuk ke dalam kamar. Dia benar-benar tidak menyangka jika adik iparnya ini akan melakukan ini. Padahal jelas mereka belum menikah.


"Kalian benar-benar tidak tahu malu, bahkan kalian ini belum menikah. Vina, apa kamu tidak memikirkan tentang perasaan Kakak kamu jika dia mengetahui jika adiknya malah seperti ini"


Vina menatap Delano dengan takut-takut, dia tidak menyangka jika Delano akan datang menemuinya ke tempat ini. Padahal Vina sudah memperingati Alana untuk tidak ikut campur lagi urusannya dan kehidupannya. Tapi sekarang malah suami dari Kakaknya ini yang datang dan mulai ikut campur dengan urusan kehidupannya.


"Sebaiknya Kakak Ipar pergi saja, tidak perlu ikut campur dengan urusan aku"


Delano menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. "Baiklah, kalau begitu kau jangan pernah menyesal dan menemui istriku. Karena istriku sudah lebih dulu memperingatkan kamu"


Delano keluar dengan menyenggol kasar bahu dari pria itu. Dia pergi keluar dari Apartemen itu. Delano tidak bisa melakukan apapun jika memang Vina sudah memilih jalan hidupnya seperti ini. Memang dari awalnya, dia juga tidak pernah peduli pada Vina. Semuanya dia lakukan hanya karena istrinya saja.


Aku tidak menyangka jika istriku yang baik hati akan mempunyai saudara yang seperti itu.


"Sayang, kamu mandi dulu sana"


Delano tidak menjawab, dia malah menatap Alana dengan sangat lekat. Dia merasa sangat tidak tega dengan istrinya yang selalu mementingkan keluarganya, termasuk adiknya. Tapi ternyata Alana tidak mendapatkan balasan apapun dari segala kebaikannya itu.


"Sayang.." Alana memegang bahu Delano yang dari tadi malah diam saj. "...Kamu kenapa? Kok diam saja"


Delano memegang tangan istrinya yang berada di bahunya. Membawa tangan itu pada pipinya. "Kamu hebat dan kuat Sayang, aku bangga bisa memiliki kamu"


Alana hanya tersenyum, dia sedikit bingung melihat sikap Delano yang tiba-tiba saja seperti in. "Apaan si kamu, yaudah kita makan saja dulu"


Delano mengangguk, dia tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi barusan. Alana pasti tidak akan bisa menahan kesedihannya jika dia tahu apa yang adiknya lakukan selama ini bersama dengan kekasihnya.


"Sayang, kamu jangan cari-cari lagi Vina ya"


Alana yang baru saja akan mengambilkan nasi ke atas piring untuk Delano, langsung menghentikan gerakannya. Dia tidak mengerti apa yan di maksud oleh suaminya itu.


"Apa maksud kamu, Sayang?"


Delano menghela nafas pelan, dia meraih tangan Alana dengan lembut, membuat Alana mengurungkan niatnya untuk mengambilkan makanan.


"Sayang, kamu biarkan saja Vina dengan pilihan hidupnya. Karena dia juga tidak pernah mendengarkan apa yang kamu katakan. Biarkan saja dia menyesal dengan sendirinya, baru dia akan menyadari jika apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran.


Alana menatap Delano dengan bingung, membiarkan adiknya tinggal bersama dengan seorang pria yang menjadi kekasihnya. Apa Delano sedang bercanda? Jelas jika Alana tidak mau jika Vina akan kenapa-napa jika terus tinggal bersama dengan pria itu.


"Sayang, kamu jangan aneh deh. Kalau kita membiarkan Vina tetap tinggal bersama pria itu. Bagaimana jika nantinya akan terjadi hal yang tidak di inginkan? Aku tidak mau kalau sampai semua itu terjadi"


Delano menghela nafas pelan, dia tahu bagaimana perasaan istrinya yang sedang mengkhawatirkan adiknya yang sekarang sedang memilih hidup yang salah, menurutnya.


"Aku tahu Sayang, tapi Vina sama sekali tidak suka jika kita ikut campur dengan kehidupannya. Lebih baik kita biarkan saja dulu dia melakukan apa yang dia inginkan dan yang menurutnya benar. Nantinya dia juga akan sadar sendiri dan menyesali semuanya"


Alana terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Vina akan tetap tidak suka jika dia terus ikut campur urusannya. Tapi, apa memang harus seperti ini hanya untuk membuat Vina sadar, jika pilihan hidupnya itu bukanlah sebuah kebaikan untuk dirinya.


"Sayang, tapi apa memang harus seperti ini untuk membuat Vina sadar atas apa yang menjadi pilihan hidupnya itu?"


Delano mengangguk dengan sangat yakin, dia tersenyum meyakinkan pada istrinya itu. "Ya, kamu harus melakukan hal seperti ini untuk membuat Vina sadar atas pilihan hidupnya"


Bersambung