
Nicholas mengantar Felix-sahabatnya keluar Villa setelah memeriksa Celine.
Setelah sampai di halaman Villa, mereka berbincang sejenak.
"Nic, apa kamu tidak tau kalau wanita yang ada didalam itu......."
"Istri Kenzo William maksudmu?" Nicholas menyambar ucapan Felix.
"Iya, dan yang membuatku penasaran, kenapa kamu bisa bersamanya?" Tanya Felix lagi.
"Bukan urusanmu!" Jawab Nicholas dengan acuh.
Felix pun tertawa. "Jangan katakan kalau kamu sedang menyukai istri orang, Nic!" Dengan cepat, Felix langsung berjalan masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Villa Nicholas.
Nicholas masih berdiri ditempat dan termenung sejenak. Sejujurnya, Nicholas tidak mengerti dengan wanita yang sedang berada didalam Villanya ini. Nicholas selalu bertemu dengannya di saat keberuntungan tidak berpihak padanya. Dan anehnya, Nicholas dengan suka rela mau membantunya.
Setiap kali bertemu dengan wanita ini, entah kenapa Nicholas selalu mau melakukan hal-hal yang selama ini tidak pernah Nicholas lakukan. Wanita ini bagaikan seorang penyihir yang mampu membuat Nicholas selalu bisa melakukan sesuatu untuknya.
Awalnya yang Nicholas tau, wanita ini adalah seorang wanita yang memiliki keberuntungan dalam hidupnya. Dia memiliki paras yang cantik, kekuasaan yang tinggi, bahkan dia mampu membeli dan melakukan apapun yang dia inginkan. Semua yang dia miliki, mungkin mampu membuat para pria meliriknya dan membuat para wanita merasa iri kepadanya. Hidupnya terlihat begitu sempurna.
Yang membuat Nicholas penasaran dan bertanya-tanya, kenapa raut wajah wanita ini terlihat selalu dirundung kesedihan? Dari sorot matanya, seperti sedang menyembunyikan duka yang mendalam.
Walaupun dari luar dia terlihat begitu kuat dan anggun, tapi tidak menutupi kerapuhan dalam hatinya. Apa ada yang salah dengan kehidupannya yang sebenarnya?
Nicholas teringat dengan rasa penasarannya yang membuatnya kemudian menyuruh anak buahnya untuk mencari tau tentang wanita ini.
Pertemuan yang tidak pernah disengaja dengan kondisinya yang selalu tidak beruntung saat bertemu dengan dirinya, membuat Nicholas tertarik dengan kehidupannya. Dan tidak butuh waktu lama untuk mencari tau tentangnya, bahkan sangat mudah karena wanita ini salah satu wanita yang cukup terkenal di Kota Paris ini.
Yang Nicholas tau, selain dia seorang CEO perusahaan Star Corp, dia adalah tunangan sekaligus calon istri dari Kenzo William.
Dulu, Nicholas pernah sekolah di Paris selama satu tahun sebelum dia harus kembali ke London. Saat dia masih di Paris dulu, dia memiliki teman baik bernama Felix Christian, James Zachary, Kenzo William dan Keenan Warouw.
Dan Celine, wanita yang sedang berada didalam Villanya saat ini adalah wanita yang sama yang pernah Nicholas lihat bersama Kenzo saat mereka masih remaja dulu. Setelah mengetahui kebenaran ini, Nicholas merasa kalau dunia ini terasa sempit.
He, dia bertemu orang-orang dengan lingkaran pertemanan yang sama, walaupun dia telah tinggal lama di London.
Kali ini, Nicholas kembali ke Paris untuk mengadakan pertunjukan musik dan mengurus beberapa urusan perusahaan. Selain itu, dia juga berencana untuk menjalin kerjasama dengan teman lamanya, Kenzo William. Karena tiga tahun lalu, Nicholas mendengar kalau Kenzo telah menjadi pengusaha muda yang sukses di Paris.
Tapi saat dia kembali ke Paris, dia baru tau kalau perusahaan William Corp sekarang dipimpin oleh David William, kakak tiri Kenzo. Dan Nicholas juga baru tau kalau ternyata Kenzo telah meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan kapal pesiar di hari pernikahannya. Sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan bagi Nicholas. Dan sekarang, Nicholas malah sering bertemu dengan Celine tanpa di sengaja.
Seperti hari ini, Nicholas kembali bertemu dengan Celine tanpa sengaja. Hari ini, Nicholas pergi ke pemakaman Montparnasse ingin berziarah ke makam Kenzo.
Tapi diperjalanan menuju makam Kenzo, Nicholas mendapati Celine hampir saja terjatuh saat menuruni anak tangga. Mihat wanita itu dalam bahaya, Nicholas pun langsung membantunya dan sekarang ini dia membawanya pulang ke Villanya.
Di dalam Villa, Celine masih terduduk di sofa dengan tenang sambil memainkan ponselnya.
Sesaat kemudian dia melihat Nicholas kembali masuk dan berjalan menghampirinya.
"Nona Celine, aku akan mengantarmu pulang."
Celine mengangguk dan Nicholas kembali menggendongnya, membawanya keluar dari Villa menuju mobil sport mewahnya.
Nicholas tidak banyak bicara, bahkan ekspresi wajahnya sangat datar.
Celine melingkarkan tangannya di leher Nicholas sambil menatap wajah tampan pria dingin ini. "Tuan Nicholas, terimakasih."
...
Keesokan harinya.
Seperti biasa, Celine melakukan pekerjaan di dalam ruangan kantornya.
"Datang ke ruanganku sekarang." Celine memanggil seseorang melalui intercom yang ada dimeja kerjanya.
Tak lama, pintu ruangan diketuk dari luar dan Devan masuk dengan setumpuk dokumen di tangannya.
"Bu Celine, ini ada beberapa dokumen yang barus anda tanda tangani." Ucap Devan sambil meletakkan dokumen-dokumen yang dibawanya ke hadapan Celine.
"Duduklah." Suruh Celine pada Devan. "Bagaimana perkembangan proyek baru kita saat ini, Dev?"
"Proyek baru kita dengan perusahaan William saat ini berjalan dengan baik. Tapi, disini ada beberapa berkas yang harus anda periksa dengan teliti." Ucap Devan sambil menunjuk beberapa berkas yang ada dihadapan Celine.
"Apa ada masalah dengan proyek ini?"
"Sebaiknya, anda periksa dulu. Aku harap, analisaku salah."
"Baiklah, aku akan memeriksanya nanti." Celine mengangguk sambil memainkan pena ditangannya. "O ya Dev, aku dengar perusahaan Grand Corporation akan membangun gedung pencakar langit untuk dijadikan kantor utama di kota ini. Dan saat ini, mereka sedang mencari perusahaan untuk menyetok bahan baku dalam pembangunannya. Apa kamu bisa mengambil proyek besar ini untuk Star Corp?"
"Aku akan mencobanya." Jawab Devan dengan ragu.
Melihat keraguan di wajah Devan, Celine berdiri dan berjalan menuju jendela kaca kantornya. "Dev, kenapa kamu terlihat ragu? Sejak kapan kamu menjadi orang yang tidak percaya diri seperti ini?"
"Bukan begitu, Bu Celine. Tapi, proyek yang dibuat oleh Grand Corp ini adalah proyek yang sangat besar. Banyak sekali perusahaan besar di Paris yang berlomba untuk mendapatkan proyek ini. Bahkan, perusahaan William juga ikut bersaing untuk mendapatkan proyek ini."
"Devan, sekarang ini kita sedang berbisnis bukan sedang melakukan uji coba! Jadi aku tidak suka kalau kamu mengatakan akan mencobanya! Aku ingin proyek besar ini jatuh ke tangan Star Corp, dan kamu harus bisa mendapatkannya!" Ucap Celine dengan penuh tekanan pada Devan.
"Tapi bu Celine, William Corp....."
"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang kamu boleh keluar!"
Disaat yang bersamaan, Jessica masuk kedalam ruangan Celine sambil memanggilnya. "Bu Celine....." Gerakan tangan Jessica seketika terhenti ketika mendorong pintu dan melihat bahwa Devan juga sedang ada didalam dan suasana menjadi canggung.
Celine melihat kearah Devan lalu ke arah Jessica. Mereka berdua sama-sama terpaku saling bertatapan. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua, karena mereka terlihat selalu canggung saat bertemu.
Sesaat kemudian, Devan berdehem memecahkan keheningan. "Bu Celine, aku permisi dulu."
Setelah Devan keluar, Jessica masih terpaku di pintu menatap ke arah Devan yang sudah tidak terlihat lagi.
"Hey! Apa sudah puas menatapnya?" Celine menggoda Jessica yang bahkan sampai tidak berkedip menatap kepergian Devan.
"Euh, siapa yang menatapnya?!" Jessica menyangkalnya dan terlihat menjadi salah tingkah.
"Sudah lah Jess, kamu tidak perlu menutupinya dariku. Aku tau kalau sebenarnya kalian ini memiliki perasaan satu sama lain."
Jessica menggelengkan kepala dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Bu Celine, ini berkas-berkas yang akan dikirim ke Grand Corp, mohon diperiksa terlebih dahulu."
...***...