Love Story In Paris

Love Story In Paris
#34



"Isabel, jangan lari-lari, sayang. Nanti kamu bisa terjatuh." Bibi Aida berkata pada Isabella yang sedang lari-lari di tengah playground.


Celine berdiri di depan kaca besar yang ada di sudut ruangan kantornya, melihat Isabella yang sedang bermain ditemani Bibi Aida.


Semenjak Celine memboyong Isabella dan Bibi Aida kembali ke Paris, dia selalu membawa Isabella ke kantornya. Bahkan dia menyuruh Jessica menyiapkan playground untuk Isabella di samping ruangan kantornya. Itu akan memudahkannya agar bisa selalu mengawasi putrinya setiap saat.


Semenjak kejadian Isabella tak sadarkan diri saat di bandara London waktu itu, membuat Celine selalu khawatir padanya. Celine ingin selalu dekat dengan putrinya dan melihat perkembangannya setiap saat. Celine tidak ingin kehilangan orang yang disayanginya untuk kesekian kalinya.


"CEO Celine, Tuan David William datang ingin menemuimu." Tiba-tiba Jessica muncul dari balik pintu ruangan kantornya.


Celine membalikkan tubuhnya kembali duduk di kursi putarnya, dan berkata, "Baik. Suruh dia masuk."


"Baik, CEO Celine." Jessica mengangguk, kemudian mempersilakan David William masuk ke ruangan Celine.


"Selamat siang, CEO Celine." David William menyapa setelah masuk dan berdiri di hadapan Celine.


"Siang, kak. Duduklah!" Celine tersenyum mempersilakan David William duduk.


"Terima kasih." David William menarik kursi dan duduk di hadapan Celine.


"Ada apa hingga Kak David mengunjungiku siang ini?" Tanya Celine dengan ramah.


David William tersenyum. "Aku hanya ingin mengunjungimu sekaligus ingin melihat keponakanku."


David William kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke arah kaca besar yang ada di sudut ruangan. Dia menatap Isabella yang sedang bermain cukup lama sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Aku pikir Mommy dan Daddy hanya becanda. Ternyata benar, Kenzo meninggalkan kenang-kenangan untukmu. Dia meninggalkan putri kecil yang cantik dan lucu."


Celine pun bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah kaca besar dan berdiri di samping David William.


Celine melipat tangannya di dada sambil berkata, "Ya. Dia meninggal harta yang paling indah untukku."


"Apa kamu masih mencintainya?"


Celine terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang dilontarkan David William kepadanya. Sebenarnya, Celine sangat enggan untuk menjawabnya. Tapi karena David adalah kakaknya Kenzo, rasanya tidak masalah jika dia jujur kepadanya. "Ya, aku masih sangat mencintainya."


"Bagaimana kamu merawat Isabella sendirian selama ini?"


Celine tersenyum menjawab pertanyaan David William. "Aku merawatnya dengan baik selama ini. Isabella anak yang sangat patuh dan banyak yang menyukainya."


"Seperti Kenzo yang selalu disenangi orang lain." Sahut David William.


"Ya."


David William kembali duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Celine. "Celine..."


"Ya?" Celine menoleh pada David William kemudian kembali duduk di kursi putarnya.


"Aku dengar kamu mendapatkan kontrak kerja sama dengan Grand Corp dalam pembangunan gedung baru mereka di Paris?"


"Ya, Kak. Tapi baru tahap persiapan awal. Karena semua pekerjaan akan di mulai tahun depan."


David William menganggukkan kepala mendengar ucapan Celine. "Lalu bagaimana persiapannya?"


"Kami baru menyiapkan surat-surat dan kelengkapan lain untuk kerjasama lainnya. Dan sekarang kami sudah mulai mencari tenaga kerja untuk pembangunan tersebut."


David William memajukan tubuhnya ke depan dan meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Celine. "Celine, jika kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa menghubungiku. Dan jika kamu membutuhkan pekerja, kamu bisa menggunakan pekerjaku. Apa lagi ini adalah pengalaman pertamamu dalam menangani proyek pembangunan gedung pencakar langit. Jadi akan terasa sulit bagimu jika mengerjakannya sendirian."


Celine merasa ada kejanggalan dari ucapan David William. Seperti ada maksud terselubung dalam ucapannya. Hati kecil Celine mengatakan jika dirinya harus berhati-hati padanya. "Terima kasih, kak. Aku akan menghubungi kakak jika aku butuh bantuan."


"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu, ada beberapa rapat yang harus aku hadiri setelah ini. Aku akan sering-sering mampir ke sini untuk menemuimu dan keponakanku."


Setelah sampai di depan pintu, David William menghentikan langkahnya dan berkata, "Mulai besok aku akan menjemput kalian dan kita pulang bersama."


Celine kaget mendengar ucapan David William yang sangat tiba-tiba ini. Dia pun berusaha menolaknya. "Tidak perlu, kak. Itu sangat merepotkan kakak. Aku bisa menyetir sendiri."


"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu." David William pun berlalu pergi.


...


Beberapa hari kemudian.


Hari ini adalah hari Sabtu. Celine menghabiskan waktunya di apartemen bermain bersama Isabella. Dia baru ingat malam ini dia harus datang ke mansion Keluarga William.


Minggu lalu, Tuan dan Nyonya William mengundangnya untuk makan malam bersama di mansion mereka.


Celine merasa sedikit bingung, apakah dia harus mengajak Isabella ikut bersamanya? Bagaimana jika nanti Isabella menangis lagi? Atau bagaimana jika nanti mereka menanyakan tentang Isabella kepadanya?


Celine hanya khawatir Isabella akan mendengar obrolan orang dewasa yang seharusnya tidak didengar oleh anak-anak. 'Tidak, aku tidak akan membawa Isabella ke mansion Keluarga William.'


"Celine, apa hanya kita berdua saja yang pergi?" Tanya Jessica yang sedang duduk di sofa di dalam kamar Celine.


Jika sudah di luar kantor, hubungan mereka tidak lagi seperti atasan dan bawahan melainkan sahabat baik.


"Ya." Jawab Celine sambil memakai lipstik di depan cermin.


"Kenapa tidak membawa Isabella?"


Celine menghentikan gerakannya dan memutar tubuhnya ke arah Jessica. "Aku memiliki pertimbangan untuk membawa Isabella ke sana. Banyak hal-hal yang aku takuti, Jess."


"Maksdumu?" Jessica mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Celine.


Celine menarik napas dalam-dalam lalu berkata, "Aku yakin mereka pasti akan menanyakan tentang Isabella kepadaku, dan cerita seperti itu tidak seharusnya didengar oleh anak-anak. Aku juga tidak ingin Isabella menangis di sana. Karena di pertemuan pertama mereka waktu itu, Isabella menangis ketakutan."


"Benarkah?" Mata Jessica membola.


Celine mengangguk dan melanjutkan ucapannya. "Aku rasa...Isabella tidak menyukai orang tua Kenzo. Aku pun merasa bingung."


"Celine, mungkin ada sesuatu yang tidak beres dirasakan oleh Isabella. Bukankah Isabella memiliki insting yang kuat?"


"Tapi, Jess, tidak mungkin jika orang tua Kenzo memiliki niat buruk."


"Benar juga." Jessica kemudian melihat jam tangannya. "Celine, ayo kita berangkat! Sudah jam tujuh malam."


"Oke." Celine bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar bersama Jessica.


Malam ini Celine meminta Jessica untuk menemaninya makan malam bersama di mansion Keluarga William.


Perasaannya tidak enak, jadi dia memutuskan untuk mengajak Jessica pergi bersamanya.


Celine dan Jessica sampai di mansion Keluarga William tepat waktu.


Saat mereka sampai, makan malam pun segera dimulai.


Makan malam ini dihadiri oleh Celine, Jessica, David William, dan kedua orang tua Kenzo. Mereka menikmati makan malam dengan tenang. Ada banyak hidangan lezat yang menemani makan malam mereka.


...***...