
"Jess, jangan lupa kamu lengkapi semua perlengkapan dan kebutuhan selama di perjalanan sebelum kalian berangkat ke Paris." Celine berbicara pada Jessica yang ada di seberang telepon. Saat ini, Jessica sedang berada di London.
"Baik, Bu Celine."
Dua hari yang lalu, Celine menugaskan Jessica berangkat ke London untuk menjemput anaknya, Isabella.
Celine merasa sudah terlalu lama meninggalkan putri kecilnya bersama Bibi Aida. Berpisah dengan Isabella sangat berat dan sangat menyiksa batinnya.
Tapi, tugas perusahaan yang mengharuskan Celine untuk pergi ke Paris, membuat Celine terpaksa meninggalkan harta paling berharga dalam hidupnya untuk sementara waktu. Dan ini pertama kalinya Celine berjauhan dengan Isabella dalam waktu yang lama.
"Aunty, aunty, aku mau bicara dengan mommy!"
"Tunggu sebentar ya sayang, aunty sedang bicara serius dengan mommy-mu."
"Tapi aku ingin menelpon mommy sekarang."
Celine tersenyum bahagia mendengar suara putri kecilnya yang menggemaskan dari seberang sana. Suaranya yang terdengar sedikit jauh dari telepon seperti sedang berada di belakang Jessica saat ini. Suara yang sangat Celine rindukan itu mampu membuatnya berpaling dari pembicaraan awal bersama Jessica untuk sementara. "Jess, berikan saja teleponnya pada Isabella, kalau tidak dia akan terus meracau hingga mendapatkan apa yang dia mau."
"Baik, Bu Celine."
Jessica pun diam sejenak dan kemudian terdengar suara dari ujung telepon jika dia memberikan telepon pada Isabella. "Isabel sayang, ini bicaralah pada mommy-mu."
"Mommyyyy...." Terdengar suara teriakan bahagia dari seberang telepon.
"Hallo, sayang. Anak mommy sudah bangun?"
"Sudah, Mom. Apa mommy tidak merindukan aku?"
"Tentu saja mommy sangat merindukan putri kecil mommy yang cantik ini."
"Tapi kenapa mommy tidak pesan tiket pesawat untuk hari ini saja? Kenapa harus menunggu sampai besok?" Suara Isabella terdengar sedih. Celine tau kalau putrinya saat ini sedang bersedih karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya.
Isabella adalah gadis kecil yang sangat pintar dan sangat pengertian. Dia juga jarang sekali menangis. Celine pun menjawab pertanyaan putri kecilnya yang masih sangat lugu itu dengan lembut. Mencoba memberikan jawaban yang masuk akal tanpa membohonginya. "Isabella sayang, kalau kamu berangkat besok, aunty Jessica bisa menyiapkan semua keperluanmu dengan baik. Sabar ya sayang, lusa kita akan bertemu. Sekarang berikan teleponnya pada aunty Jessica."
"Tunggu sebentar, mom."
"Ada apa, sayang?"
"Mommy, kalau aku sudah sampai disana, apa aku bisa bertemu dengan daddy?"
Celine menghela napas panjang berusaha menenangkan hatinya sendiri sebelum menjawab. Dia tidak ingin menjawab dengan gegabah yang nantinya malah akan melukai hati seorang anak kecil yang masih belum tau apa-apa.
"Tentu saja, sayang. Mommy akan membawamu untuk menemui daddy asalkan putri kecil mommy ini menjadi anak yang baik dan penurut. Lusa kita akan bertemu dan setelah itu kita akan menemui daddy bersama. Sekarang, tolong berikan teleponnya pada aunty Jessica ya, sayang."
"Baik, mom. Sampai jumpa di Paris, bye bye mommy."
Celine tersenyum sendiri mendengar ucapan gadis kecilnya di seberang sana yang kalau berbicara sudah seperti orang dewasa. "Bye bye, sayang."
Celine kembali berbicara dengan Jessica. "Jess, jangan lupa juga semua obat-obatan Isabella. Jangan sampai ada satupun yang tertinggal. Kalau bisa, hari ini kamu temui dokternya untuk meminta resep obat selama Isabella berada di Paris."
"Baik, Bu Celine."
"Oke, sampai ketemu lusa. Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku." Celine pun mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Hari ini adalah hari tersibuk bagi Celine selama dia berada di Paris, karena akhir-akhir ini harus menangani perusahaan pusat. Banyak berkas-berkas yang harus dia baca dan dia tanda tangani. Termasuk dokumen-dokumen persiapan penandatanganan kerjasama dengan perusahaan Grand Corp.
Meski proyek tersebut akan dimulai tahun depan, tapi semua keperluannya sudah Celine cicil dari sekarang. Ini merupakan proyek terbesar bari Star Corp selama perusahaan ini berdiri. Celine tidak ingin kerjasama ini gagal dan mengecewakan. Karena proyek ini sangat mempengaruhi nasib Star Corp ke depannya dimata dunia.
Drrt..drrt..drrt!
Ponsel Celine yang diletakkan diatas meja bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dia kemudian melepaskan pena dari genggaman tangannya sembari melepas lelah, lalu meraih ponselnya yang bergetar tadi.
Celine menyentuh layar ponselnya untuk membuka pesan yang baru saja masuk.
xxxxxxxx07: ["Bagaimana kabarmu?"]
Celine mengerutkan keningnya merasa heran dengan pesan yang baru saja dia baca. Pesan itu bukan dari nomor yang ada dikontaknya, juga bukan dari nomor dalam negeri.
Celine berpikir sejenak dan kemudian membalas pesan tersebut.
["Aku baik-baik saja. Maaf, kalau boleh tau, anda siapa?"]
Setelah membalas pesan itu, Celine meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dan melanjutkan perkerjaannya. Dia tidak tau pesan yang masuk tadi itu dari siapa. Dia yang masih penasaran tetap menunggu pesan balasan dari nomor tersebut. Tapi hingga pekerjaan dan jam kantor berakhir, tidak ada pesan balasan dari nomor tadi.
Ini sangat aneh bagi Celine, karena selama ini tidak pernah ada yang iseng menghubungi nomor pribadinya seperti nomor asing tadi.
...***...