Love Story In Paris

Love Story In Paris
#56



"Nak, apa yang sedang kamu lamunkan?" Bibi Aida menghampiri Celine dengan segelas jus di tangannya. "Silahkan diminum dulu jusnya." Bibi Aida meletakkan segelas jus itu di atas meja di depan Celine.


Celine menoleh pada Bibi Aida dan tersenyum. "Terima kasih, Bi."


bibi Aida kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Celine. Meski Bibi Aida hanya pengasuh Celine saat dia masih kecil dan Isabella, tetapi Bibi Aida sudah seperti orang tuanya sendiri bagi Celine. Tidak ada perbedaan di antara mereka. Celine juga tidak pernah memperlakukan Bibi Aida seperti pelayan, melainkan seperti ibunya sendiri, dan duduk satu meja sudah biasa bagi mereka.


"Nak, apa yang sedang kamu pikirkan?" Bibi Aida kembali bertanya pada Celine.


"Tidak ada, Bi." Celine menggelengkan kepala.


"Bagaimana dengan keadaan Tuan Nicholas? Kemarin Isabella bercerita bahwa dia merasa senang sekali bisa bertemu dengannya. Tuan Nicholas adalah pria yang sangat baik." Bibi Aida tersenyum.


Celine tidak menjawab pertanyaan Bibi Aida, dia malah tersenyum sendiri mengingat kejadian manis kemarin bersama Nicholas Emmanuel. Celine masih selalu mengingat saat Nicholas menyatakan perasaannya dengan tulus padanya. Dia kemudian menyentuh bibirnya sendiri yang masih merasakan sentuhan lembut bibir Nicholas pada bibirnya.


"Nak Celine, apa kamu baik-baik saja?" Bibi Aida menyadarkan Celine.


"Aku baik-baik saja, Bi."


Bibi Aida kembali tersenyum. "Tapi Bibi lihat, senyummu sangat berbeda akhir-akhir ini."


Celine mengerutkan dahinya merasa tidak mengerti. "Maksud Bibi?"


"Senyummu akhir-akhir ini terlihat lebih bersinar."


Celine tersenyum pada Bibi Aida. "Senyumku masih seperti biasanya, Bi. Tidak ada yang berbeda."


"Apa kamu sedang jatuh cinta?"


Seketika Celine tersedak jus yang sedang diminumnya, lalu membelalakkan matanya mendengar ucapan Bibi Aida. Wajahnya juga menjadi memerah karena malu.


Celine tidak menjawab, tetapi Bibi Aida semakin melebarkan senyumannya saat melihat keterkejutan Celine dan wajah malunya.


"Nak, kamu tidak bisa berbohong pada Bibi. Bibi adalah orang tuamu yang sudah menjagamu sejak kamu masih bayi hingga kamu tumbuh dewasa dan memiliki Isabella. Apa kamu menyukai uncle tampannya Isabella?" Bibi Aida tersenyum menggoda Celine.


Celine menggelengkan kepala dengan wajah yang semakin merona. "Bibi ada-ada saja."


"Kalau kalian bersama, Bibi akan mendukung. Tuan Nicholas adalah pria yang sangat baik, dia juga sangat menyayangi Isabella."


"Tapi, Bi..." Celine memajukan tubuhnya, meraih tangan Bibi Aida dan menggenggamnya.


Bibi Aida langsung membalas genggaman tangan Celine dan menepuk lembut punggung tangannya dengan tangan lainnya. "Tapi apa, Nak?"


"Aku masih belum yakin, Bi."


"Memangnya ada masalah apa?"


"Hatiku yang bermasalah, Bi." Celine menghela nafas sejenak dan melanjutkan berbicara. "Aku belum yakin untuk membuka hatiku untuk orang lain, Bi. Aku masih selalu mengingat Kenzo, tapi sekarang aku merasa hampa jika tanpa Tuan Nicholas."


Bibi Aida tersenyum lembut dan memberi nasehat pada Celine. "Nak, kamu tidak boleh selalu menatap masa lalu. Masa lalu itu hanya untuk di lihat sesekali sebagai pedoman hidup di masa depan. Kamu tetap harus menatap ke depan, karena kebahagiaanmu dan kebahagiaan Isabella itu yang terpenting. Kalau kamu masih selalu mengingat masa lalu, kamu akan tetap berada dalam lingkaran kesedihan. Memang semua kenangan bersama Tuan Kenzo tidak akan mudah dihapus, tapi kamu juga harus bisa membuka hati untuk orang lain."


Celine terdiam, mencoba menelaah ucapan Bibi Aida. Bibi Aida selalu memberinya nasehat di saat dia berada dalam kesedihan dan kebimbangan. Bibi Aida lebih mengenal bagaimana dia dibanding Jessica dan Chika. Bibi Aida orang yang paling mengerti dia.


"Akan aku coba, Bi."


Bibi Aida tersenyum pada Celine dan bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju kamar Isabella untuk melihat sejenak. Kemudian Bibi Aida berjalan ke dapur.


Saat Bibi Aida pergi ke dapur, tiba-tiba terdengar suara bel apartemen bernunyi.


Celine segera beranjak menuju pintu apartemen untuk membukakan pintu.


"Sore, Nona. Apakah Anda Nona Celine?" Tanya seorang kurir yang berdiri di depan pintu pada Celine.


"Ya, benar." Jawab Celine.


Celine menerima dan menandatanganinya.


"Terima kasih." Kurir itu kemudian berlalu pergi dan Celine kembali menutup pintu apartemennya.


Dia berjalan ke ruang tengan apartemennya dengan perasaan senang karena ada yang mengiriminya sebuket bunga mawar merah. Tetapi dia tidak tahu siapa pengirimnya.


Celine mengambil sebuah kartu yang terselip pada bunga itu.


..."Semoga harimu menyenangkan, Nona Celine"...


Sebuket bunga mawar itu terdapat sebuah pesan, tetapi tidak mencantumkan nama pengirimnya.


Celine hanya bisa tersenyum dengan wajah merona. Dia berharap bunga ini kiriman dari Nicholas Emmanuel.


Dengan perasaan bahagia, Celine membawa sebuket bunga mawar itu masuk ke dalam kamarnya dan meletakkannya di atas meja dekat meja riasnya.


...


Keesokan paginya.


Pagi ini Celine berjalan memasuki perusahaannya dengan perasaan aneh. Banyak pasang mata yang terus menatapnya dengan tatapan sulit ditebak saat dia berjalan melewati mereka.


Celine hanya bisa terus berjalan dengan tenang berusaha sebiasa mungkin dan tidak memperlihatkan kegugupannya karena tatapan mereka.


Setelah Celine sampai di lantai di mana kantornya berada, Celine melihat banyak sekali bunga mawar merah yang berjejer rapi di sepanjang koridor.


Celine mengerutkan dahinya karena merasa bingung melihat pemandangan yang tidak biasa seperti ini di pagi hari. Selama dia memimpin perusahaan ini, dia belum pernah melihat kejadian seperti ini.


Celine terus berjalan melewati koridor tanpa mengambil satu pun bunga mawar itu. Saat dia sampai di depan pintu ruangan kantornya, Celine berpikir untuk menanyakan tentang bunga mawar itu kepada karyawannya yang berada di sana.


Dia membalikkan badannya dan berjalan memasuki ruangan Chika.


Chika dan Jessica terlihat sedang berdiskusi dengan beberapa lembar kertas yang ada di hadapan mereka.


"Ehem." Celine berdehem dan membuat kedua karyawan cantiknya itu terperanjat kaget melihat kedatangan Celine.


"C–CEO Celine..." Mereka secara bersamaan menyapa Celine dengan gugup.


"Apakah ada yang tahu tentang bunga mawar yang berjejer di koridor?"


Mereka menggelengkan kepala, kemudian Jessica berkata. "Kami tidak tahu, CEO Celine. Tadi ada kurir yang mengantar bunga-bunga itu dan menatanya di koridor. Mereka bilang bunga-bunga itu untukmu, jadi kami tidak berani mengusiknya. Selain itu, masih ada juga sebuket bunga mawar merah untukmu. Tadi aku menaruhnya di atas mejamu."


"Siapa yang mengirimkan bunga-bunga itu?" Tanya Celine penasaran.


"Kurir itu tidak mengatakan pada kami siapa pengirimnya."


"Baiklah. Lanjutkan pekerjaan kalian." Celine kemudian berbalik dan berlalu pergi kembali ke ruangan kantornya.


Setelah Celine masuk ke dalam ruangannya, dia melihat sebuket bunga mawar dengan dekorasi yang sama seperti kemarin.


Celine meraih bunga itu dan mencium wanginya, lalu mengambil sebuah kartu yang terselip pada bunga itu.


Di kartu itu terdapat sebuah pesan, namun masih tidak mencantumkan nama pengirimnya membuat Celine merasa heran dan penasaran.


'Apa mungkin semua bunga-bunga ini, Nicholas yang mengirimkannya untukku?' Batin Celine sambil tersenyum.


Celine meletakkan kembali bunga itu di atas meja kerjanya dan duduk di kursi putarnya untuk memeriksa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


...***...