
Celine langsung beristirahat dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sepulang dari kantor tadi.
Celine menatap langit-langit kamarnya. Rasanya begitu lelah. Semenjak dia kembali ke Paris, dia harus menangani banyak pekerjaan di perusahaan. Bahkan, dia sampai tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri kecuali untuk Isabella. Sesibuk apapun, Celine akan berusaha untuk menelpon gadis kecil kesayangannya walau hanya sebentar saja.
Hari ini benar-benar melelahkan. Selain mengadakan rapat penting dengan beberapa kepala staff perusahaan, Celine juga menemui klien-klien penting perusahaannya.
Saat Celine sudah hampir tertidur dan mulai memasuki alam mimpi, tiba-tiba ponselnya berdering. Seketika, kepalanya pun terasa sakit karena terusik oleh suara panggilan masuk dari ponselnya.
Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Celine langsung mengangkatnya. "Halo..."
"Halo sayang, apa kabar?"
Celine terpaku sedikit terkejut karena mendengar suara seorang dari seberang telepon, suara wanita paruh baya yang sangat familiar, yang sudah lama sekali tidak dia dengar.
Celine menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap nomor yang saat ini sedang memanggilnya, Nyonya Anne William, ibu Kenzo.
"Nyonya Anne? Ka..kabarku baik. Bagaiamana kabar Nyonya?" Celine merasa gugup.
"Kabarku baik. Aku dengar, kamu baru kembali dari London. Lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama?"
"Eum..baik Nyonya Anne, malam ini aku akan ke sana."
"Baiklah, kalau begitu nanti malam kamu datang ke mansion jam 8, jangan sampai telat ya sayang?"
"Baik Nyonya Anne."
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Celine melihat jam. Ternyata sudah jam enam sore. Celine segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi.
Selesai mandi, Celine duduk didepan meja riasnya. Dia menatap dirinya sendiri didepan cermin. Sebenarnya, Celine merasa ragu untuk pergi ke mansion keluarga William, karena pasti akan ada banyak hal tentang Kenzo di sana.
Celine merias wajahnya dengan make-up minimalis, lalu menyisir rambut panjang indahnya dengan rapi tanpa diikat.
Malam ini, Celine memakai mini dress sabrina berwarna hitam sepatu high heels dengan warna senada. Celine ingin selalu tampil sempurna didepan orang untuk menutupi segala kesedihannya. Tidak ingin terlihat rapuh, walaupun kini hatinya sangat rapuh semenjak kepergian Kenzo.
Pukul delapan kurang sepuluh menit, Celine sudah sampai di Mansion keluarga William. Sepuluh menit lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
Celine tidak langsung turun dari mobilnya, dia duduk bersandar pada kursi mobil, menatap lurus ke arah pintu mansion yang ada didepan sana. Masih ada keraguan dalam hatinya untuk memasuki mansion itu.
Tiba-tiba, ada seorang pria yang mengetuk kaca mobilnya. Pria yang telah lama tidak pernah dia temui. David William, kakak tiri Kenzo William.
David merupakan anak dari Tuan Gabriel William, ayah kandung Kenzo dari pernikahan rahasianya dengan sekertarisnya sebelum menikahi Nyonya Anne William, ibu kandung Kenzo William.
Rahasianya terbongkar setelah Tuan Gabriel membawa David pulang ke kediaman keluarga William. Saat itu, kenzo masih berusia sepuluh tahun.
Tuan Gabriel membawa David pulang ke kediaman keluarga William dan tinggal di sana karena ibunya telah meninggal dunia. Beruntung Nyonya Anne memiliki hati yang sangat baik, dia mau mengurus dan menerima keberadaan David, menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri hingga tumbuh dewasa. Bahkan, selama saat Kenzo masih hidup, Kenzo selalu bersikap baik dan menghormati kakak tirinya tersebut.
"Hai, Celine..." David menyapa Celine sambil mengetuk kaca mobil.
Celine begitu terkejut saat melihat David yang tiba-tiba sudah berada di samping mobilnya. Celine kemudian menolehkan kepala kearahnya dan menurunkan kacanya. "Hai kak David, apa kabar? Lama tidak bertemu."
"Kabarku baik. Kenapa hanya diam saja di dalam mobil? Ayo keluar." Ucap David sambil membungkukkan badan.
"Iya kak, aku baru saja mau turun." Jawab Celine sambil menutup kembali kaca mobilnya lalu membuka pintu mobil dan turun.
David pun langsung menatap Celine dari atas kepala hingga ujung kaki dengan seksama, seperti sedang menilai penampilannya. "Kamu semakin cantik saja. Setelah tiga tahun tidak bertemu, kamu semakin matang."
"Terimakasih, kak." Ucap Celine dengan sedikit tersenyum.
"Ayo, kita masuk kedalam." David mempersilahkan Celine untuk berjalan lebih dulu masuk ke dalam mansion.
Saat berjalan menuju pintu mansion keluarga William, jantung Celine berdegup dengan kencang. Hatinya begitu tidak karuan karena ketakutan.
Malam ini, Celine benar-benar takut memasuki mansion yang besar ini. Takut akan merindukan Kenzo setelah dirinya mengunjungi kediaman keluarga William yang dulu sering dia kunjungi saat Kenzo masih hidup.
Di mansion ini juga begitu banyak kenangan masa lalunya bersama Kenzo dari mereka masih kecil hingga mereka tumbuh dewasa.
Celine berjalan masuk dengan langkah yang sangat hati-hati seolah takut jika dirinya menginjak ranjau dan mencelakai dirinya sendiri.
Memang terlihat aneh. Celine begitu hati-hati menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan Kenzo. Akan ada banyak kenangan yang kembali bangkit karena menyentuhnya. Apalagi, di mansion kediaman keluarga William ini, baru selangkah memasuki pintu saja, Celine langsung bisa merasakan keberadaan Kenzo.
Dari sebelum kepergian Kenzo hingga saat ini, tidak ada satupun hal yang berubah dari mansion ini. Mansion ini masih tetap sama seperti dulu. Mansion dengan gaya classic dan elegan. Bahkan, perabotannya pun tidak banyak yang berubah.
Celine berjalan melewati pintu masuk dan ruang tamu untuk menuju ruang makan mansion ini.
Tapi, langkahnya tiba-tiba berhenti saat Celine melihat piano dan biola bergaya classic berwarna putih yang ada di tengah-tengah ruangan. Piano dan biola itu adalah milik Kenzo.
Ya, selain Kenzo menyukai warna putih, dia juga suka memainkan piano dan biola.
Dengan langkah perlahan, Celine berjalan mendekati kedua benda yang ada dihadapannya itu, lalu menyentuhnya. Benda ini begitu kental dengan keberadaan Kenzo.
Seketika, Celine teringat saat dulu Kenzo sering sekali memainkan piano untuknya saat dia bersamanya.
Bahkan dulu, saat Celine masih kecil, Celine sering ikut Kenzo pergi les piano. Walaupun Celine tidak mengikuti kelas piano bersamanya, tapi Celine menemaninya dan melihatnya belajar piano dari sudut ruangan kelasnya.
Kenzo adalah seorang anak laki-laki yang sangat pintar. Dia selalu mempelajari tuts demi tuts dengan tekun, dan selalu menjiwai saat memainkan piano sehingga musik yang dia mainkan terdengar begitu indah.
Kenzo juga sering sekali memainkan musik 'First Love' karya seorang komponis yang berasal dari Jepang untuknya. Musik itu sangat indah didengar. Sebuah musik instrument dengan makna yang begitu dalam dan mawakili perasaan seseorang terhadap cinta pertamanya.
Terakhir kali Kenzo memainkan musik untuknya, tiga setengah tahun yang lalu saat dia mengajak makan malam bersama di sebuah restoran dengan landscape Kota Paris yang begitu indah. Kenzo selalu bersikap manis dan romantis terhadapnya. Kenzo sering sekali mengajak Celine ke tempat-tempat yang indah, yang ada di Kota Paris. Dia pria dengan sejuta kenangan manis dalam hidup Celine.
"Apa kamu sangat merindukan Kenzo?"
Celine terkejut dan seketika tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara David yang berdiri di belakangnya.
Celine menolehkan kepalanya dan tersenyum. "Eum, sepertinya Tuan dan Nyonya William sudah menunggu di ruang makan. Sebaiknya, kita segera ke sana." Ucap Celine kemudian melangkah pergi meninggalkan piano dan biola yang terpajang di tengah-tengah ruangan itu.
Sedangkan David, dia masih terus mengikuti langkahnya dari belakang.
Sesuai dugaannya, Tuan Gabriel William dan Nyonya Anne William sudah duduk di ruang makan dan menunggu mereka.
Tuan Gabriel dan Nyonya Anne langsung menatap kearahnya dengan tersenyum.
"Celine, akhirnya kamu datang juga..." Nyonya Anne langsung bangkit berdiri menghampiri Celine dan memeluknya erat. "Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu, sayang." Nyonya Anne kemudian menangis dalam pelukan Celine.
Tuan Gebril pun ikut menghampiri dan mendekati istrinya lalu memegang pundaknya seolah sedang memberi kekuatan. "Sayang, sudah. Jangan menangis. Kasihan Celine jauh-jauh datang kesini hanya untuk melihatmu menangis. Ayo, kita duduk dulu."
Nyonya Anne melapas pelukannya, dia menghapus airmata yang sudah terlanjur membasahi pipi dengan tersenyum menatap Celine, kemudian memegang pipi Celine dengan kedua tangannya. "Celine, kamu semakin cantik. Andai saja Kenzo........"
Tiba-tiba ucapan Nyonya Anne terhenti saat Tuan Gabriel merangkul dan mengajaknya duduk. "Sudah, ayo kita makan dulu sebelum semua makananya dingin."
"Iya Mom, aku sudah sangat lapar." David pun menimpali ucapan Tuan Gabriel sengaja mengalihkan topik pembicaraan. "Sepertinya, malam ini Mom menyiapkan makanan begitu banyak dan terlihat lezat. Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya."
Nyonya Anne tersenyum mendengar David yang sudah tidak sabar untuk mencicipi masakannya. "Baiklah, ayo kita makan. Celine pasti juga sudah lapar, kan?"
Mereka pun makan malam bersama di meja makan yang besar. Suasana saat makan malam begitu tenang, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, hanya terdengar suara pelan dari sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Karena di keluarga William memiliki aturan yang harus dipatuhi saat makan, yaitu tidak boleh bicara saat makan berlangsung.
...***...