
Apa akhir pekan ini kamu sibuk?
-Nicholas Emmanuel-
Nicholas baru saja mengirim sebuah pesan singkat kepada Celine.
Butuh waktu satu jam baginya untuk memikirkan kata-kata pada pesan singkat yang terlihat sepele itu. Juga banyak keberanian yang harus dia kumpulkan untuk mengetik text pada layar ponselnya hingga menjadi sebuah pesan singkat.
Namun, Nicholas berharap pesan singkat ini bisa menjadi pembuka pintu jalannya menuju hati Celine.
Tidak, Tuan Emmanuel.
-Celine-
Nicholas menerima balasan pesan singkat dari Celine beberapa menit setelah dia mengirim pesan kepadanya.
Bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi keluar?
-Nicholas Emmanuel-
Nicholas kembali mengirim pesan kepada Celine, dan langsung menerima balasan pesan dari wanita itu.
Maaf, Tuan. Akhir pekan ini aku tidak bisa. Bagaimana kalau minggu depan?
-Celine-
Nicholas mengerutkan dahinya membaca balasan pesan dari Celine. 'Tidak bisa? Kenapa? Tidak! Tidak mungkin aku bertanya kenapa kepadanya.' Batinnya.
Nicholas tidak mungkin menanyakan alasan mengapa Celine tidak bisa, karena itu jelas-jelas terkesan memaksa. Tetapi sejak kapan ada yang bisa menolaknya? Ini sangat tidak menyenangkan!
Baiklah, semoga akhir pekanmu menyenangkan, Nona Celine.
-Nicholas Emmanuel-
Akhirnya, Nicholas membalas pesan singkat dari Celine dengan rasa sedikit kecewa.
"Nic, kenapa wajahmu terlihat kusut begitu?" Tanya James yang entah sejak kapan sudah duduk di depannya.
"Tidak apa-apa." Nicholas menjawab dengan acuh tak acuh.
James melirik ponselnya yang diletakkan di atas meja. Dia melihat notif pesan masuk bertuliskan nama Nona Celine, kemudian dia meliriknya dengan senyum mengejek. "Kamu tidak bisa menutupinya dariku."
"Apa maksudmu?"
James kembali tertawa mengejek sambil menatap ponsel Nicholas yang masih tergeletak di atas meja. "Aku tahu kamu sedang mengirim pesan kepada siapa."
Spontan, Nicholas menatap layar ponselnya lalu segera menekan tombol off di ponselnya agar notif tidak lagi muncul di layar ponselnya. "Sok tahu."
James semakin tertawa melihat ekspresi wajah Nicholas saat menanggapi ucapannya. "Nic, aku ini sahabatmu. Sudah bertahun-tahun mengenalmu, jadi kamu tidak bisa membohongiku."
Nicholas menghela nafas panjang dan pasrah, karena tidak bisa mengelak lagi. Dia pun mengalihkan topik pembicaraan. "Bagaimana dengan persiapan pembangunan gedung kita?"
"Berkas-berkasnya sudah mulai ditanda tangani, jadi bulan depan sudah bisa diproses. Tapi ..."
"Tapi apa?" Nicholas menatap James.
"Tapi William Corp juga menginginkan proyek ini."
Nicholas mengerutkan dahi dan kembali bertanya. "William Corp? Apakah itu perusahaan yang dulu dipimpin oleh Kenzo?"
"Benar. Setelah kematian Kenzo, perusahaan itu dipimpin oleh kakak tirinya, David William."
"David William?" Nicholas semakin mengerutkan dahinya sambil bersedekap.
"Ya. Apa kamu tidak mengenalnya?" Tanya James dan Nicholas menggelengkan kepalanya.
James mengeluarkan ponselnya, membuka internet dan menyodorkannya kepada Nicholas sambil berkata, "Pria ini adalah David William. Orang-orang sangat mengenalnya dengan sebutan King Of Party."
Nicholas menatap layar ponsel James dengan tatapan terkejut ketika melihat foto David William. 'Ternyata pria yang menghampiri Celine di lobby perusahaan waktu itu adalah David William, kakak tiri Kenzo?' Batin Nicholas, kemudian tertawa kecil sambil menutup mulutnya mengingat julukannya yang disebutkan oleh James.
Nicholas berdehem. "Tidak apa-apa. Ayo kembali ke topik awal! Lalu, ada apa dengan David William ini?"
"Kemarin sore, dia datang ke perusahaan kita dan menawarkan kerja sama yang katanya lebih menjanjikan."
"Apa dia ingin mengambil alih proyek dari tangan Star Corp?"
"Mungkin. Bahkan dia menawarkan keuntungan lebih untuk kita."
Nicholas kembali mengerutkan dahinya. "Bahkan bekerja sama dengan Star Corp sudah sangat menguntungkan, bagaimana bisa dia menawarkan keuntungan lebih?"
"Ya...sedikit banyaknya dengan mengurangi beberapa komponen dalam pembangunan."
Nicholas menggelengkan kepala sambil menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. "Kalau begitu, abaikan saja dia! Kita tidak mungkin menguranginya dari rencana awal. Karena gedung ini akan dipakai dalam jangka yang panjang, aku tidak setuju jika harus ada yang dikurangi meski hanya mengurangi satu ubin saja! Aku ingin nanti hasilnya sesuai dengan apa yang sudah aku rencanakan tanpa kekurangan satu apa pun. Lagi pula semua dokumen kerja sama sudah ditanda tangani dan dilandasi oleh hukum yang kuat, jadi tidak akan aku ganti lagi."
Nicholas sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan menatap James. "Dan satu lagi, aku tidak ingin kamu terpengaruh dengan orang-orang yang menawarkan keuntungan lebih!"
"Tidak. Aku tidak mungkin terpengaruh, hanya merasa aneh saja." James mengaduk kopi yang ada di atas meja dan melanjutkan ucapannya. "Dulu, Kenzo dan CEO Celine memiliki hubungan khusus, malah sudah hampir menikah. Dan dengar-dengar, dulu perusahaan mereka selalu bekerja sama dengan baik, tapi kenapa sekarang malah William Corp ingin mencurangi Star Corp?"
Nicholas tertawa miris mendengar ucapan James. "James, ini bisnis dan bukan tentang hubungan kekeluargaan. Apalagi sekarang yang mengelola juga bukan orang yang dulu. Jadi wajar saja jika ada hal tikung menikung. Bahkan mungkin nanti juga ada kecurangan jika yang memimpin perusahaan adalah orang yang seperti itu."
James menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Nicholas. "Kamu benar juga."
...
Beberapa hari kemudian.
Hari ini adalah hari Sabtu, jadi tidak ada pekerjaan kantor yang harus Nicholas kerjakan.
Karena tidak berhasil mengajak Celine keluar di akhir pekan, akhirnya Nicholas mengajak James dan Felix untuk keluar sekedar minum kopi bersama. Lagi pula, sudah lama rasanya tidak mereka tidak bertemu dan minum kopi bersama.
Malam ini, ketiga pria itu duduk dan minum kopi bersama di sebuah cafe dengan interior design dan suasana yang nyaman serta modern. Berbincang-bincang santai sambil menikmati kopi di akhir pekan sangat menyenangkan. Apalagi bagi ketiga pria lajang seperti mereka yang selalu disibukkan dengan pekerjaan setiap harinya.
Kopi yang disuguhkan cafe ini sangat enak. Kopi dengan tambahan s**u yang diolah menjadi latte, sangat enak untuk dinikmati dengan sandwich dan dimsum. Karena selera setiap orang berbeda, cafe ini juga menyediakan kopi dengan tambahan beberapa bahan lainnya. Dan Nicholas lebih memilih minum kopi dibanding minum minuman yang beralkohol lainnya.
"Felix, bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?" James bertanya kepada Felix yang duduk di hadapannya.
"Aku masih bekerja di rumah sakit itu. Tapi tidak lama lagi, aku akan pindah ke klinik ku sendiri. Sekarang sedang tahap akhir pembangunan."
"Wow, kamu sangat hebat." Nicholas ikut senang mendengar beritah baik dari Felix, sahabatnya ini.
Felix melanjutkan ucapannya. "Lagi pula, bulan depan Caroline, adikku akan lulus kuliah. Jadi, dia bisa menjadi dokter umum di klinik ku."
"Benarkah? Seperti apa dia sekarang? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Terakhir kali aku bertemu dengannya, saat kita masih sekolah dulu. Pastinya, dia semakin cantik sekarang." James menanggapi ucapan Felix dengan semangat.
"Tentu saja dia sangat cantik. Kakaknya saja tampan begini." Mereka pun tertawa mendengar ucapan narsistik yang keluar dari mulut Felix.
Saat mereka tengah asik berbincang, tiba-tiba James terpaku menatap ke arah luar jendela. Dia menatap ke luar jendela cukup lama, kemudian berkata, "Kalian lihat gadis kecil itu! Dari tadi dia terus melihat ke arah kita."
Nicholas dan Felix pun menoleh dan melihat ke luar jendela mengikuti arah tunjuk James.
Nicholas menatap seorang gadis kecil yang ada di luar jendela itu cukup lama. 'Sepertinya aku mengenali gadis kecil itu.' Batinnya.
Gadis kecil itu tengah memegang boneka teddy bear kecil di tangan kanannya, dan tangan kirinya menyentuh kaca menatap ke arah Nicholas. Wajahnya terlihat bersemangat dan bibir kecilnya bergerak seperti mengucapkan kata 'Daddy' berulang kali.
Nicholas menatap bonek teddy bear yang dibawa gadis kecil itu dan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Wajah gadis kecil itu sangat familier baginya, membuatnya langsung teringat kepada Isabella, gadis kecil yang pernah dia tolong satu tahun yang lalu di London. Nicholas bengkit dari kursinya hendak keluar dari cafe.
Saat Nicholas hendak melangkah, James bertanya kepadanya. "Nic, apa kamu mengenal gadis kecil itu?"
"Ya, aku mengenalnya." Setelah menjawab, Nicholas langsung berjalan keluar dari cafe meninggalkan James dan Felix yang masih duduk sambil menatapnya dengan wajah bingung.
Nicholas berjalan dengan langkah besar keluar cafe. Sedangkan gadis kecil itu berlari dari luar cafe mengikuti kemana arah langkah Nicholas. Tetapi di tengah jalan, gadis kecil itu terjatuh ke lantai. Nicholas yang melihatnya langsung berlari menghampirinya.
Awalnya gadis kecil itu tidak menangis, tetapi setelah dia hendak bangkit sendiri dan melihat ada darah di lutut dan telapak tangannya, gadis kecil itu langsung menangis.
Nicholas telah berdiri di hadapan gadis kecil itu. Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya menatap Nicholas sambil menangis, dan tangisannya malah semakin kencang sambil memanggil Nicholas dengan panggilan, "Daddy..."
...***...