
Sudah pukul delapan malam, David mengantar Celine hingga depan pintu lobby apartemen. "Terimakasih sudah mengundangku untuk minum teh bersama, Kak. Lain waktu aku akan mentraktirmu."
"Tidak perlu sungkan, aku hanya mengajakmu minum teh, tidak lebih. Kalau ada waktu, aku akan menghubungimu dan kita akan makan malam bersama." Ucap David sambil tersenyum pada Celine. "Sudah malam, kamu masuklah." Lanjutnya terdengar lembut penuh perhatian.
"Baik, aku akan masuk." Jawab Celine dengan tersenyum.
"Selamat malam dan sampai jumpa, Celine."
"Malam, sampai jumpa."
David masuk kedalam mobilnya dan melambaikan tangannya pada Celine dan Celine membalas lambaian tangan David.
Mobil David melaju dengan cepat meninggalkan halaman depan apartemen Celine.
Sebelum melangkah memasuki lobby apartemen, Celine mengedarkan pandangannya melihat sekitar. Dia melihat sebuah titik merah yang bergerak-gerak di sudut halaman apartemen yang agak gelap. Titik merah itu mengeluarkan kepulan asap putih, seperti rokok yang dinyalakan dan mengeluarkan asapnya.
Pandangan Celine terfokus pada titik merah tersebut yang bergerak makin lama makin mendekat. Samar-samar terlihat sosok tinggi yang Celine kenal datang menghampirinya dari ujung sana.
Setelah mendekat, Celine baru melihat dengan jelas bahwa itu adalah Nicholas Emmanuel.
Celine tidak menyangka, jika pria tampan pemilik sepasang mata bak batu sapphire itu akan datang malam ini menemuinya ke apartemen.
"Tuan Emmanuel..." Celine menyapa pria yang kini telah berdiri dihadapannya.
"Nona Celine, maaf karena malam-malam aku datang kemari."
Entah mengapa, Celine merasa senang dengan kehadiran Nicholas yang datang menemuinya. Jauh berbeda dengan perasaannya tadi saat David datang dan mengajaknya minum teh.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ada perlu apa?" Tanya Celine.
"Besok aku akan kembali ke London...." Nicholas menghentikan ucapannya sejenak, kemudian melanjutkannya. "Apa Nona Celine bersedia menemaniku jalan-jalan malam ini?"
Tiba-tiba darah dijantung Celine berdesir saat Nicholas mengajaknya untuk menemaninya jalan-jalan malam ini.
Celine merasa sedikit gugup, dia berusaha menutupi rasa senangnya atas ajakannya dengan cara menatap kebawah sepatunya.
"Nona Celine?"
Suara Nicholas membuat Celine yang tadinya menatap sepatu, kini beralih menatap wajahnya. Wajah Nicholas yang sangat tampan, dan tatapan lembut dari sepasang mata bak batu sapphire itu seperti hendak menyedotnya masuk kedalam dunianya.
Meski selama ini, pria yang Celine cintai adalah Kenzo William yang terkenal tampan, tapi tidak bisa Celine pungkiri jika pria yang ada dihadapannya saat ini jauh lebih tampan, dan memiliki kharisma berkali-kali lipat dibanding pria lain yang pernah Celine temui seumur hidupnya, termasuk Kenzo.
"Nona Celine, apa kamu baik-baik saja?" Nicholas kembali memanggil Celine yang kini sedang terpaku melihat ketampanannya.
Celine seketika tersadar dari lamunannya ketika melihat lambaian tangan Nicholas saat menyadarkannya. "Hm?"
"Bagaimana? Apa Nona Celine bersedia menemaniku jalan-jalan?"
Celine tersenyum pada Nicholas yang kini sedang menatapnya dengan wajah bingung. "Baiklah."
"Tapi, kali ini kita akan pergi bukan dengan mobil, Nona. Tapi dengan itu." Nicholas menunjuk ke arah motornya yang terparkir di sudut halaman apartemen.
Celine menatap kearah motor Ducati milik Nicholas yang terparkir disana. Sebuah motor yang telah didesain sangat unik berbeda dengan motor cruiser kebanyakan.
Celine tau motor milik Nicholas ini adalah salah satu motor termahal di dunia. Tiba-tiba timbul pertanyaan dalam benaknya saat melihat motor milik Nicholas tersebut.
Siapa sebenarnya pria yang ada dihadapanku ini? Batin Celine.
Celine kembali menatap Nicholas yang masih berdiri dihadapannya. Kepala dan matanya tampak sedikit bergerak seperti mengisyaratkan sebuah pertanyaan "Bagaimana? Mau ikut denganku?"
Tatapan Celine yang sedang menatap wajahnya, kini beralih menatap pakaian yang dikenakan Nicholas. Pria ini terlihat sangat keren mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dan sepatu boot berbahan kulit dengan warna yang senada dengan jaketnya.
Kali ini, Nicholas tampil casual dengan gaya ala anak gank motor, tapi sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.
"Kalau begitu, kamu tunggu aku sebentar. Aku akan mengganti bajuku dulu."
"Baik, aku akan menunggumu." Nicholas tersenyum senang.
Celine yang sudah melangkah menuju pintu lobby apartemen membalikkan badannya dan berkata pada Nicholas. "Apa Tuan Emmanuel ingin mampir sebentar ke apartemenku untuk minum?"
"Boleh."
Nicholas kemudian berjalan mengikuti Celine dari belakang. Keduanya menaiki lift bersama menuju unit apartemen Celine. Ada sedikit rasa canggung dihati Celine, karena ini pertama kalinya membawa seorang pria ke apartemennya selain Kenzo.
Nicholas mengikuti langkah Celine masuk kedalam apartemennya.
"Duduklah dulu, Tuan."
Celine segera melangkah ke dapur dan mengambil orange juice dari dalam kulkas dan menuangkannya pada gelas. Kemudian dia berjalan menghampiri Nicholas yang duduk disofa di ruang tengah, lalu memberikan orange juice yang dibawanya pada Nicholas. "Silahkan diminum, Tuan. Aku akan ganti baju dulu sebentar."
"Terimakasih." Nicholas tersenyum sambil menerima segelas orange juice dari tangan Celine.
Celine segera masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Ia mengenakan celana jeans dan atasan kaos warna putih.
Entah sejak kapan Chika masuk kedalam kamarnya karena tiba-tiba muncul dihadapannya, membuatnya terperanjat kaget. "Chikaaa! Kamu mengagetkanku saja."
"Sorry, kak Celine." Chika tertawa kecil kemudian menatap Celine dari atas hingga bawah dengan tatapan menilai. Dia tersenyum dan menggodanya. "Apakah kakakku yang satu ini ingin pergi berkencan dengan violinist tampan itu?"
"Chika, jangan mengada-ada!"
Chika kemudian duduk ditepi tempat tidur Celine sambil melipat kedua tangannya didepan d**a. "Aku tidak mengada-ada. Buktinya, pria itu kini sedang duduk dan menunggu kakak diruang tengah."
"Ssstt! Sudah diam, nanti dia mendengar! Aku pergi dulu, ya. Sampai nanti."
Chika bangkit dan dengan cepat mengambil jaket dari lemari Celine. "Jangan lupa pakai ini, kak. Nanti kamu bisa masuk angin."
"Terimakasih." Celine tersenyum mengambil jaketnya dari tangan Chika dan berlalu pergi meninggalkannya sendiri didalam kamar yang tertawa kecil melihat kepergiannya.
Celine keluar dari apartemennya bersama Nicholas tanpa banyak bicara hingga mereka berdua sampai dihalaman depan apartemen.
Celine terpaku sejenak menatap motor Nicholas yang kini sudah ada dihadapannya.
Nicholas tersenyum sambil menyerahkan helm kepada Celine. "Pakai ini."
Celine memakainya tanpa banyak berkata lalu menaiki motornya dengan memegang pundaknya yang lebar.
Setelah Celine duduk dibelakangnya, Nicholas segera menarik gas dan membawa motornya keluar dari halaman apartemen.
Cuaca di kota Paris malam ini saat bagus. Langit cerah yang ditaburi bintang-bintang begitu indah dipandang mata. Angin bertiup dengan lembut sedikit mengenai wajah cantik Celine yang mengenakan helm.
Ini pertama kalinya Celine menaiki motor menelusuri jalanan kota Paris yang ramai. Terbesit rasa bahagia dalam hatinya saat berboncengan dengan Nicholas malam ini. Pria yang ada dihadapannya kini mampu membuat jantungnya berdegup kencang dan kembali merasakan rasa yang dulu pernah hilang.
"Apa kamu kedinginan?"
Terdengar suara samar dari Nicholas yang bertanya padanya.
"Apa?" Celine balik bertanya karena tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Nicholas.
Nicholas pun mengulangi pertanyaannya dengan sedikit berteriak. "Apa kamu kedinginan?"
"Lumayan." Jawab Celine juga sedikit berteriak.
"Ulurkan tanganmu!"
Celine tidak mengerti apa maksud Nicholas menyuruhnya untuk mengulurkan tangan. Ia hanya bisa menuruti dan segera mengulurkan tangannya ke depan.
Nicholas meraih tangannya, kemudian menaruh kedua tangan Celine di pinggangnya.
Kedua gangan Celine kini melingkar di pinggang Nicholas dan jarak mereka berdua pun menjadi semakin dekat.
Celine sempat terlena oleh wangi dari tubuh Nicholas yang khas dan maskulin. Wangi itu mampu membuat Celine terhipnotis sejenak dengan aroma yang begitu menyegarkan.
Saat Celine tersadar, Celine berusaha merenggangkan tangannya dan ingin melepaskan pelukannya pada tubuh Nicholas. Tapi, Nicholas menyadari itu dan menahan tangan Celine dengan tangan kirinya. "Jangan dilepas, nanti kamu kedinginan."
Celine hanya diam tidak menjawab apa-apa dan hanya bisa menuruti perintah Nicholas yang kini tengah mengendarai motornya dengan tenang.
Jantung Celine kini berdegup dengan sangat kencang seolah ingin keluar dari sarangnya. Celine tidak tau, ada apa dengan dirinya saat ini. Celine juga tidak tau perasaan apa yang kini sedang menggerogoti jantungnya. Karena dulu saat bersama Kenzo, Celine tidak pernah merasakan debaran yang berlebihan seperti saat ini.
Motor yang dikendarai Nicholas melaju dengan kecepatan sedang. Celine sangat menikmati perjalanan dengan menaiki motor kali ini. Karena baginya, pengalaman melintasi jalanan kota Paris dengan motor benar-benar sangat berbeda dengan saat mengendarai mobil.
Celine bisa langsung merasakan atmosfer kota Paris tanpa ada pembatas kaca yang membatasi antara dirinya dengan lainnya.
Celine merentangkan kedua tangannya menikmati angin malam kota Paris yang bertiup cukup kencang menerpa tubuhnya. Dia merasa sangat bebas dan beban beban dihatinya seketika hilang.
...***...