Love Story In Paris

Love Story In Paris
#39



Tiga jam pun berlalu, hingga rapat berakhir dan menemukan hasil terbaik yang harus segera dilaksanakan.


Celine melihat Nicholas Emmanuel, James Zachary dan beberapa orang dari pihak Grand Corp keluar dari ruang rapat. Mereka diantar oleh Devan Firdaus keluar ruangan hingga ke lobby gedung perusahaan. Sedangkan Celine bersama Jessica kembali ke ruangan kantor Celine.


"Jess, nanti saat pulang dari kantor, tolong bawa Isabella dan Bibi Aida pulang bersamamu ya." Celine berbicara kepada Jessica sambil berjalan di koridor menuju ruangannya.


"Baik, CEO Celine. Memangnya sore ini kamu ingin ke mana?"


Celine mendorong pintu ruangannya sambil menjawab. "Sore ini David William kembali mengajakku makan malam bersama."


"Apa kamu menerima ajakannya?"


"Ya. Meski aku tidak tahu apa maksudnya yang sering mengajakku makan malam bersama, tetapi aku sangat segan menolaknya. Aku hanya tidak ingin dianggap sombong oleh Keluarga William. Lagi pula, Isabella tidak menyukai unclenya itu, makanya itu aku memintamu untuk membawanya pulang bersamamu."


"Baik, CEO Celine. Aku akan membawa Isabella pulang bersamaku." Jessica melangkah mendekati Celine dan berkata, "By the way, mungkin saja Tuan David William sedang berusaha mengejarmu, CEO Celine."


Celine mengerutkan dahinya menatap Jessica. "Jangan mengada-ada, Jess. Aku tidak mungkin membuka hatiku untuknya."


"Oke oke, kalau begitu aku keluar dulu dan panggil aku jika kamu membutuhkanku." Jessica tersenyum lebar meledeknya dan segera pergi keluar ruangan sebelum melihatnya marah.


Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, Celine membereskan semua berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Kemudian dia keluar dari ruangan kantornya dan berjalan menuju lobby perusahaan.


Saat baru saja keluar dari lift, Celine melihat David William sudah menunggunya di lobby perusahaan. Hatinya merasa tertekan saat melihat David William dan membayangkan jika harus makan malam bersamanya untuk kesekian kalinya.


'Ya Tuhan, dia sudah datang menjemputku. Bagaimana caranya aku bisa menolak dan tidak jadi pergi makan malam dengannya? Aku sangat tidak ingin pergi makan malam bersama David, tetapi aku segan untuk menolaknya. Sikapnya yang terlalu lancang seperti tadi pagi membuatku semakin tidak menyukainya.' Batin Celine.


Celine berhenti sejenak di depan pintu lift, memikirkan bagaimana caranya agar bisa menolak ajakan David William yang telah menjemputnya.


Namun, saat Celine sedang berpikir, Devid William telah melihatnya dan segera menghampirinya.


Celine menarik nafas panjang, berusaha menahan segala emosi lalu melihat ke sekelilingnya. Tiba-tiba, Celine seperti mendapatkan sebuah cahaya di tengah kegelapan saat melihat sosok Nicholas Emmanuel yang tengah berdiri sendirian tak jauh dari tempatnya berdiri.


Pria tampan itu sedang berdiri dengan satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tangan satunya lagi memegang ponsel, sepertinya sedang menelepon seseorang.


Celine berpura-pura tidak melihat David William yang sedang berjalan ke arahnya. Dia segera menghindar, melangkah mendekati Nicholas.


Saat David William sudah sampai di hadapannya, dengan spontan Celine langsung memeluk lengan Nicholas yang tidak mengetahui keberadaannya di sampingnya.


Nicholas tertegun melihatnya yang memeluk lengannya secara tiba-tiba. Tatapan matanya terlihat terkejut saat melihat tangan Celine yang memeluk lengannya dengan erat. Dia kemudian langsung menutup teleponnya.


"Celine..." David William sudah berdiri di hadapannya dan menyapanya.


"Kak, maaf kita tidak bisa makan bersama malam ini. Aku lupa jika aku sudah ada janji dengan temanku ini." Celine tersenyum dengan wajah bersalah kepada David William.


"Tapi Celine..."


Namun, Celine langsung menarik Nicholas dan berjalan dengan cepat sebelum David William melanjutkan ucapannya.


Nicholas hanya bisa diam melihat tingkah Celine yang tiba-tiba ini. Sepertinya, dia mengetahui maksud Celine yang menariknya untuk menjauhi David William. Dia hanya diam berjalan mengikuti langkah Celine dan membiarkan wanita itu terus nemeluk lengannya.


Setelah langkah mereka sudah cukup jauh dari David William, Nicholas menghentikan langkahnya dan berbisik kepada Celine. "L**ong time no see, Nona Celine."


Suara rendah yang dikeluarkan oleh Nicholas Emmanuel di dekat telinga Celine, membuat bulu kuduk wanita itu merinding. Suaranya yang sangat enak didengar mampu menghipnotisnya sejenak.


Nicholas melambaikan tangannya di depan Celine dan membuat wanita itu tersadar. Dengan segera, Celine melepaskan pelukannya di lengan berotot Nicholas yang terbalut jas hitamnya.


Celine mendongakkan kepala dan menatapnya dengan wajah bersalah. "Maaf, Tuan Emmanuel. Aku hanya ..."


Belum selesai berucap, Nicholas sudah menggenggam tangan Celine dan menuntunnya berjalan ke arah depan. Tak ada senyuman di bibirnya, hanya ada senyuman yang terlihat samar ditutupi oleh sikap dinginnya.


Dan tanpa mereka sadari, semua mata tertuju ke arah mereka berdua.


"Apakah pria itu adalah ayah dari gadis kecil yang selalu bersama CEO Celine?"


"Hot Daddy..."


"Tampan sekali pria yang bersama CEO Celine..."


"Beruntung sekali CEO Celine punya kekasih yang sangat tampan dan perfect seperti pria itu..."


"Apakah CEO Celine punya kekasih baru?"


"Mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi..."


"Sungguh pasangan yang terlihat sangat berkelas..."


Samar-samar terdengar suara bisikan dari orang-orang yang mereka lewati.


Celine yang berjalan di samping Nicholas mendongak dan melihat ke arahnya. Wajah Nicholas terlihat sangat tenang, ekspresi wajahnya yang tidak bisa ditebak membuat Celine penasaran. Tidak tahu apakah Nicholas mendengar bisikan dari mereka atau tidak.


Setelah menatap wajahnya yang tenang, mata Celine melirik ke bawah, ke arah tangannya yang masih digenggam oleh Nicholas. Meski jari-jarinya yang ramping dan kuat itu terasa dingin, namum mampu membuat Celine merasa sangat nyaman.


Celine sangat malu di lihat banyak orang saat digandeng oleh Nicholas yang bukan siapa-siapa baginya. Dia pun mencoba merenggangkan tangannya dari genggaman tangan Nicholas, tetapi Celine merasakan genggaman tangan Nicholas semakin erat seolah-olah tidak mengijinkan tangannya berpisah dari tangannya.


Nafas Celine segera memburu tak beraturan. Meski Nicholas tidak menoleh melihatnya, tetapi Celine merasakan ada sesuatu yang berbeda tersirat dari gerakannya.


Celine hanya bisa mengikuti kemana pun Nicholas akan membawanya. Genggaman tangan Nicholas membuat Celine merasa melayang, hingga tanpa dia sadari akhirnya mereka telah sampai di depan mobil Nicholas.


Kali ini, Nicholas tidak menggunakan mobil sport miliknya yang dulu pernah Celine tumpangi. Tetapi dia menggunakan mobil sport lainnya yang sangat menyita perhatian banyak orang.


Melihat barang-barang mewah yang selalu Nicholas gunakan, membuat Celine berpikir keras.


'Sebenarnya siapa dia?' Tanya Celine dalam hati.


"Nona Celine..." Nicholas menaikkan alisnya menatap Celine sambil membuka pintu mobil.


Suaranya kembali menyadarkan Celine dari lamunan singkatnya. "Hm?"


"Masuklah!"


Kedua mata Celine membola ketika melihat pintu mobil yang sudah dibukakan oleh Nicholas. "Kita mau ke mana?"


"Bukankah tadi Nona Celine mengatakan ingin makan malam bersamaku?" Bibir merah Nicholas mengukirkan sebuah senyuman yang lebih lebar dan jelas dari sebelumnya membuat hati Celine menghangat melihat senyumannya yang sangat langka itu.


"A–aku..." Tiba-tiba Celine menjadi gugup ketika sepasang mata biru bak batu sapphire itu menatapnya.


Nicholas mendorong punggungnya dengan lembut untuk masuk ke dalam mobilnya. "Masuklah! Apa kamu tidak ingin merayakan kedatanganku?"


"Merayakan?" Tanya Celine sambil memasuki mobil Nicholas.


"Ya. Aku baru datang kemarin malam." Jawab Nicholas sambil menutup pintu mobilnya.


Setelah dia menutup pintu mobil untuk Celine, dia berjalan dengan segera memasuki mobilnya.


...***...