
Celine segera keluar dari mobil dan menutup pintunya. Dia berjalan dengan langkah besar berusaha menyamakan langkahnya dengan Nicholas.
Pria bermata sapphire itu terlihat sangat tinggi jika sudah berjalan berdampingan dengan Celine karena wanita cantik itu hanya setinggi bahunya. Langkahnya juga begitu cepat. Satu langkah kakinya sama dengan dua kali langkah kaki Celine.
Nicholas masih mengenakan topi dan masker hitamnya. Meski dia berpenampilan tertutup seperti ini, dia masih menarik perhatian banyak orang.
Tubuhnya yang tinggi dan berkharisma mampu menarik perhatian para kaum hawa yang dia lewati bagaikan magnet.
Nicholas terus melangkah dengan mantap ditengah-tengah keramaian tanpa menghiraukan orang-orang sekitar yang terus memperhatikannya.
Bahkan Celine dapat mendengar suara wanita yang sedang berbicara dengan teman disampingnya memuji Nicholas. "Wah, aku yakin pria yang memakai masker dan topi hitam itu pasti sangat tampan."
Wanita yang ada disampingnya menimpalinya. "Iya benar. Meski dia menyembunyikan wajahnya, dia masih terlihat menarik. Aku juga yakin kalau dia sangat tampan."
Celine merasa agak risih mendengar orang-orang itu membicarakan Nicholas. Ada sedikit rasa tidak senang yang muncul dihati Celine saat ada wanita lain melirik dan terus memperhatikan Nicholas.
Celine pun menoleh kearah wanita yang sedang membicarakan Nicholas. Seketika mereka terdiam saat mengetahui Celine menatap kearah mereka. Kemudian Celine menoleh ke arah Nicholas yang terus berjalan tanpa bersuara menatap lurus kedepan tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Celine terus berjalan mengikuti langkah Nicholas seperti seekor anak ayam yang berjalan mengikuti induknya. Sangat sulit bagi Celine untuk menyamakan langkahnya dengan langkah Nicholas. Celine berjalan dengan tergopoh-gopoh dibelakang pria tampan yang aneh itu dan memintanya untuk menunggunya. "Tunggu sebentar, jalanmu cepat sekali!"
Nicholas menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang dan menatap Celine.
"Kita mau kemana?" Tanya Celine kembali.
Nicholas tidak menjawab pertanyaan Celine. Dia hanya berdiri diam dengan tangan kiri yang dimasukkan kedalam saku celana kirinya menunggu Celine.
Saat Celine sudah berjalan mendekat, Nicholas meraih tangan kiri Celine dengan tangan kanannya, kemudian dia menggandeng tangan Celine berjalan ke depan dan memperlambat langkahnya untuk menyamakan langkahnya dengan langkah Celine.
Celine hanya terbengong menatap wajah pria itu yang sedang menggenggam tangannya sambil berjalan. Sedangkan Nicholas hanya terus berjalan ke depan menuntunnya tanpa menoleh kepadanya bahkan tidak berbicara sepatah katapun.
Dasar pria aneh yang selalu melakukan sesuatu secara spontan. Tapi, dia kadang bersikap dingin, kadang juga bersikap hangat.
Batin Celine.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Celine dan Nicholas sampai di sebuah taman yang menampilkan serangkaian kegiatan dan acara hidup sehat yang bertema kesejahteraan penduduk kota Paris sepanjang tahun.
Taman terindah yang ada di kota Paris ini sangat ramai dengan pengunjung lokal maupun para wisatawan karena merupakan salah satu obyek wisata di Paris.
Nicholas masih berjalan menggenggam tangan Celine hingga mereka berhenti disebuah loket pembelian tiket.
Celine masih bingung dengan apa yang ingin dilakukan oleh pria yang sedang bersamanya saat ini.
Nicholas membuka maskernya dengan wajah menunduk tertutup oleh topi dan berbicara pada gadis penjual tiket. "Dua tiket Paris observatory wheels di gondola VIP."
Tiba-tiba gadis penjual tiket itu hampir saja berteriak histeris saat melihat Nicholas. "Aaaa, Nich--"
"Ssstt!" Dengan cepat Nicholas meletakkan jari telunjuk pada bibirnya meredam teriakan gadis itu dengan menyuruhnya untuk diam. "Jangan berteriak, nanti orang lain bisa mengenaliku."
"Nicholas Emmanuel." Gadis itu berbicara dengan sangat pelan dan wajah yang terlihat sangat bahagia seperti seorang fans yang bertemu dengan idolanya. "Apa aku boleh berfoto denganmu?"
Nicholas tersenyum ramah pada gadis itu. "Boleh, tapi setelah kamu memberikan tiket itu kepadaku."
Gadis itu segera memberikan dua tiket dan mengembalikan blackcard milik Nicholas yang dipakai untuk membayar, lalu gadis itu mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya dan mengarahkan ponselnya untuk selfie bersama Nicholas.
Sedangkan Celine hanya berdiri diam melihat mereka yang sedang berfoto dihadapannya.
"Terimakasih Tuan untuk fotonya." Ucap gadis itu sambil tersenyum bahagia menatap Nicholas yang sudah memakai maskernya kembali. Kemudian gadis itu menoleh kearah Celine dan berkata pada Nicholas. "Tuan, kekasih anda sangat cantik. Semoga kalian selalu bahagia hingga tua nanti."
Celine terkejut mendengar ucapan gadis itu. Kekasih? Aku bukan kekasihnya! Batin Celine.
Setelah Nicholas hendak berjalan, dia kembali menoleh kearah gadis itu untuk mengingatkan. "Jika kamu ingin memposting foto tadi di internet, pastikan kalau kami sudah tidak berada disini lagi."
"Baik Tuan, semoga hari anda dan kekasih anda menyenangkan." Jawab gadis itu menyetujui sambil tersenyum sumringah.
Nicholas masih menggenggam tangan Celine dan menuntunnya berjalan kearah Paris observatory wheels. Paris observatory wheels adalah Ferris Wheels setinggi kurang lebih 60 meter yang ada di Kota Paris, Perancis.
Wheels ini memiliki 42 gondola termasuk satu gondola VIP.
Sebuah gondola berhenti dihadapan mereka berdua, Nicholas membantu Celine untuk menaiki gondola tersebut dengan memegang tangannya.
Celine duduk berhadapan dengan Nicholas didalam gondola dengan kursi kulit dan lantai dasarnya dari kaca transparan. Hanya ada mereka berdua yang duduk didalam gondola VIP yang sangat indah ini.
Celine tidak tau berapa banyak uang yang dikeluarkan oleh seorang Nicholas untuk membayar sebuah gondola VIP ini yang hanya diisi oleh mereka berdua. Sedangkan gondola lainnya diisi penuh oleh para pengunjung. Dan saat ini, satu yang Celine tau pasti. Nicholas bukanlah orang sembarangan, meskipun dia selalu berpenampilan sebiasa mungkin saat dia tidak berada dipanggung.
Gondola yang mereka naiki mulai bergerak dan berputar seperti sebuah roda yang mengelilingi porosnya.
Celine menatap keluar kaca gondola menikmati pemandangan kota Paris saat matahari terbenam. Terlihat warna jingga di langit sebagai landscape pemandangan yang memanjakan mata, menambah keindahan tempat ini jika dilihat dari ketinggian 60 meter.
"Apa kamu sering kesini?" Tanya Celine pada Nicholas yang duduk dihadapannya.
"Baru kali ini." Jawab Nicholas sambil menatap keluar kaca tanpa menoleh pada Celine.
"Apa akan selalu seperti tadi jika kamu bertemu dengan penggemarmu?"
"Seperti yang kamu lihat." Nicholas kembali diam setelah menjawab pertanyaan Celine.
Celine tertegun melihat pria yang duduk dengan anggun dihadapannya sambil menyilangkan kakinya yang panjang.
Saat ini, Nicholas tidak memakai maskernya lagi. Dia hanya mengenakan topi tanpa hoodie diatas kepalanya. Dia masih terlihat sangat tampan meski hanya 2/3 wajahnya yang tidak tertutup oleh topi. Wajah yang sangat sempurna ini mampu membuat Celine tertegun cukup lama.
"Nona Celine."
Tiba-tiba, pria tampan pemilik sepasang mata bak batu sapphire itu memanggilnya.
Seketika Celine tersadar dari lamunannya dan menatap wajah tampan Nicholas yang sedang menatapnya.
"Maaf, telah merepotkanmu."
"Maksud Tuan Nicholas?" Celine menjawab ucapan Nicholas dengan wajah kebingungan.
"Mengenai berita yang ada diinternet hari ini, aku minta maaf telah membuatmu kerepotan."
Celine tersenyum tipis pada Nicholas dan berkata. "Tidak apa-apa. Hanya sebuah gosip yang tidak perlu untuk dipikirkan. Lagipula, sebenarnya itu juga kesalahan dariku karena dengan sendirinya masuk kedalam gedung dan memelukmu yang sedang melakukan pertunjukan di atas panggung."
Celine kemudian terdiam sejenak dan menundukkan wajahnya, menatap pemandangan dibawah lantai kaca transparan gondola. Lalu kembali menatap wajah Nicholas yang masih menatapnya. "Maaf jika aku selalu merepotkanmu setiap kali kita bertemu."
"Aku senang jika direpotkan olehmu." Ucap Nicholas dengan wajah datar.
Tiba-tiba, wajah Celine terasa panas setelah mendengar ucapan Nicholas. Dia kembali menatap keluar kaca gondola berusaha menutupi wajahnya yang memerah karena malu.
Celine menatap langit kota Paris yang tadinya berwarna jingga kini telah berubah menjadi gelap. Pemandangan kota Paris kini berubah seperti bertabur bintang, karena lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang bersinar dengan indah seperti bintang.
Celine menatap sekeliling gondola yang berdindingkan kaca transparan. Tatapan matanya kemudian terpaku pada menara Eiffel yang merupakan ikon kota Paris. Menara yang sangat indah bila di malam hari lampunya akan menyala di sekitar menara.
Melihat menara Eiffel, membuat Celine seperti tertarik kembali ke masa lalu, dimana saat itu dia harus berpisah dengan Kenzo William untuk selama-lamanya.
...***...