
Celine kembali menghela nafas panjang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menceritakan semuanya pada Nicholas.
Setelah sejenak saling diam, Celine pun berbicara. "Tuan Nicholas, sebelum Isabella lahir, aku hidup sebatang kara. Semua keluargaku telah meninggal. Tetapi aku memiliki seorang teman masa kecil yang hingga tumbuh dewasa selalu menemaniku. Dia adalah Kenzo William, ayah kandung Isabella. Dia juga merupakan cinta pertamaku. Namun, di hari pernikahan kami, dia malah meninggal dalam kebakaran kapal pesiar, tempat acara resepsi pernikahan kami diadakan. Sejak itu, aku sangat terpuruk bahkan aku merasa hidupku akan berakhir saat itu juga. Dan saat itu, aku tidak menyadari bahwa aku sedang hamil Isabella. Namun, kelahiran Isabella seperti pembawa cahaya dalam hidupku. Aku berusaha untuk kembali bangkit demi masa depanku dan Isabella, meski bayang-bayang Kenzo masih terus menghantuiku."
Celine berhenti sejenak, menoleh pada Isabella yang sedang asik bermain puzzle di lantai belakang sofa, lalu melanjutkan ucapannya. "Isabella adalah gadis kecil yang baik. Dia sangat pintar dan pengertian. Dia satu-satunya harta paling berharga dalam hidupku, tapi hidupnya sangat menyedihkan. Dari bayi dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang daddy." Celine kemudian menatap Nicholas. "Dan aku sangat berterima kasih padamu, Tuan Nicholas. Kamu begitu baik pada kami, selalu hadir di saat kami membutuhkan bantuan. Dan aku juga sangat berterima kasih padamu, untuk–hmmph..."
Ucapan Celine terhenti saat Nicholas menciumnya secara tiba-tiba. Bibirnya yang merah dan lembut kini menyatu dengan bibir Celine.
Celine melebarkan matanya menatap wajah Nicholas yang kini sangat dekat dengannya. Nicholas mencium bibir Celine dengan lembut, penuh perasaan.
Celine hanya bisa diam tanpa membalas ataupun menolaknya. Jantungnya berdegup kencang, dan wajahnya memerah karena malu.
Saat Celine berusaha untuk mendorong Nicholas, namun Nicholas malah memperdalam ciumannya.
Ciuman itu berlangsung lama, hingga akhirnya Celine pun terbuai olehnya.
Setelah cukup lama, Nicholas pun melepaskan ciumannya pada Celine, dan berkata. "Aku tahu tentangmu. Aku juga tidak akan pernah bisa menghapus masa lalumu. Tapi aku ingin berada di masa sekarang dan masa depanmu. Maka ijinkan aku untuk mengejarmu, hingga suatu hari nanti hatimu sepenuhnya menjadi milikku. Aku sangat mencintaimu dan Isabella."
Celine tertegun menatap wajah tampan Nicholas yang hanya berjarak beberapa centimeter saja di hadapannya.
Mata biru bak batu sapphire itu kembali menyeretnya ke pelung hatinya yang terdalam. Kata-kata yang diucapkannya terdengar begitu lembut dan penuh perasaan membuat hati Celine tersentuh, menggenggam hatinya dengan kuat.
Tetapi...status Celine sebagai single parent akan sulit untuk diterima.
Hati Celine yang awalnya berbunga-bunga, seketika menjadi surut. "Tuan Nicholas, apa kamu salah minum obat?" Celine tersenyum sambil menyentuh dahi Nicholas, berpura-pura memeriksa suhu tubuhnya.
Nicholas meraih tangan Celine yang ada di dahinya, lalu menggenggamnya. "Tidak. Aku baik-baik saja."
"Tapi kenapa pria yang awalnya dingin, acuh, dan menjengkelkan sepertimu bisa mengatakan hal seperti itu?"
"Apapun bisa berubah, Nona Celine." Nicholas menunduk tersenyum malu.
Tak lama kemudian, Nicholas kembali menatap Celine yang masih duduk di sampingnya. "Celine."
"Hm?"
Celine tersenyum pada Nicholas untuk menghilangkan rasa kecanggungan. "Tuan Nicholas tidak perlu mengejarku, karena aku masih duduk di sini."
Seketika Nicholas tertawa mendengar jawaban Celine. Ini untuk pertama kalinya Celine melihat Nicholas tertawa. Dia terlihat semakin tampan. Karena selama Celine mengenalnya, jangankan tertawa, senyumannya saja sangat mahal. Meski Nicholas selalu berbicara dengan suara rendah dan sangat enak didengar, tetapi dia jarang sekali menunjukkan ekspresi wajahnya. Dia lebih sering memperlihatkan ekspresi datar pada orang-orang. Kecuali pada Isabella. Dia akan selalu memperlihatkan senyum dan kasih sayang di wajahnya.
Nicholas kembali menatap Celine dengan tatapan dalam sambil menggenggam tangannya. "Celine, aku serius. Aku mencintaimu."
Celine menundukkan wajahnya dan berpikir sejenak. Suasana pun menjadi hening seketika, hanya terdengar sayup-sayup suara ombak di pantai.
Otaknya menjadi buntu sekarang, karena tidak tahu harus menjawab apa pada Nicholas. Jujur, dia memang tertarik pada Nicholas, dia memang menyukainya, dan dia juga merasa nyaman bersamanya. Tetapi, dia masih merasa belum yakin dengan perasaan dia yang sebenarnya, karena dia masih mencintai Kenzo William sebagai satu-satunya pria yang dia cintai.
Melihat Celine menunduk dan hanya diam saja, Nicholas pun memanggilnya, "Celine." Sambil menepuk lembut punggung tangannya.
Seketika Celine tersadar dari lamunannya. "Tuan Nicholas, maaf. Aku belum bisa menjawabnya. Jujur saja, aku memang senang denganmu, aku juga merasa nyaman saat bersamamu. Aku sangat berterima kasih padamu karena telah baik kepadaku dan sangat menyayangi Isabella sepenuh hati. Tapi..."
"Tapi apa?" Wajah Nicholas terlihat sedikit kecewa.
Celine menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ucapannya. "Tapi aku belum yakin dengan perasaanku. Aku juga belum siap untuk menerima pria lain di hatiku. Kamu membuatku sangat terkejut."
Nicholas melepaskan genggamannya dari tangan Celine. Dia menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi lesu. Ada rasa kecewa di wajahnya yang membuat Celine merasa bersalah. "Tidak apa-apa, aku akan menunggumu sampai kamu bisa memberikan hatimu sepenuhnya kepadaku."
Celine mengulurkan tangannya meraih tangan Nicholas. Nicholas menoleh dan Celine tersenyum hangat padanya. "Tuan Nicholas, kamu masih bisa bertemu Isabella. Kamu juga masih bisa bertemu denganku. Kita masih bisa bermain bersama."
Nicholas mengerutkan dahinya menatap Celine sambil memiringkan kepalanya yang disanggah oleh tangan yang bertumpu pada lengan sofa, merasa tidak mengerti dengan ucapan Celine.
Celine kembali berkata, "Tuan Nicholas, aku tidak menolakmu. Aku hanya butuh. waktu untuk meyakinkan hatiku. Sebagai single parent, aku tidak ingin asal memilih pasangan."
Nicholas meletakkan tangannya yang lain di atas punggung tangan Celine. Dia kembali tersenyum seolah-olah telah mendapat suatu harapan. "Aku akan menunggumu, sampai kamu siap."
Celine tersenyum. "Terima kasih."
...***...