Love Story In Paris

Love Story In Paris
#23



Suara ledakan kembang api terdengar di dalam gondola yang masih berputar. Tiba-tiba langit menjadi terang benderang oleh pancaran cahaya kembang api yang membuat semua orang terpana.


Celine tersadar dari lamunannya yang begitu panjang. Celine tidak tau sudah berapa lama ia duduk di dalam gondola ini, dan Celine juga tidak tau sudah berapa kali gondola ini berhenti untuk bertukar penumpang. Tapi, Nicholas masih duduk dihadapannya, menatap kearahnya sambil menyimpul kedua tangannya.


"Apa kamu menyukainya?" Tiba-tiba Nicholas bertanya padanya yang baru sadar dari lamunan.


Celine tersenyum dan mengangguk menatap sepasang mata indah bak batu sapphire yang ada dihadapannya. "Iya, aku menyukainya."


"Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Tidak baik untuk kesehatan dan juga untuk dirimu sendiri. Hidup akan terus berputar seperti wheels ini."


Celine terdiam mendengar ucapan Nicholas. Ia semakin bingung dengan pria yang ada dihadapannya ini.


Kenapa dia tau kalau aku sedang bersedih? Kenapa dia juga selalu muncul disaat aku dalam kesulitan? Apa dia tau tentang masa laluku?


Celine bertanya-tanya dalam hati merasa penasaran dengan pria dihadapannya ini.


Nicholas kembali menyunggingkan senyumannya yang mahal itu pada Celine. "Apa suasana hatimu sudah mulai membaik?"


"Sudah, terimakasih." Celine membalas senyum Nicholas dan kemudian kembali menatap lantai gondola yang transparan.


Celine melihat semakin banyak orang yang mengantri hendak menaiki gondola dari bawah. Tidak lama kemudian, gondola yang Celine dan Nicholas naiki pun berhenti, pintunya terbuka dengan sendirinya.


Nicholas yang telah memakai maskernya kembali memegang tangan Celine, membantunya turun dari gondola itu. Dia kembali mengajak Celine mengitari tempat indah itu dan menaiki sebuah carousel yang ada di dekat Paris Observatory Wheels.


Setelah menaiki carousel tersebut satu kali putaran, Nicholas mengajak Celine berkeliling melihat berbagai kegiatan yang ada ditempat itu, seperti yoga, kickboxing, menari dan lainnya.


"Apa kamu ingin mencobanya?" Nicholas menghentikan langkahnya didepan sekumpulan anak muda yang sedang menari ditengah-tengah taman.


Tiba-tiba Celine merasa lucu saat Nicholas menyuruhnya menari. Celine pun tertawa mendengar ucapannya. "Aku sudah lama tidak menari, dan rasanya sudah bukan umurku lagi untuk menari."


Nicholas hanya tersenyum tanpa menanggapi ucapan Celine. Dia kembali meneruskan langkahnya untuk membeli makanan. Dia berhenti didepan sebuah cafe yang menjual es krim lezat yang bebas dari susu, kedelai, telur dan bebas gluten.


Nicholas kemudian mengulurkan tangan memberikan satu cup es krim rasa stroberi pada Celine. "Ini untukmu. Setelah memakan es krim ini, perasaanmu akan jauh lebih baik."


Celine hanya tersenyum menerima es krim yang diberikan oleh Nicholas ke tangannya.


Saat ini Celine sedang berhadapan dengan sosok Nicholas Emmanuel yang hangat. Sepertinya hari ini waktu Nicholas sepenuhnya untuk Celine dan sikapnya yang begitu baik membuat gunung es didalam hati Celine mulai melebur.


Celine menikmati es krim stroberi yang diberikan Nicholas sambil duduk dibangku dekat cafe tersebut.


"Apa kamu selalu mengikutiku?" Sebuah pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran Celine terlontar pada Nicholas yang tengah duduk disampingnya.


Wajah Nicholas langsung berubah merah mendengar pertanyaan Celine. Dia memutar kedua bola matanya dan kemudian menjawab, "Tidak."


"Lalu kenapa kita selalu bertemu disaat aku butuh bantuan?"


"Aku juga tidak tau kenapa harus selalu bertemu dengan wanita sepertimu. Semuanya sangat kebetulan." Nicholas menjawab dengan acuh tak acuh.


"Bagaimana dengan tadi siang? Kenapa kamu ada di kantorku?"


Celine melihat kebohongan dari wajah Nicholas. Nicholas berusaha menutupi kejadian tadi siang saat dia menunggu Celine di parkiran perusahaan.


Celine hanya memberikan senyuman mengejek petanda bahwa dia tidak percaya dengan ucapan Nicholas.


Nicholas memalingkan wajahnya dan mengalihkan pembicaraan. "Kamu ingin kemana lagi?"


"Aku ingin pulang."


Seketika, Nicholas bangkit dari tempat duduknya. Dia yang hendak melangkah dihentikan oleh pertanyaan Celine. "Kamu mau kemana?"


Nicholas membalikkan tubuhnya dan menjawab. "Bukankah kamu ingin pulang?"


Setelah menjawab, Nicholas kemudian kembali berjalan ke depan.


Celine hanya bisa bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti dia dari belakang, kembali mengikuti pria itu berjalan seperti seekor anak ayam yang takut kehilangan induknya.


Tidak lama kemudian mereka sampai ditempat Nicholas memarkirkan mobilnya. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Celine tanpa berbicara sepatah katapun.


Celine yang mengerti maksud Nicholas membukakan pintu mobil, dia segera masuk kedalam mobil.


Kemudian Nicholas mengendarai mobilnya menjauh dari tempat itu. Mobilnya melaju membelah jalanan kota Paris dimalam hari.


Tidak butuh waktu terlalu lama, dua puluh menit kemudian mobil Nicholas berhenti didepan lobby apartemen Celine. Pria itu keluar dari mobilnya dan kembali membukakan pintu untuknya.


Saat Celine sudah berada diluar mobil, Celine menghadap kepada Nicholas dan berkata, "Terimakasih banyak untuk hari ini, Tuan Nicholas."


Nicholas hanya mengangguk menanggapi ucapan Celine.


Celine kemudian membalikkan badannya dan melangkah menaiki anak tangga menuju lobby apartemen. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang enak didengar dari pria itu memanggilnya. "Nona Celine."


Celine menolehkan kepalanya ke belakang. "Ya?"


"Apa aku boleh meminjam ponselmu sebentar?"


Celine kembali berbalik dan berjalan ke arah Nicholas berdiri, kemudian membuka tas dan memberikan ponselnya pada Nicholas.


Nicholas menerima ponselnya dan menyentuh layar ponselnya. Tak lama, dia mengembalikan ponsel itu pada Celine. "Ini nomorku, simpanlah. Jika kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungiku."


Celine mengangguk menerima ponselnya kembali dari tangan Nicholas. "Terimakasih, Tuan Nicholas."


Celine kemudian membalikkan tubuhnya lagi dan berjalan menuju apartemennya.


Sedangkan Nicholas, masih berdiri di depan pintu masuk lobby gedung apartemen.


...***...