Love Story In Paris

Love Story In Paris
#57



Celine meletakkan kembali bunga itu di atas meja kerjanya dan duduk di kursi putarnya untuk memeriksa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


Sesekali, Celine melirik pada ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Dia berharap Nicholas mengirimkan pesan untuknya dan mengatakan bahwa dia yang telah mengirim banyak bunga untuknya pagi ini.


Dan setelah sekian lama menanti, akhirnya ponselnya bergetar tanda ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dengan segera Celine meraih ponselnya dan menyentuh layar ponselnya untuk membuka pesan itu.


Aku akan menjemputmu nanti sore setelah jam kantor.


-Nicholas Emmanuel-


Celine tersenyum senang membaca pesan dari Nicholas. Dia langsung membalasnya.


Baiklah. Sampai jumpa nanti.


-Celine-


Celine kembali meletakkan ponselnya di atas meja setelah mengirim balasan pesan dari Nicholas.


Namun, setelah itu mata Celine menatap ke arah sebuket bunga mawar yang ada di atas mejanya. Dia mengerutkan kening dan berpikir kenapa Nicholas sama sekali tidak menyinggung tentang bunga mawar itu padanya? Apa Nicholas memang sengaja tidak ingin memberitahunya?


Celine menggelengkan kepala berusaha memfokuskan pikirannya dan kembali membaca dokumen-dokumen yang ada di hadapannya.


Semenjak dia kembali ke Paris, banyak pekerjaan yang selalu dia kerjakan setiap harinya. Dan santai sejenak hanya pada akhir pekan menghabiskan waktunya bermain bersama Isabella.


"Devan, datang ke ruanganku sekarang!" Celine berbicara pada Devan melalui intercom.


Celine menatap map laporan keuangan yang diberikan Devan beberapa hari yang lalu. Dia juga meletakkan laporan keuangan yang lain, yang pernah diberikan Devan sebelumnya di samping map itu.


Celine menatap dan memeriksa secara bergantian kedua laporan keuangan itu. Ada beberapa angka yang membuatnya mengerutkan dahi.


"CEO Celine." Devan menyapa Celine setelah membuka pintu ruangannya.


"Dev, masuklah!" Celine meletakkan penanya di atas meja.


Devan berjalan masuk menghampiri meja Celine. "Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Duduklah!"


Setelah Devan duduk di hadapannya, Celine memutar dan mendorong kedua map yang baru saja dia periksa itu ke hadapan Devan. "Dev, aku telah memeriksa kedua laporan keuangan ini. Apa yang pernah kamu katakan kepadaku waktu itu memang benar. Ada kejanggalan pada angka-angka yang tertulis di sini."


"Kebetulan sekali, CEO. Aku juga ingin memperlihatkan ini padamu." Devan mengulurkan tangan memberikan map yang dari tadi ada di tangannya.


"Apa ini?" Tanya Celine sambil menerima map yang diberikan Devan.


"Tadi pagi pihak William Corp mengirimkan revisi laporan keuangan yang kemarin telah mereka kirimkan. Mereka mengatakan, jika laporan yang kemarin telah mereka kirimkan ada kesalahan, dan ini yang sebenarnya. Tapi setelah aku periksa, angka-angka pada laporan ini jauh melonjak dari laporan-laporan sebelumnya."


Celine melihat laporan itu dengan cermat, Apa yang dikatakan Devan memang benar, angka-angka dalam laporan itu jauh melonjak dari sebelumnya. Celine kemudian menghela nafas setelah melihat laporan keuangan yang kini ada di hadapannya, dan seketika membuatnya sakit kepala.


Celine memijat pelipisnya dan berkata pada Devan. "Dev, sepertinya ada yang tidak beres dengan semua laporan ini. Segera periksa dan selidiki!"


"Baik, CEO. Kalau begitu aku permisi dulu." Devan bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi.


Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk dari luar dan Celine mempersilahkan masuk. "Masuk!"


Setelah pintu ruangannya terbuka, Celine mengangkat pandangannya melihat siapa yang masuk.


Tiba-tiba, dia terkejut saat melihat David William yang sedang berdiri di ambang pintu. Bahkan David dengan semangat berkata, "Apa kamu menyukai bunga mawar yang aku kirimkan untukmu?"


Celine tersentak mendengar pertanyaan dari David William yang secara tiba-tiba datang menemuinya. Aliran darahnya seketika serasa terhenti dan lidahnya terasa kelu, tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak menyangka ternyata David William yang mengirimkan bunga-bunga itu padanya.


"Celine." David melambaikan tangannya di hadapan Celine yang hanya diam saja.


Celine kembali terkejut saat melihat David William yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. "K–kak David...apa kabar?"


"Aku baik." David William tersenyum.


"Ada perlu apa kak David datang kemari?"


"Aku hanya ingin mengunjungimu." David William masih tersenyum lembut pada Celine. "Apa kamu menyukai bunga yang aku kirimkan kepadamu?"


"Bunga?"


David William mengangguk. "Iya, bunga." Mata David tertuju pada sebuket bunga mawar yang ada di atas meja kerja Celine, lalu kembali tersenyum. "Aku harap, kamu menyukainya."


"Jadi, kak David yang mengirimkan semua bunga-bunga itu?"


"Ya, aku yang mengirimkannya."


Celine tersenyum pahit. "Terima kasih."


"Suka tidak?"


Celine mengangguk. "...Suka."


"Kalau kamu suka, aku akan mengirimkannya setiap hari untukmu."


Dengan cepat Celine langsung melambaikan tangannya ke depan dan berkata, "Tidak! Maksudku tidak usah repot-repot, Kak. Ini semua terlalu merepotkanmu. Semua ini sudah cukup."


"Oke." David William mengangguk sambil duduk menyilangkan kakinya di kursi yang ada di depan meja kerja Celine. "Celine, apa sore ini kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan malam bersama."


Celine berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah."


"Oke." David William melihat arlojinya, lalu berkata. "Kalah begitu aku akan menunggumu. Tidak lama lagi juga sudah jam pulang kantor."


David William kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Celine sambil membaca beberapa buku dan majalah. Dia terlihat sabar menunggu Celine.


Celine merasa heran, tidak tahu kenapa David William mengirimkan banyak bunga untuknya. Dan untuk ajakan makan malam, Celine merasa tidak enak hati jika menolaknya. Rasanya akan terlihat sangat tidak sopan jika dia selalu menolak ajakannya.


Lagipula, perusahaan Celine menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Jadi, tidak ada salahnya menjaga hubungan baik dengannya.


Saat jam pulang kerja tiba, Celine pergi bersama David William. Mereka makan malam di salah satu restoran mewah yang ada di dekat pelabuhan di Kota Paris.


Restoran mewah itu sangat ramai, banyak tamu restoran yang menikmati makan malam di sana bersama pasangan, kolega, dan orang terdekat mereka.


Celine dan David William duduk di meja yang ada di dekat jendela kaca besar. Meja itu menghadap ke arah pelabuhan yang tidak jauh dari restoran.


Banyak kapal-kapal yang berlalu lalang melintasi lautan menuju pelabuhan. Juga terlihat sebuah kapal pesiar yang berlayar dengan indah di sana.


Melihat kapal pesiar itu, membuat Celine kembali teringat pada Kenzo William. Tetapi kali ini, dia tidak merasa sedih lagi. Dia sudah bisa menghadapi semuanya dengan tenang.


Celine selalu ingat dengan nasehat dari Bibi Aida, bahwa hidup tidak boleh selalu melihat ke belakang, karena masa lalu itu hanya untuk di lihat sesekali sebagai pedoman hidup di masa depan.


Dia menghela nafas panjang, mungkin sudah waktunya dia menata kembali hidupnya agar menjadi lebih baik. Biarlah masa lalunya saat bersama Kenzo William akan menjadi sebuah kenangan indah baginya, tetapi tidak untuk membawanya berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berujung. Dia harus bisa kuat menjalani semua ini demi Isabella, putri yang sangat dicintainya.


...***...