
Selama perjalanan menuju restoran untuk makan malam, Isabella lebih banyak diam dan sedikit bicara. Tidak seperti biasanya yang sering banyak bicara dengan suara renyahnya, menanyakan apa saja yang dia lihat dan yang tidak dia mengerti. Tetapi kali ini, dia hanya diam menatap ke uar jendela mobil sambil menggenggam tangan Celine dengan erat.
"Sayang, kamu kenapa?" Celine memegang pipi Isabella yang lembut.
Isabella hanya menggelengkan kepalanya saja tidak menjawab.
Celine bertanya kembali, "Apa Isabella lapar?"
Isabella kembali menggelengkan kepala dan berkata dengan suara kecil. "Aku ingin pulang, Mom."
"Setelah makan malam, kita akan pulang ya, sayang. Sekarang kita makan malam bersama uncle dulu." Ucap Celine membujuk Isabella dengan lembut.
"Ya, Isabella. Setelah makan malam, uncle akan antar kamu dan Mommy pulang." Sahut David William sambil tersenyum kepada Isabella yang duduk di pangkuan Celine.
Tak lama, mereka sampai di restoran yang mereka tuju. Mereka duduk di meja yang telah dipesan oleh David William sebelumnya. Beberapa menu makanan yang telah dipesan dihidangkan oleh waitress. Juga ada satu cup es krim rasa strawberry beserta buah strawberry kesukaan Isabella.
Isabella sangat menyukai strawberry. Dia akan selalu bersemangat jika melihat buah strawberry. Tetapi malam ini, dia tidak begitu bersemangat. Celine pun melihat gelagat aneh dari gadis kecilnya ini. "Sayang, ayo dimakan strawberrynya."
Isabella hanya diam, tidak menjawab.
David William tersenyum dan berbicara kepada Isabella. "Isabella, makanlah! Apakah kamu ingin uncle suapi?"
"Terima kasih, uncle. Aku akan memakannya sendiri." Isabella pun memakan strawberrynya sendiri.
"Anak pintar." David William membelai rambut panjang Isabella. "Celine, kamu sangat beruntung mempunyai anak sepintar Isabella."
"Terima kasih, Kak." Celine tersenyum.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?"
"Lancar, Kak." Celine menjawab sambil menggerakkan sendok dan garpunya.
David William menganggukkan kepalanya lalu memakan makanannya yang terhidang di atas meja. Kemudian dia kembali bertanya. "Dengan segala kesibukanmu, apakah kamu tidak kewalahan mengurus Isabella?"
"Sama sekali tidak. Apa pun itu jika dikerjakan dengan sepenuh hati tidak akan merasa kesulitan, Kak."
"Benar juga." David William menganggukkan kepala dan kembali berkata. "Celine, kamu sudah lama hidup sendirian dan membesarkan Isabella. Kamu masih muda, cantik dan berkompeten. Apa kamu tidak berpikir untuk mencarikan Isabella seorang daddy?"
Saat Celine hendak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan David William, Isabella tiba-tiba mendahuluinya. "Uncle, aku sudah punya daddy."
"Uhuk, uhuk!" Celine yang sedang makan sampai tersedak mendengar jawaban Isabella yang di luar pikirannya.
Anak ini memang terlalu pintar, entah siapa yang mengajarinya.
Celine melihat wajah kaget David William dengan mata yang membola. "Maaf, Kak. Isabella masih kecil, belum mengerti apa-apa. Dia hanya asal bicara."
Isabella langsung mengangguk, dengan wajah lugunya melanjutkan ucapannya. "Daddyku sangat tampan."
"Lebih tampan mana antara uncle dengan daddynya Isabella?"
Dengan polos Isabella menjawab, "Tentu saja daddyku. Daddyku jauh lebih tampan dari uncle."
Anak kecil memang sangat tidak bisa berbohong. Dia akan mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Celine menoleh melihat David William yang kini wajahnya memerah. Mungkin David William berpikir bahwa Celine yang telah mengajari Isabella dan banyak menceritakan hal tentang Kenzo kepada Isabella. Padahal sama sekali Celine tidak pernah mengajari Isabella hal seperti itu, bahkan Celine juga tidak pernah menceritakan tentang Kenzo sekali pun.
Celine menjadi merasa bersalah karena ucapan Isabella yang terlalu jujur. "Maaf, Kak." Celine kemudian berbicara kepada Isabella. "Sayang, ayo habiskan makanannya baru bicara. Nanti kamu bisa tersedak."
"Di mana daddynya Isabella?" David William kembali bertanya kepada Isabella. Sepertinya dia memang sengaja bertanya kepada Isabella.
"Jauh. Uncle harus naik pesawat." Isabella kembali mengunyah strawberry yang ada di mulutnya dan melanjutkan ucapannya. "Daddyku punya mata berwarna biru, sangat indah."
Celine semakin kaget mendengar ucapan Isabella. Semakin hari kosa kata dan cara bicaranya semakin bertambah. Celine bahkan tidak tahu siapa yang mengajarinya. 'Kenapa dia terlalu pintar seperti ini? Apa daddy yang Isabella maksud adalah pria yang membantunya waktu itu? Sedekat itukah hubungan mereka, hingga saat ini Isabella masih menganggap pria asing itu daddynya?'
Mengingat ucapan Isabella yang mengatakan jika daddynya punya mata biru, seketika di pikiran Celine terlintas wajah tampan Nicholas Emmanuel. Dia adalah pria tampan pemilik mata biru yang sangat indah yang pernah dia temui.
'Ya Tuhan! Kenapa malah wajah pria itu yang terlintas di pikiranku?' Batin Celine.
Setelah selesai makan malam, David William mengantar Celine dan Isabella kembali ke apartemen.
Dia juga memberikan hadiah sebuah boneka babi berwarna pink kepada Isabella. "Ini hadiah untuk keponakan uncle yang cantik ini."
Nanunt, Isabella tidak menerima hadiah pemberian David William, dan malah melangkah mundur berdiri di belakang Celine.
Celine tidak mengerti dengan sikap Isabella yang tidak biasa ini.
Melihat tingkah Isabella yang seperti itu, akhirnya Celine yang menerima hadiah pemberian dari David William. "Terima kasih, Kak."
David William tersenyum dan berpamitan. "Ya, sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu."
Setelah mobil yang dikendarai David William pergi, Celine dan Isabella berjalan bersama memasuki lift menuju unit apartemennya.
Di dalam lift, Isabella mendongakkan kepalanya menatap Celine dan berkata, "Mommy, aku tidak suka uncle itu."
Celine hanya bisa tersenyum dan memberi pengertian kepada Isabella. "Sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Dia adalah uncle nya Isabella."
...***...