Love Story In Paris

Love Story In Paris
#28



Pesawat dari Paris baru saja mendarat di bandara Kota London.


Nicholas keluar dari pesawat menuju tempat pemeriksaan, setelah itu dia duduk di ruang tunggu sambil menunggu supirnya menjemput.


Saat Nicholas sedang duduk santai diruang tunggu, dia melihat seorang gadis kecil yang berlarian kesana kemari diikuti oleh neneknya.


Gadis kecil itu terlihat sangat cantik, imut dan lucu. Kulitnya yang putih, rambutnya yang sedikit bergelombang dan pipinya yang bulat terlihat sangat menggemaskan.


Nicholas memperhatikan gadis kecil yang sedang berlarian itu terlihat begitu riang gembira. Sesekali terdengar suara neneknya yang memperingatkannya untuk tidak berlarian.


"Isabella, jangan berlarian lagi. Nanti kamu bisa terjatuh."


Gadis kecil itu tidak mempedulikan ucapan neneknya dan terus bergerak sesuka hatinya.


Sesekali gadis kecil itu berhenti sejenak dihadapan Nicholas dan kembali berlari lagi dengan sebuah boneka teddy bear ditangannya.


Saat gadis kecil itu tengah berlari, tiba-tiba boneka yang ditangannya terlempar ke bawah kursi yang diduduki Nicholas, Nicholas yang sedang sibuk dengan ponselnya, tidak menyadari jika gadis kecil itu sudah berdiri dihadapannya.


"Uncle..."


Terdengar suara gadis kecil itu menyebut kata 'uncle'.


Nicholas mengangkat kepalanya dan melihat gadis kecil yang tadi dilihatnya sedang berdiri hadapannya. Nicholas pun tersenyum padanya. "Ya, anak manis. Ada apa?"


"Uncle, bisakah uncle membantuku?" Gadis kecil itu berbicara dengan suara manjanya sambil memelintir ujung bajunya.


Nicholas bangkit dari duduknya, lalu berjongkok dihadapan gadis kecil itu, menyamakan tingginya dengan gadis itu. "Kamu ingin uncle bantu apa, anak manis?"


"Tolong bantu aku untuk mengambil bonekaku yang ada dibawah kursi uncle."


Nicholas menoleh kebelakang dan melihat boneka yang dipegang gadis kecil tadi memang ada dibawah kursi tempatnya duduk.


Nicholas tersenyum pada gadis kecil itu, kemudian mengambilkan bonekanya. "Ini bonekamu." Nicholas memberikan boneka teddy bear itu ketangannya.


"Terimakasih uncle." Ucap gadis kecil itu sambil tersenyum pada Nicholas.


"Sama-sama, sayang." Nicholas mengusap rambut gadis kecil itu yang bergelombang.


"Uncle sangat tampan."


Nicholas tersenyum melihat gadis kecil ini memujinya. Dari caranya berbicara, gadis kecil ini terlihat sangat pintar.


Nicholas kemudian menggendong gadis kecil itu dan mendudukkannya dikursi kursi yang ada di sampingnya. "Siapa namamu?"


"Isabella." Jawab gadis kecil itu.


"Nama yang sangat indah." Nicholas kembali mengusap rambut gedis kecil yang kini sedang duduk di sampingnya.


Saat Nicholas sedang asik berbincang dengan gadis kecil itu, tiba-tiba neneknya datang dengan wajah cemas. "Isabel sayang, kamu kemana saja? Nenek sangat mencemaskanmu."


"Nenek Aida, aku sedang bicara dengan uncle tampan."


Nenek gadis kecil itu tersenyum kemudian menoleh kearah Nicholas. "Maaf ya Tuan, jika cucuku sudah merepotkanmu."


"Tidak apa-apa, aku menyukainya." Ucap Nicholas sambil membalas senyum nenek gadis kecil itu.


"Isabel sayang, ayo kita pergi, aunty Jessi sudah menunggu kita disana."


"Baik, nenek Aida." Gadis kecil ini begitu patuh pada neneknya.


Sebelum gadis kecil itu pergi, dia menatap Nicholas beberapa saat kemudian berkata, "Uncle, sebelum aku pergi, aku ada sesuatu untuk uncle."


"Apa?"


"Uncle mendekatlah."


Nicholas pun merunduk dan mendekat pada gadis kecil yang sangat imut itu.


Tiba-tiba gadis kecil itu memeluk leher Nicholas dan mengecup pipinya. Muach!


"Terimakasih karena uncle sudah membantuku. Aku berharap daddy -ku setampan uncle. Sampai jumpa uncle tampan!"


Nicholas tersenyum sambil menyentuh pipi yang baru saja dikecup oleh gadis kecil yang sangat manis itu lalu melambaikan tangannya. Entah mengapa melihat wajah gadis kecil itu membuat hatinya terasa teduh.


Nicholas masih menatap kearah gadis kecil itu yang berjalan sambil menoleh kearahnya dan melambaikan tangannya hingga tak nampak lagi.


Tak lama kemudian, Chris Jordy datang menghampirinya. "Maaf Tuan, aku terlambat. Tadi ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan sebelum ke sini."


Nicholas berjalan melewati koridor dengan langkah besar diikuti Chris yang berjalan di belakang sambil membawa barang-barangnya.


Saat Nicholas dan Chris berjalan melewati koridor yang panjang, ada sekelompok orang yang berkerumun disalah satu sudut ruangan dan terdengar suara keramaian seperti telah terjadi sesuatu.


Tanpa sengaja, Nicholas menoleh kearah keramaian tersebut dan melihat gadis kecil yang dia temui tadi sedang digendong neneknya.


Nicholas segera berjalan menghampiri dan melihat nenek gadis kecil itu sedang menangis sambil menatap wajah cucunya yang saat ini berada dalam pangkuannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Nicholas dengan khawatir.


Nenek itu masih menangis lalu menoleh kearah Nicholas yang berdiri dihadapannya, kemudian segera berkata, "Tuan, tolong bantu aku. Tiba-tiba penyakit cucuku kambuh dan tidak sadarkan diri."


"Chris, cepat bawa gadis kecil ini ke rumah sakit!" Nicholas segera merebut gadis kecil itu dari pangkuan neneknya, kemudian Nicholas berlari dengan hati sambil menggendong gadis kecil itu menuju mobilnya.


Nenek gadis kecil itu mengikuti Nicholas dari belakang bersama Chris.


Nicholas begitu mengkhawatirkan kondisi gadis kecil yang saat ini berada di pangkuannya. Meski baru pertama kali bertemu dengannya, tapi entah mengapa gadis kecil ini seperti medan magnet baginya.


Chris mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Nicholas duduk dikursi penumpang sambil menggendong Isabella gadis kecil yang masih tak sadarkan diri. Sedangkan nenek gadis kecil itu duduk di kursi co-driver sambil terus menangis.


"Chris, apa kamu tidak bisa lebih cepat lagi?" Nicholas semakin merasa tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit.


"Maaf Tuan, kecepatan tidak bisa ditambah lagi. Jalanan sangat ramai." Jawab Chris sambil melirik Nicholas dari kaca spion di depannya.


Kriiing...kriiing...kriiing


Terdengar suara ponsel berbunyi dari dalam tas nenek Isabella. Beliau membuka tas, mengeluarkan ponselnya dan segera mengangkat panggilan telepon tersebut dengan suara serak. "Hallo, Nona. Saat ini saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Ma-maaf, Nona, kejadiannya sangat mendadak. Aku tidak tau ini semua akan terjadi pada Isabella. Apa saya harus menelepon Nyonya? Baik, Nona."


Tak lama, mereka sampai dirumah sakit. Nicholas segera turun dari mobil dan langsung berlari membawa Isabella ke ruang dokter untuk diperiksa.


Begitu sampai diruang dokter, Nicholas langsung membaringkan tubuh kecil Isabella di atas tempat tidur pasien. "Dokter, tolong periksa dan obati gadis kecil ini."


"Baik, Tuan. Biar saya periksa dulu, Anda boleh menunggu di luar."


Nicholas pun keluar dari ruang pemeriksaan yang pintunya telah ditutup.


Nicholas menunggu didepan pintu ruang pemeriksaan dengan wajah frustasi karena sangat takut jika terjadi apa-apa pada gadis kecil itu.


Gadis sekecil itu tidak akan sanggup menahan sakitnya jika dia menderita suatu penyakit.


Nicholas menoleh kearah nenek gadis kecil itu yang tengah duduk dikursi dengan wajah tampak pucat menuggu cucunya yang sedang diperiksa sambil menangis.


"Nek..." Nicholas memanggil nenek itu dengan suara rendah, berusaha untuk menenangkannya. "Jangan menangis lagi. Isabella tidak akan kenapa-napa."


Nenek itu menoleh kearah Nicholas yang kini tengah duduk disampingnya, menatap dengan wajah yang menyedihkan. "Tuan, ini salahku. Aku tidak menjaganya dengan baik."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Isabella?" Tanya Nicholas penasaran.


"Sebenarnya, Isabella sudah menderita penyakit gangguan jantung bawaan dari dia masih bayi."


Nicholas mengerutkan keningnya karena masih tidak mengerti. "Maksud nenek?"


"Dulu, Isabella lahir prematur. Mommy-nya melahirkannya saat usia kandungannya masih tujuh bulan. Kata dokter, penyakit jantung bawaan ini sering terjadi pada bayi yang lahir prematur. Dan hal itu mengganggu dua pembuluh darah utama pada jantung bayi yang terus terbuka dan masuk kedalam jantung. Dari bayi hingga sekarang, Isabella masih sering mengalami tekanan darah rendah dan harus selalu melakukan pemeriksaan rutin hingga nanti dia dinyatakan sembuh total. Tapi hari ini......"


Nenek itu kembali menangis dan melanjutkan ucapannya sambil menghapus airmatanya dengan tisue. "Tapi hari ini, aku gagal menjaganya dengan baik. Aku membiarkannya berlarian sesuka hatinya karena terlalu senang hingga dia kelelahan dan tiba-tiba pingsan. Dia sangat senang karena hari ini kami akan pergi ke Paris menemui Mommy-nya."


"Nenek tenang saja, aku akan mencarikan dokter terbaik untuk Isabella agar dia lekas sembuh. Isabella akan segera pulih."


"Terimakasih, Tuan."


Nicholas tersenyum pada nenek itu yang sudah mulai tenang dan berhenti menangis. "Sama-sama, nek. Ngomong-ngomong, dimana orang tua Isabella?"


"Daddy-nya sudah meninggal 3 tahun yang lalu, dan Mommy-nya sekarang ini sedang berada di Paris. Sebenarnya, hari ini kami akan berangkat ke Paris untuk menemui Mommy-nya."


"Sungguh gadis kecil yang malang." Nicholas merasa sedih mendengar cerita dari nenek itu. Isabella masih terlalu kecil tapi sudah mengidap penyakit gangguan jantung. Selain itu, dia tidak memiliki keluarga yang lengkap.


Tiba-tiba Chris datang menghampiri Nicholas. "Maaf Tuan, satu jam lagi anda akan mengadakan live conference dengan direktur perusahaan cabang lainnya. Jangan sampai terlambat, karena waktu London berbeda dengan waktu mereka."


Nicholas menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Chris yang telah mengingatkannya. Dia kemudian menoleh kearah nenek Isabella. "Nek maaf, aku harus pergi dulu, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Nanti asistenku akan mengurus semuanya. Untuk pengobatan Isabella, biar aku yang mengurusnya. Besok siang aku akan kembali lagi kesini untuk menjenguk Isabella. Jika terjadi sesuatu pada Isabella, langsung saja panggil dokter dan hubungi aku."


"Baik Tuan, sekali lagi terimakasih banyak sudah mengantar cucuku ke rumah sakit ini."


"Tidak perlu sungkan, nek. Sampai jumpa." Nicholas pun beranjak pergi bersama Chris meninggalkan nenek itu sendirian duduk didepan ruang pemeriksaan.


...***...