Love Story In Paris

Love Story In Paris
#38



Beberapa jam kemudian.


"CEO Celine, semua telah dipersiapkan." Ucap Jessica yang dari balik pintu ruangan kantor Celine dengan beberapa map di tangannya.


Celine menghentikan perjalanannya yang sedang memeriksa berkas-berkas. "Jess, di mana Devan?"


Jessica segera menjawab, "Tuan Devan sudah berada di ruang rapat, CEO Celine."


"Apa semuanya sudah hadir?"


"Sudah, CEO. Semua kepala direksi dan pihak dari Grand Corp sudah berada di ruang rapat."


Celine tersenyum, kemudian bangkit berdiri dari kursi putarnya. "Oke, kita berangkat sekarang!"


Celine keluar ruangan kantornya diiringi Jessica dan Chika. Mereka berjalan melewati koridor ke arah lift khusus untuk menuju ruang rapat.


Di tengah-tengah koridor, Celine bertemu dengan Isabella dan Bibi Aida yang baru saja keluar dari lift.


"Mommy..." Isabella berteriak sambil berlari ke arahnya.


Celine menangkap Isabella dan menggendongnya lalu mencium pipinya. "Sayang, kamu dari mana?"


"Aku baru saja makan strawberry bersama Nenek Aida."


"Apa sayangnya mommy sekarang sudah kenyang?"


Isabella mengangguk sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Celine. "Apa mommy mau pergi?"


"Ya, sayang. Sekarang mommy harus menghadiri sebuah rapat. Jadi, Isabella bermain dengan Nenek Aida dulu ya."


"Baik, mommy."


"Anak pintar." Celine memeluk dan mencium kedua pipi Isabella yang menggemaskan itu, lalu menurunkannya dan segera memasuki lift meninggalkan Isabella bersama Bibi Aida.


Ding!


Pintu lift terbuka di lantai tempat ruang rapat berada.


Dari koridor yang hanya dibatasi oleh kaca, terlihat sudah banyak peserta rapat yang telah duduk di dalam ruang rapat. Mereka adalah para petinggi Perusahaan Star Corp dan beberapa orang wakil dari Perusahaan Grand Corp.


Di ujung koridor, Celine melihat ada dua orang pria bertubuh tinggi sedang berdiri saling berhadapan. Yang satu mengenakan setelan jas berwarna silver dan berambut hitam, sedangkan yang satunya lagi mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan rambut berwarna kecoklatan.


Kedua pria itu terlihat sedang berbicara dengan serius, tetapi Celine tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


Celine mengenali salah satu di antara mereka, yaitu pria yang mengenakan setelan jas berwarna silver yang posisi berdirinya menghadap ke arahnya. Dia adalah pimpinan dari Grand Corp, Tuan James Zachary. Dan pria yang memakai setelan jas berwarna hitam itu, melihat dari postur tubuhnya Celine sangat kenal, tetapi karena posisi berdirinya yang membelakanginya membuat Celine merasa sulit untuk melihat wajahnya. Tetapi dari wangi parfum yang khas tercium olehnya di sepanjang koridor, wangi ini sangat familiar baginya.


"CEO Celine..." Tuan James Zachary melambaikan tangan menyapanya. Meski dia adalah seorang pimpinan Grand Corp, dia adalah tipikal pria yang ramah dan periang.


Tuan James Zachary pun melangkah maju sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Celine. "CEO Celine, sudah lama tidak bertemu. Kabarku baik, bagaimana dengan kabar anda?"


"Aku juga baik, Tuan James."


Saat mereka sedang berjabat tangan, pria dengan setelan jas berwarna hitam yang masih dengan posisi berdiri membelakangi mereka tiba-tiba membalikkan badannya.


Celine merasa sangat kaget melihat wajah pria itu yang kini sedang menatapnya dari balik tubuh Tuan James Zachary. Dia adalah Nicholas Emmanuel, pria yang selama lebih dari satu tahun lalu pernah hadir dalam hidup Celine dan selalu membantunya disaat dia menemukan kesulitan.


Wajahnya yang semakin tampan membuat Celine semakin terpana saat melihatnya. Sepasang mata biru bak batu sapphire itu masih terlihat sangat indah memesona. Rasanya sudah lama sekali Celine tidak melihat wajahnya secara langsung.


Semenjak perpisahannya waktu itu, mereka berdua tidak pernah saling berkomunikasi. Celine hanya bisa melihat wajahnya lewat foto mereka berdua saat makan malam sebelum Nicholas pergi. Foto itu masih tersimpan di memori ponsel Celine. Entah mengapa, meski sudah berlalu selama lebih dari satu tahun, Celine tidak pernah menghapus foto itu.


Tak banyak berubah dari wajah Nicholas Emmanuel. Dia masih terlihat tampan dengan wajah dinginnya. Yang berubah hanya tampilannya yang terlihat semakin exclusive dibanding saat terakhir kali Celine melihatnya.


Tubuhnya yang tinggi dan tegap, terlihat sangat elegan dalam balutan jas berwarna hitamnya. Meski Celine tidak melihat merek dan menyentuh jasnya, tetapi sangat terlihat jika pakaian yang pria itu kenakan adalah dengan kwalitas terbaik dan buatan tangan. Bisa dibilang pakaian yang Nicholas kenakan dari atas hingga bawah adalah produk limited edition dari designer terkenal. Dan pria tampan itu sekarang tampil ala executive muda terlihat semakin matang dan berkharisma.


Nicholas mengangkat sedikit ujung bibirnya membentuk garis senyum yang terlihat samar sambil menatap Celine. Celine ingin membalas senyumannya dan menyapanya, tetapi sebelum dia mengeluarkan suara untuk menyapa, Jessica sudah memanggilnya dari dalam ruang rapat.


"CEO Celine, silakan masuk! Rapat akan segera dimulai." Mendengar suara Jessica, Celine segera berpaling dari Nicholas.


Celine segera melangkah masuk ke dalam ruang rapat.


Saat memasuki ruang rapat, semua peserta rapat telah duduk di kursi mereka yang telah disediakan.


Rapat kali ini dipimpin oleh Devan Firdaus selaku pembicara sekaligus Direktur Utama Star Corp. Sedangkan Celine duduk di kursi depan di samping Devan sebagai CEO Star Corp dan pengawas rapat.


Dari pihak Grand Corp di pimpin oleh Tuan James Zachary yang duduk di seberang Devan, dan di samping James Zachary telah duduk Nicholas Emmanuel di kursi yang berseberangan dengan Celine.


Celine tidak tahu kenapa Nicholas Emmanuel bisa hadir di acara rapat antara kedua perusahaan ini. Setahu dia, Nicholas adalah seorang musisi terkenal dengan banyak penggemarnya. Namun, secara tiba-tiba Nicholas malah hadir bersama dengan James Zachary.


'Kenapa dia ada di sini? Apa dia sudah tidak menjadi musisi lagi dan bekerja untuk Tuan James Zachary?' Tanya Celine dalam hati.


Rapat yang dipimpin oleh Devan Firdaus dan Tuan James Zachary ini membahas tentang perencanaan pembangunan, arsitektur, dan segala hal yang menyangkut tentang pembangunan gedung pencakar langit milik Grand Corp. Semua peserta rapat mendengar dan memerhatikan dengan fokus materi yang sedang dibicarakan.


Tetapi Celine sendiri malah merasa sangat sulit untuk fokus.


Nicholas Emmanuel yang duduk di seberang Celine selalu menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Sesekali dia memalingkan wajahnya lalu kembali lagi menatapnya dengan mata birunya yang indah itu.


Wajahnya yang datar dan memancarkan aura dingin membuat Celine merasa gugup.


Celine tidak tahu apakah ada yang aneh di awajahnya hingga membuat pria tampan itu terus menatapnya seperti itu. Ada sedikit rasa kesal dalam hatinya saat Nicholas menatapnya begitu lama. Selain itu, Celine juga merasa kesal karena Nicholas tidak menyapanya ataupun memberi senyuman lebar seperti saat terakhir kali mereka bertemu.


Padahal, lebih dari satu tahun lalu hubungan mereka sudah seperti teman. Tetapi hari ini, kembali seperti orang asing yang tidak bertegur sapa. Pria yang benar-benar membuatnya bingung.


...***...