Love Story In Paris

Love Story In Paris
#46



Namun, saat Nicholas baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu apartemen, suara Isabella kembali terdengar dari dalam memanggilnya. "Daddy..."


Celine dan Nicholas menoleh ke belakang, melihat Isabella sudah bersandar di dinding di samping kamarnya dengan bonek teddy bear di tangannya.


Nicholas tersenyum pada Isabella dan kembali melangkah memasuki apartemen. Dia berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya. "Sayang, kemarilah!"


Isabella pun segera berlari dan memeluk leher Nicholas dengan erat.


Hal itu membuat Celine merasa heran. Tidak tahu ada ikatan apa antara mereka berdua. Tetapi mereka berdua seperti memiliki hati yang sangat dekat. Padahal baru beberapa kali bertemu, tetapi hubungan mereka berdua seperti ayah dan anak yang sulit untuk dipisahkan.


"Sayang, Uncle mau pulang dulu, Isabella tidur ya." Celine berusaha membujuk Isabella.


Isabella memeluk Nicholas dengan erat dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Nicholas. "Mommy, bukan Uncle tapi Daddy."


Celine terkejut mendengar perkataan Isabella yang dengan yakin mengatakan bahwa Nicholas adalah Daddynya. Celine tidak tahu harus bagaimana menjelaskan sebenarnya pada Isabella.


Jika dia menjelaskan bahwa Nicholas bukanlah Daddynya, Isabella pasti sedih. Tetapi jika dia tetap membiarkan Isabella memanggil Nicholas dengan panggilan Daddy, dia yang akan menjadi tidak enak hati. Itu akan membuat Nicholas menjadi sulit untuk mendapatkan wanita karena telah dianggap memiliki anak.


"Daddy jangan pergi." Pinta Isabella dengan manja pada Nicholas.


Celine merasa semakin tidak enak hati pada Nicholas. Dia harus terlambat pulang hanya karena Isabella. "Sayang, Daddy harus pulang malam ini."


"Kenapa Daddy tidak tidur di rumah kita saja? Anak-anak lain Daddynya tinggal bersama mereka, juga membacakan buku cerita untuk mereka." Ucap Isabella dengan memelas.


Tanpa Celine sadari, air matanya menetes membasahi pipi. Sangat jelas saat ini Isabella sangat menginginkan sosok seorang Daddy dalam hidupnya. Isabella juga ingin seperti anak-anak lain yang memiliki keluarga lengkap.


Meski Celine memiliki banyak uang, tetapi dia tidak bisa memberikan hal itu kepada putrinya.


Celine merasa sedih karen Kenzo William sudah pergi dan tidak bisa memberikan kasih sayang seorang ayah kepada putrinya sendiri.


"Sayang..." Celine berjongkok dan meraih tangan Isabella yang masih mengalung di leher Nicholas untuk membujuknya.


Namun, Isabella yang memunggungi Celine malah semakin mengeratkan pelukannya seperti tidak ingin berpisah dengan Nicholas.


Nicholas mengedipkan mata dan mengulurkan tangannya pada Celine memberi isyarat agar Celine menahan diri. Kemudian tangan Nicholas menyentuh pipi Celine dan menghapus sisa air matanya dengan ibu jarinya.


Celine terpaku melihat perlakuan Nicholas yang lembut itu. Dan seketika hatinya menjadi hangat.


"Isabella sayang, apa Isabella tidak mengantuk?" Tanya Nicholas pada Isabella.


Isabella hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pernyataan Nicholas. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh kecil dari perut Isabella.


Nicholas tersenyum dan kembali bertanya pada Isabella. "Apa Isabella lapar?"


"Aku lapar." Isabella mengangguk sambil memeluk leher Nicholas.


Seketika, Nicholas bangkit dan berdiri meluruskan punggungnya sambil menggendong Isabella dengan tangan kirinya. "Baiklah, Daddy akan menemani Isabella makan. Tapi Isabella harus berjanji, setelah makan Isabella akan kembali tidur."


"Oke." Isabella tersenyum lebar.


Celine masih diam terpaku menatap punggung Nicholas yang berjalan memasuki apartemen sambil menggendong Isabella. Kesabarannya menghadapi Isabella patut Celine acungi jempol. Kasih sayangnya kepada Isabella terlihat sangat tulus. Mungkin ketulusan dalam hati Nicholas yang membuat Isabella menjadi dekat dan tidak ingin berpisah kepadanya.


"Mommy, ayo kita makan! Aku lapar sekali." Isabella yang berada di gendongan Nicholas melambaikan tangannya menghadap Celine.


Celine pun tersenyum pada Isabella dan melangkah mengikuti mereka berdua. "Baik, sayang."


Karena malam sudah larut, Celine membuatkan semangkuk sereal dan segelas susu serta beberapa potong buah strawberry. Lalu Celine mengambil salad buah yang tadi dia buat dari dalam kulkas untuk Nicholas yang malam ini belum makan apa-apa kecuali sepotong dessert yang Celine hidangkan tadi.


"Terima kasih." Nicholas tersenyum.


Isabella mengangkat kedua tangannya yang terluka dan berkata, "Mommy, tanganku terluka. Aku tidak bisa makan sendiri."


Sebelum Celine menanggapi ucapan Isabella, Nicholas sudah lebih dulu berbicara pada Isabella. "Kalau begitu, biarkan Daddy yang menyuapimu." Nicholas mengangkat tubuh Isabella dan meletakkannya di pangkuannya.


Isabella tersenyum lebar. "Terima kasih, Daddy."


Nicholas menyuapi Isabella dengan sabar. Dia sangat memperhatikan Isabella seperti memperhatikan anaknya sendiri. Di sela-sela dia menyuapi Isabella, sesekali dia menyuapi salad buah ke mulutnya. Dia benar-benar terlihat seperti seorang ayah yang sedang mengasuh anaknya.


Sedangkan Celine hanya duduk memperhatikan mereka dengan tangan terlipat di meja.


"Apa kamu sudah makan malam?" Tiba-tiba Nicholas bertanya padanya.


"Tidak, aku tidak makan malam." Jawab Celine sambil menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba, Nicholas mengulurkan tangannya, menyodorkan sesendok salad buah ke hadapan Celine. "Ini, makanlah! Seharian tidak makan, kamu bisa sakit."


Celine kembali terpaku melihat sikap Nicholas yang selalu tiba-tiba dan sulit ditebak. Sikapnya kembali membuat hati Celine menghangat.


Nicholas mengedipkan matanya, memberi Celine isyarat agar memakan salad buah yang dia suapi kepadanya. Dan Celine pun memakan salad buah yang disuapi Nicholas dengan canggung.


Malam ini mereka makan bersama dalam satu meja.


Nicholas seperti seorang ayah yang sedang menyuapi dua orang anaknya, Celine dan Isabella. Dia menyuapi ibu dan anak itu secara bergantian seperti ada batasan di antara mereka. Meski Celine merasakan sedikit rasa canggung, tetapi sikap Nicholas terhadap dirinya dan Isabella membuat hatinya menjadi hangat. Nicholas sangat baik, sangat baik!


Setelah selesai makan, Celine membereskan meja dan mencuci mangkuk serta gelas sisa makan.


Sedangkan Nicholas masih duduk bersama Isabella yang ada di pangkuannya. Isabella menyandarkan tubuh kecilnya pada Nicholas dengan manja seperti seorang anak kecil kepada ayahnya. Sesekali Isabella menguap dan mengucek matanya yang sudah merasa ngantuk.


Tak lama kemudian, Isabella berbicara dengan suara manjanya. "Daddy, aku ngantuk. Apa Daddy mau membacakan buku cerita untukku sebelum tidur?"


Nicholas tersenyum pada Isabella dan berkata, "Tentu saja, sayang. Daddy akan membacakan buku cerita untukmu."


Isabella pun langsung meluncur dari pangkuan Nicholas dan menarik tangannya. Terlihat raut wajah Isabella yang senang sambil berjalan diikuti oleh Nicholas menuju kamarnya.


Celine hanya menatap punggung kedua orang itu yang berjalan memasuki kamar sambil mencuci piring.


Setelah selesai membereskan meja makan dan dapur, Celine berjalan di koridor menuju kamar Isabella. Pintu kamar Isabella sedikit terbuka. Dari celah pintu kamar, Celine melihat Nicholas sedang duduk bersandar di atas tempat tidur Isabella dengan sebuah buku dongeng di tangannya. Sedangkan Isabella tidur menghadap pada Nicholas sambil memeluk bonekanya.


Pemandangan yang Celine lihat saat ini, terlihat sangat manis. Andai saja Kenzo William masih hidup, pasti dia akan selalu membacakan dongeng untuk Isabella sebelum tidur.


"Hot Daddy."


Terdengar suara dari belakang punggungnya membuat Celine merasa sangat terkejut dengan kehadiran Chika dan Jessica di belakangnya yang tiba-tiba di belakangnya. Celine tidak tahu sejak kapan mereka berdua berdiri di belakangnya. Mereka berdua di belakang Celine sambil mengintip ke dalam kamar.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Celine kepada Chika dan Jessica dengan berbisik.


Mereka berdua menahan tawa dengan menutup mulut.


Celine hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka yang kekanak-kanakan dan berlalu pergi. Sedangkan Chika dan Jessica masih berdiri di ambang pintu memperhatikan Isabella bersama Nicholas.


...***...