
"Daddy???" Mata David William terbelalak saat mendengar Isabella menyebut kata 'Daddy' pada Nicholas.
Kemudian David William mengerutkan keningnya menatap Celine. "Celine, apa maksudnya ini? Apa kamu sudah menikah?"
Celine melambaikan tangannya dengan cepat, tidak menyetujui pertanyaan David. Kemudian dia melangkah dan berdiri di samping Nicholas untuk memperkenalkannya pada David William. "Kak, kenalkan dia ini Tuan Nicholas Emmanuel. Dan Tuan Nicholas, perkenalkan dia David William."
David William mengerutkan keningnya, menatap lekat pada Nicholas. "Sepertinya, aku sering mendengar nama Anda."
"Dia adalah violinist sekaligus musisi Internasional, Kak." Celine menjawab pertanyaan David William dengan tersenyum.
"Ah...iya, aku tahu."
Nicholas masih berdiri mempertahankan ekspresi dinginnya, sedangkan David menatap Nicholas dengan tatapan meremehkan. Tak satupun dari mereka berinisiatif untuk mengulurkan tangan.
Celine tidak mengerti apa yang terjadi pada kedua orang pria yang berdiri di hadapannya ini. Dia menghela nafas panjang, lalu meraih kedua tangan pria itu dan menyatukannya. Sontak mereka berdua langsung menatapnya dengan terkejut. Celine tersenyum pada mereka berdua. "Ini baru perkenalan yang baik."
Setelah melepaskan tangan David William, Nicholas menoleh pada Celine. "Apa makan malamnya sudah selesai?"
"Sudah." Celine mengangguk.
Tiba-tiba Nicholas mengangkat sebelah tangannya yang kosong dan merangkulnya.
Celine yang berdiri tidak jauh dari Nicholas, kini semakin mendekat pada tubuh tinggi Nicholas di sampingnya. Seketika jantung Celine berdegup kencang, namun dia hanya bisa menunduk karena malu dilihat oleh David William.
"Kalau begitu ayo kita pulang." Nicholas semakin mengeratkan rangkulannya pada Celine dan membawanya pergi meninggalkan David William.
Namun, saat mereka baru melangkah, David William meraih tangan Celine sehingga membuat Celine dan Nicholas kembali membalikkan badan melihatnya.
"Celine, tolong bertimbangkan apa yang aku katakan tadi. Aku–"
"Tuan David, apa ada hal penting lain yang ingin dikatakan? Kalau tidak, kami pergi dulu." Nicholas menyela ucapan David William.
Sedangkan Celine hanya bisa tersenyum dan berkata, "Maaf, Kak. Aku harus pulang dulu, sampai jumpa."
David William tidak menjawab perkataan Nicholas, dia hanya mengangguk menanggapi ucapan Celine dan melepaskan tangannya dengan berat hati.
Nicholas yang masih merangkul Celine kemudian membawanya pergi memasuki mobilnya.
Nicholas melajukan mobilnya melewati David William yang masih berdiri mematung di tempat.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Celine, Nicholas mengendarai mobilnya dengan tenang, karena Isabella duduk di pangkuannya. Namun, wajahnya masih terlihat datar tidak ada ekspresi sama sekali, yang ada hanya aura dingin dari dalam dirinya. Tetapi dia masih selalu menjawab menanggapi ucapan Isabella, tapi hanya seperlunya saja tidak seperti biasanya.
Celine menoleh ke samping untuk melihat wajah Nicholas yang terus menatap ke depan. Pria itu bahkan masih terlihat begitu tampan meski sedang diam dengan aura dinginnya.
Semenjak memasuki mobil, sedikitpun Nicholas tidak menghiraukan Celine, bahkan tidak berbicara sepatah katapun kepadanya seolah-olah hanya ada Isabella saja yang duduk bersamanya di dalam mobil.
Entah kenapa hal itu membuat hati Celine merasa sedih saat Nicholas mengacuhkannya. 'Apa dia sedang marah padaku karena aku lupa jika dia akan menjemputku sore tadi?' Batinnya bertanya-tanya.
Celine menatapnya cukup lama, tetapi Nicholas tetap saja tidak menoleh walau hanya sesaat.
Celine berpura-pura terbatuk, tapi Nicholas masih tidak mempedulikannya. Hanya Isabella yang menoleh dan peduli padanya. "Mommy, apa Mommy sakit?"
"Tidak, sayang. Mommy hanya sedikit batuk." Celine tersenyum dan membelai rambut Isabella.
Namun, saat dia membelai rambut Isabella, tanpa sengaja tangannya mengenai dada bidang Nicholas. Tetapi pria itu seolah-olah tidak merasakan sentuhan Celine dan tetap menatap ke depan.
'Apa dia tidak merasa? Atau dia memang mati rasa?' Batin Celine.
Melihat Nicholas yang semakin mengacuhkannya, membuat hatinya menjadi kesal.
Celine menghela nafas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian untuk memulai pembicaraan. "Tuan Nicholas, aku minta maaf."
"Untuk apa?" Nicholas menjawab dengan datar tanpa menoleh kepadanya.
Celine menunduk dan menjawab dengan sedikit gugup. "Ma–maaf karena tadi aku benar-benar lupa kalau kamu akan menjemputku."
"Apa dia lebih penting dariku?"
Celine terdiam mendengar ucapan Nicholas. Dia tidak mengerti maksud dari ucapannya itu.
Namun, sebelum Celine menjawab, mobil telah berhenti di parkiran apartemen.
Nicholas terus berjalan ke depan tanpa mempedulikan Celine.
Sedangkan Celine mengikutinya dari belakang dengan perasaan kesal. Dia tidak tahu apa yang salah dengannya. Dia juga sudah meminta maaf, tetapi Nicholas masih saja tidak mempedulikannya.
Mereka naik lift bersama. Biasanya Nicholas mempersilahkan Celine untuk masuk terlebih dahulu, tapi kali ini pria tampan yang masih memasang wajah dingin itu berjalan memasuki lift mendahuluinya.
Celine terdiam sejenak, melihatnya yang berjalan masuk ke dalam lift.
"Mommy, ayo masuk!" Isabella melambaikan tangannya pada Celine dengan suara seraknya karena sudah mengantuk.
Celine melirik pada Nicholas sambil melangkah memasuki lift, tetapi dia tidak menoleh sedikit pun.
Setelah Celine masuk, Nicholas kemudian menekan tombol angka yang ada pada dinding lift.
Hanya butuh beberapa detik saja mereka sudah sampai di lantai apartemen Celine. Kemudian mereka memasuki apartemen bersama.
Setelah masuk, Nicholas langsung menuju kamar Isabella dan membaringkan gadis kecil itu di atas tempat tidur karena Isabella sudah tertidur saat menaiki lift tadi. Mungkin gadis kecil itu sangat lelah telah bermain seharian.
Saat Celine melangkah ke pintu kamar Isabella, saat itu juga Nicholas keluar dan tidak sengaja Celine menabraknya. "Ah!"
Tubuh Celine terjungkal, namun dengan sigap Nicholas menangkapnya dan memeluknya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu ada di depan pintu. Apa kamu tidak apa-apa?" Nicholas bertanya dengan cemas.
Celine melepas pelukannya dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tidak apa-apa."
Dalam hati dia tersenyum. 'Akhirnya dia mau bicara denganku.'
Namun, Celine kemudian sedikit meringis sambil memegang hidungnya yang sedikit terasa sakit akibat terbentur dada bidang Nicholas cukup keras. Sangat terasa jika otot tubuh pria itu begitu padat dan kuat, mungkin karena Nicholas rajin berolah raga.
"Sakit ya?" Tanya Nicholas sambil menatap Celine.
Celine hanya mengangguk sambil meringis dan berpura-pura masih merasakan sakit. Padahal sakitnya tidak seberapa.
Melihat Celine yang kesakitan, Nicholas menariknya untuk duduk di sofa ruang tengah apartemen. Dia kembali memperhatikan hidung Celine yang sedikit memerah, lalu meniupnya.
Nafas Nicholas terasa lembut menyentuh hidungnya dengan aroma mint yang sangat menyegarkan.
Celine hanya diam menikmati aroma mint dari nafas Nicholas. Namun, tiba-tiba udara terhenti bertiup. Dia tertegun melihat tatapan mata Nicholas yang menatapnya lekat.
Celine merasa seolah-olah tatapan mata Nicholas menariknya kembali jauh ke dalam palung lautan hatinya yang dalam dan sangat luas.
Seketika bibirnya dan bibir Nicholas kembali bersentuhan satu sama lain.
Seperti sebelumnya, sentuhan itu sangat lembut membuat Celine terhanyut dalam kelembutannya. Tubuhnya menegang saat Nicholas tiba-tiba menciumnya dengan penuh perasaan. Celine hanya bisa diam menerima ciumannya tanpa membalasnya.
Suasana di sekitar mereka sangat tenang, yang terdengar hanya degup jantung yang semakin keras dan nafas mereka yang tak beraturan.
Ceklek!
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari sudut ruangan membuat Nicholas langsung melepaskan ciumannya, dan duduk diam mematung.
Celine pun menjadi canggung saat dengan tiba-tiba Nicholas melepaskan ciumannya. Dia kemudian menoleh ke arah sumber suara dengan wajah malu dan cemas. Dia tidak tahu harus bagaimana jika ada yang melihatnya sedang berciuman dengan Nicholas?
"Kak Celine, kamu belum tidur?" Chika muncul dari balik pintu kamarnya sambil mengucek matanya yang baru bangun.
Saat dia sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan pandangannya jelas, dia baru menyadari jika Celine tidak duduk sendirian di sofa ruang tengah apartemen.
Matanya langsung terbelalak saat melihat sosok Nicholas Emmanuel yang duduk di samping Celine. "Hehe, maaf. Aku hanya ingin mengambil minum." Dia menyeringai dan dengan cepat berlari ke dapur.
Celine menghembuskan nafasnya dengan kasar, merasa lega karena Chika tidak melihat adegan yang tidak pantas untuk dilihat.
Tanpa disengaja, Celine dan Nicholas saling menoleh dan menatap satu sama lain. Tatapan mereka kembali bertemu, dan mereka kembali mematung cukup lama.
"Sepertinya cuaca di luar sedang Bagus, bagaimana kalau kita keluar untuk jalan-jalan sebentar?" Akhirnya Nicholas berbicara dan memecah kecanggungan di antara mereka.
Celine tidak langsung menjawab, dia melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul sembilan malam. Kemudian Celine mengangguk menyetujuinya. "Baiklah."
...***...