
Celine berjalan memasuki kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena sedari kemarin belum mandi.
Saat masuk, dia melihat ada sepasang pakaian dalam dan juga sebuah dress tergantung di luar pintu lemari yang ada di dalam kamar mandi. Di hanger juga terlihat ada secarik kertas yang bertuliskan "Ini pakaian baru untukmu".
Celine tersenyum membacanya. Kemudian dia segera mandi. Dia merasa, walaupun pria ini terlihat dingin dan terkadang juga kasar, tapi dia juga tau bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan baik.
Selesai mandi, Celine memakai pakaian yang telah di siapkan Nicholas untuknya. Dress dengan panjang selutut berwarna mint dengan merek terkenal yang sangat pas ditubuhnya. Dia merasa heran, di Villa sebesar ini yang ditinggali Nicholas seorang diri, kenapa bisa ada pakaian wanita? Dan anehnya, pakaian yang dipakai Celine begitu pas ditubuhnya. Lalu, dari mana Nicholas bisa tau ukuran pakainnya? Pria ini memang sulit untuk ditebak.
Celine keluar dan berjalan melewati koridor, lalu masuk ke dalam lift.
Celine masih memikirkan pria pemilik Villa ini. Sepertinya, dia tidak suka keramaian dan sangat menjaga privasi. Villa yang begitu besar dan mewah di tepi pantai dengan empat lantai ini hanya ditinggali oleh Nicholas seorang diri.
Beberapa kali Celine datang kemari, dia belum pernah melihat ada penghuni lain di Villa ini juga belum pernah melihat ada pelayan disini.
Celine keluar dari lift saat angka pada pintu lift sudah menunjukkan angka satu. Begitu keluar, dia melihat Nicholas duduk disofa pojok ruangan.
Nicholas yang menyadari kehadiran Celine, melirik ke arahnya. "Sudah bangun?"
Celine hanya mengangguk sebagai jawaban pertanyaan darinya.
"Aku tadi membuatkan bubur untukmu. Makanlah selagi masih hangat. Sejak pingsan kemarin, kamu belum makan apa-apa." Ucap Nicholas kemudian bangkit dari sofa dan berjalan ke arah dapur. Dia mengambilkan bubur yang telah dibuatnya dan meletakkannya di meja makan.
Celine berjalan ke arah dapur sambil menunduk berusaha menutupi rasa malu diwajahnya karena masih mengingat semalam dia tidur dengannya. Celine tidak tau harus mengatakan apa kepadanya. Dia juga tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana. Celine hanya bisa duduk diam dan menundukkan kepala sambil memakan bubur yang ada dihadapannya. Sedangkan Nicholas duduk diseberang terlihat begitu santai dengan ponsel ditangannya dan secangkir kopi.
Celine tidak menyangka kalau pria seperti Nicholas bisa memasak. Meskipun hanya memasak bubur yang sederhana, tapi rasanya sungguh lezat.
Mereka hanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan.
Celine menyantap bubur buatan Nicholas dengan lahap, karena sejak sore kemarin dia belum makan apapun. Sesekali, Celine melirik pada Nicholas yang masih sibuk dengan ponselnya dan menyeruput kopinya. Pria ini meskipun hanya memakai pakaian rumah, tetap saja tidak mengurangi ketampanan diwajahnya.
Tiba-tiba, mata yang seindah batu sapphire itu menatapnya. Tatapan mereka pun bertemu beberapa saat hingga akhirnya dia membuka suara untuk memecahkan suasana yang terasa canggung. "Apa kamu sudah merasa baikan?"
Celine mengangguk menanggapi pertanyaannya. Dia merasa gugup. "I-iya."
"Habiskan buburnya, setelah ini aku akan mengantarmu terapi ke klinik dokter Felix."
Celine tertegun sejenak. Bahkan pria ini mengingat jadwad terapinya. "Tapi, aku bisa pergi sendiri." Celine berusaha menolak.
"Biar aku mengantarmu. Ini kawasanku dan tidak akan ada kendaraan lain yang melintas di jalanan ini menuju kota, kecuali hanya mobilku."
...
Mobil sport mewah berwarna hitam milik Nicholas melaju kencang membelah jalanan di kota Paris.
Selama perjalanan, tidak ada dari mereka yang bicara. Hanya terdengar alunan musik jazz yang mengalun indah.
Nicholas yang sedang menyetir juga hanya menatap ke depan. Sedangkan Celine hanya diam menatap keluar jendela.
Tiba-tiba, ponsel dalam tas Celine bergetar dan berdering. Celine mengeluarkan ponselnya dan segera mengangkat telepon. "Halo.....Oh, oke, aku akan segera kesana."
Setelah menutup telepon, Celine menoleh pada Nicholas yang sedang menyetir di sampingnya. Tuan Nicholas, bisakah kamu mengantarku ke kantor?"
"Oke." Jawabnya tanpa menoleh dan kembali menunjukkan sikap dinginnya.
Kurang lebih satu jam, Celine sampai di Star Corp.
Celine turun dari mobil Nicholas yang telah diparkirkan di parkiran perusahaan. Celine mengucapkan terimakasih padanya, tapi pria itu hanya diam duduk di balik kemudinya tanpa menanggapi ucapan terimakasih Celine.
Celine juga tidak menghiraukan sikapnya yang kembali dingin. Dia segera melangkah dengan langkah lebar masuk kedalam perusahaan.
Hari ini adalah hari pertemuan pertamanya dengan perwakilan dari perusahaan Grand Corp sebuah perusahaan terbesar di dunia yang mencakup segala bidang.
Bisa bekerjasama dengan perusahaan ini adalah hal yang sangat penting bagi Celine. Selain mendapatkan profit yang sangat menguntungkan, dengan bekerjasama dengan perusahaan Grand Corp, Celine dapat meningkatkan elektabilitas dan kemampuan Star Corp di nata dunia.
Apalagi kali ini, Grand Corp akan membangun sebuah gedung pencakar langit yang akan dijadikan sebagai kantor pusat, dan Star Corp ingin menjadi pemasok bahan dalam proyek pembangunan ini.
Di dalam ruang rapat sudah duduk beberapa orang perwakilan dari Star Corp dan juga Grand Corp. Dari pihak Grand Corp terdapat lima orang yang dipimpin oleh Tuan James Zachary sebagai direktur perusahaan Grand Corp. Sedangkan Star Corp ada Celine, Devan, Jessica, Chika dan beberapa orang manajer.
"Selamat siang Tuan James." Celine tersenyum sambil mengulurkan tangan menyalami James.
"Selamat siang, Nina Celine. Senang bertemu denganmu." Balas James dengan tersenyum hangat.
"Tidak masalah. Menunggu wanita secantik anda, bukanlah hal yang membosankan."
Celine kembali tersenyum menanggapi ucapan pria berdarah timur tengah dihadapannya ini. "Terimakasih atas pujian anda. Kalau begitu, mari kita mulai pembahasan rencana proyek ini."
Mereka semua kemudian mulai sibuk membahas proyek pembangunan gedung pencakar langit.
Rapat tersebut berlangsung kurang lebih selama dua jam.
Selesai rapat, Celine keluar dari ruang rapat berjalan bersama Tuan James Zachary dengan diikuti para peserta rapat lainnya. Mereka berjalan melewati koridor dan masuk kedalam lift sambil berbincang-bincang.
Pintu lift terbuka di lantai bawah. Celine yang ingin pergi keluar, dia sekalian mangantar rombongan Grand Corp sampai ke parkiran. Sedangkan karyawannya sudah kembali ke kantor mereka masing-masing untuk lanjut bekerja.
"Baik Tuan James, kami dari perusahaan Star Corp akan segera mengirimkan surat pengajuan kontrak proyek dalam waktu dekat. Dan untuk hal lainnya, anda bisa menghubungi Jessica, asisten pribadi saya atau bisa langsung saja menghubungi Direktur perusahaan Star Corp, Tuan Devan Firdaus."
"Baik, Nona Celine. Meski proyek ini akan dilakukan tahun depan, tapi pihak kami akan menunggu surat dari anda sesegera mungkin. Karena ada banyak hal yang harus kita persiapkan." Tuan James kembali tersenyum dan mengulurkan tangan menyalami Celine.
Celine yang masih berdiri dihalaman perusahaan bersama rombongan Grand Corp melihat kearah parkiran. Celine masih melihat mobil sport milik Nicholas terparkir di sana, tapi tidak melihat pemiliknya.
Dari arah lain, sosok pria tinggi tegap berambut coklat berjalan menghampirinya.
"Nic....." Tiba-tiba Tuan James menyapanya dengan wajah sedikit terkejut.
Seketika, rombongan Grand Corp juga ikut menyapa dengan hormat pada Nicholas. "Tuan....."
Saat mereka baru membuka suara, Nicholas langsung mengangguk sambil mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar mereka tidak lanjut bicara. Dan mereka semua langsung terdiam mematuhinya.
Celine yang melihat adegan ini merasa bingung. Ada apa dengan mereka? Apa hubungan Nicholas dengan mereka? Batin Celine.
Nicholas menatap James seolah sedang berbicara melalui sorot matanya. James yang mengerti maksud dari tatapan itu, dia pun segera berpamitan pada Celine.
"Baiklah Nona Celine, kami pamit dulu."
"Baik Tuan James, hati-hati dijalan dan sampai jumpa." Celine tersenyum melepas kepergian rombongan Grand Corp.
Celine kemudian menatap Nicholas yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah bingung. Kenapa dia masih ada di sini?
"Tuan Nicholas, kenapa kamu masih ada di sini?" Tanya Celine dengan hati-hati.
"Aku menunggumu." Jawabnya datar.
Celine terkejut mendengarnya. "Kenapa menungguku?"
"Bukankah tadi aku sudah bilang, aku akan mengantarmu ke klinik Dokter Felix?" Nicholas bicara sambil membalikkan badan dan berjalan menuju mobil sportnya.
Dia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya. Kemudian dia melajukan mobilnya dengan pelan dan berhenti dihadapan Celine yang masih berdiri mematung.
Nicholas menurunkan kaca jendela mobil dan memanggilnya. "Nona Celine, apa kamu akan tetap berdiri disana sampai tua?"
Seketika, Celine pun menjadi kesal mendengar ucapannya. Pria ini kadang baik, tapi kadang sangat menjengkelkan seperti sekarang ini. "Apa maksudmu?!"
"Cepat masuk, aku akan mengantarmu terapi."
Akhirnya Celine masuk kedalam mobil Nicholas dan pria ini langsung melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan.
Celine masih memikirkan tentang sikap Tuan James dan rombongannya tadi terhadap Nicholas. Sebenarnya, ada hubungan apa antara Tuan James dengan Nicholas? Dan kenapa, pria ini menunggunya hingga rapat selesai?
Tiba-tiba, ponsel didalam tas Celine berdering memecahkan keheningan.
Celine tersenyum ketika melihat siapa yang meneleponnya. Isabella.
Dia segera menerima telepon dari gadis kecil yang sangat dirindukannya. "Halo sayang, mommy sedang di jalan, nanti mommy telepon lagi ya?"
Nicholas yang masih fokus dengan kemudinya, tetapi dia bisa mendengar dengan sangat perkataan Celine yang sedang berbicara dengan seseorang yang entah siapa itu. Nicholas hanya mengernyit saat mendengar Celine mengatakan 'sayang'. Dalam pikiran Nicholas, dia bertanya-tanya. Apa dia sudah memiliki pengganti Kenzo William?
Kemudian Nicholas mendengar Celine mengatakan 'mommy'. Apa dia sudah memiliki anak?
Ini semua tidak mungkin! Karena informasi yang Nicholas dapat, Celine hidup sendirian dan hanya dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang bekerja untuknya.
...***...