
Sebuah hal yang benar-benar membuat Alana terkejut saat ini, ketika seorang perawat yang mengatakan jika ada Kakek dari anaknya ini. Jelas tidak mungkin jika Ayah, karena Ayah tidak pernah peduli padanya. Apalagi pada anaknya ini. Dario juga sudah meninggal dunia, lalu siapa yang mengaku sebagai Kakek dari anak yang baru saja Alana lahirkan itu.
Alana menatap suaminya yang juga sama terkejutnya. Namun jelas rasa terkejutnya berbeda dengan yang Alana rasakan. "Maaf Sus, memangnya siapa yang mengaku sebagai Kakek dari anak saya?"
"Tadi ada seorang Bapak yang menunggu di depan ruang bersalin dan ingin menggendong anak Ibu, karena dia bilang kalau dia adalah Kakek dari bayi Ibu. Maka saya izinkan saja"
"Emm baik Sus, sekarang Suster bisa pergi saja. Itu memang Ayah saya" jawab Delano yang tidak mau jika sampai orang luar tahu tentang masalah yang di hadapi keluarga kecilnya ini.
"Baik, saya permisi keluar dulu"
Dan setelah perawat itu pergi, Alana langsung menatap tajam pada suaminya. Rasanya tidak mungkin jika Delano akan mengatakan hal seperti itu pada perawat tadi, jika memang dia tidak mengetahui apa-apa tentang masalah ini.
"Jelaskan sama aku Sayang, apa yang tidak aku ketahui selama ini"
Glek..
Delano menelan salivnya dengan susah payah, dia mulai tidak bisa menghindar ataupun mengelak lagi. Karena Alana sudah tidak akan percaya dengan apa yang dia bicarakan jika dia terus mencari alasan tentang apa yang dia ketahui.
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya"
Mendengar kalimat itu saja sudah bisa Alana artikan jika memang suaminya itu sudah menyembunyikan sesuatu darinya selama ini. "Jadi apa yang kamu sembunyikan dari aku? Tolong jangan terus membohongi aku terus, Delan"
Delano menghela nafas pelan, jelas dia sudah tidak mungkin melakukan kebohongan lagi jika semuanya memang sudah benar-benar terbongkar.
"Ayah kandung kamu masih hidup, semuanya telah sengaja di atur oleh Ibu kamu untuk membuat cerita sedemikian rupa agar kamu percaya jik Ayah kandung kamu sudah meninggal"
Tidak ada alasan untuk Delano tidak menjelaskan semuanya pada Alana. Mungkin memang sudah saatnya Delano memberi tahu Alana tentang semuanya. Tidak adalagi yang bisa Delano sembunyikan karena memang Alana pun tidak akan percaya lagi dengan kebohongan yang dia lakukan itu. Akhirnya Delano hanya menceritakan semua yang dia ketahui dari cerita Abraham padanya pada saat itu.
"Ja-jadi, Ayah aku masih hidup selama ini? Dan dia mencari aku selama ini. Ya Tuhan, kenapa Ibu tidak pernah mengatakan semuanya padaku"
Delano memeluknya, dia tidak bisa melihat istrinya yang bersedih seperti ini. Ini yang membuat Delano yang tidak langsung memberi tahukan Alana tentang hal itu. Karena sudah dia pastikan jika Alana akan seperti ini, sedih dan kecewa dengan apa yang dia rasakan.
"Sudah ya Sayang, kamu baru saja melahirkan, jadi tidak usah terus menangis seperti ini"
Alana tidak bisa menahan tangisannya saat ini. Entah apa yang dilakukan oleh Ibunya dengan kelakuan Ibunya yang begitu tega menyembunyikan kebenaran yang ada pada Alana selama ini.
"Aku tidak akan pernah menyangka Ibu akan setega ini sama aku. Memangnya aku telah melakukan kesalahan apa padanya"
Delano mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Sudah, kamu tidak pernah mempunyai salah aapapun. Kamu adalah anak penurut, Ibu kamu saja yang tidak bersyukur mempunyai anak seperti kamu"
Oekk..
Tangisan dari bayi dalam gendongan Alana, membuat Alana langsung terdiam. Dia melepaskan diri dari pelukan suaminya, menatap anak dalam gendongannya. Baru tersadar jika ada bayi dalam gendongannya.
Delano ikut tersenyum, dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Ayo mimi lagi Sayang"
Alana kembali memberikan asi pada anaknya, dia menghentikan tangisnya. Alana hanya tidak ingin anaknya ikut menangis karena Ibunya yang sedih. Alana terus mengelus kepala anaknya dengan lembut. Meski pikirannya masih tertuju pada Ibu dan Ayahnya yang sekarang belum dia ketahui siapa dan dimana berada.
Alana mendongak dan menatap Delano yang berdiri di samping ranjang pasien yang dia tempati. "Sayang, aku ingin bertemu dengan Ayahku"
Delano mengangguk, dia menatap Alana dengan tersenyum. Dia tentu tahu jika istrinya pasti ingin segera bertemu dengan Ayah kandungnya yang sempat dia pikirkan telah meninggal dunia.
"Aku akan menelepon Papa kamu"
Alana mengangguk, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Ayahnya. Dia membayangkan bagaimana wajah Ayahnya yang sebenarnya, dia tidak akan pernah tahu bagaimana sebenarnya Ayah kandungnya itu.
"Sayang, Papa kamu akan segera datang. Aku sudah mengirimkan pesan padanya"
Alana mengangguk dan tersenyum, hatinya semakin berdebar karena dia yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayah kandungnya yang tidak dia ketahui selama ini.
"Oh ya, kita belum memberikan nama untuk anak kita ini. Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?"
Sengaja Delano membahas tentang hal lain karena dia tidak mau melihat istrinya kembali bersedih karena mengingat hal yang baru saja dia ketahui.
"Aku juga tidak tahu ya, tapi aku sudah menemukan nama depannya saja. Aku ingin anak kita ini di panggil Aini"
Delano tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala anaknya dan memberi kecupan disana. "Aini Nathali Wijaya, bagaimana?"
Alana mengangguk dengan tersenyum, tentu saja dia senang dengan nama itu. Marga suaminya yang tersemat di belakang nama putrinya.
"Aku suka, nama itu"
Delano tersenyum melihat wajah bahagia istrinya ketika dia membahas tentang anaknya. Mungkin memang kesedihan seorang Ibu akan hilang ketika dia membahas tentang anaknya. Karena seorang anak adalah yang paling bisa membuat Ibunya bahagia meski dalam kesedihan apapun.
Satu jam kemudian, pintu ruangan ruang rawat itu terbuka. Menampilkan Abraham yang berdiri di ambang pintu dengan tubuhnya yang mematung. Dia merasa ragu untuk melangkah masuk, takut dengan reaksi apa yang akan di berikan oleh Alana ketika bertemu dengannya sebagai seorang Ayah.
Tidak! Jika itu memang Ayahnya, Alana merasa tidak asing lagi dengan wajah itu. Alana seolah pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Bukankah dia yang menolongku di taman waktu itu? Gumamnya pelan.
"Sayang, dia adalah Papa kandung kamu"
Alana menatap pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Perasaannya campur aduk saat ini, masih tidak percaya jika dia telah bertemu dengan Ayah kandungnya itu. Setelah puluhan tahun dia hanya berpikir jika Ayah kandungnya itu adalah seorang pria yang menikah dengan Ibunya. Tapi ternyata ada sebuah cerita dan kenyataan yang tidak dia ketahui selama ini.
Abraham berjalan perlahan menghampiri anak perempuannya itu. "ini Papa, Nak"
Bersambung