
Isabella bangkit dari tidurnya dan memeluk Celine dengan erat. Tiba-tiba dia menangis dan berkata dengan suara seraknya yang manja. "Mommy...aku ingin uncle tampan..."
"Sayang, uncle tampan sedang ada urusan, nanti dia pasti kembali lagi." Celine mencoba menenangkan putri kecilnya.
"Tapi, uncle tampan sudah berjanji ingin menemaniku, kenapa dia malah pergi?" Isabella berbicara dengan sesenggukan karena menangis.
Celine tersenyum dan mengusap-usap punggung kecil Isabella dengan lembut. Dia tidak mengerti kenapa Isabella sangat ingin bertemu dengan 'uncle tampan' yang baru saja dia kenal. Sepertinya, dia cukup akrab hingga Isabella merindukannya. Bahkan saat bangun tidur pun, gadis kecilnya ini malah langsung menanyakan 'uncle tampan' ketimbang mommy nya yang baru saja datang menemuinya.
"Mommy..."
"Ya, sayang?"
Isabella menyenderkan tubuhnya dalam pelukan Celine. "Sebelum mommy datang tadi aku tidur bersama uncle tampan. Dia sangat baik padaku, dia membelikanku boneka beruang yang sangat besar..." Isabella sambil menunjuk ke arah boneka teddy bear yang ada di sofa dekat tempat tidur.
"Oh, ya? Seperti apa uncle tampannya gadis kecil mommy ini?"
"Dia sangat tampan." Isabella tersenyum gembira saat membicarakan uncle tampannya.
Celine mengeratkan pelukannya pada Isabella dan mengecup pipi chubby nya dengan gemas.
Anak kecil ini sangat pintar berbicara. Bahkan diumur Isabella yang masih belum genap dua tahun pun mampu mengingat apa yang dialaminya.
Celine kembali mengecup pipi chubby Isabella karena dia sangat merindukan putri kecilnya yang cantik dan menggemaskan ini. "Apa Isabella sudah makan?"
Isabella mengangguk dan tersenyum. "Sudah, tadi uncle tampan yang menyuapiku."
Uncle tampan lagi. Aku jadi penasaran dengan uncle tampan yang sudah membantu Isabella. Sepertinya, putriku sangat menyukainya.
"Baiklah anak pintar, kalau Isabel ingin makan lagi, beri tau Mommy ya." Celine tersenyum sambil membelai rambut panjang Isabella dengan lembut.
"Baik, Mommy." Isabella mengangguk dan memeluk Celine dengan erat.
Mereka saling berpelukan sambil bercengkrama sejenak.
"Aku sayang mommy..."
"Mommy juga sayang Isabella, sangat."
"Mommy jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak ingin jauh-jauh dari mommy..."
Seketika hati Celine terasa hangat mendengar ucapan putri kecilnya ini. Celine tau bahwa Isabella sangat merindukannya, begitu juga dengan dirinya. "Iya sayang. Mommy janji tidak akan lagi meninggalkan Isabella, dan mommy akan selalu membawa Isabella kemanapun mommy pergi."
Tok…Tok…Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Bibi Aida bangkit dari sofa dan segera membukakan pintu dan langsung menyapa ketika melihat siapa yang datang. "Tuan Chris..."
"Selamat sore, Nek." Balas Chris dengan tersenyum kemudian melangkah masuk bersama beberapa orang dokter dibelakangnya. "Nek, mereka ini adalah tenaga ahli yang dikirimkan oleh Tuanku untuk Isabella, dan mereka akan melakukan pemeriksaan secara berkala pada Isabella."
"Uncle." Tiba-tiba Isabella memanggil Chris dan mereka menoleh kearahnya.
"Ya gadis kecil?" Chris tersenyum pada Isabella dan melangkah menghampirinya kemudian mengangguk menyapa Celine.
"Uncle, dimana uncle tampan? Kenapa tidak ikut kemari?"
Isabella mengerutkan bibirnya dengan wajah kecewa. "Jadi, malam ini uncle tampan tidak datang menemaniku tidur?"
"Sayang, uncle tampan sedang banyak urusan. Jadi malam ini, Isabella tidur dengan mommy saja ya." Celine berusaha membujuk Isabella yang sudah hampir menangis.
"Tapi Mom...." Isabella langsung meringkuk kedalam pelukan Celine dan menangis.
"Hey, sayang..." Celine membelai rambut Isabella dengan lembut.
Chris tersenyum melihat tingkah gadis kecil yang begitu menggemaskan itu. "Gadis kecil, apa kamu ingin berbicara dengan uncle tampan?"
Seketika tangis Isabella terhenti dan membalikkan tubuhnya melihat Chris. Dia mengangguk dengan mata yang kini tampak berbinar. "Iya, aku ingin bicara dengan uncle tampan."
Chris mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Nicholas. Setelah tersambung, dia menyodorkan ponselnya ke Isabella. "Ini, bicaralah dengan uncle tampan."
Isabella dengan semangat meraih ponsel milik Chris dan menempelkannya di telinga. "Uncle tampan, kenapa tadi uncle pergi sebelum aku bangun?"
"Maaf sayang, tadi uncle ada urusan mendadak, jadi tidak bisa menunggu Isabella hingga bangun. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah tidak merasakan sakit lagi?"
"Aku sudah tidak merasakan sakit lagi. Aku akan segera sembuh." Ucap Isabella dengan riang.
"Bagus."
"Uncle, mommy ku sudah datang, apa uncle ingin bicara dengan mommy ku?" Sebelum mendengar jawaban dari Nicholas, Isabella sudah langsung menyerahkan ponsel itu ke Mommy nya.
Celine juga segera berbicara dan tiba-tiba merasa sangat gugup. "Ha-hallo, Tuan. Terimakasih banyak sudah membantu dan menyelamatkan putriku."
"Tidak perlu sungkan, Nyonya. Sudah sewajarnya jika aku membantu orang yang sedang dalam kesulitan. Lagi pula, aku sangat menyukai **p**utri Nyonya. Dia sangat pintar dan menggemaskan."
Celine tersenyum mendengar ucapan pria itu. Dia sangat bersyukur masih ada orang baik yang mau membantu orang lemah. "Sekali lagi terimakasih banyak, Tuan. Aku akan–"
"Mommy, berikan teleponnya padaku." Isabella tiba-tiba mengambil ponsel itu sebelum Celine selesai berucap.
Celine hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil dengan tingkah putri kecilnya ini.
"Uncle, karena uncle pergi dan meninggalkanku, aku akan memberi sebuah hukuman pada uncle."
Nicholas tertawa dan berkata: "Hukuman? Baiklah, uncle akan menerima hukuman darimu."
"Kalau begitu, aku akan menghukum uncle dengan meminta satu permintaan."
"Permintaan? Baiklah, katakan apa permintaanmu?"
Isabella tampak serius dan seperti sedang berpikir, kemudian berkata: "Bolehkah aku memanggil daddy pada uncle?"
Nicholas kembali tertawa dan menjawab: "Dengan senang hati, sayang. Suatu penghargaan bagi uncle jika Isabella memanggil daddy pada uncle. Mulai sekarang, Isabella boleh memanggil uncle dengan daddy."
"Horeee...terimakasih daddy. Kalau begitu sudah dulu ya daddy, aku mau diperiksa oleh dokter." Isabella tampak begitu bahagia.
"Baik sayang. Istirahat yang banyak dan jangan lupa minum obatmu."
"Baik daddy." Isabella kemudian memberikan ponsel itu pada Chris dengan wajah ceria.
...***...