Love Story In Paris

Love Story In Paris
#8



Keesokan harinya, Celine bangun kesiangan. Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah jendela membangunkannya dari tidur yang terasa begitu panjang.


Celine merasakan kepalanya sedikit pusing karena mungkin semalam dia terlalu lama menangis.


Dia meraih ponselnya yang dia letakkan diatas nakas samping tempat tidur. Dia terkejut saat melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Jessica dan Isabella.


Celine lupa kalau pagi ini dia menyuruh Jessica pergi ke showroom mobil dan sejak kemarin dia juga belum ada menelpon Isabella.


Yang dia lakukan yaitu menekan nomor Isabella dan menelponnya. Dia begitu merindukan gadis kecilnya.


Belum lama tersambung, telepon sudah langsung diangkat.


"Halo mommy!" Terdengar suara gembira dari anak kecil yang sangat manis di seberang sana.


"Halo Isabel sayang, apa kamu sudah sarapan?"


"Sudah..."


Celine tersenyum berbicara dengan gadis kecil di seberang sana.


"Hari ini, kesayangan mommy sarapan apa?"


"Hari ini nenek Aida membuatkanku roti selai strawberry dan susu coklat." Jawab Isabella dengan suara imutnya.


"Apa kamu menghabiskannya, sayang?"


"Tentu saja! Karena mommy mengajarkan aku untuk tidak membuang-buang makanan." Jawab Isabella dengan bersemangat.


"Anak pintar. Kalau begitu kamu harus jadi anak yang patuh disana dengan nenek Aida ya."


"Iya mommy...eum...mommy kenapa kemarin mommy tidak menelpon aku?" Suara Isabella menjadi terdengar sedih.


"Maafkan mommy sayang. Kemarin, mommy sangat sibuk dikantor, maaf ya." Pinta Celine dengan penuh rasa bersalah.


"Mommy...apa pekerjaan mommy disana sangat banyak? Aku sangat merindukan mommy..." Tanya Isabella dengan manja.


"Tidak sayang, Kalau urusan mommy sudah selesai disini, mommy akan segera pulang." Jawab Celine dengan lembut berusaha membujuk Isabella yang sudah merindukannya.


"Kalau begitu, mommy cepat pulang dan bertemu denganku." Terdengar suaranya lagi yang bersedih.


Celine hanya bisa tersenyum pahit mendengarnya. "Baik sayang. Mommy akan segera menyelesaikan semuanya dan kembali untukmu."


Isabella terdiam sejenak.


Celine tau kalau Isabella sedang menahan tangisnya di sana. Dia berusaha membujuknya lagi agar Isabella tidak bersedih. "Sayang, hari ini mommy akan menemui daddy-mu. Apa kamu ingin menitip pesan untuknya?"


Isabella kembali mengeluarkan suaranya yang riang dan menggemaskan. "Mommy, bilang ke daddy kalau aku mencintainya dan aku merindukannya."


Mendengar itu, airmata Celine tanpa sadar menetes. Meskipun Isabella seumur hidup tidak akan pernah bisa melihat melihat daddy-nya, tapi dia begitu mencintai daddy-nya.


Celine menghela nafas dalam-dalam berusaha menutupi kesedihannya pada Isabella. "Baik sayang, nanti mommy akan sampaikan ke daddy."


Setelah Celine menutup teleponnya, dia kembali termenung, teringat akan masa lalunya.


Isabella adalah gadis kecil yang baru berusia dua puluh bulan. Dia Putri Celine bersama Kenzo.


Gadis kecil yang sangat cantik dan juga pintar, selalu bisa membuat Celine merasa bahagia saat melihatnya.


Tiga tahun lalu, setelah kepergian Kenzo, Celine tidak menyadari kalau dirinya sedang hamil anak Kenzo. Setelah kepergian pria yang sangat dicintainya, dia merasa sangat frustasi hingga suatu malam tiba-tiba dia demam tinggi. Jessica memanggil dokter untuk memeriksanya.


Setelah diperiksa, Celine baru mengetahui kalau dirinya tengah hamil.


Sebuah kenyataan yang begitu mendadak, membuatnya semakin merasa frustasi. Bagaimana bisa dia hamil tanpa seorang suami dan melahirkan bayi tanpa seorang ayah? Ini benar-benar bisa membuat semua orang disini mencela dia.


Pikiran buruk akan dirinya yang ingin menggugurkan janin tak berdosa ini hingga ingin mengakhiri hidupnya pun terlintas di benaknya. Karena Celine merasa sangat putus asa harus menjalani semua ini sendirian.


Beruntung dia masih memiliki orang-orang terdekat yang sangat mengerti dirinya. Mereka memberinya nasehat yang mampu membuat Celine harus kembali kuat untuk mempertahankan janinnya, buah cintanya bersama Kenzo. Meski saat itu hatinya masih merasakan sakit dan separuh jiwanya terasa hilang, Celine harus tetap bisa tegar.


Akhirnya, sejak saat itu Celine memutuskan untuk meninggalkan kota Paris dan menetap di London.


...


"Bu Celine..." Panggil Jessica sambil berjalan menghampiri


Celine di ruang makan sedang sarapan. "Maaf, mengganggu waktu sarapanmu."


"Tidak apa. Bagaimana?" Ucap Celine.


Jessica menyerahkan map yang berisi surat-surat pembelian mobil ke Celine. "Ini surat-surat bukti pembelian mobil. Kamu tanda tangan dulu. Mobil sudah ada diparkiran apartemen."


Celine menerima map yang diserahkan oleh Jessica kemudian segera menanda tanganinya. "Bagaimana dengan urusan di kantor, apa kamu sudah mengatur ulang semua jadwalku hari ini?" Tanyanya setelah menanda tangani surat-surat itu sambil mengangkat kepala menatap Jessica.


"Sudah Bu, semua sudah aku atur sesuai dengan perintahmu. Tapi....." Jessica berhenti sejenak dan menundukkan kepala merasa takut untuk menyampaikan kepada Celine.


"Tapi apa, Jess?"


"Eum..pertemuan dengan perusahaan Grand Corporation yang sudah direncanakan...kali ini dibatalkan lagi oleh pihak mereka."


'Brak!' "Apa?!" Celine reflek menggebrak meja dan seketika raut wajahnya berubah.


Jessica terperanjat kaget dibuatnya.


"Beraninya mereka berulang kali membatalkan janji! Mereka pikir, mereka itu siapa?!"


Semenjak peristiwa tragis tiga tahun lalu yang menewaskan Kenzo, Celine menjadi pribadi yang dingin dan mudah sekali emsoi. Bahkan, emosinya sering meledak-ledak tak terkendali.


Hanya di depan Isabella, Celine dapat menahan emosinya.


Jessica masih tertunduk diam saat Celine marah-marah. "Aku menjadi penasaran dengan pemilik perusahaan Grand Corp itu, sampai-sampai dia menolak kita untuk yang kesekian kalinya. Apa dia begitu berkuasa, sampai berani bersikap seperti itu terhadap kita?" Ucap Celine dengan wajah dinginnya.


"Menurut rumor yang pernah aku dengar, pemilik perusahaan yang besar itu baru saja kembali ke Paris. Tapi, orang-orang tidak tau jelas siapa pria pemilik perusahaan Grand Corp itu. Media juga selama ini tidak bisa melacak keberadaannya. Hanya saja, perusahaannya yang ada di kota Paris ini, di pimpin oleh seorang pria muda yang bernama James Zachary. Sedangkan untuk wilayah Eropa, perusahaan itu dipimpin oleh pemiliknya sendiri."


Celine terdiam mendengar perkataan Jessica sambil menenangkan dirinya. Kemudian, Celine memutar kepala menatap Jessica yang berdiri disampingnya. "Jess, maafkan aku yang sudah marah-marah ke kamu."


"Kamu tidak perlu minta maaf, Bu Celine." Ucap Jessica dengan tersenyum.


"Kalau begitu, kamu pergilah ke perusahaan."


Tak lupa, Jessica pun menyerahkan kunci mobil milik Celine yang baru saja dibelinya hari ini dan segera pergi ke perusahaan.


...***...