
"Celine, bagaimana pekerjaanmu sekarang?" Tanya Tuan Gebriel.
Setelah selesai makan malam, mereka mengobrol di ruang tamu kecuali David, karena laki-laki itu tadi langsung pergi ke ruang kerjanya yang ada di lantai dua.
"Pekerjaanku baik Tuan." Celine tersenyum. "Tuan Gabriel dan Nyonya Anne sehat-sehat saja kan?"
"Aku baik, hanya saja istriku ini masih sering murung semenjak kepergian Kenzo."
"Sayang, itu sangat wajar karena aku ibunya. Seorang ibu akan sangat terluka dan kehilangan atas kepergian putra yang dicintainya." Protes Nyonya Anne.
"Aku juga ayahnya. Aku juga sangat kehilangan. Tapi aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan sepertimu. Menghabiskan waktu dengan hal yang tidak berguna, dan banyak mengurung diri di dalam kamar." Tuan Gabriel menanggapi istrinya.
Celine hanya terdiam memperhatikan sepasang suami istri paruh baya yang sedang berdebat dihadapannya. Celine berusaha tenang menghadapi gejolak kesedihan yang ada dalam hatinya. Celine juga selalu berusaha menutupi dari mereka bahwa dirinya juga sangat kehilangan Kenzo. Karena datang ke mansion ini, membuat Celine semakin mengingat akan banyaknya kenangan saat bersama Kenzo. Hatinya pun semakin sedih.
Celine tidak banyak bicara dan hanya menanggapi obrolan seperlunya saja hingga akhirnya Celine berpamitan pulang karena sudah larut malam.
"Tuan Gabriel dan Nyonya Anne, karena sudah larut malam, aku pamit pulang dulu."
"Oh, baiklah Celine. Apa perlu aku meminta David untuk mengantarmu pulang?" Tanya Tuan Gabriel pada Celine.
Celine menggeleng sambil bangkit berdiri. "Tidak perlu Tuan, terimakasih. Aku bawa mobil sendiri."
"Kalau begitu, kamu hati-hati di jalan." Sambung Nyonya Anne sambil memeluk Celine dengan penuh kasih sayang.
...
Keesokan harinya.
Langit di kota Paris harinya begitu cerah. Gedung-gedung tinggi terlihat begitu megah terkena pantulan sinar matahari yang menyilaukan.
Celine berjalan sendirian di pedestrian yang lumayan ramai saat hari libur. Dia berjalan melewati pertokoan dengan banyaknya para pembeli yang keluar masuk. Sebuah pemandangan yang jarang sekali Celine lihat di hari libur, karena biasanya Celine memilih untuk berdiam diri di dalam apartemennya saat hari libur.
Tapi mulai saat ini, Celine ingin merubah kebiasaan buruknya dan memilih pergi keluar jalan-jalan untuk mengisi waktu luangnya dihari libur. Celine menyadari, terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan juga tidak baik untuknya. Karena perjalanan hidupnya masih panjang, dan Celine juga ingin bisa membesarkan Isabella, mendampinginya hingga dewasa nanti.
Di hari minggu ini ternyata banyak sekali orang-orang yang berjalan-jalan di tengah kota dengan santai. Pemandangan yang masih terasa asing, namun sangat menyenangkan. Bisa melihat orang-orang berlalu lalang, ada yang berbelanja, bercengkrama dengan orang terdekat di taman kota, dan ada juga yang berjalan-jalan bersama keluarganya.
Diseberang jalan, Celine juga melihat ada sepasang suami istri muda dengan seorang anak kecil ditengah-tengah mereka terlihat begitu bahagia. Benar-benar pemandangan yang begitu indah, membuat Celine yang tiba-tiba teringat dengan Isabella dan Kenzo.
Andai saja Kenzo masih hidup, mungkin saat ini dia akan berada disampingnya. Isabella juga akan tumbuh besar dengan sangat baik seperti anak-anak lainnya, dan keluarga kecilnya juga pasti akan sangat bahagia seperti keluarga kecil lainnya.
Tapi, takdir berkata lain. Kenzo meninggal tepat di hari pernikahan mereka. Celine mengandung tanpa suami, dan Isabella lahir tanpa seorang ayah disampingnya.
Celine mengalihkan pandangannya dari keluarga kecil itu dan kembali berjalan.
Mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan Paris, Celine sudah tidak lagi menangis saat mengingat Kenzo. Airmatanya sudah terkuras habis untuk menangis nabisnya. Mulai saat ini, Celine harus kuat demi Isabella. Karena kini, hanya dia satu-satunya harta yang dimiliki, harta yang paling berharga dalam hidupnya. Buah cintanya bersama Kenzo.
Celine terus berjalan menapaki pedestrian yang ada dipinggir jalan. Saat Celine berjalan melewati sebuah gedung kesenian, dia mendengar suara biola yang mengalun indah. Biola itu melantunkan musik yang sudah lama sekali tidak Celine dengar.
Celine berlari kecil mencari arah suara dari biola tersbeut. Celine mengelilingi gedung itu hingga dia melihat ada pintu besar yang sedang terbuka lebar.
Pria itu berdiri tegap di tengah ruangan sambil memainkan biola yang ada di tangannya. Musik yang sedang dimainkannya adalah First Love karya komponis asal Jepang. Pria itu begitu mahir memainkan musik itu, membuat orang-orang yang mendengarnya langsung terbawa suasana dan mengingat akan cinta pertanyaan. Begitu juga dengan Celine yang selalu merindukan Kenzo, cinta pertamanya.
Dengan perlahan, Celine berjalan selangkah demi selangkah memasuki pintu besar gedung itu. Berjalan sambil terbuai oleh alunan musik hingga dia melihat sosok Kenzo sedang memainkan biola itu.
Celine seperti mendapatkan secercah harapan saat melihat Kenzo yang berdiri di tengah-tengah ruangan. "Kenzo..."
Celine kemudian berlari ke tengah-tengah ruangan ke arah pria yang berdiri dengan posisi membelakanginya. Celine berlari semakin mendekat hingga dia langsung memeluk pria itu dari belakang dengan begitu erat. Dia memeluk sosok pria yang selama ini selalu dia rindukan. Celine benar-benar merasakan keberadaan Kenzo begitu nyata. "Kenzo..."
Pria yang sedang dipeluknya seolah tidak merasa terusik oleh apa yang dilakukan Celine kepadanya. Dia tetap memainkan biolanya dengan tenang hingga selesai dan semua orang yang menyaksikannya bertepuk tangan sambil bersorak begitu heboh, bahkan mereka berteriak memanggil pria itu.
"NICHOLAAAS!"
Bersamaan dengan itu, lampu ruangan yang besar itu pun menyala.
Seketika, Celine tersentak dan tersadar dengan suara teriakan semua orang yang memanggil nama pria yang sedang dia peluk. Celine baru sadar bahwa dirinya sedang ditonton oleh banyak sekali orang yang memenuhi gedung ini. Apalagi dengan posisinya saat ini yang sedang memeluk seorang pria yang sangat menyita perhatian mereka semua.
Celine dengan cepat melepaskan pelukannya, tapi sebuah tangan besar menahannya untuk tetap diposisi semula.
Pria itu memutar tubuhnya menghadap Celine dan menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. "Nona Celine..."
"Tuan...Nicholas..." Celine tertegun mendengar suara rendah dari pria dihadapannya ini. Wajahnya yang sangat tampan dan mata birunya yang indah bagaikan batu saphire ini menatapnya lekat.
Pria tampan yang berada dihadapannya ini bukan Kenzo William, melainkan Nicholas Emmanuel. Pria dingin yang tidak masuk akal ini ternyata begitu mahir memainkan biola.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Nicholas dengan suara rendah yang begitu enak didengar dan sedikit menunduk hingga wajah mereka terlihat sangat dekat.
Celine hanya diam dan melihat sekeliling ruangan ini. Masih banyak sekali penonton yang menyoraki mereka berdua. Mereka seperti sepasang kekasih yang berdiri di altar. Kebetulan sekali, hari ini Celine memakai dress berwarna putih dengan panjang hingga lutut. Mungkin terlihat begitu serasi dengan Nicholas.
Celine melepaskan genggaman tangan Nicholas dan berlari begitu saja keluar dari ruang itu dengan perasaan kecewa, karena pria yang dia peluk bukanlah Kenzo, tapi Nicholas. Selain itu, Celine juga merasa sangat malu memeluk seorang pria asing dihadapan banyak orang.
Celine berlari melewati banyak orang dan segerombolan pengawal yang ada di belakang panggung. Celine terus berlari mencari pintu untuk keluar tanpa mempedulikan orang-orang yang ada disekitarnya.
Celine mendengar suara Nicholas memanggilnya terdengar begitu jelas dan sepertinya pria itu sedang mengejarnya. Celine tidak peduli dan mengabaikannya.
Celine terus berlari hingga dia menemukan pintu di belakang panggung. Dia berlari keluar hingga menjauhi gedung itu.
Kemudian Celine berhenti di depan sebuah taman dengan nafas yang tersengal. Jantungnya berdegup sangat kencang dan nafasnya tidak beraturan, membuat Celine merasa seperti dikejar oleh hantu di siang bolong.
Celine memengerjapkan matanya beberapa kali sambil menggeleng kerena merasakan pandangannya kabur.
Tiba-tiba ada sebuah tangan besar dan dingin dari belakang meraih pinggangnya. Pandangan Celine semakin kabur dan berubah menjadi gelap.
Celine pingsan!
...***...