
Selama di perjalanan menuju Disneyland Isabella terus berbicara tanpa henti. Terlihat rasa gembira di wajahnya yang selalu mengukir senyuman. Dia duduk di pangkuan Celine tanpa melepaskan pandangannya pada Nicholas yang sedang menyetir.
Isabella berbicara dengan suara renyahnya yang sangat menggemaskah hingga membuat Celine dan Nicholas tertawa dengan tingkah lakunya di sepanjang perjalanan.
Tak lama, mereka pun sampai di Disneyland Resort Paris. Begitu turun dari mobil, Isabella melompat kegirangan. Dia terlihat sangat senang.
Disneyland Resort Paris adalah sebuah kompleks hiburan bertema Disney yang telah tersedia di Marne-la-Vallée, Paris, Perancis dengan dua buah taman memperagakan permainan, Disneyland Paris dan Walt Disney Studios.
Semua orang akan kembali ke masa kecil di Disneyland Paris. Penuh atraksi dan hal-hal untuk dinikmati di dalamnya.
Disneyland Paris terdiri dari tiga bagian, yaitu Desa Disney dengan restoran dan toko-toko suvenir, Walt Disney Studio dengan wahana yang mendebarkan, dan Taman Disneyland dengan kastil, parade dan pertunjukan Disney.
Setelah Nicholas, Celine dan Isabella masuk, mereka berjalan melewati Disney Village. Nicholas membeli tiket dua taman, yaitu Walt Disney Studio dan Disneyland Park untuk menyenangkan Isabella.
Mereka kemudian memasuki Disneyland Park, dan melihat kastil yang dibangun indah tampak seperti seketika muncul dari sebuah dongeng. Dimulai dari pintu masuk dimana ada Main Street U.S.A. semua akan terlihat seperti rangkaian film dari animasi Disney sampai ke kastil Sleeping Beauty's Disney, tempat ini benar-benar membuat mereka kagum.
Tidak lupa Celine mengambil beberapa foto Isabella, foro Isabella bersama Nicholas, dan juga foto wefie mereka bertiga.
Mereka juga tidak lewatkan parade Disneyland di sore hari. Nicholas membawa Isabella dan Celine untuk menemui karakter, putri dan pangeran Disney tepat di depan mata mereka untuk berfoto bersama.
Setelah berjalan-jalan di taman Disneyland dan bermain, akhirnya mereka merasa lelah. Isabella yang sudah terlihat lelah, dia merengek. "Mommy, aku lelah berjalan, gendong..."
Nicholas yang melihat Isabella merengek pada Celine, dia berjongkok di depan Isabella dan menggendongnya. "Mommy juga lelah, jadi biar Daddy yang menggendong Isabella."
Celine kembali terkejut melihat sikap spontan Nicholas yang terlihat sangat tulus pada Isabella. Dia tidak pernah berpikir panjang untuk melakukan sesuatu pada Isabella.
Nicholas berjalan menggendong Isabella dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya meraih tangan Celine dan menggenggamnya erat.
Lagi dan lagi Celine terjebak dalam sikap Nicholas yang manis tanpa berbasa-basi itu. Dia memperlakukan Celine dan Isabella dengan begitu baik seolah-olah mereka berdua adalah hal yang paling penting baginya dan seperti keluarganya sendiri.
Terkadang Celine merasa dia seperti guardian yang dikirim Tuhan untuk menolongnya disaat mereka berdua membutuhkan bantuan.
Nicholas terus menggenggam tangan Celine berjalan melewati jalan setapak, kemudian dia menghentikan langkahnya. "Kita beristirahat di sini sebentar."
Nicholas menurunkan Isabella di bangku taman yang tersedia di sana dan mereka duduk untuk beristirahat sejenak.
Celine duduk di samping Isabella di bangku yang sama melepas lelah.
Nicholas menyandarkan tubuhnya di bangku taman sambil memejamkan mata. Dia hanya diam tak bergerak sedikit dalam waktu yang cukup lama.
Celine memperhatikan Isabella yang sedang menikmati es krimnya, kemudian menoleh pada Nicholas yang masih duduk memejamkan mata.
Saat ini, Nicholas terlihat berbeda. Dia terlihat lemas dan wajahnya semakin pucat dari pada sebelumnya.
Seketika Celine merasa sangat khawatir melihat keadaan Nicholas yang sangat berbeda dari biasanya. Celine mengulurkan tangannya menyentuh dahi Nicholas yang ternyata panas. Sepertinya dia demam.
Celine pun panik. "Tuan Nicholas, kamu demam. Ayo kita pergi ke rumah sakit!"
Namun, saat Celine hendak menarik kembali tangannya dari dahi Nicholas, Nicholas malah menahan tangannya dan menggenggamnya erat dengan mata yang masih tertutup. "Tidak usah, aku baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja? Sekarang ini kamu demam!" Ucap Celine dengan khawatir.
Nicholas semakin menggenggam erat tangannya dan berkata, "Aku tidak apa-apa, hanya ingin beristirahat sebentar. Setelah ini kita akan pulang."
...
Beberapa hari kemudian.
"Mommy, kenapa Daddy tidak datang?" Tanya Isabella yang duduk di samping Celine dengan wajah sedih.
Celine tersenyum dan berusaha membujuk putri kecilnya. "Mungkin Daddy sedang sibuk, sayang."
"Daddy bilang akan datang setiap hari untuk menemuiku, tapi sampai sekarang Daddy belum juga datang."
Setelah pergi ke Disneyland minggu lalu, Nicholas tidak lagi datang dan memberi kabar. Celine juga tidak melihatnya datang ke perusahaannya, dia tidak pernah mendengar kabar tentang pria tampan bermata indah itu.
Dia kembali menghilang seperti beberapa waktu lalu, pergi dan tanpa kabar setelahnya.
Semenjak Nicholas tidak lagi datang menemuinya ataupun Isabella tanpa kabar, Celine merasa seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hatinya. Tidak hanya Isabella yang selalu menanyakannya, dia pun selalu bertanya-tanya dalam hati dan memikirkannya.
Celine menatap layar ponselnya, lalu menekan kontak dengan nama 'Tuan Emmanuel'. Celine menatapnya cukup lama dan berpikir, 'Apakah aku harus menghubunginya?'
Celine menoleh pada Isabella yang kini sedang bersandar di tubuhnya. Wajah Isabella yang lembut kini sudah basah terkena tetesan air mata karena merindukan Nicholas yang selama ini telah dia anggap Daddy.
Melihat Isabella seperti itu, Celine merasa sedih dan tidak tega melihatnya menangis. Akhirnya Celine memutuskan untuk menelepon Nicholas terlebih dahulu. Setidaknya, dia memiliki alasan untuk menghubunginya.
Celine menarik nafas panjang, berusaha mengumpulkan segala keberaniannya, lalu dengan gugup dia menekan tombol warna hijau dengan nama 'Tuan Emmanuel'.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, telepon langsung tersambung dan dijawab. "Hallo..."
Terdengar suara seorang pria dari ujung telepon sana.
"Ha-hallo, Tuan Nicholas, ini aku, Celine. Aku–"
"Maaf, Nona. Aku Chris, asisten Tuan Nicholas Emmanuel. Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Em...apa aku bisa berbicara dengan Tuan Nicholas? Isabella selalu menanyakannya."
"Isabella?"
Terdengar nada keterkejutan dari pria yang berbicara di ujung telepon sana, lalu terdiam sejenak.
Celine mendengar suara beberapa orang lain yang berbicara di ujung telepon sana, namun dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Nona, Tuan sedang tidak enak badan, jadi–"
"Tidak enak badan? Sekarang dia ada di mana?" Celine memotong ucapan Chris yang sedang berbicara dari ujung telepon sana dengan nada khawatir.
"Tuan Nicholas ada di Villanya, Nona."
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera ke sana."
"Baik, Nona."
Celine langsung menutup teleponnya dan memanggil Bibi Aida untuk menemani Isabella di apartemen. Sebenarnya, dia sangat ingin membawa Isabella ikut bersamanya ke rumah Nicholas, tetapi Celine belum tahu pasti bagaimana kondisi Nicholas saat ini. Takutnya, kehadiran Isabella malah akan membuatnya tidak bisa beristirahat.
"Bi, aku harus pergi, tolong jaga Isabella baik-baik ya."
"Baik, Nyonya."
Saat Celine hendak melangkah mengambil jaket dan kunci mobil, Isabella memegang tangannya dan menahannya. "Mommy mau ke mana? Apa Mommy mau pergi menemui Daddy? Aku ikut."
Celine berbicara pada Isabella yang sedang duduk di sofa di ruang tengah apartemen. "Sayang, Mommy ada perlu keluar sebentar, kamu baik-baik di rumah bersama Nenek Aida ya."
"Kalau Mommy mau pergi ke tempat Daddy, aku ikut..." Isabella merengek.
Celine memcoba membujuk Isabella. "Sayang, Mommy harus pergi melihat Daddy yang sedang sakit. Mommy akan membawamu bertemu Daddy nanti setelah Daddy sudah sembuh, oke?"
"Baiklah." Isabella mengangguk dengan berat.
"Jadilah anak yang patuh di rumah ya, sayang." Celine mencium dahi Isabella dan segera pergi keluar apartemen.
...***...