Love Story In Paris

Love Story In Paris
#48



"CEO Celine, ini ada beberapa laporan keuangan yang harus Anda periksa." Devan yang baru masuk ke dalam ruangan kantor Celine memberikan beberapa map kepadanya.


Celine menoleh pada Devan sambil menerima map itu. "Apa ini?"


"Ini laporan keuangan proyek kerja sama kita dengan William Corp. Aku baru membacanya semalam, rasanya ada yang aneh pada laporan ini."


"Biar aku cek."


Devan duduk di kursi di hadapan Celine, dan berkata, "Ini untuk kedua kalinya ada yang aneh pada laporan keuangan yang dikirimkan William Corp pada kita. Kalau tidak salah, dua tahun lalu aku juga sudah memberitahu pada CEO untuk mengeceknya."


Celine mengerutkan dahinya mencoba mengingat kejadian dua tahun lalu. Dengan segera, dia bangkit memeriksa rak yang ada di belakang meja kerjanya. "Ya, aku ingat. Tapi laporan itu belum sempat aku baca."


Tak lama kemudian, Celine menemukan map itu dan kembali memperlihatkannya pada Devan. "Laporan ini kan yang kamu maksud?"


"Ya, benar." Devan membuka map itu dan kembali memeriksanya.


Dia menunjukkan beberapa poin yang terasa aneh baginya. "Lihat ini, CEO! Angka operasional ini sangat fantastis dan sangat tidak masuk akal."


Celine mengangguk menanggapi ucapan Devan.


Lalu Devan melanjutkan membuka map yang baru saja dia bawa. "Dan ini. Biaya operasional tahun lalu juga membengkak. Ini sangat tidak mungkin, CEO. Kalau terus begini, perusahaan kita akan mengalami kerugian."


"Kenapa bisa begini?"


"Aku juga tidak tahu, CEO. Selama ini, kita hanya menerima laporan keuangan dari William Corp."


Celine menghela nafas panjang, lalu berkata, "Kalau begitu, cari tahu masalah ini dan selalu awasi Perusahaan William!"


"Baik, CEO. Kalau begitu, aku pamit dulu."


Devan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.


Namun, saat dia sampai di ambang pintu, langkahnya malah berhenti dan menangkap sesuatu yang hampir terjatuh. Alih-alih ingin mengelak dari Jessica yang ada di hadapannya, dia malah membuat Jessica semakin terkejut dan hampir saja terjatuh jika Devan tidak sigap menangkap tubuh Jessica yang hampir saja terjatuh ke lantai.


Celine pun menjadi tersenyum saat melihat adegan mereka berdua di hadapannya. Dia juga tidak mengerti dengan sikap mereka berdua yang selalu berusaha menjaga jarak meski sebenarnya mereka saling tertarik.


Mereka bertatapan cukup lama dengan posisi yang sama. Devan menundukkan tubuhnya menahan tubuh Jessica yang hampir terjatuh dengan kedua tangan Jessica yang mengalung di leher Devan sebagai pegangan.


Namun, adegan yang sangat manis itu dengan seketika lenyap setelah mendengar suara seorang pria yang berdehem di luar ruangan.


Dengan segera, Devan dan Jessica berdiri tegap merapikan pakaian mereka kembali dengan wajah canggung.


"Maaf, Tuan." Jessica sedikit merunduk meminta maaf pada Devan.


"Lain kali hati-hati, Nona Jessica." Devan pun berlalu pergi.


Jessica kemudian berjalan memasuki ruangan Celine dengan langkah besar. "CEO Celine, ada Tuan Nicholas Emmanuel datang ingin bertemu dengan Isabella."


Celine menoleh ke arah playground dan melihat Isabella yang sedang bermain di sana sejenak, kemudian kembali menoleh ke arah Jessica sambil tersenyum. "Kalau begitu biarkan dia masuk."


"Baik, CEO."


Jessica segera berbalik, berjalan ke pintu dan mempersilahkan Nicholas masuk, kemudian dia segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Selamat siang, Nona Celine." Nicholas muncul dengan senyum hangatnya dari balik pintu.


Hari ini, dia terlihat sangat tampan dengan balutan sweater turtleneck berwarna hitam dan celana jeans di tubuhnya. Namun, ada sedikit yang berbeda di wajahnya. Hari ini, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.


Celine segera bangkit dari kursi putarnya dan menghampiri Nicholas. "Siang, Tuan Nicholas. Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Kemarin aku sudah berjanji pada Isabella akan menemuinya hari ini."


"Oh, Isabella sedang bermain di playground bersama Bibi Aida. Mari ikut aku!" Celine tersenyum dan menunjuk ke arah kaca besar transparan yang ada di sudut ruangannya.


Nicholas mengikutinya berjalan menuju pintu masuk playground.


Dari kejauhan, Isabella telah melihat Celine dan Nicholas dan melambaikan tangannya pada mereka. Terpancar rasa bahagia dari raut wajahnya saat melihat Nicholas datang menemuinya.


"Daddy..." Isabella mengangkat kedua tangannya sambil berlari menghampiri Nicholas yang baru memasuki ruang playground.


Nicholas pun berjongkok dan menangkap Isabella yang berlari ke hadapannya.


Sebuah pemandangan yang sangat manis dilihat. Mereka berdua terlihat saling merindu meski baru semalam bertemu dan makan bersama.


"Akhirnya Daddy datang juga." Isabella memeluk leher Nicholas dan kemudian mencium pipinya.


Nicholas membalas ciuman Isabella dan memeluknya sambil berkata, "Tentu saja Daddy akan datang untuk menemui kesayangan Daddy. Kedepannya Daddy akan selalu datang untuk menemui Isabella."


"Tentu saja benar."


Isabella kembali memeluk leher Nicholas dengan erat. "Terima kasih, Daddy."


"Sama-sama, sayang." Nicholas membelai rambut Isabella yang panjang.


Celine hanya diam berdiri di ambang pintu melihat kedekatan mereka berdua. Mungkin akan sangat sulit bagi mereka jika suatu saat mereka terpisah. Meski baru saja kenal dekat, tetapi mereka seperti ayah dan anak yang tak terpisahkan. Hati Celine menghangat saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Celine melangkahkan kakinya mendekati mereka dengan Nicholas yang masih berjongkok berpelukan dengan Isabella. "Sayang, jangan terlalu erat nanti Uncle bisa susah bernafas."


Seketika Isabella merenggangkan pelukannya dan menatap Nicholas, lalu berpaling menatap pada Celine. "Mommy, bukan uncle tapi Daddy."


"Baiklah, Daddy." Celine tersenyum pasrah mendengar putri kecilnya meralat ucapannya.


Tak lama kemudian Nicholas bangkit berdiri sambil menggendong Isabella dengan sebelah tangannya.


Dia terlihat sangat kuat menggendong Isabella dengan sebelah tangan yang menurut Celine itu sangat berat.


Celine pun mencegah Nicholas untuk menggendongnya. "Tuan Nicholas, biarkan Isabella berjalan sendiri, karena tubuhnya sangat berat."


"Tidak apa-apa, Isabella tidak berat." Nicholas tersenyum pada Celine lalu menyentuh pipi chubby Isabella yang sangat menggemaskan itu.


"Daddy, apa hari ini kita jadi ke Disneyland?" Tanya Isabella pada Nicholas.


Nicholas tidak langsung menjawab, dia menoleh pada Celine. "Nona Celine, kemarin aku berjanji pada Isabella akan membawanya ke Disneyland. Apa aku boleh membawanya ke sana?"


Celine menatap Isabella tanpa menjawab pertanyaan dari Nicholas. Ada sedikit rasa enggan di hatinya membiarkan putrinya pergi dengan orang lain. Meski baginya Nicholas adalah orang yang sangat baik, tetapi hatinya masih ragu untuk membiarkan mereka pergi hanya berdua.


Celine tidak ingin terjadi sesuatu pada Isabella saat tidak bersamanya.


Sebenarnya, Celine sangat ingin menolak Nicholas yang akan membawa Isabella. Tetapi melihat wajah Isabella yang penuh harapan, membuat Celine merasa tidak tega untuk mengecewakannya.


"Mommy, aku ingin ke Disneyland bersama Daddy."


"Baiklah, Mommy ijinkan." Celine tersenyum pada Isabella.


Isabella pun merasa sangat senang dan berteriak, "HOREEE..."


Kemudian, Celine menoleh pada Nicholas. "Tapi dengan satu syarat, Mommy juga akan ikut bersama kalian."


Isabella pun kembali bersorak kegirangan, sedangkan Nicholas tersenyum pada Celine.


Pria tampan itu kembali mengeluarkan senyum mahalnya yang sangat jarang terlihat. Senyuman yang mampu membuat Celine hanyut ke dalam arus lautan biru yang ada pada matanya yang indah.


"Mommy, apa kita bisa pergi sekarang?"


Terdengar suara Isabella yang renyah menyadarkan mereka berdua yang sedang saling menatap.


Dengan segera Celine menoleh pada Isabella yang ada di gendongan Nicholas. "Iya, sayang." Kemudian Celine kembali menoleh pada Nicholas yang masih menatapnya. "Apa kita akan pergi sekarang?"


"Ya, kita akan pergi sekarang." Nicholas kembali tersenyum padanya.


Mereka bertiga berjalan ke luar menuju lift khusus yang ada di ujung koridor.


Mereka berjalan melewati beberapa ruangan staff yang berada di lantai yang sama dengan ruangan kantor Celine, termasuk ruangan Jessica, Devan dan Chika. Semua mata menatap pada mereka dengan tatapan penuh tanya.


Celine hanya bisa berjalan dengan menunduk, berpura-pura tidak melihat mereka yang sedang memperhatikannya dan Nicholas yang menggendong Isabella.


Isabella yang berada di gendongan Nicholas selalu berbicara tanpa henti bersamanya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Nicholas. Mereka terlihat sangat akrab seperti ayah dan anak.


Sedangkan Celine hanya diam berjalan di samping mereka, melihat mereka berbicara seolah-olah tidak ada dirinya di sana.


Dunia ini seperti hanya milik mereka berdua saja.


Namun, disaat Celine sedang memperhatikan mereka berdua sambil berjalan, tiba-tiba tangannya terasa hangat.


Tangan Celine yang awalnya hanya merasakan udara yang berhembus, kini terasa seperti ada yang menahannya.


Tangan Nicholas menggenggam tangan Celine dengan erat berjalan bersama memasuki lift yang sudah di depan mata.


Hati Celine pun terasa hangat oleh perlakuan Nicholas yang begitu manis padanya, dan Celine hanya bisa menundukkan wajahnya menutupi rasa malu.


...***...