Love Story In Paris

Love Story In Paris
#22



Flashback On!


Hari ini merupakan hari yang bersejarah dalam hidup Celine. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang lajang yang sudah memiliki tambatan hatinya. Karena hari ini, Celine akan menjadi seorang pengantin wanita. Celine akan menikah dengan teman masa kecilnya sekaligus pria yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya, Kenzo William.


Setelah Kenzo melamarnya di kepulauan Maladewa saat mereka pergi berlibur tiga tahun lalu, dia telah mempersiapkan banyak hal untuk acara pernikahan mereka berdua hari ini.


Pernikahan mereka tidak dilakukan secara besar-besaran, mereka hanya mengadakan private wedding dengan di mengundang keluarga dekat, teman dekat dan beberapa rekan bisnis.


Mereka mengadakan acara pernikahan di malam hari diatas sebuah kapal pesiar tradisional yang terbuat dari kayu dengan panjang kurang lebih 30 meter, memiliki dua dek bertingkat dan dihiasi banyak bunga juga lampu-lampu terlihat begitu indah.


Celine berharap, para tamu undangan banyak yang bisa hadir dan mengikuti acara pernikahannya dengan Kenzo sambil berlayar menikmati keindahan malam dan menyantap hidangan makan malam yang telah dipesan khusus dari restoran ternama di kota Paris untuk memanjakan lidah.


Awalnya, Celine hanya ingin mengadakan acara pernikahan secara agama saja, karena di dalam keluarganya tidak ada orang lain selain selain dirinya sendiri.


Tapi, Kenzo sangat ingin melihat Celine bahagia di hari pernikahan mereka berdua. Dia bersikeras untuk membuat pernikahannya menjadi pernikahan yang paling berkesan dalam hidup mereka berdua dengan memilih kapal pesiar tradisonal sebagai tempat pernikahan. Kenzo selalu berusaha memberikan yang terbaik dan membuat Celine bahagia saat bersamanya.


"Apa kamu sudah siap, honey?"


Kenzo menghampiri Celine yang sedang berdandan di sebuah kamar hotel yang tidak jauh dari pelabuhan. Dia menatap Celine dengan senyuman dan tatapan penuh arti.


Celine yang melihat wajahnya dari cermin pun ikut tersenyum. "Tunggu sebentar lagi, Ken. Sudah hampir selesai."


Kenzo kemudian berjalan ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Dia duduk dengan wajah bahagia bercampur gugup sambil terus menatap Celine yang sedang dirias oleh penata rias dari cermin yang ada dihadapannya.


Kenzo menatap Celine begitu lama seperti sedang memendam sesuatu. Tapi, tidak lama kemudian ponselnya berdering ada panggilan masuk dan dia langsung mengangkatnya. Dia bangkit dari sofa dan berjalan keluar ruangan sebentar, kemudian kembali lagi.


"Honey...." Kenzo berjalan dari pintu kamar ke arah Celine, lalu memberikan isyarat pada penata rias untuk keluar sebentar.


"Ada apa?" Celine menoleh melihat Kenzo yang sudah berdiri dibelakangnya.


Saat Celine sudah berhadapan dengan Kenzo, tiba-tiba tangan Kenzo meraih wajahnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Celine.


"I love you so much." Kenzo kemudian mencium kening Celine cukup lama sambil memejamkan matanya. Kemudian ciumannya turun ke bibir.


Kenzo menciumnya dengan lembut untuk waktu yang cukup lama, membuat Celine merasa heran karena selama ini kekasihnya ini belum pernah menciumnya begitu lama dan penuh perasaan seperti ini.


Celine merasakan ciuman Kenzo ini sangat berbeda. Kenzo menciumnya seperti tidak akan pernah bertemu dan menciumnya lagi.


Sedangkan Celine masih terpaku duduk menatap kepergian Kenzo tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Kurang lebih 15 menit kemudian terdengar ada suara ledakan yang sangat besar membuat Celine yang sedang dirias meminta penata rias untuk berhenti sebentar.


Mendengar suara ledakan itu, membuat perasaan Celine menjadi tidak enak. Celine kemudian beranjak dan melangkah ke arah jendela kamar hotel dengan langkah lebar.


Celine melihat sebuah kapal pesiar yang terbakar di dekat pelabuhan. Tiba-tiba, wajah Kenzo terlintas di pikirannya. Dia pun segera berlari keluar kamar hotel melewati koridor, memasuki lift dan kemudian kembali berlari keluar lobby hotel.


Celine berlari kearah pelabuhan yang tidak jauh dari hotel dengan gaun pengantinnya berwarna putih yang sudah dia pakau tanpa memakai alas kaki.


Semua mata tertuju padanya, tapi Celine tidak peduli. Yang ada dalam pikirannya sekarang ini adalah Kenzo, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Kenzo.


Saat Celine telah sampai di pelabuhan, Celine melihat banyak orang sedang melakukan penyelamatan. Dia melihat kapal pesiar tempat pernikahannya yang akan dilangsungkan terbakar dan mengeluarkan kobaran api sangat besar.


"Kenzo!!!" Celine memanggil Kenzo sekuat tenaga, tapi kekasihnya itu tidak juga menjawab panggilannya dari atas kapal.


Celine pun melangkah dan hendak melompat ke arah kapal yang terbakar itu, tapi sebuah tangan menghalanginya dan memegang pinggangnya.


"Celine, Celine! Tenangkan dirimu!" David William berusaha menenangkan Celine yang masih berteriak memanggil Kenzo sambil menangis histeris.


"Dimana Kenzo?! Dimana Kenzoku?! Kenzo...!!!" Celine menangis sekencang-kencangnya hingga terduduk bersimpuh di tanah.


David William masih memegangi dan memeluk Celine dengan kuat dari belakang. Sedangkan Celine menangis histeris melihat kejadian yang ada di hadapannya.


"Celine, tenangkan dirimu. Kenzo sudah tiada."


Beberapa saat kemudian, kobaran api di kapal pesiar itu telah padam. Para tim Rescue membawa beberapa kantong jenazah keluar dari kapal tersebut.


Celine berusaha meraih sebuah kantong jenazah yang ada ditangan mereka, berharap bisa melihat wajah Kenzo untuk yang terakhir kalinya. Tapi mereka tidak mengijinkannya melihat karena tubuh korban yang terbakar sudah tidak lagi utuh. Itu membuat Celine semakin bersedih dan menangis sejadi-jadinya hingga akhirnya Celine lemas dan tak sadarkan diri.


Kekasih tercintanya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya di hari pernikahannya. Celine tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengannya. Hatinya terasa sangat hancur berkeping-keping. Seketika, jiwanya yang selama ini hidup seakan dibawa pergi olehnya. Dan dalam sekejap, tubuhnya yang masih hidup ini seperti kehilangan nyawa dengan sendirinya.


Flashback Off!


...***...