
"Tunggu sebentar!"Nicholas mengambil payung yang ada di dashboard, lalu keluar dari mobil menghampiri mereka.
Nicholas memayungi mereka satu per satu untuk masuk ke dalam mobilnya, karena payung yang dibawanya hanya cukup untuk satu orang dewasa saja. Bahkan Nicholas rela harus basah-basahan agar mereka tidak terkena hujan.
Nicholas menggendong Isabella terlebih dahulu dan membawanya masuk ke kursi penumpang mobilnya, kemudian Nenek Aida yang juga duduk di kursi belakang. Lalu yang terakhir Celine.
Nicholas memayungi Celine berjalan bersama melewati air hujan yang membasahi jalanan. Jantungnya berdegup dengan kencang, berpacu dengan derasnya hujan. Tetapi Nicholas berusaha bersikap sebiasa mungkin agar Celine tidak mengetahui kegugupannya.
Saat Nicholas kebasahan karena memayunginya, tiba-tiba Celine menariknya agar mendekat padanya. Celine memeluk pinggang Nicholas hingga mereka berdua kini berada di bawah payung yang sama. Nicholas merangkul bahunya dengan satu tangan, dan tangan satunya memegangi payung.
"Lindungi kepalamu dari hujan, atau nanti kamu bisa demam." Ucap Celine dengan cemas.
Mendengar ucapan Celine yang mengkhawatirkannya, seketika hati Nicholas merasa hangat.
Mereka berdua terus berjalan saling berpelukan hingga akhirnya memasuki mobil.
Saat Nicholas mengendarai mobilnya, tiba-tiba Isabella memajukan tubuhnya ke depan mendekati Nicholas yang sedang mengemudi. "Daddy, bolehkah aku duduk bersama Daddy?"
"Boleh, sayang. Tapi kamu duduk di sini ya." Nicholas menepuk kursi co-driver dan melanjutkan berbicara. "Baju Daddy basah, jadi tidak bisa menggendongmu."
"Baiklah." Isabella pun melangkah dari kursi penumpang belakang ke depan melewati celah di antara kursi driver dan co-driver.
"Isabel, kamu duduk bersama Mommy saja di sini. Jangan mengganggu Uncle yang sedang menyetir." Celine mencegah Isabella untuk pindah ke depan.
"Tidak apa-apa, Nona Celine." Ucap Nicholas sambil menatap wajah Celine melalui kaca spion di depannya.
Setelah mendengar ucapan Nicholas, Celine pun membiarkan Isabella pindah duduk ke depan.
Isabella duduk dengan tenang selama perjalanan hingga dia tertidur di kursi co-driver.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan lobby apartemen. Nicholas turun dari mobil, membantu menurunkan dan menggendong Isabella yang tertidur pulas, lalu menyerahkannya ke gendongan Celine.
"Nona Celine, aku pamit dulu." Nicholas pun berpamitan pada Celine.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Tuan Nicholas. Terima kasih juga sudah mengantar kami pulang." Ucap Celine sambil tersenyum.
"Sama-sama."
Nicholas membalikkan badan dan hendak pergi. Tetapi Celine menghentikannya. "Tuan Nicholas, tunggu dulu!"
"Ya?" Nicholas menoleh ke arah Celine yang menggendong Isabella.
Celine memandangi pakaian hingga rambut Nicholas yang basah karena terkena air hujan, dia berkata, "Tuan, mampirlah sebentar, aku akan membuatkan minuman panas untukmu."
Tanpa berpikir panjang, Nicholas pun langsung menyetujuinya. Tubuhnya memang sedang merasa kedinginan dan dia butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya. "Baiklah."
Nicholas berbalik dan melangkah mengikuti Celine dan Nenek Aida memasuki lobby apartemen. Mereka berjalan bersama menaiki lift hingga akhirnya sampai di lantai apartemen milik Celine.
Celine menekan sandi dan pintu apartemen terbuka. Dia mempersilahkan Nicholas masuk. "Silahkan masuk, Tuan."
"Terima kasih."
Saat masuk, Nicholas melihat dua orang wanita sedang duduk menonton TV di ruang tengah apartemen. Seingatnya, mereka adalah asisten dan sekertaris Celine.
Tiba-tiba, kedua wanita itu menoleh bersamaan ke arah Nicholas dengan wajah terkejut, lalu menyapanya. "Selamat malam, Tuan."
"Malam." Balas Nicholas.
Celine yang masih menggendong Isabella yang tertidur pulas, dia memberikan Isabella pada Bibi Aida. "Bi, tolong bawa Isabella ke kamar."
"Baik, Nyonya."
Celine kemudian menoleh pada Nicholas dan berkata, "Tuan, mari ikut aku!"
Celine dan Nicholas berjalan melewati ruang tengah hingga mereka berhenti di depan pintu balkon apartemen. Celine membuka pintu balkon tersebut dan mempersilahkan Nicholas duduk. "Silahkan, Tuan. Kita duduk di sini saja."
"Terima kasih." Nicholas tersenyum.
...
Celine meletakkan dua cangkir teh di atas meja dan sepiring dessert, kemudian duduk di samping Nicholas. "Silahkan diminum tehnya, Tuan. Selagi masih hangat."
"Terima kasih. Maaf telah merepotkanmu." Ucap Nicholas.
"Sama sekali tidak merepotkan. Justru aku yang selalu merepotkanmu. Jaman sekarang, jarang sekali ada pria setampan dan sebaik Tuan Nicholas."
Pujian Celine membuat Nicholas sedikit gugup. Nicholas hanya bisa tersenyum menanggapinya. Tiba-tiba, suasana pun menjadi canggung di antara mereka berdua.
Suasana canggung itu terjadi cukup lama hingga akhirnya Nicholas memulai pembicaraan untuk memecahkan suasana. "Apa kamu sudah lama tinggal di sini?"
"Ya, cukup lama semenjak aku mulai mengurus perusahaan." Jawab Celine, kemudian dia menoleh menatap Nicholas, dan berkata, "Oh iya, Tuan. Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan putriku waktu itu. Bagaimana caranya agar aku bisa membalas kebaikan Tuan?"
"Tidak perlu sungkan seperti itu, Nona. Aku tetap akan melakukannya pada siapa pun yang membutuhkan bantuan." Nicholas menyerutup tehnya lalu melanjutkan ucapannya. "Waktu itu, aku tidak sengaja bertemu Isabella di Bandara. Awalnya, aku hanya membantu Isabella mengambilkan bonekanya yang terjatuh di bawah kursiku. Kemudian saat aku ingin pergi, aku melihat Bibi Aida sedang menangis sambil menggendong Isabella yang tidak sadarkan diri."
"Ya, sejak lahir Isabella sudah mengidap penyakit gagal jantung. Semua itu salahku, karena disaat aku mengandung Isabella, aku mengalami depresi berat. Isabella harus mengikuti pemeriksaan rutin setiap bulannya. Jadi saat aku kembali ke Paris waktu itu, terpaksa aku harus meninggalkan Isabella bersama Bibi Aida di London." Celine meraih cangkir tehnya yang ada di atas meja dan meminumnya, kemudian kembali berkata, "Tuan, maafkan putriku yang selalu memanggilmu Daddy."
"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak merasa keberatan. Mungkin dia hanya merindukan sosok Daddy dalam hidupnya. Jadi, wajar saja jika dia bersikap seperti itu padaku. Lagi pula, aku juga menyayanginya."
"Iya, dia belum pernah bertemu dengan Daddy nya." Celine terdiam sejenak, seperti sedang mengingat sesuatu. "Daddy nya meninggal karena kecelakaan kapal saat kami akan melangsungkan pernikahan."
"Aku turut prihatin mendengarnya. Maaf, Nona Celine, aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa-apa, Tuan." Celine berusaha mengalihkan topik pembicaraan, dia menyodorkan piring yang berisikan beberapa potong dessert berwarna coklat. "Silahkan, Tuan, dicoba dessertnya. Ini adalah dessert buatanku sendiri, kesukaan Isabella. Maaf jika bentuknya tidak semenarik yang ada di toko-toko kue di luar sana."
Nicholas mengambil sepotong dessert itu dan mencicipinya. Bentuk dan rasanya sama seperti Nanaimo Bar, wafer basah khas Canada. Hanya saja, Celine memotongnya dengan bentuk yang sedikit berbeda dari biasanya.
Sebenarnya, ini salah satu dessert kesukaan Nicholas.
"Bagaimana?" Celine menanyakan pendapat Nicholas tentang dessert buatannya.
"Enak. Apa ini Nanaimo Bar?"
"Ya, benar sekali. Apa kamu menyukainya?" Celine kembali bertanya.
Nicholas tersenyum dan menjawab. "Ya, aku menyukainya."
"Kalau begitu, minggu depan aku akan membuatkannya untukmu."
"Terima kasih."
Celine mengembangkan senyumnya merasa senang.
Nicholas menatap wajah Celine yang duduk di sampingnya beberapa saat. Dia duduk terpaku sambil menatap pemandangan Kota Paris dari balkon tanpa mengeluarkan suara, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Nicholas tahu bahwa Celine selalu berusaha bersikap sebiasa mungkin seperti tidak terjadi apa-apa, meski sebenarnya pikirannya sedang berkecamuk. Dia selalu berusaha untuk tersenyum, meski sebenarnya hatinya menangis.
Nicholas tahu, sangat sulit bagi Celine menjalani semua sendirian. Tetapi Nicholas yakin bahwa Celine adalah wanita yang kuat.
Nicholas melihat arloji yang ada di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Baju yang melekat di tubuh atletisnya juga sudah mengering. Sudah waktunya dia pergi dari apartemen Celine dan kembali ke rumahnya.
"Nona Celine, sudah jam sepuluh malam, aku pulang dulu." Nicholas berbicara sambil bangkit berdiri dari sofa balkon.
Celine baru tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Nicholas. "Oh iya, Tuan. Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai ke depan." Dia kemudian ikut bangkit berdiri dari sofa.
Mereka berjalan bersama melewati ruang tengah yang sudah sepi menuju pintu masuk apartemen.
Setelah sampai di pintu apartemen, Nicholas kembali berpamitan pada Celine. "Nona Celine, aku permisi dulu. Selamat malam."
"Selamat malam, Tuan Nicholas. Sekali lagi terima kasih banyak sudah mengantar kami."
"Sama-sama, Nona Celine."
Namun, saat Nicholas baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu apartemen, suara Isabella kembali terdengar dari dalam memanggilnya. "Daddy..."
...***...