Love Story In Paris

Love Story In Paris
#63



Celine terdiam sepanjang jalan mendengarkan cerita dari Nicholas yang sangat tidak terduga. Dia juga tidak menyangka jika Nicholas adalah pria yang waktu itu berbicara ketus dengan wajah dingin padanya. Saat itu, Celine tidak memperhatikan wajahnya. Jadi, dia tidak ingat persis bagaimana wajahnya 9 tahun lalu.


Yang masih teringat dalam benak Celine, cara bicara Nicholas 9 tahun lalu tidak berbeda dengan saat pertama kali bertemu di bandara London. Wajah yang acuh tak acuhnya memberikan aura dingin dan berbicara dengan ketus, sangat menjengkelkan jika tidak mengenalnya lebih dekat.


Namun, setelah mengenalnya, semakin lama Celine semakin menyadari, di balik sikap dinginnya, Nicholas memiliki hati yang lembut.


Celine tersenyum sambil memeluk tubuh Nicholas yang berjalan di sampingnya. "Apa menurutmu aku ini adalah wanita yang sangat ceroboh?"


Nicholas melirik padanya dan menjawab, "Ya terkadang kamu seperti itu."


Celine mengerutkan bibirnya dengan wajah kesal. Tetapi Nicholas malah tertawa melihat ekspresinya yang menurutnya itu lucu. Tangannya yang masih merangkulnya bergerak membelai rambutnya dan berkata, "Tapi aku menyukainya."


"Kenapa? Bukankah banyak pria yang tidak suka dengan wanita ceroboh?"


Nicholas memiringkan kepalanya tersenyum pada Celine. "Karena itu yang akan membuatku selalu bersamamu. Kamu akan selalu membutuhkanku dan aku akan selalu memberikan bantuan untukmu. Dengan begitu, aku bisa selalu menjagamu."


Celine tersenyum mendengar ucapan Nicholas. "Tuan Nicholas, apa aku boleh bertanya?"


"Silahkan."


"Kamu sekarang sudah kembali ke Paris, apa kamu akan mengadakan pertunjukan musik lagi?"


Nicholas menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Lalu? Bukankah sebenarnya kamu tinggal di London?"


Nicholas terdiam beberapa saat, tidak menjawab pertanyaan Celine.


Celine tidak tahu apakah dia salah bicara hingga membuat Nicholas merasa tersinggung? Tapi, itu tidak mungkin. Sepertinya, Nicholas tidak terlalu suka ditanyai tentang dirinya secara detail.


Celine kemudian menghela nafas, berusaha untuk memakluminya. Mungkin karena dia dan Nicholas belum lama dekat, juga baru beberapa jam jadian.


Mungkin belum waktunya Nicholas untuk bercerita tentang dirinya terlalu dalam. Mungkin nanti, saat mereka berdua sudah sama-sama merasa nyaman.


Celine menoleh ke samping dan mendongak menatap Nicholas yang lebih tinggi darinya sambil berjalan.


Nicholas masih diam menatap ke depan dengan wajah tanpa ekspresi.


Melihat raut wajah Nicholas yang seperti itu, mungkin pria itu masih belum mau bercerita. Jadi, Celine tidak bertanya lagi padanya.


Tapi, tak lama kemudian Nicholas berbicara. "Aku hanya ingin tinggal di Paris."


Tanpa mereka sadari, mereka sudah berjalan cukup jauh. Dari posisi mereka saat ini, mereka sudah melihat mobil Nicholas yang terparkir di tempat parkiran yang ada di ujung jalan. Mereka terus berjalan menuju parkiran itu sambil bergandengan tangan.


"Apa kamu ingin membeli sesuatu? Atau ingin pergi ke suatu tempat?"


Celine menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak ingin kemana-mana lagi. Lagi pula, Isabella ada di rumah. Bagaimana kalau dia bangun dan tidak menemukanku?"


"Ya. Dia akan mencariku ke kamar saat terbangun tengah malam, lalu melanjutkan tidurnya di sampingku hingga pagi hari."


"Kalau begitu, saat aku sudah benar-benar menjadi Daddynya, aku akan membuat kebiasaan itu berubah. Dia akan mencariku saat terbangun di tengah malam."


Celine tersenyum mengejek. "Kamu terlalu percaya diri."


"Percaya diri itu penting." Nicholas menoleh pada Celine dengan tersenyum penuh percaya diri. "Kalau tidak percaya diri, aku tidak akan berani mendekatimu."


Setelah sampai di parkiran mobil, Nicholas membukakan pintu mobil untuk Celine. Kemudian dia berjalan mengitari mobil dan memasuki pintu driver. Nicholas segera melajukan mobilnya keluar dari halaman parkir.


Selama perjalanan menuju apartemen Celine, selau terlihat garis senyum pada bibir Nicholas yang seksi itu. Sepertinya saat ini suasana hatinya sedang baik, dan Celine juga merasakan hal yang sama seperti itu.


Tak lama kemudian, Nicholas menghentikan mobilnya di depan lobby apartemen. Dia menoleh pada Celine yang duduk di sampingnya, dan berkata. "Aku tidak turun, sudah terlalu malam."


"Ya." Celine mengangguk malu.


"Istirahat dengan baik, besok pagi kamu harus ke kantor. Atau besok pagi kamu mau aku jemput?"


Celine langsung menolaknya. "Tidak, tidak usah. Ada supir perusahaan yang selalu menjemputku setiap pagi."


"Kamu bisa memintanya untuk tidak menjemputmu."


"Tuan Nicholas, mana bisa seperti itu? Bisa-bisa dia akan kekurangan pekerjaan. Aku selalu menggajinya, tapi dia tidak melakukan apa-apa, itu sangat tidak adil."


Nicholas tertawa mendengar ucapan Celine. "Ternyata kamu juga perhitungan."


"Tentu saja itu harus diperhitungkan."


"Baiklah, kalau begitu setiap sore sepulang jam kantor, aku yang akan menjemputmu."


Celine melebarkan matanya, tapi Nicholas segera melanjutkan ucapannya. "Aku sekalian ingin melihat Isabella."


"Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu." Ucap Celine sembari tersenyum pada Nicholas yang masih menatapnya.


Nicholas mengangguk. "Hmm. Semoga mimpi Indah, selamat malam."


"Malam." Celine segera turun dan berjalan memasuki lobby apartemen. Saat menengok ke belakang, mobil Nicholas masih belum menyala.


Celine membalikkan badannya, menatap ke arah Nicholas dengan mengangkat alisnya.


Nicholas menurunkan kaca mobilnya. "Masuklah! Aku hanya ingin memastikan kamu masuk dengan selamat."


Celine hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Nicholas. Ucapannya membuat hati Celine menghangat. Nicholas benar-benar sangat peduli padanya.


...***...