
Jadwal yang padat cukup membuat Nicholas sangat sibuk dikantor untuk mengurusi dokumen-dokumen dan menghadiri beberapa rapat.
Saat istirahat siang hari, Nicholas selalu teringat dengan gadis kecil yang ditemuinya kemarin saat di bandara.
Gadis kecil yang manis dan lucu itu selalu terlintas dipikirannya. Nicholas juga ingat bahwa hari ini, gadis kecil itu masih dirawat di rumah sakit.
Nicholas memanggil Chris dan bertanya padanya. "Chris, setelah ini ada jadwal apa saja?"
"Setelah makan siang, ada dua rapat lagi yang harus dihadiri, Tuan. Rapat kenaikan saham dan rapat bersama para manajer departemen. Nanti malam juga ada undangan makan malam bersama Tuan Harry dari perusahaan pengadaan barang dan jasa." Jawab Chris yang berdiri didepan meja kerja Nicholas.
Nicholas sedikit mengangguk. "Kalau begitu batalkan dua rapat yang akan diadakan siang ini. Untuk jamuan makan malam, kamu saja yang pergi menggantikanku. Setelah ini aku harus ke rumah sakit untuk menjenguk Isabella."
"Baik, Tuan."
"Chris, apa kamu sudah menemukan dokter terbaik untuk menangani Isabella?"
"Sudah, Tuan. Siang ini akan ada beberapa dokter ahli yang memeriksa Isabella."
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu."
"Baik, Tuan."
Nicholas bangkit dari kursi kebesarannya, meraih jasnya dan segera pergi dengan langkah besar.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Nicholas selalu memikirkan Isabella. Entah mengapa gadis kecil itu bisa membuat Nicholas selalu memikirkannya, seperti ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Nicholas tertarik padanya.
"Uncle!!" Gadis kecil itu langsung berteriak memanggil Nicholas yang baru saja memasuki kamar pasien.
Gadis kecil itu hendak turun dari tempat tidur pasien, namun terhalang oleh selang infus yang menempel ditangannya. Dia tampak sedikit meringis menahan rasa sakit.
Nicholas segera menghampirinya. "Gadis manis, apakah kamu baik-baik saja?"
Gadis kecil itu tetap tersenyum meskipun wajahnya seperti sedang menahan rasa sakit. "Aku tidak apa-apa, Uncle. Hanya sedikit nyeri saja di sini." Dia menunjuk ke jarum infus yang menempel ditangannya.
Nicholas meraih tangan gadis kecil itu lalu meniupnya dibagian yang tertusuk jarum infus. Nicholas merasa kasihan dengan gadis kecil ini. "Dimana nenekmu?"
"Nenek Aida sedang membelikanku es krim, dan aunty Jessi pagi tadi pergi ke kantor." Isabella menjawab dengan suara manjanya.
"Gadis manis yang pintar." Nicholas mencubit lembut pipi chubby Isabella dan Isabella tersenyum manis padanya.
Senyuman gadis kecil ini mengingatkannya pada seseorang, tapi Nicholas tidak ingat itu siapa.
"Uncle ada sesuatu untuk Isabella." Ucap Nicholas.
"Apa itu, Uncle?"
"Tunggu sebentar." Nicholas keluar dari kamar pasien dan tak lama kembali lagi dengan membawa sebuah boneka teddy bear ditangannya berukuran besar untuk Isabella. Boneka itu setinggi tubuh orang dewasa saat berjongkok dan besarnya melebihi tubuh Isabella.
"Ini untukmu." Nicholas memberikan boneka itu pada Isabella dan menaruhnya disamping gadis kecil itu yang saat ini sedang duduk ditempat tidur pasien.
Isabella tersenyum lebar tampak senang melihat boneka besar itu. Dia mengulurkan tangan ingin memeluk Nicholas, kemudian menciumnya. "Terimakasih, uncle."
"Sama-sama, sayang." Nicholas kemudian duduk disamping Isabella.
Isabella duduk dipangkuan Nicholas dan Nicholas memeluknya seperti anaknya sendiri.
Mereka duduk berdua seperti ayah dan anak. Nicholas lalu membacakan beberapa cerita dongeng untuk Isabella.
Tiba-tiba, gadis kecil yang masih dipeluknya ini memanggilnya. "Uncle..."
"Ya, sayang." Nicholas menjawab dengan suara rendah dan penuh kasih sayang.
"Apakah uncle punya anak?" Tanya Isabella.
Nicholas yang masih memeluk Isabella menatap gadis kecil yang imut ini. "Belum. Kenapa memangnya?"
"Aku hanya senang uncle ada disini."
"Uncle juga senang bisa bertemu dengan Isabella."
"Uncle, apakah orang yang sudah berada di surga bisa kembali lagi?"
Nicholas tidak menjawab pertanyaannya, namun dia mencoba mengalihkan pembicaraannya. "Apa Isabella ingin makan buah? Uncle akan mengambilkannya untukmu."
Nicholas menggerakkan tubuh Isabella dan hendak berdiri. Tapi gadis kecil itu malah memegang erat lengannya dengan tangan kecilnya yang lembut. Nicholas pun menghentikan gerakannya.
"Aku tidak ingin makan buah, aku hanya ingin dipeluk uncle." Suara Isabella menjadi terdengar serak seperti ingin menangis membuat hati Nicholas ternyuh dan semakin tidak tega untuk meninggalkannya. "Apa boleh aku meminta uncle tidur disini malam ini?"
Nicholas tersenyum dan sebelum dia menjawab, Isabella melanjutkan perkataannya. "Kata momny, daddy-ku sekarang tinggal di surga. Aku berharap daddy-ku sebaik dan setampan uncle."
Mendengar itu membuat jantung Nicholas berdegup kencang. Gadis kecil yang ada dipangkuannya saat ini, pemikirannya sudah seperti orang dewasa. Dia mengetahui banyak hal, dan dia sepertinya sangat perhatian. Nicholas menjadi penasaran siapa mommy-nya.
"Kalau Isabel mau, Isabel boleh menganggap uncle seperti daddy isabel sendiri." Ucap Nicholas dengan lembut.
"Benarkah, uncle?" Seketika Isabella bangkit dan menatapnya dengan wajah bahagia.
Nicholas kembali menyentuh wajah kecil dan lembut milik Isabella. "Tentu saja."
"Aku akan selalu berdoa pada Tuhan agar suatu saat nanti aku bisa memiliki daddy sebaik dan setampan uncle."
Nicholas kembali tersenyum melihat gadis kecil yang saat ini sedang bergelayut manja dilehernya. "Tentu saja Isabel bisa mendapatkannya, asalkan Isabel selalu menjadi anak yang baik, Isabel akan mendapatkan daddy yang baik dan selalu menyayangi Isabel."
"Apakah uncle mengenal mommy-ku?"
"Tidak."
"Mommy-ku pasti akan senang kalau tau aku memiliki uncle. Mommy bilang, di dunia ini dia hanya memilikiku."
Tiba-tiba Nicholas teringat tentang ibu dari gadis kecil ini. "Apakah mommy-mu sudah datang?"
Isabella menggeleng. "Belum. Nenek Aida bilang, mommy sedang dalam perjalanan kemari, jadi aku harus sabar menunggu."
"Anak pintar." Nicholas mengusap rambut Isabella dengan penuh kasih sayang.
Nicholas dan Isabella berbicara cukup lama. Semakin lama, Nicholas semakin menyukai gadis kecil ini. Hati mereka telah menyatu seperti ada keterikatan emosional khusus.
Akhirnya, Isabella tertidur dalam pangkuan Nicholas. Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat seorang wanita paruh baya masuk dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.
Melihat Isabella yang tertidur pulas dipangkuan Nicholas, dia pun bergegas meletakkan belanjaannya dan menghampiri Nicholas. "Tuan maaf, cucuku kembali merepotkan Tuan. Apa dia sudah lama tertidur di pangkuan Tuan?"
"Belum. Dia baru saja tertidur." Jawab Nicholas dengan tersenyum pada nenek Isabella.
Nenek Isabella mendekat pada Nicholas dan berusaha ingin memindahkan Isabella dari pangkuan Nicholas. "Nek, tidak usah. Biarkan saja Isabel tidur dipangkuanku."
"Benar tidak apa-apa, Tuan?" Tanya nenek Isabella dengan wajah canggung.
"Tidak apa-apa, nek. Aku sangat menyukainya."
Nenek Aida menatap wajah Isabella yang tertidur pulas dengan tatapan dalam seperti mengingat sesuatu. Kemudian tiba-tiba air matanya menetes dan berkata. "Gadis kecil yang malang."
Nicholas hanya diam menatap nenek Aida dan nenek Aida kembali berkata. "Aku telah mengasuhnya dari dia baru lahir hingga saat ini. Saat dia baru lahir, kondisinya sangat menyedihkan. Dia terpaksa dilahirkan karena saat itu mommy-nya mengalami pendarahan hebat. Setelah kepergian daddy Isabella saat dia belum lahir, mommy-nya mengalami depresi berat. Dia seperti mayat hidup, masih bernyawa tapi tidak memiliki jiwa. Tapi kehadiran Isabella membuat mommy-nya mulai hidup kembali. Dia sangat menyayangi dan mencintai Isabella melebihi dirinya sendiri. Setelah Isabella lahir, mommy-nya mulai kembali beraktivitas seperti biasa, meski terkadang masih terlihat hampa." Nenek Aida bercerita panjang lebar.
"Apakah mommy-nya adalah anak nenek?" Tanya Nicholas yang semakin merasa penasaran dengan orang tua Isabella.
"Bukan. Aku hanya pengasuhnya. Saat mommy-nya masih kecil, aku juga yang mengasuhnya hingga dia tumbuh dewasa. Kisah hidup mommy Isabella juga menyedihkan." Nenek Aida tersenyum pahit.
"Juga menyedihkan?"
"Iya, Tuan. Mommy Isabella adalah gadis yang sangat baik. Dia adalah cucu perempuan satu-satunya dari seorang yang berpengaruh di Paris. Saat dia masih bayi, ibunya telah meninggal karena melahirkannya. Dia tumbuh besar dengan diasuh oleh ayah dan kakeknya. Tapi saat usia dia 5 tahun, sebuah kecelakaan mobil merenggut ayah dan kakak laki-lakinya yang saat itu masih berumur 12 tahun. Akhirnya, dia dibesarkan oleh kakeknya sendiri. Dan saat dia berumur 17 tahun, kakeknya pun meninggal dunia dan menjadikannya hidup sendirian. Dia adalah gadis yang sangat kuat dengan segudang beban yang harus dipikulnya."
Nicholas terhanyut mendengar cerita nenek Aida. Sebuah kisah hidup yang menyedihkan jika direnungkan. Dan cerita itu sangat berbanding terbalik dengan hidupnya yang masih mempunyai orang tua lengkap.
Tiba-tiba suara ponsel Nicholas menghentikan pembicaraan mereka. Nicholas mengangkat teleponnya dan berbicara beberapa saat dengan seseorang diseberang sana, lalu menutupnya.
Nicholas bangkit dan menidurkan Isabella dengan hati-hati ditempat tidur pasien. Kemudian, dia berpamitan pada nenek Aida. "Nek, maaf. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan. Kalau ada apa-apa, nenek segera hubungi Chris, asistenku."
Nenek Aida mengangguk. "Baik, Tuan."
Nicholas menatap wajah Isabella yang tertidur pulas sejenak dan mengecup keningnya. "Lekas sembuh, sayang. Uncle pergi dulu."
...***...