Love Story In Paris

Love Story In Paris
#30



Pesawat yang ditumpangi Celine baru saja mendarat dengan lancar di Kota London. Dengan segera Celine mengurus semua urusan di Bandara, kemudian menghubungi Bibi Aida. "Bi, bagaimana keadaan Isabella?"


"Nyonya, kondisi Isabella sudah mulai membaik. Apakah Nyonya sudah sampai?"


"Iya, aku baru saja sampai, Bi. Apa Isabella dirawat di rumah sakit biasa?"


"Tidak, Nyonya. Tuan yang membantu Isabella kemarin membawanya ke rumah sakit swasta."


"Baiklah, Bibi kirimkan alamat rumah sakitnya, aku akan segera kesana." Celine menutup teleponnya dan memesan taksi untuk mengantarnya menuju rumah sakit tempat Isabella dirawat.


Kurang lebih lima belas menit, taksi yang mengantar Celine sampai di rumah sakit tempat Isabella dirawat.


Setelah turun dari taksi, Celine dengan langkah cepat masuk kedalam menuju ruang rawat inap. Dalam pikirannya saat ini hanyalah Isabella, putri semata wayangnya.


'Ding'


Pintu lift terbuka, Celine segera masuk dan menekan angka 5 untuk menuju ke lantai dimana kamar rawat inap Isabella saat ini.


Tak lama, pintu lift terbuka dan Celine kembali berjalan menuju kamar rawat inap Isabella dengan perasaan sedih dan tidak karuan, menatap setiap kotak marmer lantai rumah sakit yang dilaluinya. Wajah Isabella yang menahan rasa sakit terus terlintas dalam pikiran Celine.


Saat melewati koridor yang ada di lantai 5 rumah sakit, Celine merasakan ada hawa dingin yang melintas disampingnya. Tercium wangi maskulin yang sangat Celine kenal bertiup dengan lembut.


Tiba-tiba wajah Nicholas Emmanuel melintas dalam benaknya dan seketika jantungnya berdegup kencang. Celine merasakan keberadaan Nicholas disekitarnya.


Celine menoleh dan menatap punggung seorang pria bertubuh tinggi yang baru saja berjalan melewatinya. Tubuh pria itu yang tinggi dan kekar dengan balutan jas berwarna gelap, berjalan dengan elegan sambil berbicara dengan seseorang yang ada diseberang teleponnya.


Celine merasa mengenal sosok pria yang berjalan tersebut. Apa itu Nicholas?


Spontan, rasa keingintahuannya meningkat. Celine berbalik dan mengejar langkah pria itu. Karena tubuh pria itu yang tinggi, langkahnya pun lebih cepat dan sudah jauh melangkah meninggalkan Celine di belakang.


Celine semakin mempercepat langkahnya mengikuti pria itu, namun tiba-tiba hak sepatunya patah. Celine berhenti sejenak melihat hak sepatunya yang patah, kemudian melepasnya.


Celine kembali mengejar pria tadi, namun gerakannya kalah cepat dibanding pria itu. Saat langkah Celine sudah tidak jauh dari pria itu, pria itu sudah lebih dulu masuk kedalam lift.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan menekan tombol yang ada di dalam lift. Samar-samar Celine melihat wajah Nicholas yang tengah menghadap keluar pintu lift. Celine kembali melangkahkan kakinya lebih cepat lagi, namun pintu lift telah tertutup rapat dan pria itu pun pergi.


Celine terpaku sejenak mengingat wajah pria yang berada di dalam lift tadi. Namun seketika, Celine kembali teringat pada putrinya, Isabella.


Celine menarik nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya, berusaha memfokuskan kembali pikirannya. Kemudian Celine membalikkan tubuhnya berjalan melewati koridor menuju kamar Isabella.


Dalam perjalanannya menuju kamar Isabella, Celine kembali bertanya-tanya dalam hati. Apa benar yang aku lihat tadi adalah Nicholas Emmanuel? Kalau benar, kebetulan sekali.


Celine kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah membuang jauh pikiran itu. "Huff, kenapa aku malah memikirkannya?"


Saat berjalan masuk, Celine melihat gadis kecilnya tengah tertidur lelap. Wajahnya yang imut itu mampu meneduhkan hatinya.


"Nyonya Celine, kamu sudah sampai?" Bibi Aida yang sedang merebahkan tubuhnya disofa langsung bangkit dan duduk.


Celine tersenyum dan mengangguk menanggapi pertanyaan Bibi Aida, kemudian melangkah mendekati tempat tidur yang ditempati Isabella sambil bertanya pada Bibi Aida. "Apakah Isabella sudah tidur dari tadi, Bi?"


"Baru beberapa menit ini Isabel tidur, Nyonya."


Celine kembali bertanya, "Apa dia rewel?"


Bibi Aida tersenyum padanya dan menjawab, "Tidak, Nyonya. Siang ini, Isabel ditemani oleh Tuan yang membantu kami kemarin hingga Isabel tertidur dipangkuan Tuan itu."


Celine mengerutkan keningnya mendengar jawaban Bibi Aida. "Tuan? Tuan siapa, Bi?"


"Kemarin saat Nona Jessica mengurus keberangkatan kami di bandara, Isabella bermain dengan seorang pria muda yang bari pertama kali Bibi temui, Nyonya. Pria itu kira-kira berumur sekitar 26 sampai 30 tahuan. Isabella dan pria itu terlihat sangat akrab. Namun, setelah berpisah dengan pria itu, Isabel tiba-tiba pingsan. Beruntung saat Bibi membutuhkan bantuan, pria itu kembali muncul dihadapan Bibi dan membantu membawa Isabel ke rumah sakit ini. Bahkan dia mencarikan tenaga medis terbaik untuk Isabel. Pria itu seperti malaikat, Nyonya."


Bibi Aida terdiam sejenak seperti mengingat sesuatu dan raut wajahnya terlihat seperti sedang mengagumi sosok pria tersebut. Kemudian kembali berkata, "Dan siang ini, Tuan itu kembali datang menjenguk Isabel. Dia menemani Isabel cukup lama hingga akhirnya Isabel tertidur di pangkuannya. Mungkin baru sekitar beberapa menit ini dia pergi, Nyonya."


Celine semakin merasa penasaran dengan sosok pria yang diceritakan oleh Bibi Aida. "Apakah Bibi tau siapa nama pria itu? Aku ingin berterimakasih padanya."


Bibi Aida sedikit menunduk, menggelengkan kepalanya dengan lemah dan menjawab, "Maaf, Nyonya. Bibi lupa tidak menanyakan siapa nama Tuan itu. Tapi Bibi mengingat wajahnya." Bibi Aida kembali bersemangat menceritakan tentang sosok pria itu. "Dia sangat tampan dan berkharisma. Dia juga memiliki mata yang indah seperti batu sapphire, Nyonya."


Celine hanya mengangguk mendengarnya penjelasan Bibi Aida yang panjang lebar.


Nanti jika Celine bertemu dengan pria itu, Celine akan sangat berterimakasih pada pria itu.


Celine kembali menatap wajah Isabella yang masih tertidur lelap. Wajahnya yang putih lembut, terlihat sangat cantik dan imut.


Isabel sayang, mommy bersyukur kamu baik-baik saja. Mommy juga bersyukur karena masih ada orang baik yang mau membantu dan menyelamatkanmu. Kamu adalah harta yang paling berharga dan paling indah dalam hidup Mommy. Kamu pelita hati Mommy, yang mampu menerangi hidup Mommy disaat Mommy merasakan dunia ini sangat gelap. Mommy selalu berharap kamu akan segera sembuh, sayang. Apapun akan Mommy lakukan untukmu, demi kesembuhanmu. Kalau saja penyakitmu bisa dipindahkan, Mommy bersedia menggantikanmu merasakan sakit yang kamu rasakan. Dan untuk pria yang sudah membantumu, Mommy sangat ingin berterimakasih padanya. Batin Celine sambil menatap wajah Isabella dan membelai lembut kepalanya.


"Uncle..."


Tiba-tiba suara serak yang menggemaskan memecahkan lamunan Celine.


Celine melihat Isabella yang berbaring ditempat tidur, kini membuka matanya dengan perlahan. Celine tersenyum padanya.


"Mommy, dimana uncle tampan?" Tanya Isabella sambil menatap Celine dengan sedih.


Celine mengerutkan keningnya mencerna pertanyaan Isabella. "Uncle tampan?"


...***...