Love Story In Paris

Love Story In Paris
#52



Wanita cantik itu berjalan keluar dari lift dengan gayanya yang arogan, dan wajah kesal. Sedikit pun dia tidak menoleh pada mereka yang ada di hadapannya.


Kali ini Chris hanya melihatnya dan tidak menegurnya.


Karena penasaran, Celine pun bertanya pada Chris dengan suara rendah. "Tuan Chris, siapa wanita cantik itu?"


Chris menoleh ke arah wanita cantik itu yang kini hanya terlihat punggungnya, kemudian menjawab pertanyaan Celine sambil berjalan masuk ke dalam lift. "Dia adalah adik dari Dokter Felix, namanya Caroline. Dia juga seorang dokter yang dikirim oleh Dokter Felix ke sini untuk merawat Tuan Nicholas. Dia menyukai Tuan Nicholas, tetapi sepertinya Tuan Nicholas selalu menolaknya. Dan sepertinya, kali ini dia tidak bisa menemukan Tuan Nicholas di atas, hehehe..." Chris tertawa kecil seolah mengingat sesuatu.


Chris menekan angka dua pada tombol yang ada di dinding lift. Dalam waktu dua detik, mereka sampai di lantai dua. Chris berjalan di depan Celine sambil menggandeng tangan kanan Isabella, sedangkan Celine mengikutinya dari belakang.


Mereka memasuki sebuah ruangan bergaya aristokrat yang luas dengan dinding yang dipenuhi oleh rak buku yang sangat besar, sebesar dinding ruangan tersebut. Ruangan ini nampak seperti sebuah perpustakaan milik kerajaan Eropa yang dipenuhi oleh ukiran pada pinggiran raknya.


Celine memperhatikan sekeliling ruangan tersebut, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Nicholas di sana.


Chris menekan sebuah tombol yang ada pada salah satu rak, kemudian rak itu bergerak ke samping membuka jalan untuk memasuki ruangan berikutnya.


Celine kembali memperhatikan sekeliling, tetap saja masih belum ada tanda-tanda keberadaan Nicholas. Yang terlihat hanya beberapa alat musik kuno yang terpajang di rak dindingnya. Di sana juga ada piano bergaya klasik yang ada di tengah ruangan tersebut. Sepertinya, piano yang dipenuhi ukiran itu bernilai seni tinggi, dan semua alat musik yang ada di ruangan ini sepertinya koleksi pribadi Nicholas.


Celine menjadi berpikir, seberapa kayanya pria ini?


Setelah melewati piano klasik itu, Chris kembali menekan tombol yang ada di salah satu rak di dalam ruangan tersebut. Rak dinding itu kembali bergeser membuka jalan untuk memasuki ruangan berikutnya, dan hal pertama yang Celine lihat adalah Nicholas sedang duduk di balik meja kerja bergaya aristokrat dengan setumpuk map di atas mejanya.


Isabella langsung berteriak saat memasuki ruangan tersebut dan melihat Nicholas yang sedang duduk di kursi kebesarannya. "Daddy!"


Nicholas yang sedang memegang map di tangannya mengangkat kepala, kemudian segera bangkit dari kursinya dan melangkah menyambut Isabella yang kini sedang berlari ke hadapannya.


Hari ini wajah Nicholas masih terlihat pucat, tetapi dia tidak lagi menggunakan infus. Setidaknya, dia sudah terlihat membaik.


Setelah memeluk Isabella, dia kembali bangkit berdiri menggendong Isabella dengan satu tangan. Kemudian dia tersenyum pada Celine. "Hai, Celine."


"Tuan Nicholas." Celine tersenyum canggung padanya.


Nicholas menoleh melihat semua pekerjaan dan map yang ada di atas meja kerjanya, kemudian melangkah membawa Celine dan Isabella ke luar ruangan. "Ayo kita bermain di luar!"


Celine juga ikut menoleh ke arah meja kerja Nicholas yang dipenuhi map sebelum mengikutinya keluar ruangan.


Celine tidak tahu sebenarnya map apa yang sangat menumpuk di atas meja kerjanya. Dia semakin penasaran apa pekerjaan Nicholas sebenarnya. Setahunya, Nicholas hanya seorang musisi. Dan saat melihat Nicholas ikut hadir pada rapat bersama perusahaan Grand Corp waktu itu, Celine berpikir jika Nicholas bekerja dengan Tuan james Zachary.


Tetapi melihat dari gayanya yang sering tampil kasual, barang-barang branded yang dipakainya, lalu mobil mewah yang berganti-ganti, dan juga Villanya yang begitu besar dengan lima lantai, sepertinya Nicholas bukanlah orang biasa. Dia juga bukan seperti pria yang ada dalam pikiran Celine sebelumnya. Mungkin jauh melebihi itu.


Tiba-tiba Nicholas merangkulnya yang masih berdiri termenung menatap ke arah meja kerjanya. Nicholas membawanya ke luar ruangan seolah-olah dia melarangnya untuk mengetahui siapa dirinya lebih dalam.


Celine menoleh ke samping melihat Nicholas yang sedang menggendong Isabella sambil berjalan dan bertanya, "Apa kamu masih sakit?"


"Lalu kenapa kamu bekerja dan tidak beristirahat?"


"Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Tiba-tiba Isabella menyela pembicaraan mereka. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Nicholas. "Daddy, aku sangat merindukan Daddy."


"Daddy juga sangat merindukan Isabella." Nicholas mencium pipi Isabella, kemudian menoleh pada Celine. "Dan juga merindukan Mommy."


Ucapan Nicholas yang sangat tiba-tiba selalu berhasil membuat jantung Celine berdegup dengan kencang. Celine hanya bisa diam menunduk malu dalam rangkulan Nicholas.


Mereka sampai di lantai satu Villa dan keluar dari lift bersama menuju ruang tengah Villa.


Saat mereka sampai di ruang tengah Villa, Celine kembali melihat wanita cantik yang bernama Caroline itu sedang duduk menonton TV. Gayanya yang angkuh terlihat seperti nyonya Villa ini.


Melihat Nicholas muncul bersama Celine, Caroline segera berdiri dan menyapa Nicholas. "Kak Nicho, apa kakak ingin makan siang? Aku akan membuatkan makan siang untukmu."


Nicholas menoleh pada Celine dan melihat kotak bekal yang masih ada di tangan Celine, lalu berkata pada Caroline. "Tidak, terima kasih. Aku belum lapar."


"Baiklah." Wajah Caroline langsung berubah kecewa, kemudian menatap pada Celine yang masih dalam rangkulan Nicholas sebelum kembali duduk di sofa.


"Daddy, aku lapar." Isabella merengek dalam gendongan Nicholas.


Seketika Caroline kembali bangkit dari sofa yang didudukinya dan berteriak dengah wajah terkejut. "What??? Daddy???"


Celine, Isabella dan Nicholas juga terkejut mendengar teriakan Caroline.


Caroline bergegas berlari ke hadapan Nicholas dan meraih tangannya yang ada di bahu Celine, lalu mendorongnya untuk menjauhi Nicholas. "Kak, kenapa kakak tidak memberi tahu kalau kakak sudah punya anak?! Kenapa kakak sangat tega kepadaku?!"


Caroline merengek di hadapan Nicholas dan bersikap seperti anak kecil, lebih kecil dari Isabella, membuat Isabella yang masih berada dalam gendongan Nicholas semakin mengeratkan pelukannya di leher Nicholas, lalu berkata, "Aunty seperti anak kecil."


Seketika mata Caroline melotot dan berteriak pada Isabella. "Diam kamu!" Kemudian dia kembali menarik tangan Nicholas. "Kak Nicholas, apa benar dia ini anakmu?"


"Daddy..." Isabella memanggil Nicholas dengan suara yang sudah serak dan semakin mengeratkan pelukannya pada Nicholas, karena takut melihat Caroline yang melotot dan meneriakinya.


Sedangkan Celine masih berdiri diam melihat tingkah Caroline dengan perasaan kesal.


Nicholas yang dari tadi hanya diam melihat tingkah Caroline yang kekanak-kanakan, dia tidak bisa diam lagi. Nicholas melepaskan pegangan Caroline di pergelangan tangannya. "Carol, berhenti bertingkah seperti anak kecil! Kamu sudah membuat takut Isabella. Kalaupun aku punya anak, apa salahnya? Sudahlah, aku ingin makan. Aku menyesal telah meminta bantuan Felix untuk merawatku."


...***...