Love Story In Paris

Love Story In Paris
#6



Saat Celine mendekat, Kenzo yang tadinya sedang duduk disofa tiba-tiba menghilang.


Celine hanya bisa mengingat bayangan Kenzo yang duduk di sofa di depan tv. Dia selalu merasa Kenzo ada didekatnya, menemani dan mengawasinya.


Saat Celine merasa tidak berdaya, Celine selalu melihat bayangan Kenzo hadir. Meski tidak pernah bicara, tapi Kenzo selalu menemani kemanapun ria pergi. Itu saja sudah cukup bagi Celine agar tidak merasa kesepian.


Kenzo yang sudah sejak dulu selalu ada dalam benaknya, hingga sekarang tidak pernah meninggalkannya. Celine selalu berharap, Kenzo akan selalu hadir dalam mimpinya. Tapi, Kenzo hanya hadir dalam angan saja bukan dalam mimpinya.


Ingin sekali rasanya Celine bertemu dengannya, menceritakan semua keluh kesah yang selama ini dia pendam. Kenzo yang dulu selalu ada di saat suka dan duka, kini telah tiada. Celine telah memiliki hatinya, tapi bukan raganya. Yang Kenzo tinggalkan hanyalah kenangan indah untuk selalu dia kenang.


...


Celine masih tetap terjaga karena dia tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Dia hanya rebahan di sofa dalam kamarnya sambil terus menatap foto dirinya dan Kenzo yang terpajang di dinding kamar. Foto paling indah yang pernah dia punya.


Di foto itu, Kenzo terlihat begitu tampan. Meski hanya mengenakan kemeja pantai dan celana pendeknya sedang berlutut dihadapannya. Senyumnya yang merekah, yang selalu mampu membuatnya terpesona. Kenzo memegang sebuah kotak cincin berbentuk crystal ditangan kirinya, dan tangan kanannya sedang memasangkan sebuah cincin berlian ke jari masin Celine.


Itu foto tiga tahun lalu, saat Kenzo melamar Celine di kepulauan Maladewa, saat mereka sedang menghabiskan waktu liburan di sana. Surga dunia dengan pantai dan laut birunya yang begitu indah.


Kenzo melamarnya di pinggir pantai, di depan teman-temannya dan para pengunjung.


"Celine, mungkin ini sangat mendadak. Tapi, hubungan kita ini sudah terjalin begitu lama. Bahkan kita sudah saling mengenal sejak kita masih kecil. Begitu banyak hari-hari yang telah kita lalui bersama dalam suka dan duka. Bahkan, aku merasa diriku ini sangat tidak berarti tanpamu. Sudah lama aku menunggu saat seperti ini dalam hidupku, dan aku tidak ingin menundanya lagi. Dengan segala kelebihan dan kekuranganku, aku benar-benar sangat mencintaimu Celine. Maukah kamu menikah denganku?"


Di hadapan banyak orang, Kenzo melamarnya.


Celine tiba-tiba meneteskan airmata haru yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.


Kenzo selalu berhasil membuatnya terharu dengan segala tingkah romantisnya yang terkadang tidak masuk akal. Saat ini, Celine menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Dilamar seorang pria yang sangat dicintainya seperti ini, dihadapan semua orang, di tempat terindah sesuai dengan impiannya.


Celine kemudian menganggukkan kepala. "Ya, aku mau. Aku mau menikah denganmu!"


Seketika, semua orang yang menyaksikan itu bertepuk tangan dan bersorak ikut merasakan kebahagiaan mereka berdua.


Celine tersenyum sendiri saat mengingat moment yang begitu romantis dan mengharukan saat itu. Dia kembali teringat saat sore hari sebelum mereka berangkat berlibur ke kepulauan Maladewa, Kenzo menjemputnya di kantor dengan tergesa-gesa.


Biasanya saat Kenzo menjemputnya, pria itu hanya menunggunya di mobil saja. Tapi, saat itu dia langsung masuk mencari Celine dan menemui Celine di ruangan kantornya tanpa mengetuk pintu ruangannya terlebih dahulu. Membuat Celine terkejut dengan kehadiran kekasih tercintanya yang tiba-tiba ini.


"Ken, ada apa? Kenapa kamu datang dengan begitu tiba-tiba seperti ini?" Tanya Celine sambil mengangkat kepala melihatnya saat dia masih menandatangani beberapa dokumen perusahaan.


"Tidak ada. Aku hanya ingin menjemputmu lebih awal saja." Jawab Kenzo dengan tersenyum. "Hentikan pekerjaanmu dulu." Lanjutnya sambil berjalan mendekat kemudian langsung menutup dokumen yang hampir Celine tanda tangani dan merapikan beberapa dokumen yang masih harus Celine kerjakan.


"Ken, apa kamu bisa menungguku sebentar saja? Aku masih belum menyelesaikan semua ini." Ucap Celine dengan suara memohon.


Kenzo seolah tidak menghiraukan permintaannya. Dia berdiri dibelakangnya dan merangkul bahu Celine yang masih duduk dikursinya. "Kamu bisa melanjutkannya nanti, sayang."


"Tidak bisa begitu, Ken." Celine berusaha membantahnya, tapi pria tercintanya ini tetap tidak bisa dibantah.


Kenzo menarik pergelangan tangannya dengan lembut hingga Celine bangkit berdiri dari kursinya. "Ayolah sayang, pekerjaanmu bisa kamu lanjutkan nanti. Sekarang, kamu ikut denganku."


Celine menghela nafas dan hanya bisa menuruti keinginan pria tercintanya ini.


Saat berjalan keluar, Celine menundukkan kepala karena merasa sangat malu dengan tatapan semua karyawan yang seolah sedang menyaksikan sebuah film drama.


Mereka menatap kagum kepadanya. Ada perasaan iri dalam hati mereka melihat atasannya yang begitu cantik berjalan dengan digandeng mesra oleh seorang pria tampan yang terlihat begitu mencintai Celine.


Setelah berjalan sampai ke parkiran mobil, Kenzo membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Celine masuk. Kemudian Kenzo masuk di sisi lain dibagian kemudi. Kenzo mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.


"Sekarang kamu pakai ini dulu, karena aku ingin mengajakmu ke seuatu tempat." Ucap Kenzo sambil mengikat kepala Celine dan menutup matanya dengan saputangan.


"Memangnya kita mau ke mana, Ken?" Tanya Celine dengan heran karena dia tidak mengerti dengan sikap Kenzo hari ini.


"Kamu cukup duduk manis dan jangan buka matamu sebelum aku mengizinkanmu untuk membukanya." Ucap Kenzo kemudian menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan area perusahaan.


Kurang lebih tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Kenzo berhenti. Entah dimana ini karena Celine tidak tau kemana Kenzo membawanya. Mata Celine masih tertutup rapat dengan sapu tangan dikepalanya dan hanya melihat kegelapan.


Kenzo membukakan pintu mobil untuknya dan menuntunnya keluar dari mobil. Kenzo terus menuntun Celine berjalan dengan sangat hati-hati, tidak membiarkan wanita tercintanya ini terjatuh.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang sebelumnya telah disiapkan oleh Kenzo untuk Celine. Tapi, Kenzo masih belum membiarkannya membuka ikatan sapu tangan yang masih menutup rapat matanya.


Kenzo menarik kursi dan kembali menuntun Celine untuk duduk. Setelah Celine duduk, Kenzo baru membuka ikatan sapu tangan yang menutupi matanya.


Begitu Celine membuka matanya, yang pertama dia lihat adalah sebuah kue yang berbentuk boneka beruang dihadapannya.


Kue itu bertuliskan "Happy Brithday Honey" dengan lilin angka 21 diatasnya yang masih belum menyala.


Kenzo sangat tau kalau Celine begitu menyukai bonek beruang. Tanpa sadar, mata Celine berkaca-kaca melihat semua ini.


"Happy birthday, honey. Wish you all the best." Ucap Kenzo sambil membungkuk dan mengecup puncak kepala Celine dengan lembut.


Celine langsung memeluk Kenzo yang masih berdiri disampingnya. "Terimakasih, Ken."


"Aku minta maaf karena aku terlambat melakukan ini. Aku baru saja kembali dari perjalanan bisnisku di Singapura, sebelum aku menemuimu tadi." Ucap Kenzo sambil mengusap lengan Celine. "Apa kamu menyukainya, honey?"


Celine langsung mengangguk cepat. "Sangat, aku sangat menyukainya."


"Kalau begitu, aku akan menyalakan lilinnya dulu." Ucap Kenzo kemudian Celine melepas pelukannya.


Kenzo mengeluarkan korek dari saku celananya dan menyalakan lilin dengan angka 21 yang ada dihadapan Celine. "Sekarang kamu make a wish."


Dengan wajah yang berseri-seri dan hati yang berbunga-bunga karena sangat bahagia, Celine memejamkan matanya dan mulai berdoa dalam hati.


Celine masih terhanyut dalam lamunannya, mengingat semua kenangan indah saat bersama dengan Kenzo. Pria yang begitu dia cintai sejak dulu hingga saat ini.


Sangat sulit bagi Celine untuk melupakan semua itu.


...***...