Love Story In Paris

Love Story In Paris
#7



Sore harinya, udara di kota Paris ini cukup cerah. Tapi, udara yang sangat dingin di musim dingin kali ini terasa hingga ke tulang.


Setelah melakukan beberapa rapat penting, Celine berencana ingin bersantai sejenak. Dia keluar dari kantornya memakai long coat berwarna hitam dengan lapisan bulu tebal di bagian dalamnya.


"Bu Celine, kamu mau kemana?" Tanya Jessica sambil melangkah menghampirinya di depan lift.


Celine menoleh melihatnya. "Jess, apa sore ini kamu sibuk?"


"Tidak. Apa Bu Celine perlu bantuan?"


"Aku hanya ingin kamu menemaniku jalan-jalan." Jawab Celine.


"Baiklah." Jessica menyetujui dan mereka masuk ke dalam lift bersama menuju basement.


"Bu Celine, apa perlu aku menelpon supir untuk mengantar kita?" Tanya Jessica setelah keluar dari lift.


"Tidak perlu. Aku bawa mobil sendiri." Jawab Celine sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya kemudian menyerahkannya ke Jessica. "Kamu yang bawa."


Jessica menerima kunci mobil darinya, mereka pun masuk kedalam mobil. Jessica menyalakan mesin mobil Dan segera melajukan mobilnya keluar dari perusahaan.


Jalanan di kota Paris sore ini cukup ramai, mungkin karena bersamaan dengan jam pulang kantor. Lalu lintas cukup padat, tapi tidak menyebabkan macet.


Jessica dengan tenang menyetir mobil ini melewati jalanan yang begitu ramai. Sedangkan Celine hanya duduk disampingnya menatap ke luar jendela. Dia kembali teringat dengan Kenzo. Rasanya baru kemarin dia dan Kenzo duduk di dalam mobil ini.


Mobil tesla milik Celine ini adalah pemberian dari Kenzo sebagai hadiah pertunangan mereka tiga tahun lalu. Lagi dan lagi, kota ini beserta semua yang ada di sini selalu mengingatkan Celine kepada Kenzo.


Jessica menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Di depannya banyak pejalan kaki sedang melintas di zebra cross.


Saat melihat keramaian, mata Celine tertuju pada sepasang remaja yang sedang berjalan dengan bergandengan tangan. Sepasang remaja itu tampak sedang berbincang dan sesekali tertawa membuat hatinya merasa hangat saat melihatnya. Celine membayangkan kalau sepasang remaja itu adalah dirinya dan Kenzo.


Kawasan yang dia lewati saat ini adalah tempatnya dan Kenzo menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah.


Kenangan tujuh tahun yang lalu, masih membekas di ingatannya.


Sambil menunggu lampu hijau, Jessica bertanya kepada Celine. "Bu Celine, sekarang kita mau kemana?"


"Ke menara eiffel, malam ini aku ingin jalan-jalan ke sana." Jawab Celine tanpa mengalihkan pandangannya.


"Baik."


Lampu hijau telah menyala, Jessica melajukan kembali mobilnya menuju ke tempat yang di inginkan Celine.


Sesampainya disana, Jessica memarkirkan mobilnya dan mereka turun bersama.


Saat ini sudah lewat jam tujuh malam. Celine ditemani Jessica jalan-jalan menikmati suasana malam di sekitar area ikon dari kota Paris ini.


Menara Eiffel ini tidak hanya sebagai ikon dari kota Paris, bahkan ikon dari negara Perancis. Namun, menara ini juga menjadi identik dengan romantisme pasangan yang sedang menjalin hubungan.


Bagaimana tidak? Banyak film-film romantis yang mengambil syuting di tempat ini. Maka tidak heran jika film-film tersebut akan berdampak pada penonton dan menimbulkan persepsi bahwa Menara Eiffel merupakan simbol tempat kasih sayang.


Setiap harinya, menara ini selalu diburu oleh para wisatawan yang sedang berkunjung ke Perancis. Banyak kegiatan yang mereka lakukan di sekitar area menara ini. Namun, hal yang bisa dikatakan wajib untuk dilakukan adalah menikmati pemandangan dari atas menara.


Dari atas menara tersebut kita akan bisa melihat dan menikmati keindahan kota paris secara keseluruhan. Kebanyakan yang ingin mencoba menaiki menara ini adalah para wisatawan. Sedangkan masyarakat lokal akan lebih banyak untuk duduk dan menikmati suasana di taman yang berada tidak jauh dari menara.


Seperti yang saat ini dilakukan oleh Celine. Setelah lelah berjalan menelusuri area menara, Celine duduk di sebuah bangku bersama Jessica disampingnya.


Celine kembali teringat dengan Kenzo saat dulu mereka berdua sering menghabiskan waktu berjalan-jalan di menara eiffel, kemudian duduk dibangku yang sama yang saat ini sedang ditempati Celine bersama Jessica, melihat keindahan menara eiffel sambil bercengkrama.


Tanpa Celine sadari, air matanya kembali menetes saat mengingat Kenzo. Hatinya juga terasa tersayat saat mengingat perpisahannya dengan cintanya itu.


"Bu Celine, tissue...." Jessica yang duduk disampingnya memberikan tissue untuk menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Jessica memang orang terdekat yang paling mengertinya.


"Bu, jangan bicara seperti itu. Setidaknya, Bu Celine harus ingat kalau masih ada Isabella yang sangat membutuhkan kamu." Ucap Jessica dengan wajah sendu.


"Ya, kamu benar Jess. Aku masih punya Isabella yang sangat membutuhkan aku." Celine menghela nafas panjang.


Jessica kemudian memeluk Celine berusaha untuk menenangkannya.


Jessica sangat tau bagaimana perasaannya dan juga keadaannya saat setelah kepergian Kenzo. Jessica selalu berada didekatnya, selalu menemani kemanapun Celine pergi sejak tujuh tahun yang lalu.


Bahkan, Jessica menjadi saksi hidup kisah cinta Celine dengan Kenzo.


Kisah cinta Celine dengan Kenzo begitu indah, hanya pada akhirnya sangat menyedihkan dan tragis hingga membuat kehidupan Celine berubah 180 derajat. Dan Celine yang sekarang, bukanlah Celine yang dulu.


Celine melepaskan pelukan Jessica kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran bangku taman. Dia menatap lurus ke arah menara eiffel dengan tatapan kosong.


Semenjak kepergian Kenzo, Celine menajdi sering melamun tanpa sebab.


Terkadang, ilusi tentang Kenzo selalu hadir menghampirinya.


Tanpa terasa, malam semakin larut dan udara semakin terasa dingin.


"Bu Celine, sudah larut malam. Kamu ingin pergi kemana lagi?" Tanya Jessica.


"Aku tidak ingin kemana-mana lagi, Jess." Jawab Celine dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kalau begitu, kita akan langsung pulang ke apartemen?"


"Iya, kita langsung pulang saja. Aku sangat lelah." Ucap Celine sambil bangkit berdiri kemudian berjalan menuju parkiran mobil di ikuti oleh Jessica dari belakang.


Dalam perjalanan pulang, Celine terdiam dan termenung. Sebenarnya, dia tidak tahan harus duduk didalam mobil ini. Mobil ini penuh dengan kenangan tentang Kenzo.


Pagi tadi, dia terpaksa memakai mobil ini karena ini mobil satu-satunya yang dia miliki di sini.


"Jessi..." Panggilnya.


"Iya Bu Celine?"


"Besok pagi, kamu bawa mobil ini ke mansion kakek. Kamu simpan di garasi mansion kakek saja."


"Tapi Bu, bukankah ini mobil satu-satunya kesayanganmu? Lalu, kamu mau pakai apa untuk bepergian?" Tanya Jessica dengan bingung.


"Besok pagi setelah kamu mangantar mobil ini le mansion kakek, tolong kamu pergi ke showroom mobil. Kabari aku setelah kamu sampai disana."


"Baik, Bu Celine."


Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Celine bersama Jessica sampai di apartemen.


Selesai mandi dan mengganti pakaian, Celine keluar dari kamar. Di ruang tengah, dia melihat Jessica duduk di sofa sambil membaca dokumen yang ada ditangannya. Celine menghampirinya.


"Jess, besok tolong kamu atur ulang semua jadwalku. Tunda semua meeting, dan kamu ganti hari menjadi lusa. Besok adalah hari kepergian Kenzo, sudah saatnya aku mengunjungi makam Kenzo."


Jessica menganggukkan kepala. "Baik, Bu Celine."


Celine kemudian berjalan ke dapur mengambil segelas air putih dan kembali ke kamarnya. Dia meletakkan gelasnya di atas nakas samping tempat tidurnya lalu mengambil kotak obat yang ada di dalam laci.


Celine meminum obat itu kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa lelah diatas tempat tidurnya.


Sudah tiga tahun ini Celine selalu meminum obat anti depresi dan obat tidur agar bisa tertidur lelap. Sebuah kebiasaan yang sangat menyiksa, tapi Celine harus melakukannya.


Karena, tanpa meminum obat itu, pikiran Celine akan sangat terganggu dengan bayang-bayang Kenzo yang membuatnya merasa sangat bersedih dan tidak bisa tidur.


...***...