
Keesokan harinya, Celine terbangun oleh sinar matahari yang menusuk mata dari balik tirai jendela. Perlahan, Celine membuka matanya dengan kepala yang masih terasa berat.
Celine yang tidur dengan posisi miring, merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Sebuah tangan besar melingkar ditubuhnya dengan erat.
Celine dikagetkan dengan seorang pria yang tidur dihadapannya sambil memeluknya. Pria yang memiliki sepasang mata bak batu sapphire ini ternyata juga memiliki garis wajah yang sangat indah. Wajahnya begitu tampan. Alis coklatnya yang tebal, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang sedikit kemerahan menambah kesempurnaan di wajah tampannya.
Wajah pria ini selalu mampu membuat Celine terpana meskipun sedang tertidur lelap.
Nicholas Emmanuel, pria asing yang selalu hadir di saat Celine mendapatkan kesulitan. Celine sampai sering sekali bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai hal itu.
Nicholas bagai malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuk selalu membantunya. Apa jangan-jangan pria ini adalah seorang malaikat?
"Morning..."
Lamunan Celine seketika buyar ketika mendengar suara serak seorang laki-laki yang begitu enak didengar. Dia pun menyadari kalau pria yang ada dihadapannya ini telah bangun dan sedang tersenyum menatapnya. Tapi, Celine tidak tau sudah sejak kapan pria ini menatapnya?
Celine melepaskan tangan Nicholas yang sedang memeluknya. Celine juga tersadar kalau dirinya belum sempat memeriksa dirinya sendiri yang ada dibalik selimut tebal ini.
Celine kemudian menghela nafas lega setelah melihat bahwa semua pakaian yang dipakainya sejak kemarin masih utuh, tidak ada satupun yang berkurang.
Nicholas memperhatikan sikap Celine yang terlihat cemas, dia pun angkat bicara. "Tenang saja, tidak terjadi apa-apa semalam."
Celine hanya terdiam tidak menanggapi ucapannya.
Nicholas menyentuk dahinya. "Syukurlah, demammu sudah turun."
Celine yang masih menatap wajahnya, bertanya dengan kesal. "Kenapa kamu tidur disampingku dan memelukku?"
"Kamu yang memelukku duluan."
Celine terdiam sejenak, kemudian bicara dengan menaikkan nada suaranya. "Mana mungkin aku yang memelukmu duluan?!"
"Hey nona, apa kamu tidak ingat semalam kamu yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu sendirian? Jangan memutar balikkan kesalahan!" Ucap Nicholas dengan suara rendah.
Seketika, Celine merasa sangat malu saat menyadari bahwa dirinya lah yang semalam meminta Nicholas untuk tidak pergi meninggalkannya sendirian. Celine juga sangat gugup karena telah tidur bersama pria asing yang baru beberapa kali bertemu dengannya.
Celine mematung, dia tertegun dengan sikap Nicholas. Biasanya setiap bertemu, dia akan selalu bersikap dingin dan angkuh dihadapannya. Tapi kali ini berbeda. Dia malah bersikap sangat baik pagi ini.
"Nona Celine, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Nicholas yang melihat Celine diam tak bergerak.
Celine kembali tersadar dari lamunannya dan menjawab pertanyaannya dengan gugup. "A-aku...baik-baik saja. Maaf sudah merepotkanmu." Sambil menarik selimutnya kembali.
Nicholas membalikkan tubuhnya dan pergi keluar kamar.
Sedangkan Celine masih berbaring dibalik selimut milik Nicholas yang terasa lembut dan wangi. Celine pun kembali teringat dengan kejadian siang kemarin.
*Apa yang terjadi denganku? Kenapa akhir-akhir ini, aku selalu merasa melihat Kenzo? Bahkan tanpa sadar aku melakukan hal yang sangat memalukan dihadapan banyak orang, aku memeluknya seolah-olah dia adalah Kenzo.
Apa aku begitu merindukan Kenzo hingga hampir setengah gila seperti ini*?
Celine menatap sebuah foto berukuran besar yang terpampang memenuhi dinding kamar yang berhadapan dengan tempat tidur.
Foto Nicholas Emmanuel yang sedang memainkan biola mengenakan tuxedo berwarna putih seperti sebuah cover majalah.
Celine kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah sebuah rak besar yang ada di bawah foto besar itu. Di rak besar itu banyak sekali majalah-majalah dengan cover foto Nicholas Emmanuel. Selain itu juga masih ada buku-buku, DVD, piringan hitam yang tertata rapi di rak tersebut.
Celine semakin penasaran dengan sosok pria yang sering membantunya ini karena wajahnya banyak terpampang dalam majalah. Celine berpikir, mungkin dia adalah seorang yang terkenal.
Dia berbalik untuk mengambil ponselnya yang ada diatas nakas samping tempat tidur, lalu segera mencari nama Nicholas Emmanuel di internet.
Di internet, nama dan wajah Nicholas Emmanuel langsung terpampang di pencarian pertama. Ternyata dugaan Celine benar. Dia adalah seorang musisi dan violinist terkenal dunia berkebangsaan Inggris. Dan kemarin adalah pertunjukan pertamanya di Paris. Mungkin karena selama ini Celine tidak terlalu peduli dengan berita yang ada di internet dan juga televisi, jadi Celine tidak mengenal siapa dia. Dia sering mendengar orang-orang menyebut nama Nicholas Emmanuel, tapi Celine tidak pernah memperhatikan sosoknya.
Seketika, Celine merasa sangat cemas. Dia takut kalau sampai kejadian kemarin siang diketahui oleh public.
Celine merasa bahwa dirinya benar-benar bodoh karena telah memeluk musisi terkenal saat pertunjukan berlangsung dan disaksikan oleh banyak orang. Dan semalam, dirinya menginap di rumah pria itu, bahkan tidur sekamar bersama dengannya. Celine semakin cemas karena sangat malu kalau sampai berita ini tersebar luas. Mungkin, orang-orang akan menganggapnya sebagai wanita dengan attitude buruk. Lebih parah lagi saat semalam dirinya memeluk Nicholas dan memintanya untuk tidak pergi meninggalkannya.
Oh, Tuhan! Betapa memalukannya ini! Aku benar-benar sangat malu untuk bertemu dengannya.
...***...