Love Story In Paris

Love Story In Paris
#50



Celine mengendarai mobilnya sendiri membelah jalanan Kota Paris yang padat dengan meningjak pedal dalam tanpa memperhatikan speedometer yang ada di hadapannya.


Tak ada rasa takut dalam hatinya saat mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di pikirannya saat ini hanya ada Nicholas Emmanuel yang sedang terbaring sakit. Dia ingat, bahwa pria tampan pemilik sepasang mata biru bak batu sapphire itu hanya tinggal sendirian di Villanya.


Celine pun berusaha untuk lebih cepat sampai di sana dan bertemu dengannya.


Kurang lebih satu jam kemudian, Celine pun sampai di halaman Villa milik Nicholas. Dia melihat ada beberapa mobil terparkir di sana. Setahu Celine, beberapa mobil di antaranya adalah mobil Nicholas, mobil Dokter Felix, dan mobil Tuan James. Selebihnya, Celine tidak tahu mobil milik siapa lagi.


Saat Celine sudah sampai di depan pintu utama Villa dan hendak menekan bel, tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya.


Celine melihat Dokter Felix Christian dan Tuan James Zachary sedang duduk di depan TV, lalu dia melihat Chris Jordy, asisten Nicholas berjalan menghampirinya. "Selamat siang, Nona."


Celine tersenyum padanya. "Ya, selamat siang, Tuan Chris."


Dari dalam Villa terdengar suara Dokter Felix Christian menyapanya. "Hai, Nona Celine! Silahkan masuk!"


Celine menganggukkan kepala dan tersenyum. "Dokter Felix."


Kemudian Tuan James Zachary bangkit dari sofa dan menghampiri Celine. Dia mengulurkan tangan kepada Celine dan berkata, "CEO Celine, apa kabar? Apa kamu ingin menjenguk si beruang kutub yang sedang sakit?"


"Beruang kutub?" Celine mengerutkan dahinya mencoba mencerna maksud dari James Zachary yang menyebut Nicholas sebagai beruang kutub.


Kemudian Celine tersenyum dan melangkah memasuki Villa. Namun, saat Celine baru berjalan memasuki Villa, kakinya malah tersandung oleh sepasang sepatu hak tinggi yang tergeletak di lantai dengan sembarangan. "Awh..."


Celine mendesis dan sedikit meringis menahan rasa sakit terkena ujung tumit sepatu hak tinggi tersebut. Dia mengerutkan dahinya menatap sepatu hak tinggi tersebut. 'Apa ada wanita lain di Villa ini?' Batinnya.


"Apa kamu baik-baik saja, Nona?" Tanya Chris pada Celine, lalu menggelengkan kepala saat melihat sepatu hak tinggi yang tergeletak dengan sembarangan di lantai.


"Aku baik-baik saja." Celine tersenyum sambil mengusap beberapa kali ujung jari kakinya yang sakit karena tersandung sepatu hak tinggi tersebut.


Setelah meletakkan sepatu hak tinggi ke rak sepatu yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Chris menoleh ke arah Celine dan memintanya untuk mengikutinya. "Nona, Tuan Nicholas sedang beristirahat di atas, mari ikut aku!"


Celine mengangguk dan mengikuti Chris berjalan di koridor lantai satu Villa menuju lift.


Setelah masuk lift, Chris menekan angka tiga yang ada pada dinding lift tersebut.


Celine baru menyadari dari tombol lift yang ada di dinding jika Villa ini memiliki lima lantai, ditambah dengan satu lantai basement. Waktu dulu pernah beberapa kali datang ke Villa ini, Celine tidak pernah memperhatikannya.


Celine menjadi berpikir, sebagai pria lajang yang hidup sendirian di Villa ini, untuk apa Nicholas memiliki Villa sebesar ini? Ini sangat berlebihan!


Tiga detik kemudian, mereka sampai di lantai tiga. Celine kembali mengikuti langkah Chris menuju kamar Nicholas.


Mereka melewati beberapa ruangan yang tertutup dan koridor yang menurut Celine sangat panjang.


Villa ini terlalu besar, mungkin lebih cocok jika dijadikan hotel atau resort sehubung lokasinya yang berada sangat dekat dengan pantai.


Di tengah perjalanan menuju kamar Nicholas yang ada di ujung koridor, Celine melihat seorang wanita cantik berpenampilan menarik keluar dari kamar Nicholas. Wanita itu memakai dress berwarna merah maroon sama dengan sepatu hak tinggi yang ada di lantai satu tadi, dan sepertinya sepatu hak tinggi tadi adalah miliknya.


Wanita itu berjalan dengan penuh percaya diri melewati Celine dan Chris.


Chris menyapanya. "Nona."


Tetapi wanita itu terus berjalan tanpa menanggapinya, dan saat berpapasan dengan Celine, wanita itu hanya meliriknya dengan tatapan yang meremehkan, lalu terus berjalan menuju lift.


'Apa dia kekasih Nicholas?' Batinnya.


"Nona, silahkan masuk." Chris membukakan pintu kamar Nicholas dan mempersilahkan Celine masuk.


"Terima kasih, Tuan Chris." Ucap Celine dengan tersenyum ramah pada Chris.


Saat Celine memasuki kamar Nicholas, dia melihat sekelilingnya. Kamar Nicholas masih seperti dulu, tidak ada yang berubah dari kamar ini setelah dia menginap di sini waktu itu.


"Celine..." Terdengar suara lemah Nicholas yang ada di sudut ruangan.


Pria itu terbaring lemah di atas ranjang dengan botol infus yang tergantung di sampingnya.


Dengan segera, Celine berjalan menghampirinya, kemudian duduk di sofa yang berada tidak jauh dari ranjang Nicholas. "Tuan Nicholas, kamu sakit apa? Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu sedang sakit?" Tanya Celine dengan cemas.


"Aku tidak apa-apa, hanya demam saja." Nicholas tersenyum lemah pada Celine sambil perlahan menggerakkan tubuhnya untuk duduk, dan melambaikan tangannya pada Celine. "Kemarilah!"


Celine pun bangkit dari sofa dan berjalan menghampirinya.


Nicholas meraih tangannya saat Celine sudah berdiri di hadapannya, kemudian menuntunnya duduk di ranjang sampingnya.


Nicholas menggenggam tangan Celine dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu dan Isabella akhir-akhir ini?"


"Ba-baik..." Celine menjadi gugup.


Nicholas tersenyum. "Syukurlah. Lalu, kenapa kamu tidak membawanya kemari?"


"Karena aku belum tahu pasti bagaimana kondisimu, jadi aku tidak membawanya ikut bersamaku. Aku meminta Bibi Aida untuk menjaganya sampai aku kembali."


Nicholas hanya diam menatapnya dalam dengan matanya yang indah bak batu sapphire itu. Dia hanya menatapnya cukup lama dan tidak berkata apa-apa. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tetapi tatapannya membuat Celine semakin merasa gugup.


Celine pun bertanya kepadanya untuk menghilangkan rasa canggung di hatinya. "Tuan Nicholas, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sedang sakit? Isabella selalu menanyakanmu, bahkan tadi dia menangis sebelum aku pergi ke sini."


"Oh, jadi hanya Isabella yang mengkhawatirkanku? Apa kamu tidak mengkhawatirkanku?" Nicholas tersenyum tanpa melepas tatapan matanya pada Celine.


Seketika, wajah Celine terasa panas dan mungkin saat ini wajahnya sudah memerah seperti tomat. Pertanyaan Nicholas ini membuatnya sangat malu.


"Hmm?" Nicholas masih terus menatapnya, menunggu jawaban darinya.


Celine langsung menarik tangannya yang berada di genggaman Nicholas dengan wajah kesal bercampur malu. "Siapa yang mengkhawatirkanmu? Isabella yang menanyakanmu!"


"Benarkah?" Nicholas tersenyum lebar padanya.


Sebelum Celine menjawabnya, tiba-tiba pintu kamar Nicholas terbuka. Dia melihat wanita yang tadi saat ini sedang berjalan masuk ke dalam kamar Nicholas dengan sebuah nampan di tangannya.


Wanita itu berjalan menghampiri ranjang Nicholas, kemudian duduk di sisi lain ranjang Nicholas. Dia hanya melirik pada Celine tanpa menyapa ataupun tersenyum kepadanya.


"Kak Nicholas sayang, aku membawakan obat untukmu. Minumlah!" Ucap wanita itu sambil mengambil obat dari nampan yang dibawanya.


...***...