
Mansion Keluarga William.
David William sedang berada di ruang kerjanya bersama Gabriel William.
"David, bagaimana pengajuan kerjasama dengan Perusahaan Grand Corp? Apakah berhasil?" Tanya Gabriel William pada David William.
David menggelengkan kepala. "Aku tidak berhasil, Dad. Celine mendapatkannya lebih dulu."
"Bagaimana bisa?!"
"Aku juga tidak tahu, Dad. Padahal banyak perubahan lain selain perusahaan kita yang mengajukan kerjasama pembangunan gedung itu dengan mereka, tapi sampai sekarang tidak ada pemberitahuan sama sekali kepada siapa proyek itu diberikan."
"Lalu dari mana kamu tahu bahwa Celine yang mendapatkan proyek itu?"
David William menatap serius pada Gabriel William, Daddynya. "Saat aku mendatangi dia ke kantornya, aku tidak sengaja melihat surat kerja sama di atas mejanya. Aku membaca sedikit, dan kertas itu sudah dibubuhi tanda tangan dari kedua belah pihak."
Gabriel William membuang nafasnya dengan kasar. "Aku tidak menyangka jika gadis kecil seperti dia bisa sehebat itu. Biasanya dia hanya mendapatkan proyek-proyek kecil, itu pun proyek-proyek yang kita tolak. Tapi sekarang, mendadak dia mendapatkan proyek sebesar itu."
"Itulah, Dad. Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkannya. Tapi pasti ada seseorang yang kuat di belakangnya."
Gabriel William tersenyum mengejek. "Heh! Mana mungkin dia memiliki orang yang kuat di belakangnya. Setelah kakeknya meninggal, dia hanya hidup sendirian. Bahkan dia tidak memiliki teman dekat selain mendiang Kenzo. Dan semua usaha yang dia dapatkan dulu, semuanya juga berkat Kenzo."
Seketika raut wajah David William sedikit muram. Dia merasa tidak senang jika Gabriel mengungkit Kenzo di depannya. Mendengar nama itu membuatnya muak.
Dari dulu hingga saat ini Kenzo sudah meninggal, Gabriel William selalu menomor satukan Kenzo. Hingga terkadang, David merasa seperti tidak memiliki tempat di hati Gabriel William, Daddynya. "Sudahlah, Dad. Orang yang sudah meninggal jangan disebut lagi. Masih ada aku, putra Daddy."
Gabriel William terdiam sejenak saat mendengar ucapan David. Tak lama kemudian, dia berkata dengan menatap David serius. "David, bagaimana kalau kamu dekati Celine?"
"Maksud Daddy?" David William mengerutkan dahinya merasa tidak mengerti dengan ucapan Daddynya.
"Kamu dekati Celine, dan nikahi dia. Agar kamu bisa lebih leluasa mengontrol dia. Dia akan menuruti kemauanmu seperti saat dia mengikuti kemauan Kenzo dulu. Selain itu, agar Daddy dan Mommy bisa bertemu dengan Isabella."
"Kenapa harus aku, Dad?" David berusaha menolak, dia tidak ingin terikat dengan wanita, apalagi dengan yang namanya menikah.
"David, kamu adalah kakak dari Kenzo. Jadi, wajar saja jika sekarang kamu yang menggantikan posisi Kenzo. Hanya itu cara kita untuk mendapatkan apa yang kita mau. Dengan meninggalnya Kenzo, kita gagal menyatukan dua perusahaan. Dan sekarang ini menjadi tugasmu."
Setelah berbicara, Gabriel William bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruang kerja David.
David tidak menjawab ucapan Gabriel. Dari awal memang dia sudah berencana mendekati Celine, tetapi bukan menikahinya. Dia berencana mendekati Celine hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan saja.
Gabriel William yang baru saja berjalan sampai di ambang pintu tiba-tiba menghentikan langkahnya, dia membalikkan tubuhnya dan berkata, "Satu lagi. Usahakan rebut proyek besar itu secepatnya dari Celine, karena itu sangat menguntungkan bagi perusahaan kita. Selain itu, perusahaan kita juga akan lebih dipandang oleh perusahaan lainnya."
"Baik, Dad." David mengangguk menyetujuinya, dan Gabriel William berlalu pergi.
Sebenarnya, sebelum Gabriel William menyuruhnya untuk merebut proyek besar itu, dia sudah melakukannya terlebih dahulu. Tetapi tidak berhasil dan Perusahaan Grand Corp menggantungnya. Tetapi David akan mencobanya kembali. Dia akan mendekati Celine kembali, dan juga akan mendekati Tuan James Zachary.
Tetapi jika rencana itu masih tidak berhasil, terpaksa dia akan menggunakan cara lain.
David William meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja kerjanya, lalu menghubungi asistennya. "Dina, apa kamu sudah membuat laporan keuangan dari hasil kerjasama kita dengan Star Corp?"
"Sudah Tuan. Aku juga sudah mengirimnya." Jawab Dina dari seberang telepon.
"Astaga!" David menepuk keningnya. "Kamu ulang lagi membuatnya!"
"Memangnya kenapa, Tuan?"
"Kamu naikkan nilai modal dan yang lainnya yang berhubungan dengan biaya operasionalnya."
"Tapi Tuan..."
"Tapi apa?"
"Di laporan-laporan sebelumnya, kita sudah menaikkan nilai modal dari yang sebenarnya. Jika biaya operasional dan lainnya juga kita naikkan, perusahaan mereka nantinya akan mengalami kerugian. Lagipula, jika kita tetap menaikkan semuanya, bisa-bisa mereka akan curiga."
"Tidak. Mereka tidak akan curiga. Selama ini, mereka tidak pernah mempermasalahkan laporan yang selalu kita kirimkan."
"Baik, Tuan. Saya akan merevisi laporan tersebut."
"Lakukanlah dengan baik!"
David menutup teleponnya dengan Dina, kemudian menekan nomor Celine.
Beberapa kali David menghubungi Celine, tetapi tidak juga ada jawaban.
David menyeringai. 'Mendekatinya dengan cara menemuinya secara langsung, sepertinya itu lebih baik.' Batinnya.
...***...