Love Story In Paris

Love Story In Paris
#43



Nicholas berjalan dengan langkah besar keluar cafe. Sedangkan gadis kecil itu berlari dari luar cafe mengikuti kemana arah langkah Nicholas. Tetapi di tengah jalan, gadis kecil itu terjatuh ke lantai. Nicholas yang melihatnya langsung berlari menghampirinya.


Awalnya gadis kecil itu tidak menangis, tetapi setelah dia hendak bangkit sendiri dan melihat ada darah di lutut dan telapak tangannya, gadis kecil itu langsung menangis.


Nicholas telah berdiri di hadapan gadis kecil itu. Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya menatap Nicholas sambil menangis, dan tangisannya malah semakin kencang sambil memanggil Nicholas dengan panggilan, "Daddy..."


Seketika, nafas Nicholas terasa sesak dan jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar panggilan 'Daddy' yang keluar dari bibir kecil gadis imut yang kini berada di hadapannya.


Nicholas tahu siapa gadis kecil ini. Dia adalah Isabella. Nicholas yakin bahwa gadis kecil ini adalah Isabella, gadis kecil yang telah mencuri hatinya waktu itu. Karena hanya dia satu-satunya gadis kecil yang memanggilnya dengan panggilan 'Daddy'.


Tanpa berpikir panjang, Nicholas pun berjongkok dan mengulurkan tangannya membantu gadis kecil itu berdiri. "Sayang, apa kamu tidak apa-apa?"


Nicholas melihat tubuh Isabella dari atas hingga bawah, dan melihat ada luka di kedua lutut juga telapak tangannya yang mengeluarkan darah. Dia kemudian menggendong Isabella dan segera membawanya masuk ke dalam cafe di mana James dan Felix berada.


"Felix, tolong kamu obati gadis kecil ini." Pinta Nicholas kepada Felix yang masih duduk bersama James.


"Ada apa?" Felix bertanya dengan wajah terkejut.


"Gadis kecil ini terjatuh saat mengejarku. Kutut dan telapak tangannya terluka."


"Coba aku lihat." Felix berdiri dan melangkah mendekati Nicholas yang masih berdiri menggendong Isabella. "Dudukkan dia di kursi ini."


Nicholas mendudukkan Isabella di kursi yang ada di sampingnya.


James yang sejak tadi sudah menatap dengan tatapan terkejut, dia pun bangkit berdiri dan ikut mendekat. Dia berjongkok dan memperhatikan Isabella yang sedang diperiksa oleh Felix. Dahi dan bibirnya mengerut menatap wajah Isabella yang masih menangis sambil terus mengucapkan kata 'Daddy' dengan suara pelan.


"James, apa yang kamu lihat? Sebaiknya kamu bantu aku ambilkan kotak obat yang ada di mobilku." Felix berbicara kepada James.


Tanpa banyak bicara, James langsung bangkit berdiri dan bergegas keluar menuju parkiran mobil untuk mengambilkan kotak obat di mobil Felix.


"Bagaimana dengan lukanya?" Tanya Nicholas kepada Felix dengan cemas.


Felix tersenyum menatap Nicholas dan menjawab, "Tidak perlu terlalu khawatir. Hanya luka ringan, masih bisa diatasi tanpa harus ke rumah sakit."


"Syukurlah." Nicholas menghela nafas lega.


Isabella yang duduk di kursi, masih saja menatap Nicholas yang berdiri di hadapannya dengan air mata yang berlinang.


Nicholas pun berjongkok dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah kecil Isabella, lalu mengusap air matanya dengan ibu jarinya sambil menenangkannya. "Sayang, jangan menangis. Ada daddy di sini."


Mata Felix langsung membola menatap Nicholas yang sedang berbicara pada Isabella. Dia terkejut mendengar Nicholas menyebut dirinya dengan sebutan 'daddy' kepada Isabella. "Daddy? Nic, sejak kapan kamu punya anak?"


"Ini kotak obatnya." James datang dan menyodorkan kotak obat sebelum Nicholas menjawab pertanyaan Felix.


James kemudian berjongkok kembali memperhatikan wajah Isabella yang masih basah karena air mata. "Gadis kecil, apa pria ini benar-benar daddy mu?"


Isabella menatap mereka yang berjongkok mengelilinginya secara bergantian. Matanya yang bulat, pipinya yang chubby, terlihat sangat menggemaskan. Dia menoleh pada James lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Nicholas merasa terharu melihat anggukan kepala Isabella yang mengakui bahwa dia adalah daddynya. 'Ternyata dia masih sangat mengingatku meskipun kejadian waktu itu sudah berlalu lama.' Batinnya.


James kemudian langsung menoleh ke Nicholas dan mengerutkan kening sambil memukul bahunya pelan. "Nic, sejak kapan kamu menikah dan punya anak? Tega sekali tidak memberitahu kami!"


"Siapa bilang aku sudah menikah? Kalian tahu sendiri aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai tidak punya waktu untuk memikirkan itu." Jawab Nicholas sambil melirik James.


"Lalu ini apa? Ini salah satu bukti bahwa kamu telah menipu kamu cukup lama!" James tersenyum mengejek.


Nicholas mengerutkan dahi dan menyahutnya. "Heh! Siapa yang menipumu? Aku tidak pernah menipu orang. Kalaupun aku mebik, kalian adalah orang pertama yang aku beritahu."


"Sudah! Kalian jangan bertengkar lagi! Aku sudah memberi anti septik juga obat pada luka gadis kecil ini." Felix melerai kedua sahabatnya yang hampir saja adu mulut.


Dia berdiri meluruskan tubuhnya, lalu tersenyum sambil membelai rambut panjang Isabella yang masih terdiam menatap mereka. "Gadis kecil, jangan menangis lagi. Uncle sudah mengobati lukamu"


"Terima kasih, uncle." Isabella menjawab ucapan Felix dengan suara renyahnya.


Dia sudah bisa tersenyum dan tidak menangis lagi. Dia mendongakkan kepalanya menatap Nicholas yang kini sudah berdiri di hadapannya, lalu dia mengangkat kedua tangannya sambil berkata, "Daddy, gendong..."


Nicholas tersenyum melihat Isabella yang telah tumbuh besar dan bersikap manja kepadanya. Spontan dia membungkuk dan mengangkat tubuh Isabella untuk duduk di pangkuannya.


Sedangkan James dan Felix, mereka masih menatap Nicholas dengan aneh.


"Untuk hal ini, akan aku jelaskan nanti." Mendengar ucapan Nicholas, wajah James dan Felix terlihat lega dan kembali seperti biasa.


Mereka kembali duduk menikmati kopi dan makanan lainnya yang sempat terhenti. Isabella duduk dengan tenang di pangkuan Nicholas. Gadis kecil itu menyandarkan tubuhnya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Nicholas seperti tidak ingin berpisah.


"Gadis kecil, siapa namamu?" James bertanya pada Isabella dengan wajah penasaran.


"Isabella."


"Di mana ibumu?"


Isabella menunduk dengan wajah sedih, lalu menggelengkan kepala, "Tidak tahu."


Nicholas kembali bertanya. "Lalu bagaimana kamu bisa datang ke sini?"


"Tadi aku sedang bermain bersama mommy dan nenek, lalu aku berlari karena melihat daddy. Setelah itu aku tidak tahu lagi mommy dan nenek ke mana." Isabella kembali meneteskan air matanya.


'Dia benar-benar membuat hatiku luluh. Aku tidak tega melihatnya menangis seperti ini.' Batin Nicholas, lalu mengusap kembali air mata Isabella dengan tissue yang ada di meja.


Nicholas berusaha menghibur Isabella. "Jangan sedih, sayang. Jangan takut, ada daddy di sini. Nanti daddy akan mengantarmu pulang."


Nicholas mengulurkan tangan kanannya meraih cangkir kopi yang ada dimeja dan meminumnya. Sedangkan tangan kirinya menopang dan memeluk tubuh mungil Isabella yang duduk di pangkuannya. "Apa kamu lapar?"


Isabella menatapnya lalu mengangguk.


Nicholas kembali tersenyum dan segera melambaikan tangannya pada waitress cafe dan memesan makanan untuk Isabella.


James dan Felix hanya diam memperhatikan Nicholas yang duduk di hadapan mereka sambil menggendong Isabella.


"Jangan menatapku seperti itu!"


Felix sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat pada Nicholas dan berkata, "Sepertinya kamu sudah cocok menjadi seorang daddy, Nic."


James langsung tertawa keras mendengar ucapan mengejek dari Felix. Sedangkan Nicholas dan Felix ikut tertawa melihatnya.


Kemudian James juga ikut mencondongkan tubuhnya dan berkata, "Aku ragu melihat pria di hadapanku ini yang selalu gila kerja akan menjadi daddy? Bahkan dia selalu tidak ada waktu untuk memikirkan wanita, apalagi berkencan. Aku rasa sahabatku yang satu ini adalah seorang gay. Hahahaha..."


"Daddy, apa itu gay?" Tiba-tiba, Isabella bertanya pada Nicholas.


Nicholas menghela nafas panjang dan menoleh pada James dengan tatapan tajam.


James pun mengerti dengan maksud tatapan sahabatnya itu. "Sorry, sorry."


"Jangan asal bicara di depan anak kecil, James." Felix mengingatkan James.


Sebelum Nicholas menjawab pertanyaan Isabella, waitress pun datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah nampan berisi pesanan Nicholas.


Nicholas memesankan s**u, kentang goreng dan cake untuk Isabella. Dia memotongkan cake itu untuk Isabella, lalu menyuapinya. "Sayang, makanlah!"


Isabella membuka mulutnya dengan patuh dan memakan cake yang Nicholas suapi. Setelah itu, dia memakan kentang goreng dan meminum s**u. Dia memakan semuanya dengan lahap, terlihat sangat lapar. Kemudian dia bersendawa. "Maaf, Uncle." Dia tersenyum malu sambil menutupi mulutnya.


Mereka pun tertawa bersama melihat senyum Isabella yang sangat menggemaskan itu. Gadis kecil ini sangat beradab dan lucu.


"Dari mana kamu mendapatkan anak selucu ini, Nic?" James bertanya pada Nicholas dengan memajukan tubuhnya ke depan sambil menopang wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja.


Dia sangat menyukai Isabella. Siapa pun yang melihat Isabella pasti akan menyukainya.


"Aku tidak pernah mencarinya. Hanya pertemuan yang sangat kebetulan. Nanti akan aku ceritakan, jangan mengganggu momen langka ini!" Nicholas menjawab pertanyaan James, kemudian menatap Isabella yang sedang mengunyah kentang goreng di mulutnya.


Setelah Isabella dan ketiga pria dewasa itu menghabiskan makanan mereka, mereka memutuskan untuk keluar dari cafe tersebut dan berpisah.


Felix berjalan di depan diikuti oleh James dan Nicholas yang menggendong Isabella. Mereka keluar bersama sambil mengobrol ringan.


"Kalian setelah ini ingin ke mana?" Tanya Felix saat menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Nicholas dan James ketika sudah berada di depan cafe.


"Hari masih sore, dan aku masih belum ingin pulang. Aku ingin bermain billiard setelah ini." James menjawab.


"Ide bagus. Kalau begitu aku ikut denganmu. Bagaimana denganmu, Nic?"


Nicholas menatap Isabella sejenak lalu menjawab, "Aku akan mengantar Isabella pulang."


"Oke. Kalau begitu kami pergi dulu. Jika kamu masih ada waktu setelah itu, susul kami saja." Ucap Felix sambil menepuk ringan pundak Nicholas.


"Baiklah."


"Sampai ketemu lagi, Nic." Felix dan James kemudian berjalan menuju mobil mereka.


Namun, saat mereka baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ada seorang wanita muda yang menerobos di tengah-tengah mereka sehingga membuat mereka membalikkan tubuh mereka dan melihat wanita muda itu yang berlari ke arah Nicholas dan langsung merebut Isabella dari gendongannya.


Nicholas tidak sempat melihat wajah wanita muda itu, karena diaa terlalu terkejut dengan tindakan wanita muda itu yang tiba-tiba.


Wajah wanita muda itu tertutup oleh rambut panjangnya sambil menangis memeluk erat Isabella. "Akhirnya kamu ketemu juga, sayang."


Isabella yang berada dalam pelukan wanita muda itu pun memanggilnya. "Mommy..."


...***...