
"Celine..."
Dari kejauhan, terdengar suara seorang pria memanggil Celine.
Celine menatap sekeliling mencari dari mana suara itu berasal. Dia melihat David William dengan beberapa orang di belakangnya tidak jauh dari pintu masuk rumah sakit berjalan ke arahnya.
"Kak David..."
"Celine, apa yang kamu lakukan di sini?" David berbicara sambil melirik tangan Celine yang sedang digandeng oleh Nicholas.
Menyadari lirikan mata dari David, Celine langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nicholas dan menjawab dengan canggung. "A..aku baru saja melakukan terapi, kak."
David mengangguk. "Apa kamu sedang sakit?"
"Tidak kak, hanya pemeriksaan rutin saja. Ada apa kakak kesini?"
"Aku kesini hanya untuk mengurus beberapa hal." Kata David lalu menatap ke Nicholas. "Mm, pria ini..."
"Oh, ini...Perkenalkan, dia Nicholas Emmanuel, temanku." Celine memotong ucapan David.
David menatap Nicholas dengan tatapan yang sulit dimengerti. Dia mengulurkan tangannya hendak menyalami Nicholas, namun Nicholas hanya diam dengan tangan yang masih berada didalam saku celananya.
Nicholas menatap ke depan, mengacuhkan David yang berdiri dihadapannya.
Penyakit gunung esnya kembali kambuh!
David kembali menarik tangannya yang diacuhkan oleh Nicholas dengan wajah memerah menahan rasa malu. "Sekarang, kamu mau kemana, Celine? Biar aku yang mengantarmu. Beberapa hari lalu saat di rumah, kita belum sempat mengobrol karena aku ada urusan."
"Tidak perlu. Biar aku yang mengantarnya pulang." Tiba-tiba Nicholas menyambar pembicaraan tanpa melirik David.
Celine melirik David yang mengerutkan keningnya, menandakan kalau dia tidak suka dengan sikap Nicholas. Lalu menatap wajah Nicholas yang datar mengeluarkan aura dingin.
Wajah mereka berdua menggambarkan, jika mereka berdua tidak menyukai satu sama lain. Akhirnya, Celine berinisiatif pulang sendiri. "Tidak udah, aku bisa pulang sendiri." Celine tersenyum kepada David yang berdiri didepannya lalu berpamitan kepada David dan Nicholas. "Kalau begitu, aku permisi dulu kak David, Tuan Nicholas."
Celine kemudian melangkah pergi keluar dari pintu rumah sakit, berjalan dengan langkah besar dan memberhentikan taksi yang kebetulan melintas didepannya.
Setelah memberitahu alamat kepada driver, dia melakukan panggilan telepon pada Isabella, putri semata wayangnya.
"Hallo sayang, bagaimana kabarmu hari ini?"
"Kabarku kurang baik..." Jawab Isabella sedikit merengek.
"Ada apa, sayang? Apa kamu sedang kurang sehat?" Celine menjadi sangat khawatir mendengar jawaban Isabella.
Karena sejak Isabella lahir, gadis kecil itu sering bolak-balik ke rumah sakit untuk di rawat. Keadaan Isabella yang seperti itu membuat Celine harus selalu berhati-hati dalam menjaganya. Dan semuanya, Celine percayakan pada Bibi Aida, yang memang sudah menjadi pengasuhnya sejak Celine masih kecil.
"Aku sangat merindukan Mommy..."
Mendengar itu, Celine pun langsung terkekeh. Gadis kecilnya ini sangat pandai membuat hatinya luluh. "Baiklah sayang, beberapa hari lagi Mommy akan menyuruh orang untuk menjemputmu dan nenek Aida ke London."
"Horeee..." Terdengar suara teriakan bahagia dari Isabella yang sangat menggemaskan.
"Kalau begitu, Isabella berikan teleponnya pada nenek Aida ya."
Tak lama kemudian terdengar suara seorang wanita paruh baya di seberang telepon. "Hallo, Nona Celine?"
"Bibi, tolong persiapkan semua keperluan Isabella ya. Lusa aku akan menyuruh orang untuk menjemput kelian ke London."
"Baik, Nona. Aku akan menyiapkan semuanya dengan baik."
"Baik, Bi. Tolong berikan lagi teleponnya pada Isabella." Pinta Celine.
Suara renyah dan menggemaskan Isabella kembali terdengar di telepon. "Mommy..."
"Sayang, kamu harus patuh pada nenek Aida ya. Sebentar lagi kita akan bertemu. Mommy sangat merindukanmu."
"Baik Mommy, aku akan patuh pada nenek Aida. Aku juga sangat merindukan Mommy. I love you, Mommy."
"I love you too, Isabella sayang. Sampai jumpa di Paris ya."
Celine mengakhiri panggilan teleponnya saat taksi yang ditumpanginya sudah berhenti di halaman apartemennya.
...***...