Love Story In Paris

Love Story In Paris
#61



Celine kemudian tersenyum manis dan berkata, "Hatiku sudah menjadi milikmu."


Wajah Nicholas yang tadinya cemas, kini terlihat sedikit kaget, lalu tersenyum senang. "Benarkah?"


Celine menganggukkan kepala.


"Apa itu artinya, kamu sudah menerimaku?"


Celine kembali menganggukkan kepala dengan wajah merona karena malu.


Nicholas melebarkan senyumnya pada Celine, lalu bangkit berdiri sambil meraih tangan Celine agar ikut berdiri, kemudian menariknya ke dalam pelukan hangat.


Celine tersenyum dan membalas pelukan Nicholas dengan erat. Malam ini terasa begitu indah, baginya dan Nicholas. Siapa sangka pertemuan yang tidak disengaja, dan kejadian-kejadian yang tak terduga malah mempertemukan mereka berkali-kali.


"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu kembali, dan memilihmu untuk mengisi kekosongan dalam hatiku yang tidak pernah aku buka untuk wanita lain."


Celine mendongak menatap Nicholas. "Apa yang membuat seorang Tuan Nicholas Emmanuel menyukaiku?"


"Tidak tahu." Nicholas menggelengkan kepala.


"Kenapa?" Celine merasa penasaran.


Nicholas menunduk menatap wajah cantik Celine. "Karena cinta itu datang bukan karena kenapa dan bagaimana. Cinta yang sebenarnya itu tidak memiliki syarat. Seperti aku memilihmu tanpa syarat apa pun. Meski kamu telah memiliki Isabella, aku tetap menyukaimu. Aku mencintaimu dan sangat menyayangi Isabella."


Celine terdiam sejenak, hatinya kembali tersentuh mendengar ucapan Nicholas. "Apa kamu tidak pernah menyukai wanita lain?"


"Dulu aku pernah tertarik dengan seorang wanita saat aku melihat untuk pertama kalinya, tapi ternyata dia milik temanku. Setelah itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Lagi pula, aku dulu tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Aku terlalu sibuk belajar dan belajar."


"Apa belajar musik itu sangat rumit hingga membuatmu tidak punya waktu untuk itu?"


Nicholas tersenyum. "Tidak juga. Banyak hal lain yang aku pelajari selain itu."


Celine mengerutkan keningnya menatap Nicholas, dan bertanya dengan penasaran. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu sekarang?"


"Sekarang dia sudah ada di sampingku." Nicholas tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


Celine sedikit mendorong dada bidang Nicholas dan menatapnya dengan tidak mengerti. "Maksudmu?"


"Maksudku..." Nicholas menatap Celine dengan serius. "Ayo kita pulang, karena sudah larut malam." Ucapnya sambil terkekeh pelan.


Membuat Celine mendengus dan melepaskan pelukan Nicholas, berpura-pura kesal dan cemberut. Celine membalikkan badannya menghadap ke arah lautan.


Nicholas tersenyum dan mencoba mendekati Celine. Kali ini dia tidak merangkulnya, tetapi memeluknya dari belakang. Terasa hembusan nafasnya yang lembut di telinga Celine.


Celine hanya berdiri diam merasakan hembusan nafas yang menghangatkan itu. Celine merasa bahwa pria tampan yang sedang memeluknya dari belakang ini sangat manis, membuatnya tersenyum dalam hati, namun masih tetap berpura-pura memasang wajah kesal padanya.


Tiba-tiba Nicholas mencium pipinya, lalu berkata dengan suara lembut di telinganya. "Apa kamu ingin mendengarkan ceritaku?"


Celine semakin penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Nicholas.


"Apakah itu penting untukmu?"


Celine membalikkan badannya menghadap Nicholas, dan mengerutkan bibirnya. "Tentu saja itu penting. Kamu banyak tahu tentangku, tapi aku tidak tahu banyak tentangmu."


"Kalau untuk itu, kamu akan mengetahuinya secara perlahan."


"Tapi tentang wanita itu?!" Celine meninggikan nada bicaranya.


Nicholas tidak marah mendengar Celine berbicara dengan nada tinggi, dia malah tertawa melihatnya. "Apa kamu sangat penasaran?"


Celine mengangguk dengan cepat, berharap Nicholas akan menceritakan tentang wanita itu kepadanya. "Apa kamu mau menceritakannya, Tuan Nicholas?"


"Mm...aku akan pikirkan." Nicholas tersenyum dan hendak melangkah pergi, tetapi Celine menahan tangannya dan melotot kepadanya, bermaksud mengancamnya.


Nicholas kembali tertawa dan akhirnya menyerah. "Oke, oke. Aku akan menceritakannya di sana. Di sini angin laut terlalu kencang, kamu akan kedinginan."


Nicholas memperbaiki jasnya yang menempel di tubuh Celine, lalu merangkulnya sambil berjalan meninggalkan tempat itu.


Mereka berjalan bersama dengan langkah santai menapaki trotoar di pinggir jalan yang sudah mulai terlihat sepi dari sebelumnya.


"Celine." Nicholas memanggilnya dengan suara rendah dan sangat enak didengar.


"Ya?" Celine menoleh padanya.


"Wanita yang aku ceritakan padamu tadi itu adalah kamu." Nicholas berbicara dengan wajah serius.


Celine yang masih dalam rangkulan Nicholas menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh menatap Nicholas dengan wajah kaget. "Benarkah?"


"Hmm." Nicholas mengangguk dan melanjutkan langkahnya sambil merangkul Celine yang masih memasang wajah penasaran. "Dulu aku pernah melihatmu, tapi mungkin kamu yang tidak menyadari kehadiranku pada saat itu."


"Apa kita pernah saling mengenal?" Tanya Celine.


"Aku rasa tidak. Tapi kita pernah bertemu."


"Di mana?" Tanya Celine kembali dengan semangat dan wajah yang masih dipenuhi rasa penasaran.


Nicholas tersenyum, mengulirkan tangan dan mencubit hidungnya. "Kamu ini, kamu terlihat imut jika menatapku seperti ini."


"Hizzz! Ayo cepat cerita! Aku ingin mendengarnya." Pinta Celine dengan tidak sabar.


...***...