Love Story In Paris

Love Story In Paris
#64



Esok harinya.


"Jess, ke ruanganku sekarang!" Celine memanggil Jessica melalui telepon kantor.


Tak lama kemudian, Jessica datang dan menghampirinya. "Apa CEO Celine membutuhkan bantuanku?"


"Jess, bagaimana dengan laporan yang kemarin aku suruh buat? Apa sudah selesai?"


Jessica mengangguk. "Sudah, CEO. Nanti akan aku antar bersamaan dengan laporan keuangan yang diperiksa waktu itu."


"Laporan keuangan yang mana?"


"Beberapa hari yang kalu, bukankah CEO Celine meminta Tuan Devan memeriksa kembali lporan keuangan yang dikirimkan oleh pihak William Corp? Tuan Devan sudah memeriksa ke lapangan dan dia sudah mendapatkan hasilnya. Sekarang hasilnya sedang aku rangkum menjadi sebuah file. Tapi..."


Celine mengerutkan kening saat melihat raut wajah Jessica yang sedikit aneh. "Tapi apa?"


"Tapi hasil laporan keuangan yang dikirimkan oleh pihak William Corp sangat jauh berbeda dengan hasil pemeriksaan di lapangan. Dan itu terjadi pada laporan keuangan dua tahun terakhir ini."


Celine terkejut dan tiba-tiba kepalanya terasa sakit setelah mendengar penjelasan dari Jessica. Dia merasa terjadi sesuatu yang tidak beres. Jika hasil laporan keuangan itu sangat berbeda dari hasil pemeriksaan di lapangan, besar kemungkinan telah terjadi kecurangan di dua tahun terakhir ini.


Celine kembali bertanya kepada Jessica. "Bagaimana hasilnya?"


"Hasil laporan keuangan dari pihak William Corp mengenai beberapa hal yang mengangkut biaya produksi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemeriksaan di lapangan."


Celine menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar. "Kalau begitu segera selesaikan laporan yang sedang kamu kerjakan itu dan antarkan ke ruanganku!"


"Baik, CEO Celine." Jessica segera melangkah keluar dari ruangan Celine.


Namun, Celine kembali memanggilnya ketika Jessica sudah sampai di ambang pintu.. "Jess."


"Ya, CEO Celine?" Jessica membalikkan tubuhnya.


"Suruh Devan ke ruanganku!"


"Baik." Jessica mengangguk dan menutup pintu ruangan Celine.


Beberapa menit kemudian, Devan muncul dari balik pintu. "Apa CEO Celine mencariku?"


Celine yang saat ini sedang sibuk membaca beberapa dokumen di atas meja. mengangkat kepala, melihat Devan yang berjalan ke arahnya. "Ya. Silahkan duduk, Dev!"


Devan duduk di kursi di depan meja kerja Celine.


"Apa kamu sudah memeriksa tentang laporan keuangan itu?" Tanya Celine.


"Ya, CEO. Sudah."


"Aku menemukan banyak perbedaan dari lapangan dengan yang di laporkan pihak William Corp."


"Maksudnya?" Celine mengerutkan kening.


Devan menghela nafas panjang, lalu menjelaskan pada Celine. "Ada beberapa poin yang ditulis di laporan yang dikirim oleh pihak William Corp, tapi poin itu tidak ditemukan saat pemeriksaan. Selain itu, angka yang ditulis di laporan jauh lebih tinggi dari angka yang aku temukan saat pemeriksaan."


Celine terdiam sejenak, tampak berpikir. Kemudian berkata, "Apa itu berarti bahwa pihak William Corp sedang mencurangi kita?"


"Benar, CEO." Devan mengangguk dengan pasti, kemudian kembali bertanya. "Apa yang harus kita lakukan, CEO?"


"Putuskan kerja sama dengan William Corp!"


Devan terkejut mendengar ucapan Celine. "Tapi, CEO...kalau kita memutuskan kerja sama secara sepihak, kita akan membayar uang denda sebagai ganti rugi. Dan nominal itu sangat banyak sesuai dengan yang tercantum pada surat perjanjian."


"Tidak apa-apa, kita akan membayar uang ganti rugi itu."


"Tapi, CEO...itu jumlahnya sangat banyak."


Celine mengerutkan dahinya menatap Devan dengan bingung, lalu Celine tersenyum. "Devan, aku ingin hubungan kerja sama untuk jangka panjang. Tapi, jika rekan bisnisku melakukan kecurangan, aku tidak mungkin lagi melanjutkan kerja sama ini. Aku lebih memilih memutuskan kerja sama dan mengganti rugi sekarang, daripada meneruskan kerja sama yang tidak sehat ini namun akhirnya perusahaanku malah bangkrut. Kalau kita tetap mempertahankannya, kita akan selalu ditipu dan kita akan mengalami kerugian yang semakin besar. Jadi, kirim surat pemutusan kerja sama pada pihak William Corp sekarang juga!"


"Baik, CEO. Lalu, bagaimana dengan laporan itu?"


"Tetap dibuat sebagai perbandingan. Jadi, kalau pihak William Corp tidak berkenan, kita bisa memberikan bukti pada mereka."


"Baik, CEO. Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu."


Setelah Devan keluar, Celine menyandarkan punggungnya di kursi putarnya. Dia memutar kursinya ke arah berlawanan dan menghadap jendela kaca yang ada di dekat meja kerjanya. Celine menatap langit di luar sana yang sudah mulai menggelap, pertanda hari sudah mulai sore.


Kepalanya masih terasa sakit mengingat ucapan Devan jika William Corp sudah mencurangi perusahaannya selama dua tahun terakhir. Itu benar-benar di luar dugaannya.


Namun, saat Celine larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara renyah yang sangat menggemaskan di indera pendengarannya. Suara itu berasal dari arah pintu masuk ruangannya.


"Mommy..."


Celine segera memutar kursinya kembali dan melihat Isabella telah berdiri di ambang pintu dengan senyumannya yang sangat manis.


"Sayang, dengan siapa kamu kemari?" Celine tersenyum sembari bangkit dari kursi putranya dan berjalan menghampiri Isabella.


Tapi, Isabella tidak menjawab pertanyaan Celine. Dia malah berbalik dan lari keluar dari ruangan Mommynya.


Celine mengerutkan dahinya melihat tingkah Isabella yang aneh. Dia pun segera mengejar Isabella.


...***...