
Beberapa minggu kemudian.
Hari ini adalah hari Minggu. Sejak Celine membawa Isabella kembali ke Paris, setiap hari Sabtu dan Minggu Celine selalu meluangkan waktu untuk putri kecilnya dan membawanya berjalan-jalan ke luar rumah bersama Bibi Aida. Dan hari ini Celine membawa Isabella ke sebuah taman bermain di lantai paling atas salah satu Plaza yang ada di Kota Paris.
Tempat ini terlihat begitu rapi, bersih dan berwarna-warni. Banyak orang tua yang datang dengan mengajak anak-anak mereka untuk bermain.
"Mommy, boleh aku bermain ke sana?" Isabella menunjuk ke sebuah seluncuran yang ada di ujung sana.
"Boleh, sayang." Celine tersenyum mempersilakan Isabella pergi bersama Bibi Aida.
Celine mengamatinya dari jauh sambil duduk di kursi yang ada di dekatnya.
Saat Celine sedang fokus memperhatikan Isabella bermain seluncuran, tiba-tiba terdengar suara wanita paruh baya yang familiar berteriak memanggil namanya. "Celine!"
Celine menoleh ke sekeliling mencari dari mana asal suara yang baru saja memanggil namanya hingga akhirnya Celine menemukan sepasang sosok yang sangat dia kenal tengah berdiri di luar pintu masuk.
Celine kemudian segera berdiri dan menghampiri sepasang suami-istri tersebut untuk menyapanya. "Om, Tente."
"Celine, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Tuan Gabriel William.
Tiba-tiba Celine merasa gugup dan bingung harus menjawab apa. 'Apa aku harus mengatakan bahwa aku ke sini untuk menemani putriku bermain? Mereka tidak tahu bahwa dulu aku pernah mengandung dan melahirkan Isabella, cucu mereka.'
"Em, a-aku..."
Nyonya Anne William tersenyum pada Celine. "Celine, apakah akhir-akhir ini kamu sangat sibuk? Kenapa kamu tidak pernah lagi datang ke rumah?"
Celine segera menjawab. "Akhir-akhir ini, aku lumayan sibuk, Tante."
"Bagaimana kalau Sabtu depan kita makan malam bersama di mansion?" Tawar Tuan Gabriel William.
Celine tersenyum dan menjawab. "Biar nanti aku lihat schedule ku dulu, Om. Nanti aku kabari lagi."
Saat mereka sedang berbincang di depan pintu masuk taman bermain, tiba-tiba Isabella berteriak dan datang menghampiri Celine. "Mommy..."
Celine terkejut mendengar suara Isabella dari kejauhan. 'Ya Tuhan, bagaimana caranya agar aku bisa menutupi keberadaan Isabella dari mereka?'
Tuan Gabriel dan Nyonya Anne tampak terkejut sekaligus penasaran melihat anak kecil yang berlari ke arah Celine. Mereka mematung cukup lama ketika melihat Isabella yang saat ini sedang berada dalam pelukan Celine.
"Mommy, aku mau es krim..." Ucap Isabella dengan manja.
Celine tersenyum. "Baik, sayang. Kamu pergi dengan bibi Aida ya."
Isabella menggeleng dan merengek. "Tidak mau. Aku ingin bersama Mommy."
Celine menoleh ke arah Tuan dan Nyonya William yang masih terdiam menatap mereka berdua. "Maaf Om, Tante. Aku permisi dulu. Aku harus membelikan es krim untuknya."
Celine pun segera pergi bersama Isabella dan Bibi Aida meninggalkan Tuan dan Nyonya William.
Saat mereka baru berjalan beberapa langkah, Tuan Gabriel William memanggilnya. "Celine, tunggu sebentar!"
Celine menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Tuan dan Nyonya William yang kemudian berjalan menghampirinya dengan langkah lebar.
Tuan Gabriel William bertanya. "Celine maaf sebelumnya, apakah gadis kecil ini putrimu?"
Celine mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Dia tidak bisa lagi menutupi keberadaan Isabella dari Keluarga William. Dia juga tidak bisa berbohong, karena mereka sudah terlanjur mendengar Isabella memanggilnya dengan sebutan 'Mommy'.
Tuan dan Nyonya William kembali terkejut dengan anggukan Celine. "Apa kamu sudah menikah?" Tanya Tuan William.
Celine masih tidak mengeluarkan suaranya dan hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Lalu?"
Celine menghela nafasnya panjang, merasa tidak bisa mengelak lagi dan mengakui semua yang pernah terjadi sebelum Kenzo pergi untuk selamanya.
Celine tersenyum pada Tuan dan Nyonya William. "Namanya Isabella William Wijaya, putriku bersama Kenzo William."
"Apa???" Nyonya Anne William tiba-tiba meneteskan air matanya, wajahnya seperti tidak percaya dengan yang ia dengar.
Sedangkan Tuan Gabriel William hanya berdiri mematung menatap Isabella yang kebingungan. "Apa benar ini anak Kenzo?"
Celine sedikit menunduk dan menjawab. "Iya, Om."
Isabella yang tiba-tiba dipeluk oleh dua orang yang tidak dia kenal merasa takut. Dia terlihat merasa aneh dengan kejadian yang dia alami saat ini.
Isabella kemudian merengek kepada Celine. "Mommy...aku takut."
Celine tersenyum melihat Isabella yang ketakutan, lalu ikut berjongkok bersama mereka. "Sayang, jangan takut. Mereka adalah grandpa dan grandma nya Isabella."
"Apa itu grandpa dan grandma, Mommy?" Isabella bertanya dengan wajah bingung.
"Sayang, ini grandma, ibu dari daddy mu." Nyonya Anne William menunjuk pada dirinya sendiri, kemudian menunjuk suaminya. "Dan ini grandpa, ayah dari daddy mu."
"Mommy, apa aku punya grandpa dan grandma selain nenek Aida?" Tanya Isabella masih tidak mengerti.
"Iya, sayang." Jawab Celine dengan tersenyum.
Seketika Isabella mundur beberapa langkah, menjauh dari Tuan dan Nyonya William. Dia seperti sulit menerima apa yang dia lihat.
Isabella kemudian segera berlari mendekati Bibi Aida dan memeluknya dengan erat. "Grandma ku hanya Nenek Aida!"
"Isabel, sayang. Itu juga grandma dan grandpa mu." Bibi Aida berusaha membujuk Isabella.
"Aku tidak mau, aku tidak mau!" Isabella semakin mengeratkan pelukannya pada Bibi Aida dan menangis sekencang-kencangnya, tidak mau turun dari pelukan Bibi Aida.
Celine merasa bingung melihat tingkah Isabella yang tidak biasa.
Isabella memiliki insting yang sangat kuat. Tapi tidak mungkin ada sesuatu yang aneh pada diri Tuan dan Nyonya William hingga membuat Isabella menjadi sangat ketakutan.
Dan kali ini Celine benar-benar tidak mengerti mengapa Isabella tiba-tiba menangis saat melihat kakak dan neneknya yang saat ini ada di hadapannya. Biasanya, gadis kecil ini sangat ramah pada orang baru.
Celine merasa bersalah dan menjadi canggung pada Tuan dan Nyonya William melihat tingkah putrinya yang dirinya pun tidak mengerti. "Maaf Om dan Tante. Aku tidak tahu kenapa Isabella menjadi begini. Sekali lagi aku minta maaf."
Tuan dan Nyonya William bangkit dan berdiri di hadapannya.
Nyonya Anne William tersenyum pada Celine. "Tidak apa-apa, Celine. Mungkin Isabella sangat terkejut dan masih sulit untuk menerima ini semua. Tapi, kamu jangan lupa datang Sabtu malam ke mansion kami ya. Kita akan ngobrol bersama."
"Baik. Akan aku usahakan. Kalau begitu kami permisi dulu." Setelah berpamitan, Celine segera pergi bersama Isabella dan Bibi Aida.
Setelah berpisah dari Tuan dan Nyonya William, Mereka masih melanjutkan kegiatan mereka untuk berbelanja di Plaza tersebut.
Celine dan Bibi Aida berjalan membeli beberapa keperluan sehari-hari, sedangkan Isabella duduk tenang di atas troli. Gadis kecil ini sudah kembali tenang setelah berpisah dari Tuan dan Nyonya William.
"Bi, aku tidak mengerti kenapa Isabella bisa bersikap seperti tadi pada Tuan dan Nyonya William? Biasanya Isabella akan sangat ramah pada orang baru." Celine bertanya pada Bibi Aida sambil memilih sayuran.
Bibi Aida menjawab dengan tenang. "Mungkin Isabella hanya merasa terkejut saja, Nyonya. Selama ini Isabel hanya terbiasa dengan kita dan jauh dari orang-orang asing."
Celine berbalik dan menatap Bibi Aida. "Lalu, kenapa dengan pria yang membantunya waktu itu Isabella tidak takut? Bukankah pria itu juga asing baginya? Malah Isabella selalu ingin bertemu dengan pria itu."
"Aku juga tidak mengerti, Nyonya. Yang pasti saat pertama kali aku melihat pria itu, pria itu terlihat sangat baik dan menyukai Isabella. Aku juga tidak tahu kenapa Isabella menyukainya."
"Menurut Bibi, bagaimana sosok pria itu?" Celine bertanya sambil melanjutkan berbelanja.
Bibi Aida tersenyum. "Menurutku, selain dia sangat baik, dia juga memiliki wajah yang sangat tampan dan berkelas. Tubuhnya tinggi dan gagah, terlihat sangat menarik. Matanya juga sangat indah seperti batu sapphire."
Mendengar penjelasan dari Bibi Aida tentang pria yang telah membantu Isabella, Celine malah terbayang wajah Nicholas Emmanuel.
'Kenapa aku malah jadi membayangkan wajahnya?' Batin Celine.
"Lalu, menurut Bibi, kenapa Isabella bisa sedekat itu dengan pria asing itu?"
"Mungkin karena pria itu sangat baik padanya, Nyonya. Dan...dan sepertinya Isabella juga merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Tapi saat mereka bermain bersama, mereka seperti ayah dan anak." Bibi Aida kembali tersenyum menceritakan kebersamaan Isabella dengan pria asing itu.
Celine hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Bibi Aida yang mengatakan jika Isabella merindukan sosok ayah dalam hidupnya. Jika pembicaraan ini dilanjutkan, maka akan membuatnya kembali bersedih. Karena selama ini Celine hanya mencintai Kenzo yang telah pergi membawa cintanya bersamanya.
Sedikitpun tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mencarikan Isabella seorang ayah.
Celine akan selalu berusaha untuk melengkapi kekurangan itu demi Isabella. Dia bersedia menjadi Mommy sekaligus Daddy untuk Isabella yang selalu bisa diandalkan.
...***...