Love Story In Paris

Love Story In Paris
#47



Celine kemudian pergi ke dapur untuk meminum air putih, lalu duduk di meja makan. Tingkah Chika dan Jessica yang menguntitnya tadi membuatnya malu dan merasa gugup.


Tak lama kemudian, Jessica berjalan ke arahnya dan bertanya, "Celine, bukankah itu violinist beberapa tahun lalu digosipkan denganmu?"


"Ya." Celine mengangguk dan meminum kembali air putih yang ada di dalam gelas.


"Kalau aku tidak salah lihat, dia juga hadir saat kita rapat bersama Grand Corp. Apa dia bekerja di perusahaan itu?" Tanya Jessica kembali.


"Ya, dia memang hadir saat rapat itu. Tapi, aku tidak tahu pasti dia bekerja atau tidak di perusahaan Grand Corp. Karena selama mengenalnya, aku hanya dua kali bertemu dengannya dengan berpakaian jas kantor."


Jessica memajukan tubuhnya dan bertanya dengan suara rendah. "Kapan?"


"Pertama, saat dia mengadakan pertunjukan di Paris, dan kedua saat rapat di perusahaan kita beberapa hari yang lalu. Selebihnya, dia hanya berpakaian kasual seperti saat ini." Jawab Celine dengan santai lalu menoleh ke koridor dekat pintu kamar Isabella.


Celine melihat Chika yang masih saja berdiri di sana mengintip ke dalam kamar Isabella.


"Chika, apa yang kamu lakukan di sana? Ayo cepat ke sini!" Celine memanggil Chika dengan suara setengah berbisik.


Chika tidak menghiraukannya dan hanya membalikkan tubuhnya sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruhnya diam.


Celine dan Jessica hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanak-kanakan Chika.


"Celine, sepertinya Tuan itu tertarik padamu."


Celine tertawa kecil mendengar ucapan Jessica. "Tidak mungkin, Jess. Bagaimana mungkin ada pria lajang yang mau denganku yang berstatus wanita lajang dengan seorang putri?"


"Tentu saja ada. Contohnya David William. Dia selalu berusaha mendekatimu."


"Tidak mungkin, Jess. Lagi pula, aku tidak berpikir untuk menikah lagi. Hatiku hanya untuk Kenzo, dan aku tidak berniat untuk mencarikan Isabella seorang Daddy."


Jessica menghela nafas panjang, lalu berkata, "Celine kamu tidak boleh egois seperti itu. Hidup akan terus berjalan dan Isabella masih kecil. Dia sangat membutuhkan sosok seorang ayah. Cobalah kamu membuka hati untuk orang lain. Aku hanya ingin melihatmu dan Isabella bisa selalu hidup bahagia, Celine."


Celine tidak menanggapi ucapan Jessica, tetapi dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Bagaimana hubunganmu dengan Devan?"


"Hufft! Aku cinta yang tak akan pernah bisa aku gapai, Celine." Jawab Jessica dengan wajah sedih.


"Auwh!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Chika dari depan pintu kamar Isabella, membuat Celine dan Jessica menghentikan pembicaraan mereka, lalu menoleh ke arah Chika.


"Maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud apa-apa." Chika meminta maaf pada Nicholas sambil. memegang hidungnya yang terlihat sakit.


"Tidak apa-apa." Jawab Nicholas dengan tersenyum, kemudian menghampiri Celine untuk berpamitan. "Nona Celine, Isabella susah tidur. Sudah larut malam, aku pulang dulu."


Dengan segera Celine berdiri dan berjalan bersama Nicholas menuju pintu masuk apartemen. "Terima kasih banyak untuk hari ini, Tuan Nicholas."


"Sama-sama. Terima kasih juga untuk makan malamnya." Nicholas tersenyum hangat pada Celine. "Selamat malam, dan sampai jumpa, Nona Celine."


"Malam, dan sampai jumpa, Tuan Nicholas."


Nicholas kemudian berlalu pergi keluar dari apartemen Celine.


Setelah melepas kepergian Nicholas Emmanuel, Celine kembali memasuki apartemen. Dia melihat Chika dan Jessica sedang duduk bergosip di meja makan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Celine bertanya pada mereka berdua yang tiba-tiba diam saat dia menghampirinya.


Chika tersenyum lebar padanya. "Tuan itu benar-benar Hot Daddy. Selain tampan dan keren, dia juga sangat baik, Kak Celine. Sepertinya, dia sangat menyukai Isabella dan juga dirimu."


"Chika, jangan asal bicara!" Celine berpura-pura dingin pada mereka.


"Apa yang aku katakan benar." Chika kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekat pada Celine dan Jessica yang duduk di hadapannya. "Kakak tahu tidak? Saat tadi hidungku terbentur ke dadanya yang bidang itu, hmmm...benar-benar membuatku deg-degan. Dadanya yang bidang itu terasa kokoh, pasti sangat nyaman jika dipeluk olehnya. Selain itu, tubuhnya juga wangi sekali. Aku tidak tahu dia memakai parfum apa, tapi wanginya sangat khas."


"Uhuk, uhuk!" Celine yang sedang minum air putih tiba-tiba tersedak mendengar ucapan Chika yang sedang membayangkan kejadian tadi.


Apa yang Chika katakan semuanya sudah pernah Celine rasakan dari Nicholas. Celine sudah pernah dipeluk oleh tubuh Nicholas yang kekar itu, pelukan itu sangat membuatnya merasa nyaman. Celine juga tahu persis wangi tubuh Nicholas yang sangat khas itu. Saking tahunya, setelah beberapa tahun tidak bertemu, Celine masih sangat ingat wangi tubuhnya.


Dengan segera, Chika dan Jessica mengusap-usap punggungnya.


Jessica menatap Celine dengan cemas. "Celine, apa kamu baik-baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Jess." Celine menyandarkan punggungnya ke kursi, berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Dia merasa bingung saat Chika membicarakan Nicholas tadi. 'Kenapa aku malah membayangkan adegan-adeganku bersama Nicholas yang sudah lama berlalu?' Batin Celine.


...***...