Love Story In Paris

Love Story In Paris
#37



Waktu terus berputar, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti. Tak terasa Isabella kini telah tumbuh semakin besar dan cerdas. Dia tumbuh menjadi gadis kecil yang semakin menggemaskan.


Hari ini, usia Isabella telah genap tiga tahun. Tidak ada perayaan khusus untuk Isabella, karena Celine tidak suka perayaan besar dan lebih senang merayakan ulang tahun hanya dengan orang-orang terdekat saja.


Sudah beberapa hari terakhir, Isabella mulai tidur terpisah dengan Mommynya. Celine telah menyediakan kamar khusus untuk putri kecilnya agar dia bisa belajar lebih mandiri.


Malam ini Celine melihatnya tidur sangat pulas sambil memeluk boneka teddy bear yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Boneka itu adalah pemberian dari pria asing yang telah membantunya waktu itu. Isabella masih menyimpan boneka itu dan selalu merawatnya dengan baik seperti barang yang sangat berharga baginya.


Celine, Bibi Aida,Jessica dan Chika telah merencanakan pesta kecil untuk Isabella yang hanya dihadiri oleh mereka saja.


Celine membawa kue ulang tahun berbentuk boneka teddy bear masuk ke dalam kamar Isabella, sedangkan yang lain mengikutinya dari belakang dengan membawa beberapa hadiah untuk diberikan kepada Isabella.


Melihat putrinya tidur dengan nyenyak membuat Celine merasa tidak tega untuk membangunkannya. Tetapi rencana ini telah dipersiapkan dengan matang dan tidak mungkin dibatalkan.


"Isabella...sayang..." Celine berusaha membangunkan Isabella dengan lembut sambil mencium-cium pipinya.


Isabella hanya menggeliat lalu kembali tidur.


Celine kembali menggodanya. "Sayang, mommy membawakan boneka teddy bear yang sangat besar untukmu."


Isabella kembali bergerak dan dengan perlahan membuka matanya.


Pada awalnya, dia merasa kaget melihat banyak orang di dalam kamarnya dan hampir menangis. Tetapi setelah melihat cake berbentuk boneka teddy bear dengan beberapa lilin, membuatnya langsung tersenyum senang.


"Mommy, apa ini?" Isabella masih merasa bingung sambil mengucek matanya.


"Selamat ulang tahun yang ke tiga tahun, sayang." Celine mencium kening dan pipi Isabella yang menggemaskan.


Isabella masih bingung dan bertanya, "Apa hari ini adalah hari ulang tahunku, Mom?"


"Benar, sayang." Celine memeluk putrinya sejenak lalu melepaskannya.


Setelah itu Bibi Aida, Jessica dan Chika memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Isabella dengan sebuah kado di tangan mereka.


"Sayang, sebelum meniup lilinnya, Isabella berdoa dulu. Semoga apa yang Isabella inginkan dapat tercapai." Ucap Celine sambil membawa cake di depan Isabella.


"Aku ingin punya daddy!" Anak kecil ini tidak bisa menyimpan apa yang terlintas di pikirannya. Tanpa berpikir panjang, Isabella langsung mengucapkan keinginannya dengan lantang.


Mereka yang mendengar dibuat terpana, terutama Celine. Dia terpaku mendengar keinginan putrinya sendiri. Di hati Celine bahkan tidak pernah sedikit pun terpikirkan untuk menjalin sebuah hubungan khusus dengan pria lain, apalagi mencarikan Isabella seorang daddy. Hari-harinya telah disibukkan dengan mengurus perusahaan dan mengurus Isabella.


"Aku ingin segera bertemu dan punya daddy seperti uncle daddy!" Isabella kembali berbicara dengan suara renyahnya membuat Celine kembali terkejut dan terbelalak.


Sedangkan Bibi Aida, Jessica dan Chika hanya diam menatapnya sambil menahan tawa.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh?" Tanya Celine kepada mereka.


Senyum Jessica semakin melebar. "Tidak. Hanya saja, yang diucapkan Isabella itu kode keras untukmu, Celine."


"Benar, Kak Celine. Kakak harus mencarikan daddy untuk Isabella." Sahut Chika.


Celine memilih untuk tidak menanggapi ucapan mereka. Dia menoleh ke arah Isabella yang masih duduk di atas kasurnya sambil menatap mereka dengan wajah bingung.


Celine kemudian meraih Isabella dan menuntunnya turun dari tempat tidur sambil berkata, "Sayang, karena hari ini adalah hari ulang tahunmu, mommy akan mengijinkanmu makan strawberry sepuasnya."


"Benarkah?" Isabella tersenyum lebar penuh semangat.


"Tentu saja. Ayo kita makan cake dan strawberry sama-sama."


Mereka semua keluar dari kamar Isabella menuju ruang tengah apartemen yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Semuanya dihiasi dengan ornamen berbentuk hati dan boneka teddy bear. Isabella begitu menyukai boneka teddy bear.


Saat mereka telah berada di ruang tengah apartemen, Isabella berkata, "Mommy, tunggu! Boneka teddy bear belum."


"Hm? Oke, sebentar. Akan mommy ambilkan." Celine segera kembali ke kamar Isabella untuk mengambilkan boneka teddy bear kesayangannya.


...


Siang ini, ada jadwal rapat yang harus Celine hadiri bersama para dewan direksi dan pihak Grand Corp.


Rapat kali ini akan membahas tentang pembangunan gedung pencakar langit milik Grand Corp yang akan dibangun mulai bulan depan.


Semua karyawan Perusahaan Star Corp milik Celine disibukkan oleh berbagai persiapan. Mereka sangat tahu dengan sikap Celine yang keras dan tegas kepada karyawan hingga mereka tidak ingin melakukan kesalahan yang membuatnya marah.


Celine yang pagi ini baru tiba di pintu masuk perusahaan telah disambut oleh Devan Firdaus, Direktur Utama Star Corp yang merupakan orang kepercayaan Celine untuk mengurus masalah perusahaan. Dia menunggu Celine bersama dengan Jessica dan Chika yang telah lebih dulu tiba di perusahaan.


Di belakang mereka juga ada beberapa orang staff yang ikut menunggunya.


"Pagi, CEO Celine." Devan menyapa Celine dengan hormat diikuti oleh beberapa orang yang ada di belakangnya.


"Pagi." Celine tersenyum kepada mereka, kemudian menoleh ke arah Devan yang sudah berjalan di sampingnya. "Dev, bagaimana dengan persiapan rapat kita bersama Perusahaan Grand Corp?"


"Semuanya sudah diatur. Rapat akan dimulai setelah jam makan siang nanti." Jawab Devan dengan mantab.


Kemudian Celine sedikit menoleh ke belakang dan berbicara kepada Jessica. "Jess, jangan lupa ingatkan para kepala direksi untuk menghadiri rapat penting kita siang ini."


"Baik."


Celine kemudian lanjut berbicara kepada Chika. "Dan kamu, Chika. Jangan lupa catat notula saat menghadiri rapat dengan staff marketing pagi ini. Pokoknya semua hasil rapat harus sudah terangkum sebelum jam makan siang nanti, dan antarkan ke ruanganku."


"Baik, CEO Celine."


"Oke, kalau begitu Devan dan Jessica ikut ke ruanganku. Kamu Chika dan yang lainnya silakan ikuti rapat dengan staff marketing."


"Baik, CEO, kami permisi dulu." Chika berpamitan kepada Celine dan pergi bersama beberapa orang staff lainnya ke ruang rapat yang ada di lantai dasar perusahaan.


Sedangkan Celine, Devan dan Jessica masuk ke dalam lift menuju lantai di mana ruangan kantor Celine berada.


Saat di dalam lift, Devan berkata, "CEO Celine, ada Tuan David William yang sedang menunggu anda di rungan anda."


Celine mengerutkan kening mendengar Devan menyebutkan nama David William. "David? Ada apa dia mencariku?"


"Aku juga tidak tahu. Saat dia baru sampai, dia langsung menuju ke ruangan anda."


Celine semakin tidak suka mendengar David William masuk ke dalam ruangan kantornya sesuka hati.


Pria itu terlalu lancang masuk ke dalam ruangan kantornya, padahal dia bukan orang terdekatnya. "Jess, Devan, selanjutnya jangan biarkan David William masuk ke dalam ruanganku jika aku sedang tidak ada di kantor."


"Baik, CEO Celine, maaf." Ucap Jessica merasa bersalah.


TING!


Lift berhenti di lantai tempat ruangan kantor Celine berada.


Celine segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Perasaannya menjadi tidak enak mengingat ada David William yang saat ini berada di ruangannya.


Saat Celine membuka pintu ruangannya, dia melihat David sedang berdiri sambil memegang map miliknya.


David William tampak terkejut melihat kedatangan Celine yang tiba-tiba bahkan hampir menjatuhkan map yang ada di tangannya.


"Ada apa Kak David datang ke kantorku pagi-pagi begini?" Tanya Celine kepada David William begitu masuk tanpa basa-basi.


"Ce-Celine, hehe...tidak, aku hanya ingin mengunjungimu dan keponakanku." David William menjawab dengan gugup dan kembali meletakkan map yang ada di tangannya di atas meja kerja Celine.


"Oh. Isabella sedang makan es krim bersama Bibi Aida di kantin."


"Baiklah. Apa kamu akan mengadakan rapat dengan Perusahaan Grand Corp siang ini?"


Celine mengerutkan keningnya menatap David William. Dia tidak mengerti dengan sikap pria ini yang selalu lancang dan berbicara menanyakan hal yang seharusnya tidak diketahui.


David William bukan orang dari Perusahaan Star Corp milik Celine, jadi tidak semua hal tentang pekerjaan Celine harus dia ketahui. Meskipun dia adalah orang dari perusahaannya, Celine juga tidak akan suka jika dia menanyakan tentang urusan pribadinya.


Celine melirik map yang berada di atas mejanya, yang baru saja di lihat oleh David William. Map itu berisi surat-surat penting yang berhubungan dengan kontrak kerja sama bersama Perusahaan Grand Corp, yang telah disiapkan oleh Jessica dari kemarin.


Perasaan Celine semakin tidak enak melihat kelancangan David William. "Maaf, Kak. Hari ini aku sangat sibuk. Apa ada hal lain yang kakak butuhkan?" Tanya Celine dengan wajah datar.


David William melangkah maju mendekati Celine dan berkata, "Celine, bagaimana kalau malam ini kita makan bersama di luar?"


"Maaf, Kak. Hari ini aku tidak ada waktu luang. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Kalau begitu aku akan menunggumu hingga selesai bekerja nanti. Sampai jumpa nanti malam." David William tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkan Celine yang belum sempat menjawab.


Pria ini sangat aneh dan membuat Celine semakin tidak nyaman dengan sikapnya.


...***...