Love Story In Paris

Love Story In Paris
#41



Nicholas Emmanuel mengantar Celine pulang ke apartemennya. Selama perjalanan, mereka tidak berbicara banyak. Hanya ada keheningan yang mendominasi perjalanan mereka.


Entah kenapa tubuh Nicholas mengeluarkan keringat dingin, dan jantungnya berpacu dengan kecepatan mobilnya. Dia tidak tahu harus bagaimana mengatasi suasana yang canggung ini, karena pertama kalinya dia dekat dengan seorang wanita di luar urusan pekerjaan.


Nicholas mengulurkan tangannya, menyentuh audio yang ada pada dashboard mobil, lalu dia menyentuh tombol ON untuk memecah keheningan.


Di layar audio itu muncul lagu yang dinyanyikan oleh Arash feat. Helena berjudul One Day.


Mereka mendengarkan lagu tersebut, kemudian Celine tiba-tiba memulai pembicaraan setelah sekian lama mereka hanya diam mendengarkan lagu. "Apakah kamu begitu menyukai lagu berbahasa Persia ini?"


Nicholas tersenyum pada Celine yang duduk di sampingnya. "Ya, aku menyukainya."


Celine membalas senyuman Nicholas, dan berkata, "Aku juga menyukainya."


"Kebetulan sekali. Jika kamu mau, kamu bisa membawa DVD ini untuk kamu dengarkan."


"Tidak usah, aku bisa mendengarkannya di ponsel."


Nicholas merasa sedikit terkejut melihat Celine hari ini. Wanita ini terlihat berbeda dari yang sebelumnya pernah dia kenal. Celine yang dia lihat hari ini lebih banyak tersenyum, tidak seperti dulu yang selalu murung. Mungkin suasana hatinya hari ini sedang baik, jadi dia mudah tersenyum. Senyumannya hari ini akan selalu Nicholas ingat.


Celine kembali bertanya pada Nicholas. "Tuan Nicholas, bolehkah aku mendengarkan lagu ini sekali lagi?"


"Tentu saja."


Dengan spontan Celine langsung mengulurkan tangannya, menekan tombol preview pada layar audio. Pada saat bersamaan, Nicholas juga mengulurkan tangannya hendak menekan tombol yang sama.


Tanpa sengaja, jari telunjuk mereka saling bersentuhan, dan mereka pun sama-sama terapku. Lalu dengan segera Nicholas menarik kembali tangannya dan memegang persneling mobilnya. "Maaf."


Celine hanya mengangguk dengan gugup, wajahnya yang tampak memerah menoleh ke arah luar jendela mobil.


Mereka kembali merasa canggung setelah kejadian yang tidak disengaja barusan, dan saling diam cukup lama.


Sesekali, Nicholas melirik ke arah Celine yang masih duduk tenang di sampingnya. Wajah cantiknya yang menatap ke depan dan ke luar jendela mobil selalu mengukir senyuman. Sepertinya dia sangat menikmati musik yang sedang dia dengar.


Nicholas tidak tahu pasti apa yang membuatnya sering tersenyum hari ini. Tetapi setidaknya Nicholas tahu bahwa suasana hati Celine sedang baik, dan itu sangat membuat Nicholas merasa lega.


"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu beli sebelum pulang ke apartemen?" Tanya Nicholas kepada Celine.


Celine terdiam sejenak tampak berpikir, kemudian segera menjawab. "Tuan Nicholas, maaf sebelumnya jika aku merepotkanmu. Bisakah kamu mengantarku ke pusat perbelanjaan yang ada di sana?"


"Oke, dengan senang hati, Nona Celine." Nicholas melajukan mobilnya ke arah pusat perbelanjaan yang Celine tunjuk.


Setelah mobil yang mereka kendarai sampai di pusat perbelanjaan, Nicholas turun dari mobil.


Celine menatap bingung pada Nicholas dan bertanya, "Tuan Nicholas, kenapa kamu turun?"


"Menemanimu berbelanja." Jawab Nicholas dengan acuh tak acuh.


Celine menatapnya dengan senyum yang dipaksakan. "Tidak usah, Tuan. Aku bisa sendiri, lagipula hanya sebentar saja."


"Tidak apa-apa. Sudah, ayo masuk!"


Mereka pun masuk ke dalam pusat perbelanjaan bersama tanpa bergandengan tangan.


Hal ini memberikan kesan yang berbeda di hati Nicholas, karena ini pertama kali baginya menemani seorang wanita berbelanja selain ibunya.


"Apa yang ingin kamu beli?" Tanya Nicholas kepada Celine yang sedang menoleh ke kanan dan ke kiri.


Celine kemudian menunjuk ke arah kanan. "Kita ke sana saja. Aku ingin membeli beberapa makanan dan keperluan rumah."


Dengan sadar Nicholas meraih troli belanja dan berjalan mengikuti Celine dari belakang.


Saat mereka berdua berjalan, banyak pasang mata yang menatap ke arah Nicholas.


Nicholas tidak tahu apa ada yang aneh pada dirinya? Dia merasa, mungkin penampilannya yang tidak sesuai pada tempatnya yang membuat mereka menatapnya tak berkedip cukup lama sehingga dia kemudian menunduk untuk melihat pakaiannya sendiri dari atas hingga bawah. Memang benar, saat ini pakaian yang dia pakai sangat tidak cocok untuk pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Setelan jas yang dipakainya ini hanya cocok untuk dipakai saat pergi ke kantor.


Celine melangkah mundur, menyamakan langkahnya dengan Nicholas, lalu berbisik. "Dirimu sangat mencuri perhatian orang-orang yang sedang berbelanja di sini."


Celine tersenyum menatapnya yang terlihat kebingungan dan kembali berkata. "Maksudku, karena ketampananmu yang membuat semua mata tertuju padamu."


Celine lalu menepuk pundak Nicholas dan kembali berjalan memilih barang belanjaannya.


Diam-diam hati Nicholas merasa sangat senang mendengar pujian dari Celine. Namun, dia tetap terlihat tenang sambil menahan senyumannya. Dia terus berjalan mengikuti Celine dari belakang sambil mendorong troli.


Banyak barang dan makanan yang dibeli oleh Celine yang dimasukkan ke dalam troli. Salah satunya adalah buah strawberry. Melihat buah strawberry yang begitu banyaknya dibeli oleh Celine, membuat Nicholas tidak bisa menahan untuk bertanya. "Nona Celine, untuk apa kamu membeli buah strawberry sebanyak ini?"


Celine tersenyum dan menjawabnya. "Buah strawberry ini sangat berharga dan menjadi paling favorite di rumahku. Jadi, beli sebanyak apa pun akan segera."


Setelah membeli bahan makanan dan buah-buahan, Celine berjalan menuju tempat perlengkapan bayi.


Nicholas masih terus berjalan mengikutinya dari belakang. Dia melihat Celine membeli beberapa perlengkapan mandi untuk anak dan juga popok anak.


Nicholas mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti dengan apa yang dibeli oleh Celine. Setahunya, Celine adalah wanita single karena tidak jadi menikah dengan Kenzo William setelah terjadi kecelakaan yang menewaskan pria itu beberapa tahun lalu. Tetapi sekarang, Nicholas melihat Celine membeli beberapa perlengkapan untuk anak-anak.


'Apakah mungkin dia sudah punya anak? Tidak, tidak mungkin!' Batin Nicholas.


Meski merasa sangat penasaran, tetapi Nicholas tidak berani untuk banyak bertanya lagi kepada Celine. Dia takut jika Celine berpikir bahwa dia adalah pria yang tidak sopan dan mencampuri urusan pribadinya.


Beberapa menit kemudian, Nicholas mendorong troli yang berisi belanjaan Celine ke kasir.


Setelah semuanya dihitung, Nicholas membuka dompetnya, mengeluarkan Black Card dan memberikannya kepada kasir. Tetapi tiba-tiba Celine merampasnya dan mengembalikan kepadanya.


"Pakai ini saja." Ucap Celine sambil memberikan Black Card miliknya kepada kasir.


Nicholas yang tidak menerima penolakan, dia tidak ingin kalah dan memberikan Black Cardnya kembali kepada kasir. "Tidak. Pakai ini saja!"


kasir itu terdiam sejenak dan terlihat bingung menatap mereka berdua, lalu beralih menatap kedua Black Card yang ada di hadapannya. Setelah terdiam sejenak, kasir itu berkata sambil tersenyum geli. "Kalian ini suami istri malah berebut untuk membayar."


Mendengar itu, membuat mata Celine langsung terbelalak.


Kasir itu kembali berkata sambil mengambil Black Card yang ada di tangan Nicholas. "Nyonya, untuk membayar belanjaan ini sebaiknya pakai kartu suamimu saja. Lebih baik kamu simpan kartumu untuk membeli yang lainnya."


Nicholas dapat melihat perubahan dari wajah Celine yang menatap aneh kepada kasir itu. Tidak tahu apa yang sedang wanita cantik itu pikirkan. Tetapi wajahnya terlihat sangat lucu membuat Nicholas sulit untuk menahan senyumnya.


Dengan segera, kasir itu tersenyum sambil mengembalikan Black Card milik Nicholas dan berkata, "Terima kasih, Tuan." Kemudian berbicara kepada Celine dengan senyum menggoda. Oh ya, Nyonya. Kamu sangat beruntung memiliki suami yang sangat tampan dan mencintaimu."


Wajah Celine yang awalnya terlihat aneh, kini memerah.


Nicholas yang sudah tidak tahan menahan tawa, hanya berdehem lalu dengan cepat meraih dan membawa barang belanjaan Celine sebelum Celine marah kepada kasir itu.


Celine hanya bisa menggerutu dengan wajah kesal.


Setibanya di gedung apartemen milik Celine, Nicholas membantunya mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari dalam mobil dan berkata, "Nona Celine, belanjaanmu sangat banyak. Apa kamu yakin akan membawanya sendiri ke dalam apartemen? Apa perlu bantuanku?"


"Tidak, terima kasih banyak, Tuan Nicholas. Nanti aku bisa memanggil bibiku untuk membantuku membawa semua ini ke atas."


"Kamu yakin?"


Celine tersenyum lebar. "Yakin."


"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu."


"Terima kasih banyak untuk hari ini, Tuan Nicholas. Terima kasih juga untuk belanjaannya."


"Sama-sama." Nicholas tersenyum dan kembali masuk kedalam mobilnya. Dia menurunkan kaca mobil dan bertanya kepada Celine. "Nona Celine, apa nomor ponselmu masih yang dulu?"


"Ya, masih yang dulu."


"Oke, terima kasih." Nicholas manaikkan kaca mobilnya kembali, membunyikan klakson dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan Celine yang masih berdiri di sana sambil tersenyum menatap kepergiannya.


...***...