Love Story In Paris

Love Story In Paris
#9



Jalanan di kota Paris siang ini tidak terlalu ramai. Celine mengendarai mobilnya menuju Pemakaman Montparnasse, sebuah pemakaman di kawasan Montparnasse di Paris. Pemakaman tersebut kira-kira 47 hektar dan merupakan pemakaman terbesar ke dua di Paris. Selain itu, pemakaman tersebut memiliki lebih dari 35.000 kuburan dan sekitar seribu orang di makamkan di pemakaman itu setiap tahunnya.


Hari ini, Celine akan menemui kekasih tercintanya yang sudah lama tidak ditemuinya. Sudah tiga tahun Celine meninggalkannya dan pergi ke London.


Celine berdandan sebaik mungkin. Dia memakai long dress berlengan panjang dengan warna putih, dan sepasang sepatu flat dengan warna senada.


Kenzo kekasih tercintanya sangat menyukai warna putih, dan dia sangat senang saat melihat Celine memakai gaun berwarna putih. Kenzo pernah mengatakan kalau Celine seperti bunga daisy yang sangat indah dan cantik.


Hari ini, Celine hanya memakai make-up tipis untuk memberi kesan natural look dan memakai lipstick warna merah agar tidak terlihat pucat.


Celine memarkirkan mobilnya di parkiran yang telah disediakan di untuk pengunjung.


Celine berjalan melewati banyak nisan hingga tatapannya tertuju pada sebuah nisan besar bertuliskan nama kekasih tercintanya "KENZO WILLIAM" dengan huruf kapital. Celine melangkah dengan tenang ke arah nisan itu dengan sebuket bunga mawar ditangannya. Nisan itu masih sama seperti saat sebelum Celine pergi meninggalkan Paris.


Celine berjongkok lalu meletakkan buket bunga mawar yang dibawanya di depan nisan Kenzo. Dia tersenyum sambil menatap nisan itu lalu bicara kepadanya seolah Kenzo ada didepannya dan mendengarkan ucapannya.


"Sayang, apa kabar? Maaf, aku baru datang mengunjungimu. Apa kamu bahagia di sana? Aku sangat merindukanmu."


Tanpa disadari, airmatanya mentes dan membasahi pipinya.


"Kamu tau, sayang? Anak kita sudah lahir. Aku memberinya nama Isabella Willam Wijaya. Aku memakainya nama belakang keluargamu juga keluargaku. Kamu tidak keberatan kan? Sekarang umurnya sudah 1,5 tahun, dia sangat cantik dan pintar.", Airmata Celine semakin mengalir deras. "Apa kamu juga tau? Isabel sangat mirip denganmu. Matanya, hidungnya, dan senyumannya yang selalu membuatku mengingatmu." Celine tersenyum sambil mengusap airmatanya dan melanjutkan bicara lagi. "Hampir semua yang ada pada Isabel, sangat mirip denganmu. Bahkan, sikap lembut dan pengertiannya sama sepertimu. Kamu tau? Dia menitipkan salam untukmu. Dia bilang kalau dia sangat mencintaimu dan merindukanmu."


Celine tersenyum pahit sambil mengusap kembali airmatanya yang masih mengalir. "Selain kamu, Isabel adalah belahan jiwaku. Dia adalah penyemangatku untuk tetap bertahan hidup setelah kamu pergi meninggalkanku selamanya. Maafkan aku karena aku pernah sempat merasa sangat putus asa dan depresi karena kepergianmu, sampai anak kita lahir prematur." Ucap Celine sambil menangis. "Dia lahir saat kehamilanku masih berusia tujuh bulan dan sekarang, Isabel masih harus rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter. Karena itu aku masih belum bisa mengajaknya kemari untuk menemuimu."


Celine mulai tenang dan tersenyum sambil mengusap airmatanya kembali. "Sayang, begitu berat rasanya hidup ini aku jalani tanpamu. Dulu, hanya kamu yang selalu ada untukku, menemaniku. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan-kenangan Indah kita. Bahkan sampai saat ini, aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu."


Celine yang masih berjongkok dan terus bicara didepan makam Kenzo, tanpa terasa langit sudah hampir gelap dan matahari sudah hampir terbenam.


Dia menghela nafasnya dalam-dalam lalu tersenyum menatap nisan Kenzo. "Sayang, aku pulang dulu ya? Aku akan datang mengunjungimu sesering mungkin. Jika saatnya tiba, aku juga akan datang membawa gadis kecil kita untuk menemuimu. Aku yakin, kamu pasti akan sangat menyukainya."


...


Setelah berziarah ke makam Kenzo, Celine berjalan menuju parkiran mobilnya dengan perasaan hampa dan segala kenangan indah bersama Kenzo yang masih melekat di benaknya.


Saat Celine menuruni anak tangga, kakinya tergelincir hingga tubuhnya hampir terjatuh ke tanah. Tapi, tiba-tiba ada sebuah lengan yang meraih pinggangnya dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Nona, kamu ini memang sangat ceroboh."


Sebuah suara yang sangat familiar terdengar ditelinganya.


Celine menatap pria yang ada dihadapannya, yang sedang memeluk pinggangnya, menahan tubuhnya. Pria itu adalah Nicholas Emmanuel.


OMG! Kenapa aku selalu bertemu dia di saat kejadian memalukan?! Sial!


Celine mengumpat dalam hati. Tapi, pria yang tidak masuk akal inilah yang selalu membantunya di saat dia mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.


Apa ini sebuah kebetulan saja? Apa dia sengaja mengikutinya?


Tidak mungkin! Apa hubungan semua ini dengannya? Dia saja tidak mengenal pria asing ini dan hanya bertemu beberapa kali saja secara kebetulan.


Yang Celine tau, pria ini sangat sombong, suka bertindak semaunya dan sangat tidak masuk akal!


"Nona Celine..." Pria itu kembali memanggilnya saat Celine hanya diam dan terus menatap wajah tampannya.


Seketika Celine tersadar dari lamunan singkatnya. Dia segera berdiri dan melepaskan pelukannya, lalu membenahi rambut juga pakaiannya yang menjadi sediki berantakan. "Maaf, Tuan Nicholas."


"Apa kamu selalu ceroboh seperti ini, Nona?"


Mata Celine membola menatapnya. "Apa maksudmu?"


Pria itu hanya diam tidak menjawabnya.


"Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu sengaja mengikuti aku?"


Pria itu langsung tertawa mendengar ucapan Celine yang menurutnya sangat percaya diri. "Apa? Aku mengikutimu? Seperti kurang kerjaan saja."


"Lalu, untuk apa kamu ada disini? Rasanya tidak mungkin aku selalu bertemu denganmu secara kebetulan saja." Tanya Celine lagi dengan dingin.


Pria itu kembali tertawa sekilas. "Itu bukan urusanmu dan tolong jangan terlalu percaya diri. Harusnya, kamu berterimakasih kepadaku. Kalau aku tidak menolongmu, mungkin saja saat ini kamu akan dibawa oleh ambulan karena patah kaki."


"Kamu....." Celine menggerakkan giginya dan memelototi pria ini tidak tau harus bicara apa lagi dengannya yang sangat menjengkelkan seperti ini.


"Sudahlah, Nona. Waktuku terbuang percuma hanya untuk berdebat denganmu." Ucap Nicholas kemudian berjalan menuruni anak tangga dengan sebelah tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana, membuat Celine merasa semakin geram dengan sikapnya yang begitu sombong.


Penampilan Nicholas tidak jauh beda dengan saat dia menemui Celine di kantor. Nicholas memakai kemeja hitam dan celama hitam yang terlihat sangat mahal dengan tiga kancing terbuka hingga sedikit memperlihatkan dadanya yang bidang.


Tampilannya seperti pria kaya Raya yang hidup begitu seenaknya. Aura bossy-nya terpancar jelas dibalik sikap dinginnya. Seperti seorang pria tampan berkharisma yang selalu menjadi impian para wanita, tapi terasa sangat sulit untuk digapai.


Celine pun kembali berjalan dibelakangnya menuruni anak tangga. Tapi, saat ingin menggerakkan kaki kanannya, Celine mengaduh kesakitan. "Aawh!"


"Kakiku sakit sekali." Jawab Celine dengan suara sedikit serak sambil meringis kesakitan dan berjongkok memegangi pergelangan kaki kanannya.


"Apa perlu bantuan?"


"Tidak, terimakasih."


Tapi, Nicholas seolah tidak mendengar penolakannya. Dia membalikkan badan dan berjalan kearahnya.


Setelah berdiri disamping Celine, tiba-tiba Nicholas menarik pinggangnya dan menggendongnya ala bride.


Pria ini selalu melakukan hal-hal diluar dugaan tanpa banyak bicara.


Dengan terpaksa dan rasa malu Celine mengalungkan tangannya di leher pria asing ini agar tidak terjatuh.


Pria ini hanya diam berjalan dengan tenang menatap ke depan.


Celine yang tiba-tiba digendong oleh pria asing seperti ini, merasa sangat gugup sampai tangannya gemetar dan berkeringat dingin. Tapi Celine dapat melihat dengan jelas wajah pria ini yang terukir Indah didepan matanya.


Namun, pria asing ini benar-benar sangat membingungkan. Tiba-tiba dia bersikap sangat baik dan lembut, tapi terkadang juga sangat sombong dan menyebalkan. Sangat sulit untuk ditebak.


"Jangan menatapku seperti itu. Atau nanti kamu akan jatuh hati kepadaku."


Celine sedikit terkejut dan tersadar dengan apa yang dia lakukan. Memandangi wajah tampan pria asing yang sedang menggendongnya ini. Hatinya merasa malu. Tapi, tentu saja dia tidak ingin memperlihatkan itu pada pria ini.


"Siapa juga yang jatuh hati kepadamu?! Kamu sebagai seorang pria, bicara dengan seenaknya. Benar-benar tidak punya malu!" Ucap Celine dengan kesal.


"Apa katamu?" Seketika Nicholas menghentikan langkahnya dan sengaja melepaskan Celine dari gendongannya yang menyebabkan tubuh Celine langsung terjatuh ke tanah. 'Bruk!'


"Aawh..!" Celine kembali mengaduh kesakitan karena pinggangnya terasa sangat sakit saat membentur tanah dengan keras, serasa mau patah.


"Itu hukuman untuk orang sepertimu yang tidak tau rasa terimakasih!" Ucap Nicholas dengan tersenyum dingin.


Celine merasa sangat sakit hati dengan perlakuan pria sombong ini. Benar-benar tidak punya perasaan!


"Kamu memang pria yang tidak punya perasaan! Tega menyiksa perempuan sepertiku!"


"Orang yang tidak tau rasa terimakasih sepertimu, tidak pantas untuk dikasihani!" Ucap Nicholas dengan raut wajahnya yang sudah berubah semakin dingin kemudian melangkah pergi begitu saja meninggalkan Celine yang masih terkapar ditanah.


Pria ini benar-benar tidak punya hati nurani!


Tanpa sadar, airmata Celine menetes membasahi pipi karena menahan rasa yang teramat sakit di pinggang juga pergelangan kaki kanannya. Dia membersihkan beberapa luka gores yang ada ditangannya.


Ya Tuhan, derita apa lagi ini? Sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula.


Pria asing itu selain sombong, dia juga sangat kasar!


Tanpa sengaja, Celine melihat mobil sport milik pria itu masih berada diparkiran dan tidak juga pergi.


Celine tidak ingin menghiraukannya. Dia masih terduduk ditanah dan sibuk membersihkan goresan luka di tangannya.


Tiba-tiba, Nicholas keluar dari mobil sport-nya dan kembali menghampiri Celine. Tanpa bicara, Nicholas mengangkat tubuh Celine dan menggendongnya.


Hal itu tentu saja membuat Celine sangat terkejut melihat tindakannya yang selalu tidak terduga.


"Apa yang kamu lakukan?! Lepas!" Celine meneriaki Nicholas sambil mendorong dan memukul dada bidangnya.


Tapi, Nicholas hanya diam tidak menggubrisnya. Dia terus berjalan ke arah mobilnya sambil menggendong Celine.


Celine masih memberontak dan terus meminta pria asing ini melepaskannya. "Lepaskan! Lepaskan aku!"


"Diam!" Bentak Nicholas yang sudah merasa jengah dengan pemberontakan Celine membuat Celine terdiam seketika.


Nicholas mencebikkan bibirnya dan bicara dengan suara melembut. "Aku hanya ingin membantumu. Apa kamu mau aku melepaskanmu lagi?"


Celine hanya terdiam menatap wajah tampan pria menyebalkan ini yang terlihat sedang menahan amarah menjadi takut.


Tunggu! Sejak kapan Celine menjadi takut pada orang lain?


Celine pun kembali tenang dalam dekapan pria tampan yang sangat menyebalkan ini.


Nicholas memasukkan Celine kedalam mobilnya kemudian dia masuk di sisi lain di bagian kemudi Dan menyalakan mesin mobilnya.


"Mobilku.....?" Ucap Celine sambil melirik ke arah Nicholas yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan kawasan pemakaman dengan tenang tanpa menggubris ucapan Celine.


...***...