
Selama di perjalanan, Nicholas si pria aneh itu hanya diam fokus menyetir dengan wajah datar. Celine pun tidak berniat ingin mengajaknya bicara. Hingga mobil yang dikendarai berhenti di halaman Villa mewah milik pria itu yang sebelumnya pernah dia datangi saat menjemput kopernya.
Nicholas keluar dari mobil dan membuka pintu di sisi lain kemudian menggendong Celine kembali memasuki Villa-nya. Dia membaringkan Celine di sofa lalu dia berjalan ke masuk ke arah dapur mengambil segelas air dan memberikannya pada Celine. "Minumlah."
Celine menerima gelas itu dan langsung meneguknya hingga tandas. Dia benar-benar merasa haus dan lelah.
"Lagi...!" Pinta Celine sambil memberikan gelas yang sudah kosong kepada Nicholas lagi.
"Beraninya kamu memerintahku?!" Nicholas menatapnya dingin.
Celine mengerutkan bibirnya dan wajahnya terlihat lemah. "Kamu tidak lihat, aku tidak bisa jalan? Ini semua juga kan karena kamu. Kamu harus bertanggung jawab atas lukaku."
"Kamu ini wanita ceroboh yang bisanya hanya membuatku susah saja!"
"Apa kamu bilang?!" Mata Celine membola menatap pria menyebalkan yang selalu bicara tidak enak didengar ini.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan wanita keras kepala sepertimu." Ucap Nicholas dengan wajah datar kemudian berbalik dan berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke pantai.
Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai menelpon seseorang.
Entah siapa dan apa yang sedang dia bicarakan, Celine hanya bisa memperhatikan gerak geriknya dari sofa.
Selasai menelpon, Nicholas kembali menghampiri Celine dengan sekotak obat ditangannya.
Dia berjongkok dihadapannya dan meraih tangannya yang terluka. "Coba aku lihat lukamu."
Setelah melihat lukanya, Nicholas mulai memberisohkan luka gores di siku dan juga lengan Celine. "Apa ini sakit?"
"Tentu saja sakit! Tapi, masih belum seberapa dibandingkan dengan sakit di pinggangku juga kakiku....." Celine sedikit merengek seperti anak kecil karena dia benar-benar merasakan kesakitan.
Setelah membersihkan lukanya dengan cairan infus, Nicholas bangkit berdiri kemudian duduk di samping kaki Celine.
Celine terlihat terkejut dengan tindakan Nicholas yang kemudian meletakkan kakinya diatas pangkuannya. "Apa..apa yang kamu lakukan?" Tanya Celine yang menjadi gugup.
"Diam dan jangan cerewet!"
Celine kemudian berteriak kesakitan sampai meneteskan airmatanya sambil meremas pinggiran sofa ketika Nicholas memijit kakinya yang keseleo.
Tapi, semakin lama rasa sakitnya semakin berkurang. Celine diam-diam menatap wajah tampan Nicholas. Wajahnya yang dingin, tapi sebenarnya pria ini memiliki hati yang lembut. Walaupun terkadang sikapnya begitu kasar.
"Apa masih sakit?"
Seketika Celine tersadar dan mengerjapkan matanya karena terkejut. "Sudah...mendingan." Celine kembali merasa gugup.
Saat Nicholas masih memijat kakinya, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.
"Sebentar, aku buka pintu dulu."
Dari arah pintu terlihat ada seorang pria memakai kacamata dan usianya sepertinya tidak jauh beda dengan Nicholas. Pria itu membawa sebuah tas ditangannya dan masuk kedalam bersama Nicholas ke arah Celine.
"Apa wanitamu ini yang sakit?" Tanya pria itu pada Nicholas.
Seketika Celine terbelalak mendengar pria itu yang mengatakan kalau dia wanitanya Nicholas? Kemudian Celine menoleh menatap penuh tanda tanya pada Nicholas.
Sejak kapan dia menjadi wanitanya? Si pria aneh, kasar dan dingin seperti gunung es ini. Mana mungkin Celine menyukai pria seperti itu. Nicholas sangat jauh berbeda dengan Kenzonya yang selalu lembut kepadanya. Celine tidak sudi kalau orang-orang berpikir dirinya adalah wanitanya Nicholas. Itu sangat tidak mungkin!
Nicholas yang mengerti arti dari tatapan penuh tanya dari sorot mata Celine hanya diam dan tidak menghiraukannya.
Pria tadi yang sepertinya sudah mengerti dengan sikap dingin Nicholas, menatap Celine dengan wajah terkejut. "Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya."
Celine menjadi bingung dengan pria itu. "Maaf, tapi aku tidak mengenalmu Tuan." Celine tersenyum canggung.
"Apa kamu Nona Celine dari Star Corp?" Tanya pria itu dengan sumringah.
Celine sedikit mengerutkan alisnya. "Dari mana Tuan mengenalku?"
"Siapa yang tidak mengenalmu Nona? Semua orang di Paris tau kalau kamu cucu perempuan dari pemilik Star Corp." Ucap pria itu semakin antusias. "Lalu, apa kabar dengan Tuan Kenzo William? Aku adalah temannya waktu disekolah menengah. Maaf kalau saat itu aku tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian. Saat itu, aku sedang ujian skripsi di London."
Dada Celine tiba-tiba terasa sesak saat mendengar pertanyaan pria itu yang menanyakan kabar Kenzo. Celine menundukkan kepala berusaha menutupi kesedihannya. Hatinya sangat sensitif dengan pertanyaan tersebut. "Kenzo...dia sudah....."
"Sudah selesai basa basinya? Cepat selesaikan pekerjaanmu!" Tiba-tiba Nicholas menyela ucapan Celine dengan dingin.
Pria yang berdiri dihadapan Celine tertawa. "Kamu ini masih saja tidak berubah Nic. Selalu dingin dan ketus."
"Cepat selesaikan pekerjaanmu karena aku tidak suka ada wanita berlama-lama di tempatku." Ucap Nicholas lagi masih dengan wajah dinginnya.
"Oke oke, tidak perlu galak seperti ini." Pria itu pun tidak lagi bicara dan segera memeriksa kondisi Celine.
Selesai memeriksa Celine, pria yang merupakan seorang dokter ini memberinya selembar kertas yang berisi resep dan juga kartu nama. "Nona, ini resep obat untukmu dan juga kartu namaku. Usahakan seminggu sekali datang ke klinikku untuk terapi pinggangmu yang sakit. Untuk kakimu, baik-baik saja dan tidak lama akan kembali pulih."
Celine menerima resep obat beserta kartu nama dari pria itu. Di kartu nama itu tertulis nama Dr. Felix Christian,SpOT (Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi) beserta nomor ponsel juga alamat kliniknya.
"Jangan lupa untuk rutin minum obat yang ada dalam resep itu. Dan kalau terjadi sesuatu, kamu bisa langsung menghubungiku, Nona. Satu lagi, jangan lupa datang ke klinikku untuk melakukan terapi. Kalau kamu belum tau klinikku, kamu bisa meminta Nicholas untuk mengantarmu." Ucap Dokter Felix setengah becanda sambil melirik Nicholas sengaja ingin menggodanya.
Sedangkan Nicholas si gunung es yang duduk di sofa seberang masih memasang wajah dinginnya tidak menanggapi candaan Dokter Felix dan malah mengusirnya. "Sudah selesai memeriksanya? Apa perlu aku mengusirmu dulu baru kamu mau pergi dari sini?"
Dokter Felix seketika tertawa. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Nicholas. "Kamu ini, didepan wanita cantik juga sikapmu masih kejam seperti ini?" Ucapnya sambil mengemasi peralatan medisnya. "Tidak heran kalau kamu masih jomblo." Lanjutnya sambil mendengus geli dan Nicholas sama sekali tidak peduli. "Baiklah, aku pamit dulu. Semoga lekas sembuh ya, Nona Celine."
Dokter Felix pun segera pergi setelah menyalami Celine dengan tersenyum ramah.
Nicholas mengantarnya sampai ke depan Villa.
...***...